NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Luka di Balik Jas Putih

​Suara detak jam dinding di apartemen Nata terdengar seperti dentuman palu di kepala Airine. Di bawah selimut tipis yang beraroma sabun batang murah, Airine meringkuk. Bayangan-bayangan hitam kembali menari di pelupuk matanya.

​Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Ibunya yang pucat di atas brankar rumah sakit. Ia melihat monitor jantung yang berubah menjadi garis lurus datar dengan suara tiiiiit yang memekakkan telinga. Ia melihat tangan Ayahnya yang tidak meneteskan air mata sedikit pun, justru sibuk menelepon seseorang yang ia duga adalah Shena.

​"Ibu... maafkan Airine," gumamnya pelan, suaranya parau karena isakan yang tertahan.

​Airine bangkit dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi kaos hitam besar yang ia pinjam dari Nata. Ia melirik ke arah dapur kecil yang gelap. Nata tampaknya sudah pergi—ini sudah pukul setengah tiga pagi.

​Dengan tangan gemetar, Airine merogoh tas kerjanya yang diletakkan di atas meja kayu. Ia mengeluarkan sebuah botol obat kecil tanpa label. Hanya ada satu butir tersisa. Alprazolam. Obat yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh seorang dokter bedah tanpa resep ketat, tapi inilah satu-satunya cara Airine bisa mematikan rasa sakit dan pengkhianatan Reo yang terus berputar di otaknya.

​Tepat saat ia hendak memasukkan obat itu ke mulutnya, sebuah tangan besar dan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya.

​"Lepaskan!" Airine memekik tertahan, jantungnya hampir copot.

​Nata berdiri di sana, di kegelapan. Ia tidak memakai kemeja flanelnya, melainkan jaket tactical hitam yang pas di tubuhnya. Matanya berkilat tajam di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari sela tirai.

​"Sejak kapan kamu mengonsumsi obat penenang dosis tinggi ini, Airine?" tanya Nata, suaranya rendah namun penuh otoritas. Ia tidak memanggilnya 'Dokter' kali ini.

​"Itu bukan urusanmu! Kembalikan!" Airine mencoba merampas botol itu, namun Nata mengangkatnya tinggi-tinggi.

​"Ini urusanku karena kamu berada di bawah atapku. Dan ini urusanku karena kamu adalah rekan kerjaku sekarang," Nata menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. Cahayanya temaram, memperlihatkan mata Airine yang sembab dan wajahnya yang pucat. "Kamu seorang dokter bedah, Airine. Kamu tahu persis apa yang dilakukan obat ini pada sarafmu jika dikonsumsi tanpa kendali."

​Airine tiba-tiba kehilangan kekuatannya. Ia terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat.

​"Kamu tidak tahu apa-apa, Nata... Kamu hanya tukang bakso yang hidupnya tenang," isak Airine. "Ibuku meninggal secara tidak wajar, dan aku... aku bahkan tidak bisa menyelamatkannya di mejaku sendiri. Lalu Reo... pria yang kucintai sejak kuliah, pria yang kupikir akan menjagaku selamanya, ternyata dia yang membantu Shena menghancurkan kewarasanku!"

​Nata terdiam. Ia berjongkok di depan Airine, menatap wanita yang biasanya tampak begitu tangguh di rumah sakit itu kini hancur berkeping-keping. Ada dorongan kuat di dadanya untuk memeluk Airine dan membisikkan bahwa ia adalah Komandan Arnold yang bisa meratakan dunia untuknya, namun ia menahan diri. Penyamaran ini adalah segalanya.

​"Reo tidak pantas mendapatkan satu tetes air matamu, apalagi nyawamu lewat obat-obatan ini," ucap Nata pelan.

​"Dia selingkuh dengan Renata di ruanganku sendiri, Nata! Di hari peringatan kematian Ibuku!" Airine mendongak, matanya penuh kemarahan dan kesedihan. "Mereka membunuh Ibuku pelan-pelan dengan tekanan batin, lalu sekarang mereka ingin mengambil satu-satunya warisan yang tersisa. Aku cemas... aku takut setiap kali masuk ke rumah sakit itu, aku merasa mereka ada di setiap sudut untuk menjatuhkanku."

​Nata meraih tangan Airine yang dingin, menggenggamnya dengan hangat. "Dengarkan aku. Kamu tidak sendirian sekarang. Aku memang bukan dokter, aku bukan orang kaya sepertimu. Tapi aku tahu satu hal: orang yang ingin menjatuhkanmu adalah orang yang takut padamu."

​Airine menatap Nata dengan bingung. "Takut padaku? Aku yang sekarang gemetar hanya karena satu botol obat?"

​"Ya. Mereka takut karena kamu memegang kebenaran. Dan mereka takut karena sekarang ada aku di sampingmu," Nata mengantongi botol obat itu. "Aku tidak akan mengembalikan ini. Jika kamu tidak bisa tidur, aku akan menemanimu sampai pagi. Tapi jangan pernah menyentuh racun ini lagi."

​Airine menghapus air matanya dengan kasar. "Kenapa kamu melakukan ini? Kita hanya menikah kontrak. Kamu bisa saja mengambil uangku dan membiarkanku mati overdosis jika itu maumu."

​Nata tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat tulus namun penuh rahasia. "Mungkin karena aku suka bakso, dan aku butuh pelanggan setiaku tetap hidup untuk mencicipi resep baruku."

​Airine tertawa getir di sela tangisnya. "Kamu pria yang aneh, Nata."

​"Anak buahku—maksudku, teman-teman preman di pasar juga bilang begitu," Nata meralat ucapannya dengan cepat, untungnya Airine terlalu lelah untuk menyadari selip lidahnya. "Sekarang, berbaringlah di kasur. Aku akan duduk di sini sampai kamu tertidur."

​"Kamu tidak pergi jualan?"

​"Jadwal kaldunya bisa menunggu," bohong Nata. Padahal, ia baru saja kembali dari misi pengintaian dan harus segera pergi lagi untuk memimpin penyergapan kurir narkoba di dermaga. Namun melihat kondisi Airine, ia memberikan instruksi lewat jam tangannya agar tim cadangan yang mengambil alih.

​Airine berbaring, matanya tetap menatap Nata yang duduk di lantai bersandar pada ranjang. "Nata... apa kamu pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti?"

​Nata menatap langit-langit apartemen yang kusam. Bayangan rekan-rekan setimnya yang gugur di medan tempur melintas di benaknya. "Sering. Terlalu sering sampai rasa sakitnya tidak lagi terasa seperti luka, tapi seperti bagian dari kulitku."

​"Maafkan aku," bisik Airine pelan.

​"Jangan minta maaf. Tidurlah, Airine. Besok kamu harus berdiri tegak di depan Ayahmu. Jangan tunjukkan bahwa mereka berhasil membuatmu hancur."

​Perlahan, mata Airine mulai memberat. Kehadiran Nata yang tenang, meski hanya seorang "tukang bakso", terasa jauh lebih kokoh daripada semua janji manis Reo dulu.

​Begitu napas Airine menjadi teratur dan ia benar-benar terlelap, Nata berdiri. Ia menyelimuti Airine dengan lembut, lalu mencium dahi wanita itu sekilas.

​"Maafkan aku harus membohongimu, Airine," bisik Nata dengan suara dingin Arnold Dexter. "Tapi aku berjanji, tangan yang membunuh Ibumu dan mengkhianatimu akan membayar semuanya dalam waktu dekat."

​Nata melangkah keluar, menutup pintu tanpa suara. Di luar, sebuah motor besar sudah menunggu di kegelapan gang. Nata memakai helmnya, memacu mesinnya menuju malam yang dingin. Misi pribadinya kini sama pentingnya dengan misi negaranya.

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!