Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Dia kembali
“Hehehe…” ia terkekeh pelan. “Gampang banget sih ngerjain si nenek lampir.”
Namun tawa kecil itu perlahan mereda. Tatapan Raya kembali ke arah pintu. Wajahnya berubah serius.
“Aku harus tetap jaga mama…” gumamnya pelan.
Lalu ia berbalik, berjalan kembali ke arah aula dengan langkah cepat.
***
Beberapa jam kemudian…
Di tempat lain. Bandara internasional tampak ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang, suara pengumuman penerbangan terdengar bersahut-sahutan.
Di tengah keramaian itu, seorang wanita berjalan dengan penuh percaya diri. Tinggi sekitar 170 cm, tubuh ramping, kulit putih mulus, dan rambut pirang yang tergerai indah. Ia mengenakan pakaian yang sedikit terbuka namun tetap elegan, dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya.
Tangannya menarik sebuah koper. Langkahnya ringan, tapi penuh tujuan. Senyumnya merekah.
“Sebentar lagi, aku akan memberi kejutan untuk dia,” gumamnya pelan. “Semoga dia bahagia melihat kedatanganku.”
Ia berhenti sejenak di pinggir jalan bandara, lalu melambaikan tangan. Sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Wanita itu langsung masuk dan duduk dengan anggun.
“Ke alamat ini, ya Pak,” ucapnya sambil menyebutkan kawasan perumahan elit.
Taksi pun melaju, sepanjang perjalanan. Wanita itu sesekali menatap layar ponselnya. Di sana, terpampang foto dirinya bersama seorang pria. Senyumnya berubah lebih lembut.
“Aku rindu kamu…” bisiknya lirih. Jarinya mengusap layar itu perlahan. “Mungkin, setelah aku bilang perasaanku yang sebenarnya, hubungan kita bisa lebih serius,” batinnya. “Aku tahu kamu juga mencintaiku, hanya saja kamu gengsi mengatakan itu... karena kita sudah lama berteman.”
Ia tertawa kecil, penuh harapan. Sepanjang perjalanan, wajahnya terus dihiasi senyum bahagia.
Namun, beberapa menit kemudian...
Taksi mulai memasuki kawasan perumahan elit itu. Wanita itu menoleh ke luar jendela, memperhatikan satu per satu blok rumah.
“Di sini…” gumamnya pelan.
Namun, alisnya tiba-tiba berkerut. Di kejauhan, terlihat janur kuning melambai. Mobil berjalan semakin pelan, hatinya mulai tidak tenang.
“Acara apa ini…” gumamnya.
Dan saat taksi berhenti tepat di depan rumah tujuan. Napasnya tertahan, dekorasi pernikahan. Tamu-tamu yang keluar masuk. Suara musik yang samar terdengar dari dalam.
Deg.
Jantungnya berdetak kencang, ia turun perlahan dari mobil. Langkahnya terasa berat, dadanya sesak. Beberapa orang berjalan melewatinya.
Namun ia tidak peduli, matanya terpaku pada rumah itu. Seorang ibu-ibu kebetulan lewat di dekatnya. Wanita itu langsung menahannya.
“Maaf, Tante… kalau boleh tahu, ini ada acara apa ya?” tanyanya, berusaha terdengar tenang. “Kenapa rumah keluarga Wiratama ramai sekali?”
“Oh, ini?” jawab wanita itu santai. “Anaknya Pak Arya Wiratama menikah.”
Seperti disambar petir, wajah wanita itu langsung pucat.
“Pengantinnya cantik sekali loh,” sambung wanita lain di sebelahnya. “Iya, tapi katanya sudah punya dua anak…”
“Husst! Kamu ini,” bisik yang pertama. “Nanti kalau ada yang dengar bisa jadi masalah dengan keluarga Wiratama.”
“Ah iya, iya…”
“Kami permisi ya, Nona.”
Mereka pun pergi, meninggalkan wanita itu berdiri diam membeku.
Matanya melebar. “Nggak mungkin…” bisiknya pelan. “Nggak mungkin…” Tangannya sedikit gemetar. “Setahuku… anak Pak Arya hanya Arsen…” Napasnya mulai tidak teratur. “Jadi… yang menikah itu…”
Deg.
“Arsen…?”
Matanya langsung menatap ke arah pintu rumah itu. Penuh ketidakpercayaan.
“Arsen menikah, tanpa mengabari aku?”
Rasa sesak itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Marah, kecewa dan tidak terima menjadi satu.
Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat ke arah dalam. Langkahnya tegas, penuh emosi.
“Arsen… aku mau dengar langsung dari kamu,” gumamnya.
Wanita itu melangkah cepat menuju pintu utama. Namun belum sempat ia masuk, dua orang penjaga langsung menghadangnya.
“Maaf, Nona. Anda mau ke mana?” tanya salah satu penjaga dengan sopan, namun tegas.
Wanita itu berhenti, tatapannya dingin. “Saya mau ke dalam,” jawabnya ketus.
Penjaga itu saling pandang sebentar, lalu kembali menatapnya. “Apakah Nona memiliki undangan?”
Rahang wanita itu sedikit mengeras. “Saya ini teman dekatnya Arsen,” jawabnya, nada suaranya mulai meninggi. “Jadi saya boleh masuk dong, meskipun saya tidak memiliki undangan.”
Penjaga itu tetap tenang. “Mohon maaf, Nona. Ini peraturan. Bagi yang tidak memiliki undangan, dilarang masuk ke dalam.”
“Sial…” gumamnya pelan, menahan emosi.
Ia menarik napas, mencoba mengendalikan dirinya. Lalu menatap penjaga itu dengan tajam. “Tolong kabari Arsen,” ucapnya tegas. “Katakan Amanda Tirta Wijaya datang.”
Nama itu, membuat kedua penjaga saling pandang lagi. Ada sedikit keraguan di mata mereka. Akhirnya, salah satu dari mereka mengangguk dan segera memberi kabar ke penjaga yang berada di dalam.
Di dalam aula…
Arsen masih berdiri di tengah kerumunan tamu. Wajahnya tenang, senyumnya tipis saat menyalami satu per satu undangan. Namun tiba-tiba, seorang penjaga mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Maaf, Tuan… di luar ada Nona Amanda Tirta Wijaya.”
Deg.
Tangan Arsen yang sedang menjabat seseorang langsung terhenti sesaat. Tatapannya berubah, nama itu... nama yang tidak asing di telinganya.
Beberapa detik ia terdiam, wajahnya kini kembali dingin. “Ya sudah,” ucapnya akhirnya. “Suruh saja dia masuk.”
“Baik, Tuan muda.”
Di luar…
Penjaga itu kembali. “Silakan, Nona. Anda diperbolehkan masuk.”
Amanda tidak menjawab, ia hanya mengangguk tipis. Kopernya dititipkan di pos penjagaan tanpa banyak bicara.
Lalu, ia melangkah masuk. Langkahnya tenang. Namun aura di sekelilingnya, berbeda. Amarah, sakit, kecewa, dan cemburu semua bercampur menjadi satu.
Pintu aula terbuka.
Cahaya lampu langsung menyambutnya, suara musik dan tawa terdengar jelas. Namun semua itu terasa jauh baginya, matanya langsung menyapu ruangan. Mencari satu orang dan saat ia menemukannya.
Arsen berdiri di samping Nayra, dalam balutan pakaian pengantin yang sempurna dan serasi. Seolah dunia mereka hanya berdua.
Deg.
Senyum di wajah Amanda perlahan memudar, tangannya mengepal.
“Di samping Arsen seharusnya aku, bukan wanita itu," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Langkahnya kembali bergerak, ia mulai mendekat. Beberapa tamu mulai memperhatikannya. Aura wanita itu terlalu mencolok untuk diabaikan.
Sampai akhirnya, ia berhenti..Tepat di hadapan Arsen, suasana di sekitar mereka perlahan meredup. Seolah semua suara menghilang, hanya tersisa mereka bertiga.
Amanda, Arsen, dan Nayra. Tatapan mereka bertemu. Amanda berdiri tepat di hadapan mereka. Beberapa detik ia hanya terdiam, matanya menatap Arsen lekat.
Namun perlahan ia menarik napas. Senyum tipis dipaksakan muncul di wajahnya. "Selamatnya ya, Arsen... " ucapnya, suaranya lembut dan sedikit bergetar.
Arsen menatap balik, "Terima kasih Manda, " jawabnya singkat.
Amanda mengalihkan pandangan kearah Nayra. Menatapnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Lalu ia tersenyum, "selamat juga buat kamu, kamu beruntung," ucapnya kali ini pada Nayra.
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Namun entah kenapa, ada badan yang sulit dijelaskan di baliknya. Nayra membalas dengan senyum tipis.
"Terima kasih."
Di balik. meja tamu, sepasang mata memperhatikan tajam. Ibu Ambar wajahnya langsung berubah begitu melihat siapa yang datang.
"Amanda..." gumamnya pelan. Seketika senyum licik mulai terpancar.
Saat ia hendak berdiri, tubuhnya sudah sedikit terangkat dari kursi. Tiba-tiba sebuah tangan menahan lengannya.
"Duduk, " ucap Pak Arya.
Ibu Ambar menoleh dan terlihat kesal. "Lihat itu, " bisiknya pelan. "Perempuan itu Amanda, Mas. Aku ingin bertemu dengannya."
"Sebaiknya kamu duduk, jangan ikut campur, " tegas Pak Arya.
Pak Arya tahu apa yang akan di perbuat oleh istrinya itu. Ibu Ambar hanya mendengus kesal.
semangat, lanjut thoor😄👍