NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Menyakitkan!

,​"Kita berpapasan di sekolah esok harinya, dan kau bersikap seolah kita tak hidup di dunia yang sama. Kau tak lagi menatapku sebagai ruang kosong, melainkan sebagai noda kotor yang menjijikkan. Hari itu aku belajar, diabaikan memang menyakitkan, namun ditatap dengan penuh kebencian oleh mata yang kau puja... adalah sebuah kematian yang tak meneteskan darah." (Buku Harian Keyla, Halaman 78)

​Hari Senin tiba dengan membawa hawa pagi yang terasa sedikit lebih menusuk kulit. Daun-daun kering di halaman SMA kami bergemerisik pelan tersapu angin. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah dengan perasaan yang anehnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan minggu lalu.

​Malam Minggu kemarin, di bawah bayang-bayang pohon besar dekat tempat pembuangan sampah pasar malam, aku telah melakukan sebuah 'dosa' yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku menipu laki-laki itu. Aku menipu Rendi melalui tangan mungil seorang anak pemulung, memborong semua dagangannya agar ia bisa segera pulang membawa sebungkus nasi ayam untuk Nanda dan beristirahat.

​Membayangkan bahwa malam itu Rendi bisa tidur nyenyak setidaknya selama enam jam tanpa harus menahan lapar, membuat senyum tipis tak henti-hentinya mengembang di bibirku sejak aku membuka mata pagi ini.

​Semoga hari ini beban di matamu sedikit berkurang, Ren, doaku dalam hati saat aku melangkah masuk ke dalam kelas XII-IPA 1.

​Suasana kelas masih cukup sepi. Aku duduk di bungkuku, meletakkan tas, dan menatap ke arah bangku belakang yang masih kosong. Aku tidak menyelipkan apa pun di mejanya pagi ini. Cukup kejadian surat biru itu yang menjadi pelajaran bahwa aku tak boleh lagi menyentuh wilayah privasinya secara langsung. Aku hanya menunggunya datang, ingin melihat apakah rona wajahnya sedikit membaik berkat tidur yang lebih panjang.

​Sepuluh menit kemudian, langkah kaki yang selalu kutunggu itu terdengar memasuki ruang kelas.

​Aku mengangkat wajahku, menyiapkan sebuah tatapan netral agar ia tidak merasa terganggu. Namun, begitu mataku menangkap sosoknya di ambang pintu, darahku seketika berdesir dingin. Senyum tipis yang sedari tadi kupertahankan luntur tak berbekas.

​Rendi tidak terlihat lebih baik. Sama sekali tidak.

​Alih-alih terlihat segar karena bisa beristirahat lebih awal, wajahnya justru memancarkan aura yang sangat gelap dan mematikan. Kemejanya memang rapi, namun rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di sekitar lehernya menonjol tegang. Mata elangnya tak lagi menyiratkan kelelahan fisik, melainkan sebuah amarah yang membara—sebuah kemarahan yang tertahan hingga membuat matanya sedikit memerah.

​Dan yang paling membuat jantungku seolah berhenti berdetak adalah arah tatapannya.

​Ia tidak menunduk seperti biasa. Begitu ia melangkah masuk, matanya langsung mencari keberadaanku, lalu mengunci tatapanku dengan sorot yang sangat tajam, menembus, dan penuh kebencian.

​Napas di tenggorokanku tercekat. Tubuhku membeku di kursi.

​Ia berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya yang berat berderap di atas lantai keramik seolah sedang menghitung mundur menuju eksekusi matiku. Saat ia berjalan melewatiku untuk menuju bangkunya, hawa dingin yang menguar dari tubuhnya terasa seperti badai salju yang menyayat kulit.

​Ia tidak membuang muka. Ia terus menatapku dengan sudut matanya, sebuah tatapan yang memancarkan rasa muak yang teramat sangat.

​Ada apa? jeritku dalam hati, didera kepanikan yang luar biasa. Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan lagi?

​Rendi menjatuhkan tasnya ke atas meja dengan suara debuman kasar yang membuat beberapa siswa di kelas menoleh kaget. Ia menarik kursinya dengan kasar dan duduk. Ia tak menidurkan kepalanya di atas lipatan lengan. Ia duduk bersandar, melipat kedua lengannya di dada, menatap lurus ke depan—menembus punggungku—dengan napas yang memburu.

​Selama sisa waktu sebelum bel masuk berbunyi, aku merasa seperti sedang duduk di kursi pesakitan. Tatapannya di punggungku terasa seperti ribuan jarum yang ditusukkan perlahan.

​"Key, lo kenapa kaku banget jalannya? Kayak kanebo kering aja," tegur Bella saat kami berjalan menuju laboratorium Biologi di jam pelajaran kedua.

​Aku menggeleng pelan, memaksakan diri melonggarkan bahuku yang tegang. "Nggak apa-apa, Bel. Cuma kurang tidur aja."

​Siska yang berjalan di sebelah kiriku menyentuh lenganku pelan. "Rendi kelihatan lebih menyeramkan dari biasanya hari ini. Dia ada ngomong sesuatu sama kamu, Key?" bisik Siska dengan nada menyelidik.

​"Nggak ada, Sis," jawabku cepat, tak ingin Siska mulai menyimpulkan hal-hal buruk lagi. "Dia diam aja kok dari tadi."

​"Baguslah kalau dia diam. Laki-laki seperti dia kalau buka mulut biasanya cuma ngeluarin kata-kata kasar yang nyakitin hati," cibir Siska halus.

​Sesampainya di laboratorium Biologi, kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melakukan praktikum pengamatan sel tumbuhan menggunakan mikroskop. Sialnya—atau mungkin untungnya—kelompokku berada di meja yang bersebelahan persis dengan meja Rendi.

​Ruang laboratorium dipenuhi bau alkohol dan desinfektan. Aku berdiri di depan mikroskopku, mencoba fokus pada preparat daun Rhoeo discolor di bawah lensa. Namun konsentrasiku hancur lebur. Jarakku dengan Rendi hanya terpaut satu meter. Aku bisa merasakan hawa permusuhannya yang begitu pekat.

​Saat aku bergerak sedikit ke samping untuk mengambil pipet tetes dari rak tengah yang membatasi meja kami, tanganku tak sengaja menyenggol wadah kaca kecil (cawan petri) miliknya yang berisi air.

​Trang.

​Cawan itu bergeser, airnya tumpah sedikit membasahi ujung kertas kerjanya.

​"Astaga, maaf, Ren! Aku nggak sengaja," pekikku tertahan, panik setengah mati. Aku buru-buru mengambil tisu dari saku rokku dan berniat mengelap air yang tumpah di kertasnya.

​Namun sebelum tanganku menyentuh mejanya, sebuah tepisan keras menghentikan gerakanku.

​Plak!

​Rendi menepis tanganku dengan punggung tangannya. Tepisan itu sangat kuat, tak pelak membuat tanganku terhempas ke belakang dan tubuhku sedikit terhuyung.

​Suasana di laboratorium yang tadinya dipenuhi gumaman diskusi seketika hening. Semua mata menoleh ke arah meja kami. Pak Heru, guru Biologi kami, yang sedang berada di ujung ruangan, langsung mengangkat wajahnya.

​"Ada apa itu di sana?" tegur Pak Heru tegas.

​Aku mematung, memegangi pergelangan tanganku yang memerah akibat tepisan kasarnya. Rasa panas menjalar di tanganku, namun rasa sakit di hatiku ribuan kali lipat lebih menyiksa.

​Rendi menatapku dengan mata kelamnya. Tatapan itu adalah tatapan paling merendahkan yang pernah kuterima seumur hidupku. Ia seolah menatap seekor hama yang baru saja mencoba mengotori barangnya.

​"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Rendi dengan suara baritonnya yang serak dan sangat dingin, memecah keheningan ruangan tanpa melepaskan kontak matanya dariku. "Hanya ada orang yang tidak tahu batasan dan terlalu suka mencampuri urusan orang lain."

​Lidya yang berdiri di mejaku langsung menggebrak meja laboratorium. Emosinya tersulut dalam sedetik. "Woi, lo bisa pelan dikit nggak?! Keyla cuma mau ngelap tumpahan air, kenapa lo harus nepis tangannya sekeras itu?! Kasar banget lo jadi cowok!"

​"Lidya, diam," desis Rendi, memalingkan wajahnya menatap Lidya dengan ancaman yang membungkam. "Bawa temanmu ini menjauh dari meja saya. Saya muak melihat wajah pahlawan kesiangannya."

​Kata-katanya adalah belati yang menancap tepat di jantungku. Pahlawan kesiangan. Pak Heru berjalan mendekat dengan langkah lebar. "Sudah, sudah! Lidya, Keyla, fokus pada preparat kalian. Rendi, jangan membuat keributan. Kalau tumpah, tinggal dilap."

​"Baik, Pak," jawab Rendi datar. Ia menarik kertas kerjanya yang sedikit basah, mengambil tisunya sendiri, dan membersihkan meja itu seolah tanganku yang menyenggolnya membawa penyakit menular.

​Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan, menetes tepat di atas lensa mikroskop. Tanganku bergetar memegangi ujung meja untuk menopang tubuhku yang nyaris ambruk. Siska segera merangkul bahuku, menarikku sedikit mundur dari meja Rendi.

​"Udah aku bilang, Key. Dia itu monster," bisik Siska pelan di telingaku, mengipas-ngipasi emosiku dengan sangat lihai. "Kamu lihat sendiri kan bagaimana dia memperlakukanmu di depan umum? Dia merendahkanmu, Keyla."

​Aku tak bisa membalas. Telingaku berdenging. Perkataan Rendi tadi... pahlawan kesiangan. Kalimat itu bukan sekadar reaksi marah karena air yang tumpah. Kalimat itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan mengerikan.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!