Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Bertemu Pemeran Utama
Kereta kuda barang yang dinaiki oleh Luvya terus bergulir. Roda kayunya menghantam batu-batu jalanan yang tidak rata, membuat tubuh Luvya sesekali terantuk keras pada dinding kereta. Luvya mendesis, tangan kecilnya mencengkeram erat pinggiran karung wol. Rasa pusing menghantam kepalanya, dan perutnya yang memang sudah mulas karena haid kini ditambah dengan rasa mual yang hebat akibat guncangan kereta.
"Ugh..." Luvya bergumam kesal, wajahnya pucat pasi. "Kalau begini terus, aku pasti akan muntah-muntah begitu turun nanti."
Sambil menahan mual, pikirannya melayang liar. Ia telah berhasil kabur, emas ada di tangannya, dokumen penting tersimpan rapi. Namun, ke mana ia harus pergi? Dunia ini sangat luas, dan sebagai Luvya Vounwad yang kini menjadi buronan kuil sekaligus anak dari Duke yang dibenci banyak orang, tempat aman terasa seperti sebuah mitos.
Citttt!
Tiba-tiba kereta berhenti mendadak. Luvya terlonjak, hampir saja terlempar dari gundukan wol. Jantungnya berdegup kencang. Apakah penjaga kuil sudah menemukanku? batinnya panik.
Namun, yang terdengar bukanlah derap sepatu besi prajurit, melainkan suara napas tersengal seorang gadis yang berlari mengejar kereta. Terdengar percakapan singkat di depan, suara denting koin yang berpindah tangan, dan tak lama kemudian, seseorang memanjat naik ke atas kereta barang itu.
Luvya membeku di posisinya. Sosok yang naik itu adalah seorang gadis dengan ukuran tubuh yang hampir sama dengannya. Ia mengenakan jubah cokelat kusam untuk menutupi pakaiannya. Namun, saat gadis itu duduk dan tudungnya sedikit tersingkap, Luvya tertegun.
Rambut berwarna merah muda lembut menyembul dari balik jubah. Di dunia ini, warna rambut seperti itu bukan hal yang biasa. Itu adalah ciri khas yang hanya dimiliki oleh garis keturunan bangsawan tinggi tertentu. Gadis itu menoleh, menatap Luvya dengan sepasang mata berwarna hijau terang yang tampak jernih namun penuh dengan kesedihan yang dalam.
Luvya mendadak merasa kikuk. Ia merapatkan mantel abu-abunya, mencoba menyembunyikan diri.
Gadis di depannya itu menghela napas panjang, sebuah napas yang sarat akan beban hidup yang berat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan sebuah kalung dari balik jubahnya. Sebuah liontin dengan batu permata biru yang indah, terbingkai dalam kerangka perak yang sangat halus. Ia menggenggamnya erat, seolah kalung itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.
Mata Luvya melebar. Kepalanya terasa seperti dihantam gada.
Rambut merah muda... mata hijau... kalung permata biru itu...
Ingatan dari masa hidupnya sebagai Lily mendadak berputar cepat. Adegan ini adalah adegan pembuka dari bab pertama novel yang ia masuki, "A Healer for the Crown".
Gadis ini adalah Sellia Hastelle, sang pemeran utama wanita.
Luvya ingat betul alurnya. Wilayah kekuasaan keluarga Sellia baru saja luluh lantak karena keserakahan Duke Ilyas Vounwad—ayah Luvya sendiri—yang merebut kekuasaan di sana. Ayah Sellia, Count Hastelle, tewas di medan perang. Ibunya tewas terbakar di kediaman mereka saat kerusuhan pecah. Sebelum napas terakhirnya, ibu Sellia memberikan kalung itu dan menyuruhnya lari ke Akademi Sihir untuk menemui pamannya, seorang guru sihir hebat, demi menyelamatkan nyawanya.
Luvya merasa sekujur tubuhnya mendingin. Bulu kuduknya merinding hebat, lebih hebat daripada saat ia melihat mayat si Bapak semalam.
Gila... ini benar-benar gila, batin Luvya dengan ngeri.
Salah satu alasan utama mengapa Pemeran Utama Pria sangat membenci Luvya Vounwad dan menyiksanya sampai mati di alur aslinya adalah karena Luvya adalah anak dari pria yang menghabisi keluarga Sellia. Terlebih lagi, di novel itu, Luvya selalu mencari cara jahat untuk menyerang Sellia karena cemburu.
Kini, dua orang yang seharusnya menjadi musuh itu duduk di atas kereta yang sama, berbagi tumpukan wol yang sama. Identitas Luvya adalah racun bagi gadis di depannya ini.
Luvya menelan ludah, tangannya meremas tas kulitnya dengan sangat kencang. Ia menyadari satu hal bahwa keberadaannya di sini, tepat di depan Sellia, adalah ancaman maut bagi dirinya sendiri jika identitasnya sampai terungkap.
Suasana di atas kereta kuda itu mendadak sangat sunyi, hanya diiringi deru roda yang menggilas jalanan tanah. Meski raga Luvya diam mematung, kepalanya sedang bekerja ekstra keras, seperti mesin yang dipaksa berputar hingga panas.
Luvya menatap tumpukan wol di bawahnya, mencoba menyusun potongan-potongan strategi untuk bertahan hidup.
Rencana A: Ikut dengan Sellia ke Akademi Sihir, menjalin persahabatan yang erat, dan menjadi orang kepercayaan sang heroine. Dengan begitu, ia punya perisai paling kuat di dunia ini. Tapi risikonya terlalu besar. Kalau Sellia tahu bahwa sahabatnya adalah anak dari pria yang membantai orang tuanya dan memberitahu kepada Putra Mahkota, kemarahan pria itu akan meledak dua kali lipat. Luvya bisa tamat sebelum novel benar-benar dimulai.
Rencana B: Jujur sejak awal. Memberitahu Sellia bahwa ia juga korban kekejaman Duke Vounwad. Mengatakan bahwa ia disiksa, dibuang, dan dikirim ke kuil terkutuk. Sellia memang baik hati, dia pasti akan merasa simpati. Namun, bagaimana dengan orang lain? Bagaimana kalau Putra Mahkota tetap menganggapnya sebagai darah kotor yang harus dimusnahkan demi keadilan bagi Sellia? Tidak, itu terlalu berjudi dengan nyawa.
Luvya menghela napas pendek, merasa frustasi dengan semua kemungkinan yang berakhir dengan kematiannya. Namun, sebuah pikiran baru muncul, sebuah rencana yang terasa lebih masuk akal.
Rencana Final: Ikut ke Akademi Sihir, tapi tetap menjaga jarak yang aman. Ia akan menggunakan Sellia sebagai tiket masuk untuk mendapatkan perlindungan sementara di Akademi, tempat yang aman dari pengikut sekte ataupun orang-orang kuil.
Setelah ia mendapatkan cukup ilmu sihir, mengumpulkan informasi lebih banyak, dan kondisinya sudah stabil, ia akan menghilang. Kabur ke tempat yang sangat jauh, ke ujung dunia yang tidak pernah ditulis di dalam novel ini. Persetan dengan takdir villainess atau hubungan rumit antar tokoh. Fokus utamanya sekarang bukan lagi menjadi bagian dari cerita, tapi menyelamatkan diri sendiri dari narasi yang mematikan ini.
Luvya melirik Sellia dari balik tudungnya. Gadis berambut merah muda itu masih terlihat rapuh, terus menggenggam liontinnya dengan mata berkaca-kaca.
Maaf, Sellia, batin Luvya tajam. Aku tidak akan membully-mu seperti di novel, tapi aku juga tidak bisa jadi sahabat sejatimu. Aku hanya butuh tumpangan untuk hidup.
Luvya menarik napas dalam-dalam, menekan rasa mual di perutnya, lalu mencoba memasang ekspresi paling ramah yang bisa ia tunjukkan. Ia tahu, langkah pertama untuk bertahan hidup adalah memenangkan hati sang pemeran utama wanita
"Siapa namamu?" tanya Luvya lembut, memecah kesunyian di antara deru roda kereta.
Sellia tersentak. Bahunya menegang dan ia refleks menarik tudung jubahnya lebih rendah, seolah ingin menghilang ke dalam tumpukan wol. Matanya yang hijau terang menatap Luvya dengan penuh ketakutan dan kewaspadaan, persis seperti rusa yang terkepung.
Melihat itu, Luvya tidak memaksanya. Ia justru tersenyum tipis, senyuman yang terlihat tulus meski di dalamnya penuh perhitungan.
"Aku Luvya," ucapnya memperkenalkan diri lebih dulu untuk mencairkan suasana. "Aku berasal dari tempat yang sangat jauh dari sini. Sebenarnya... aku baru saja dibuang oleh orang tuaku, jadi aku tidak tahu harus ke mana sekarang. Kalau kau? Mau pergi ke mana?"
Mendengar kata 'dibuang', binar ketakutan di mata Sellia perlahan berubah menjadi rasa simpati yang mendalam. Kata itu seolah menjadi jembatan bagi dua jiwa yang sama-sama kehilangan segalanya malam itu. Sellia sedikit melonggarkan pegangannya pada liontin biru miliknya.
"Saya Sellia... Sellia Hastelle," jawabnya pelan, hampir berupa bisikan. "Saya akan pergi ke Kota Hanberg."
Luvya mengangguk paham. Nama itu langsung memicu ingatannya tentang bab-bab awal novel. Kota Hanberg, kota metropolitan yang makmur, pusat ilmu pengetahuan, dan tempat berdirinya Akademi Sihir yang megah.
"Apakah kereta ini akan berhenti di Hanberg?" tanya Luvya lagi, berpura-pura buta arah.
Sellia menggeleng ragu. "Saya tidak tahu pasti. Tapi di setiap pemberhentian nanti, saya akan mengamati apakah itu Hanberg atau bukan."
Luvya terdiam sejenak, lalu menatap Sellia dengan binar rasa ingin tahu yang dibuat-buat. Ini adalah bagian dari strateginya agar Sellia merasa dibutuhkan.
"Kota Hanberg itu seperti apa?" tanya Luvya dengan nada penuh harap, seolah ia adalah gadis desa malang yang belum pernah mendengar tentang kota besar.
Padahal, dalam kepalanya, Luvya sudah hafal setiap sudut Hanberg dari deskripsi novel. Mulai dari kanal airnya yang jernih sampai menara akademi yang menyentuh awan. Namun, dengan bertanya seperti ini, ia sedang memancing Sellia agar merasa senasib dan, jika beruntung, mengajak Luvya untuk pergi bersama.
Ayo, Sellia. Kasihanilah aku dan ajak aku ke akademi itu bersama-sama, batin Luvya sambil menatap Sellia dengan pandangan memelas.
"Itu adalah kota dengan akademi sihir nomor satu di negara ini," ucap Sellia, suaranya mulai terdengar sedikit lebih bersemangat saat menceritakan tujuan akhirnya. "Kota itu mempunyai menara yang menjulang tinggi, simbol bahwa sihir mereka sangat ajaib."
Luvya melebarkan matanya, memberikan binar kekaguman yang terlihat sangat polos. "Wah... kedengarannya sangat menarik. Andai aku bisa melihat tempat sehebat itu seumur hidupku sekali saja," pancing Luvya dengan nada suara yang merendah, seolah ia benar-benar anak terbuang yang tidak punya harapan.
Sellia menatap Luvya lekat-lekat. Ada rasa kesepian di mata hijau itu yang bertemu dengan rasa iba. Menempuh perjalanan jauh sebagai pelarian sendirian adalah hal yang menakutkan, dan kehadiran Luvya yang tampak senasib dengannya memberikan sedikit keberanian bagi sang pemeran utama wanita.
"Saya akan berhenti di Hanberg," ucap Sellia kemudian, nada bicaranya jauh lebih hangat. "Apakah... Anda ingin ikut dengan saya melihat menaranya?"
Tepat sasaran! batin Luvya berteriak girang.
Namun, di luar, Luvya hanya tersenyum haru, matanya seolah berkaca-kaca karena tawaran itu. "Benarkah? Apakah aku tidak merepotkanmu, Sellia? Aku... aku tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu sebagai balas budi."
Sellia menggeleng pelan, tangannya yang menggenggam liontin biru tampak lebih relaks. "Tidak perlu. Setidaknya kita bisa saling menemani di jalan. Kota besar bisa sangat menakutkan bagi gadis seperti kita."
"Terima kasih, Sellia! Kau benar-benar penyelamatku," jawab Luvya sambil menunduk sedikit, menyembunyikan kilatan matanya yang penuh perhitungan.