NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

***

Malam di Jakarta selalu menjanjikan dua hal: gemerlap kekuasaan atau kegelapan yang menelan segalanya. Mayang Puspita Sari menyandarkan kepalanya di kursi kulit Limousin miliknya, menatap lampu-lampu kota yang melesat cepat. Di dalam tas tangannya, sebuah dokumen rahasia siap untuk menghancurkan sendi-sendi bisnis Aris Raditya. Namun, getaran ponsel di sampingnya memecah konsentrasi sang "Nyonya M".

Sebuah nomor yang sangat ia kenal nomor yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam bersama ingatan tentang debu jalanan dan kemiskinan—muncul di layar.

"Halo," suara di seberang sana terdengar berat, penuh dengan nada sinis yang memuakkan.

Mayang membeku. Suara itu bukan milik Aris, bukan pula Gunawan. Itu adalah Baskara. Pria yang dulu menjadi kekasih masa kecilnya di kampung, pria yang dulu ia tinggalkan demi mencari uang untuk adiknya, dan pria yang kini seharusnya masih mendekam di penjara akibat kasus kekerasan.

"Baskara?" bisik Mayang, suaranya yang biasanya stabil kini sedikit goyah.

"Wah, Nyonya M masih ingat rupanya. Hebat sekali kau sekarang, Mayang. Dari gadis yang mencuci baju di kali, sekarang menjadi penguasa Mega Kuningan. Aku melihatmu di televisi tadi sore. Cantik, tapi sangat... palsu."

"Apa maumu, Baskara? Aku sudah mengirimkan uang tutup mulut untukmu melalui pengacaraku."

"Uang? Aku tidak butuh uang recehmu lagi, Mayang. Aku sudah keluar dari penjara, dan aku punya sesuatu yang lebih berharga dari uangmu. Aku punya foto-fotomu saat kau pertama kali masuk ke hotel Aris. Aku juga tahu rahasia tentang dua anak yang kau lahirkan diam-diam."

Mayang mencengkeram ponselnya hingga buku-bukunya memutih. "Jangan berani-berani kau..."

"Aku ada di lobi kantormu sekarang. Jika kau tidak ingin ibumu di kampung tahu bahwa putri kebanggaannya adalah seorang wanita sewaan yang menjual rahimnya pada monster, sebaiknya kau turun sekarang."

Sepuluh menit kemudian, di ruang kerja pribadinya yang sangat luas, Mayang berdiri membelakangi pintu. Ia mendengar langkah kaki sepatu bot yang berat, sangat kontras dengan karpet sutra yang halus.

Baskara masuk. Ia tidak lagi tampak seperti pemuda desa yang lugu. Tubuhnya lebih kekar, wajahnya dihiasi luka parut, dan matanya memancarkan ambisi yang gelap. Ia menatap ruangan mewah itu dengan penuh kebencian.

"Kau membangun kerajaanmu di atas rintihanmu sendiri, Mayang," ujar Baskara sembari duduk di kursi kebesaran Mayang tanpa izin.

"Keluar, Baskara. Sebelum aku memanggil keamanan dan membuatmu kembali ke selmu," desis Mayang.

"Panggil saja. Biarkan semua orang tahu bahwa 'Nyonya M' yang agung ini hanyalah mesin pembuat anak bagi Aris dan Gunawan. Aku sudah menyiapkan pesan yang siap dikirim ke ibumu. Kau tahu kan, ibumu punya penyakit jantung? Jika dia tahu putrinya sehina ini... kira-kira apa yang akan terjadi?"

Mayang memejamkan mata. Rasa sakit di ulu hatinya muncul kembali. Bukan karena fisik, tapi karena ancaman itu menyentuh satu-satunya titik lemahnya: ibunya.

"Apa... apa yang kau inginkan?" tanya Mayang parau.

Baskara berdiri, mendekati Mayang hingga napasnya yang berbau rokok murah menerpa wajah Mayang yang harum parfum Perancis. "Aku ingin apa yang Aris dan Gunawan dapatkan. Aku ingin kekuasaan, dan aku ingin kau melahirkan 'senjata' untukku. Aku ingin anak dari rahimmu, Mayang. Seorang pewaris yang akan aku gunakan untuk menghancurkan kerajaan Aris dan Gunawan dari dalam."

Mayang tertawa histeris, tawa yang penuh dengan keputusasaan. "Kau gila! Aku bukan mesin cetak bayi lagi!"

"Kau akan melakukannya, Mayang. Karena jika tidak, besok pagi ibumu akan menerima video pengakuan dari Aris Raditya tentang bagaimana dia membelimu malam itu. Dan aku... aku akan memastikan Aris dan Gunawan hancur melalui aset-aset yang kau miliki sekarang."

**

Dengan ancaman terhadap ibunya, Mayang tidak punya pilihan. Kekuasaan yang ia bangun ternyata masih bisa digoyahkan oleh masa lalunya. Malam itu, di dalam ruang privat di apartemennya, sebuah ritual yang jauh lebih menghina dari sebelumnya terjadi.

Baskara tidak menginginkan kemewahan. Ia menginginkan dominasi yang kasar untuk membuktikan bahwa ia lebih hebat dari bos-bos kaya Mayang.

"Buka pakaianmu, Nyonya M," perintah Baskara sembari menuangkan wiski mahal milik Mayang ke lantai. "Aku ingin melihat apa yang membuat Aris dan Gunawan begitu terobsesi padamu."

Mayang menurut dengan gerakan kaku. Air mata kemarahan mengalir di pipinya saat ia berdiri polos di depan pria yang dulu pernah ia cintai.

"Ahhh... nghhh... Baskara, jangan..." rintih Mayang saat Baskara mencengkeramnya dengan kasar, tidak ada kelembutan sedikit pun. Baskara ingin membalas dendam atas kemiskinannya melalui tubuh Mayang.

"Rintihlah, Mayang! Sebut namaku, bukan nama pria-pria tua itu!" bentak Baskara sembari memaksa Mayang berlutut di bawah kakinya. "Aku akan membuatmu hamil malam ini juga. Dan anak itu... anak itu akan menjadi penguasa tunggal yang akan menendang Aris dan Gunawan dari takhta mereka."

Mayang merasakan rasa sakit yang familiar menjalar di area intinya. Rasa panas, perih, dan tekanan yang mengingatkannya pada malam-malam di Sentul. Namun kali ini, rasa sakitnya ditambah dengan rasa muak yang luar biasa.

"Nghhh... ahhh... Baskara... hentikan..." rintih Mayang di tengah napas yang memburu. Suaranya pecah, memenuhi ruangan yang dingin itu dengan aroma keputusasaan.

"Kau menikmatinya, bukan? Tubuhmu sudah terbiasa dengan perlakuan kasar ini," bisik Baskara di telinganya, jemarinya mencengkeram rambut Mayang hingga ia terpaksa mendongak. "Kau adalah mesin uang yang cantik, Mayang. Dan sekarang, kau adalah mesin uangku."

Setelah sesi yang penuh penghinaan itu selesai, Mayang terduduk lemas di atas lantai marmer, memeluk tubuhnya sendiri. Baskara berdiri di jendela, menatap ke arah kantor pusat Gunawan Logistics di kejauhan.

"Aku punya semua data transaksi gelap Gunawan yang kau kumpulkan," ujar Baskara tanpa menoleh. "Besok, aku akan mulai bergerak. Aku akan menggunakan namamu untuk memprovokasi Aris agar mereka saling serang. Dan saat mereka sibuk menghancurkan satu sama lain, aku akan muncul sebagai penyelamat melalui perusahaan baru yang kau danai."

Mayang mengusap air matanya, matanya yang tadi layu kini kembali berkilat dengan ambisi yang jauh lebih gelap. "Kau pikir kau bisa mengendalikan aku selamanya, Baskara?"

Baskara berbalik, tersenyum licik. "Selama ibumu masih hidup, kau adalah budakku, Mayang. Oh, dan satu lagi... pastikan kau minum vitaminmu. Aku ingin anak itu kuat. Aku ingin dia lahir secara normal, persis seperti yang disukai pria-pria itu. Aku ingin merasakan sensasi menjadi 'Tuan' saat kau berjuang melahirkannya nanti."

Mayang memandangi Baskara dengan tatapan yang bisa membunuh. Di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana baru. Jika Baskara ingin bermain di papan caturnya, maka ia akan memastikan Baskara menjadi bidak pertama yang ia korbankan.

"Baik, Baskara," ucap Mayang pelan, suaranya kembali stabil dan dingin. "Mari kita buat bayi ini. Mari kita hancurkan Aris dan Gunawan. Tapi ingat satu hal... monster yang kau ciptakan malam ini, suatu saat akan memakan penciptanya sendiri."

Mayang bangkit, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang meski masih terasa perih, namun penuh dengan tekad. Ia akan menelan rasa sakit ini, ia akan membiarkan rahimnya sekali lagi menjadi tempat transaksi, namun kali ini, tujuannya adalah pembersihan total.

Ia akan membiarkan Baskara merasa menang untuk sementara. Ia akan membiarkan bayi ini tumbuh sebagai simbol kehancuran. Dan saat waktunya tepat, Nyonya M akan memastikan bahwa tidak ada satu pun pria dari masa lalunya baik Aris, Gunawan, maupun Baskara yang akan tersisa untuk melihat matahari terbit di Jakarta.

****

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!