Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Janji di Manila
Kembali ke masa enam bulan yang lalu di Manila, saat Cessie masih menjadi ratu di sisi Matteo—setidaknya dalam imajinasinya sendiri. Langit Manila malam itu mendung, seakan ikut merasakan kegelisahan yang merayap di dada Cessie. Di dalam apartemen mewahnya yang menghadap ke arah pelabuhan, ia menyesap wine merahnya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang pada kejadian di mall beberapa waktu lalu, saat ia sempat histeris melihat Matteo menggendong anak kecil dan seorang wanita berdiri disampingnya sambil melotot.
Saat itu, hatinya hampir mati sebelum akhirnya ia tahu bahwa itu adalah Sheena dan anak dari Mark Smith, kembaran Matteo.
"Hanya adik ipar," gumam Cessie pada bayangannya di kaca. "Hanya obsesi gila Matteo pada istri saudaranya. Aku bisa menanganinya. Aku bisa menjadi obatnya."
Cessie ingat betul malam di bandara sebelum Matteo terbang ke Seoul enam bulan lalu. Matteo tidak menjanjikan cinta, namun pria itu sempat menatapnya dan berkata,
"Aku akan kembali untuk menyelesaikan urusan M-Nexus di sini. Tunggu aku."
Bagi Cessie, kata "Tunggu aku" adalah sebuah kontrak tak tertulis. Selama dua tahun di Manila, dialah yang menemani Matteo saat pria itu mabuk karena frustrasi mengejar Sheena. Dialah yang mengurus kekacauan emosional Matteo. Cessie tahu sisi hangat Matteo yang tersembunyi di balik kekejamannya—sisi rapuh yang hanya diperlihatkan saat pria itu benar-benar lelah.
Namun, enam bulan terakhir ini, Seoul seolah menelan Matteo bulat-bulat.
Pesan Cessie hanya dibaca, teleponnya jarang diangkat, dan laporan dari mata-matanya di Korea mulai terdengar seperti mimpi buruk.
"Seorang wanita dengan dua anak?" Cessie melempar gelas wine-nya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Matteo mengejar seorang janda? Apa dia sudah gila?!"
Cessie meradang. Sebagai seorang gadis muda, cantik, dan berkelas, ia tidak habis pikir kenapa Matteo lebih memilih wanita yang sudah berpengalaman dan memiliki beban dua anak. Namun, laporan terakhir yang masuk ke ponselnya pagi ini benar-benar menghancurkan seluruh dunianya.
Data Hasil Tes DNA: Positif. Anak kembar Park Chae-young adalah darah daging Matteo Smith.
Tangan Cessie gemetar. Perasaannya tidak karuan. Jadi, alasan Matteo menetap di Seoul bukan karena bisnis, melainkan karena ia menemukan benih yang ia tanam lima tahun lalu.
"Jadi itu alasanmu tidak kembali, Matt? Karena kau menemukan keluarga kecilmu?" desis Cessie dengan air mata kemarahan yang mulai mengalir.
Cessie tidak bisa tinggal diam. Baginya, kenyamanan yang ia rasakan bersama Matteo selama dua tahun di Manila adalah segalanya. Ia merasa dialah yang paling mengenal Matteo, lebih dari siapa pun. Ia melihat Matteo yang mencoba menghancurkan kebahagiaan Mark, dan ia tetap bertahan di sana sebagai tempat Matteo bersandar.
"Kabar miring ini harus aku buktikan sendiri," ucapnya sambil menyambar paspor di atas meja. "Aku tidak akan membiarkan wanita kelas bawah di Seoul itu mengambil apa yang sudah aku jaga selama dua tahun ini."
Dengan tekad yang membara dan rasa cemburu yang sudah mencapai ubun-ubun, Cessie memesan tiket penerbangan pertama ke Incheon. Ia tidak peduli jika Matteo akan marah. Ia hanya ingin menatap mata pria itu dan bertanya: Kenapa dia, Matt? Kenapa bukan aku yang selalu ada untukmu saat kau hancur di Manila?
Kembali ke Realita (Seoul). Cessie berdiri di lobi M-Nexus, menatap taksi yang baru saja pergi—taksi yang sebenarnya membawa Chae-young yang sedang menangis. Ia tersenyum sinis, merasakan kemenangan kecil karena berhasil menempel pada Matteo tadi.
Namun, di dalam hatinya, Cessie tahu bahwa Matteo yang ia hadapi sekarang berbeda. Matteo yang sekarang memiliki pelindung kecil bernama Chan-yeol yang menatapnya dengan benci.
"Dua tahun aku di Manila, dan kau menukarku dengan drama keluarga ini, Matt?" batin Cessie sambil melangkah masuk kembali ke dalam gedung, siap untuk melancarkan taktik berikutnya untuk menyingkirkan Chae-young secara permanen.
...***...
Kesunyian di koridor apartemen Mapo terasa mencekam setelah pintu itu tertutup rapat di depan wajah Matteo. Pria yang biasanya mampu meruntuhkan bursa saham dengan satu kata itu, kini berdiri mematung seperti pecundang. Ia menatap nanar ke arah daun pintu kayu yang memisahkan dirinya dengan sisa kebahagiaan yang baru saja ia cicipi.
"Chan-yeol-ah..." bisiknya parau, namun ia tahu, putranya tidak akan menjawab.
Akhirnya, dengan langkah berat dan bahu yang merosot, Matteo memilih mundur. Ia kembali ke rumahnya yang dingin dan luas. Malam itu, bukan tawa anak-anak yang menemaninya, melainkan kepulan asap cerutu yang tebal dan gelas kristal berisi whisky yang terus terisi ulang.
Matteo menatap kerlap-kerlip lampu Seoul dari jendela raksasanya. Pikirannya terbang ke Manila—ke masa di mana ia benar-benar menjadi monster karena obsesi gilanya pada Sheena. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa masa lalu itu harus datang sekarang? Kenapa di saat ia baru saja menemukan alasan untuk menjadi manusia yang lebih baik, Cessie datang membawa semua borok lamanya?
Di sisi lain kota, Chae-young duduk bersandar di pintu kamarnya, memeluk lutut dengan air mata yang sudah mengering namun meninggalkan jejak perih. Perasaannya benar-benar kacau, bergelut dengan logika yang terus menampar kesadarannya.
Kenapa aku harus secemburu ini? batinnya merutuk. Matteo bukan siapa-siapa. Dia hanya ayah dari anak-anakku secara biologis. Kami tidak punya ikatan cinta yang nyata.
Namun, hatinya membantah. Rasa kecewa itu terlalu nyata. Chae-young merasa bodoh karena sempat berpikir Matteo adalah pria aneh yang kaku namun tulus. Ternyata, desas-desus tentang kehidupan kelam pria itu di Manila—skandal dengan adik ipar, obsesi gila, dan kehadiran wanita seperti Cessie—membuat Chae-young merasa rendah diri.
Apa aku hanya tameng? Pikiran itu menghantuinya. Apa dia menikahiku hanya agar dunia berhenti mencapnya sebagai pengacau rumah tangga orang lain? Apa dia hanya butuh status 'pria berkeluarga' untuk membersihkan namanya?
Logikanya menjerit agar ia menjauh, namun sebagian kecil hatinya berbisik: Kenapa kau tidak mendengar penjelasannya dulu? Bukankah kau juga punya masa lalu yang kelam semalam? Bukankah kalian sama-sama manusia yang pernah hancur?
Kepala Chae-young berdenyut kencang. Stres mulai menguasainya hingga ia merasa mual. Di saat ia nyaris tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri, dering ponsel yang nyaring membuyarkan segalanya.
Nama Song-min, asisten setianya di butik, berkedip di layar. Chae-young menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menjawab.
"Ya, Song-min? Ada apa menelepon malam-malam begini?"
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, Nona Park," suara Song-min terdengar sangat antusias sekaligus terburu-buru. "Tapi baru saja perwakilan dari Chan-elle menghubungi saya kembali. Mereka menagih jawaban soal tawaran kolaborasi tempo hari."
Chae-young tertegun. Tawaran itu—kesempatan emas untuk memamerkan desainnya di panggung internasional—sempat ia abaikan karena sibuk dengan urusan Matteo dan si kembar.
"Mereka bilang, direktur kreatif mereka akan berada di Seoul hanya sampai lusa. Jika kita tidak memberikan jawaban pasti mengenai soal kontrak kerjasama, mereka akan memberikan tawaran itu kepada desainer lain," lanjut Song-min.
Chae-young terdiam sejenak. Kabar ini seolah menjadi tamparan agar ia bangun dari keterpurukannya. Di saat pria dan masalah perasaan membuatnya hancur, kariernya justru sedang memanggilnya untuk terbang tinggi.
"Katakan pada mereka, besok pagi jam sembilan aku menunggunya untuk membahas kontrak kerjasama itu," ucap Chae-young dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah tegas.
"Baik, Nona Park! Saya akan segera sampaikan!"
Begitu panggilan berakhir, Chae-young menyeka sisa air matanya. Ia berdiri, berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan sketsa kain. Ia menatap jepit rambut lili di dalam laci sejenak, lalu menutup laci itu dengan rapat.
"Cukup, Park Chae-young. Jangan biarkan pria merusak duniamu lagi," bisiknya pada diri sendiri.
Malam itu, di tengah kegalauan hatinya, Chae-young memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia mulai menggambar dengan liar, menuangkan seluruh rasa sakit, cemburu, dan amarahnya ke dalam guratan pensil di atas kertas. Tanpa ia sadari, desain yang ia buat malam itu jauh lebih berkarakter dan bernyawa daripada desain-desain sebelumnya.