NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Matahari di Sirkuit Sentul hari itu rasanya ada tiga. Terik, berdebu, dan penuh dengan raungan knalpot racing yang memekakkan telinga. Di dalam paddock nomor 12, suasana tidak kalah panas. Bukan karena cuaca, tapi karena aura kompetisi yang memancar dari dua pria yang sedang berdiri berhadapan.

Gavin berdiri sambil bersandar di motor balapnya, memakai baju balap (wearpack) kulit berwarna hitam-hijau yang sudah penuh baret tanda sering rebahan di aspal. Sementara Zyan... dia berdiri dengan kaku memakai wearpack balap custom-made berwarna hitam-emas tiruan karakter superhero, lengkap dengan lambang Arsalan Group di bagian dada. Bajunya masih mengkilap, baunya masih bau toko, dan sangat melekat ketat di tubuh atletisnya.

"Gila, Om... lo kelihatan kayak pahlawan kesiangan yang nyasar ke sirkuit," bisik Alexa sambil menahan tawa saat membantu Zyan mengencangkan pelindung dada.

Zyan berdehem, mencoba mempertahankan wibawanya meski baju balap itu menekan beberapa bagian tubuhnya dengan sangat tidak manusiawi. "Alexa, apa baju ini tidak kekecilan? Saya merasa seperti dibungkus plastik vakum. Susah bernapas."

"Baju balap emang harus ketat, Om! Biar kalau lo ndlosor di aspal, kulit lo nggak ikutan lepas! Udah, dengerin instruksi gue sekarang. Di sirkuit ini, lo bukan Bos. Gue pelatih lo, paham?" Alexa menepuk dada Zyan dengan kunci pas yang selalu setumpuk di kantongnya.

"Paham, Pelatih," jawab Zyan pasrah.

Tiba-tiba, Gavin berjalan mendekat sambil menenteng helmnya. "Heh, Pak Direktur. Yakin mau ikutan latihan? Ini Sentul, Bro, bukan sirkuit gokart di mall. Kalau pusing karena kecepatan, mending munduran sekarang sebelum lo malu di depan bini lo."

Zyan menatap Gavin datar melalui kaca helmnya yang sengaja dibuka. "Simpan bicaramu untuk di lintasan, Gavin. Kita lihat siapa yang akan menggunakan ambulans di sirkuit hari ini."

Sesi latihan pertama dimulai. Alexa bertugas sebagai mentor di tepi lintasan, memegang pitboard dan stopwatch. Namun, sebelum Zyan naik ke atas motor sport 250cc yang sudah disiapkan, Alexa keluar dari ruang ganti paddock.

Zyan yang sedang memanaskan mesin motor langsung mematung. Pandangannya terkunci, dan tangannya mendadak lemas sampai hampir melepas stang motor.

Alexa keluar dengan memakai wearpack balapnya sendiri. Tapi karena cuaca sangat panas, bagian atas wearpack-nya sengaja diturunkan dan diikat di pinggang, menyisakan dirinya yang hanya memakai crop top hitam ketat bermerek yang memperlihatkan perut rata dan lekuk tubuhnya yang proporsional karena sering angkat-angkat ban. Rambutnya dikuncir kuda, dan ada sisa coretan oli tipis di pipinya yang sengaja tidak dihapus.

Dia kelihatan... sangat seksi dengan aura bad girl teknik yang mematikan.

"Alexa! Apa-apaan pakaian kamu itu?!" teriak Zyan dari balik helm, suaranya naik dua oktav.

Alexa menoleh, bingung. "Lah? Kenapa, Om? Anak-anak balap biasa kayak gini kalau di paddock, gerah tau!"

"Tidak boleh! Masuk dan pakai baju yang benar! Semua laki-laki di sirkuit ini sedang melihat ke arah kamu!" Zyan melirik tajam ke arah mekanik-mekanik Gavin yang matanya beneran hampir keluar dari tempatnya. Bahkan Gavin sendiri sedang bersiul nakal dari kejauhan.

"Duh, Om! Sensitif amat sih kayak testpack! Udah ah, buruan naik ke motor, waktu sewa sirkuit kita jalan terus nih!" Alexa mendorong punggung Zyan agar segera masuk ke lintasan.

Zyan terpaksa melaju ke dalam sirkuit dengan pikiran yang sama sekali tidak fokus. Di otaknya cuma ada gambar Alexa pake crop top dan tatapan mata Gavin.

VROOOOOM!

Zyan menarik gas. Di lurusan utama, dia berhasil memacu motornya sampai kecepatan 140 km/jam. Rasanya gila. Angin menghantam dadanya dengan keras. Dia mencoba mengingat semua video tutorial yang dia tonton di YouTube semalam tentang teknik cornering (menikung).

"Tikungan pertama... kurangi gigi, tekan rem depan, miringkan badan..." gumam Zyan dalam hati.

Dia mencoba meniru gaya Alexa. Dia memiringkan badannya ke kanan saat mendekati tikungan tajam S besar Sentul. Tapi masalahnya, Zyan lupa kalau berat badannya jauh lebih berat dari Alexa, dan dia terlalu cepat menurunkan kaki.

Dan yang paling parah, di pinggir tikungan itu, Alexa sedang berdiri sambil melambaikan tangan memberikan semangat, masih dengan pakaian kurang bahan-nya itu. Zyan melirik ke arah Alexa selama setengah detik.

Hanya setengah detik. Dan itu adalah kesalahan fatal.

KREEEET! GUBRAKKK! BUM!

Ban belakang Zyan kehilangan traksi karena dia ngerem mendadak di tengah tikungan sambil meleng. Motornya langsung tergelincir, dan sang Direktur Arsalan Group sukses meluncur indah di atas aspal, berguling-guling tiga kali sebelum akhirnya mendarat di atas tumpukan ban bekas di pinggir sirkuit.

"OM ZYAN!" Alexa berteriak histeris. Dia langsung melempar papan stopwatch-nya dan berlari kencang menerobos pembatas sirkuit, disusul oleh Rio dan tim medis.

Zyan telentang di atas tumpukan ban dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Helm mahalnya sudah lecet-lecet.

"Om! Lo nggak apa-apa kan?! Mana yang sakit?! Ada yang patah nggak?!" Alexa berlutut di samping Zyan, wajahnya panik setengah mati sampai matanya berkaca-kaca. Dia langsung membuka kaca helm Zyan.

Zyan membuka matanya perlahan. Dia menatap wajah Alexa yang sangat dekat dengannya. Bukannya mengeluh kesakitan, kalimat pertama yang keluar dari mulut Duda kaya ini adalah:

"Alexa... untung baju balap ini mahal. Kulit saya aman. Tapi... dada saya rasanya sesak."

"Hah?! Dada lo sesak?! Kena stang ya Om? Atau kena benturan?!" Alexa makin panik, dia sudah mau merobek baju balap Zyan.

"Bukan..." Zyan memegang tangan Alexa yang gemetar. "Dada saya sesak karena melihat kamu mengkhawatirkan saya sebegininya. Ternyata... jatuh dari motor itu ada enaknya juga kalau disambut seperti ini."

Alexa terdiam. Sedetik kemudian, dia memukul lengan Zyan dengan keras. PAKK!

"ADUH! Itu sakit, Alexa!" protes Zyan ringis.

"LO LAGI NYAWA NYARIS MELAYANG MASIH BISA-BISANYA NGELAWAK YA, OM! GUE UDAH MAU JANTUNGAN TAHU NGGAK!" teriak Alexa sambil menghapus air mata yang hampir jatuh di pipinya. "Lagian lo ngapain sih?! Tikungan gampang gitu bisa-bisanya ndlosor?!"

Zyan duduk dibantu oleh Rio, dia menunjuk Alexa dengan sisa tenaganya. "Ini semua salah kamu. Kenapa kamu berdiri di sana dengan pakaian seperti itu? Konsentrasi saya buyar total. Saya melihat tikungan, tapi otak saya melihat kamu."

Rio yang mendengar itu langsung menepuk jidatnya. "Astaga, Pak Zyan... bucin boleh, tapi jangan pas lagi cornering 100 km/jam juga kali, Pak. Untung motornya nggak hancur-hancur amat."

Gavin datang sambil ketawa ngakak sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Aduh, Pak Direktur! Baru lap kedua udah meluk ban bekas! Mending lo balik ke kantor deh, tanda tangan dokumen aja. Lintasan ini terlalu keras buat cowok kantoran kayak lo."

Zyan berdiri dengan sisa harga dirinya. Dia membersihkan debu di baju balapnya, lalu menatap Gavin tajam. "Ini baru latihan pertama, Gavin. Dan kecelakaan adalah bagian dari pembelajaran teknik, bukan? Alexa yang mengajari saya itu."

Zyan menoleh ke arah Alexa. "Pelatih, siapkan motor cadangan. Saya mau masuk ke lintasan lagi."

Alexa melongo. "Eh? Serius, Om? Badan lo nggak ada yang biru-biru?"

"Hati saya yang akan biru kalau saya menyerah di depan pria ini," jawab Zyan tegas, menunjuk Gavin dengan dagunya.

Sesi latihan kedua dilanjutkan sore harinya, setelah Alexa dipaksa Zyan untuk memakai jaket tebal yang dikancing sampai leher (meski Alexa terus mengeluh kepanasan).

Kali ini, Zyan berkendara dengan jauh lebih baik. Dia tidak lagi melihat ke arah Alexa. Fokusnya 100% pada aspal dan racing line. Di lap kelima, dia bahkan berhasil menempel ketat di belakang motor Gavin, membuat Gavin kaget saat melihat warna hitam-emas di spionnya.

Begitu latihan selesai dan malam mulai turun, mereka kembali ke hotel di dekat sirkuit. Zyan langsung ambruk di atas kasur king size dengan posisi tengkurap. Seluruh badannya rasanya remuk redam. Efek banting-banting di aspal tadi pagi baru terasa sekarang.

"Aww..." Zyan meringis saat mencoba menggerakkan bahunya.

Alexa masuk ke kamar membawa sebotol minyak urut tradisional yang baunya sangat menyengat—bau jahe dan serai campur balsem otot.

"Sini, Om. Sesi perawatan pasca-balap," ujar Alexa sambil duduk di atas punggung Zyan.

"Alexa, berat... dan bau apa ini? Kenapa baunya seperti bumbu dapur?" Zyan protes dengan wajah tertanam di bantal.

"Ini minyak urut legendaris dari bengkel Bokap gue, Om! Ampuh buat montir yang habis ketiban mesin fuso. Diem deh, jangan manja!" Alexa mulai menuangkan minyak itu ke punggung Zyan dan memijatnya dengan bertenaga.

"AAAKHH! Alexa, pelan-pelan! Kamu sedang memijat manusia, bukan sedang mengencangkan baut roda!" teriak Zyan kesakitan, tapi setelah beberapa menit, rasa hangat dari minyak itu mulai membuat otot-ototnya yang tegang menjadi rileks.

Suasana di dalam kamar mendadak hening. Hanya ada suara usapan tangan Alexa di punggung Zyan. Alexa menatap punggung suaminya yang lebar, melihat ada sedikit memar merah bekas jatuh tadi pagi.

"Om..." bisik Alexa pelan.

"Hmm?"

"Makasih ya."

"Untuk apa?" Zyan memutar kepalanya sedikit untuk melihat Alexa.

"Untuk semuanya. Untuk bengkel baru gue, untuk mau ikut-ikutan gila dateng ke Sentul, bahkan sampe ndlosor ke tumpukan ban. Lo... lo beneran mau ngelakuin semua ini demi masuk ke dunia gue."

Zyan tersenyum. Dia membalikkan badannya sehingga sekarang Alexa berada di atas dadanya. Zyan memegang kedua pipi Alexa yang hangat. "Alexa, saya sudah pernah bilang kan? Dunia saya dulu terlalu sepi dan kaku. Masuk ke duniamu yang berisik dan penuh oli ini... adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Jadi, jatuh dari motor itu tidak ada apa-apanya dibanding kehilangan kamu."

Alexa terpaku. Wajah Zyan yang tampan, dengan sedikit sisa lelah dan bau minyak urut balsem, mendadak kelihatan seribu kali lebih seksi daripada saat dia pake jas mahal.

"Om... lo kalau lagi bau balsem gini kok malah makin pinter ngomong ya?" goda Alexa, mencoba menutupi detak jantungnya yang makin balapan.

"Ini namanya teknik Advanced Romance, Pelatih," bisik Zyan. Dia menarik tengkuk Alexa ke bawah dan mencium bibirnya dengan sangat dalam dan penuh perasaan hangat. Ciuman di kamar hotel pinggir sirkuit itu terasa begitu nyata, tanpa ada batasan kasta atau gengsi lagi.

"Besok... saya akan kalahkan Gavin untukmu," bisik Zyan di sela ciuman mereka.

"Gak usah menangin balapannya, Om. Menangin hati gue aja udah cukup buat lo diskualifikasi semua cowok di dunia ini," jawab Alexa sambil nyengir, lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Zyan.

Bersambung....

1
Mela Mela
karyanya menarik bgt,seru,menantang bgt bacanya..seakan gw ikut masuk. didalem ceritanya👍
neyrfly: makasih kakk🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!