NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:280
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9:Terseret Masalah

Sisa-sisa kabut fajar di lereng Gunung Giok Hijau tidak lagi membawa kesejukan, melainkan bau amis belerang dan uap kematian.

Di depan Vila Teratai Putih, barisan bambu hitam yang biasanya menari ditiup angin kini tegak kaku, bersimbah darah para pengintai yang mencoba masuk.

Klan Feng tidak lagi mengirim pembunuh bayaran, kali ini, mereka mengirim Unit Bayangan Pemutus Jiwa, pasukan elit yang dipimpin oleh salah satu tetua luar mereka, Feng Mo, seorang praktisi di ranah Marrow Purification tingkat 2.

​Chen Lin berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah gerbang kayu yang mulai retak di bawah hantaman energi spiritual musuh. Di sampingnya, Wei Lan berdiri dengan aura yang meledak-ledak.

Kenaikannya ke Puncak Tingkat 9 Blood Purification membuatnya tampak seperti pedang giok yang baru saja diasah.

​"Mereka datang bukan untuk menangkap, tapi untuk memusnahkan," bisik Chen Lin.

Suaranya datar, namun ada getaran Energi Spiritual Biru yang mulai merambat di ujung jarinya.

"Wei Lan, ini adalah ujian pertama bagi kekuatan barumu. Jangan biarkan satu pun dari mereka meninggalkan lereng gunung ini dalam keadaan bernapas."

Gerbang vila meledak menjadi serpihan kayu saat Feng Mo melangkah masuk dengan kapak hitam raksasanya.

"Hantu Es! Keluar dan hadapi kematianmu!" teriaknya, suaranya mengguncang fondasi bangunan.

​Namun, yang ia temui bukanlah pemuda berjubah kusam, melainkan sesosok wanita yang mengenakan gaun putih bersih dengan mata yang berkilat seperti bintang kutub.

Wei Lan melesat turun dari balkon seperti kilat perak. Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan Teknik Salju Abadi Klan Wei yang kini telah dimurnikan oleh energi es Chen Lin.

​Udara di halaman vila membeku seketika. Para prajurit Klan Feng yang berada di tingkat 8 dan 9 Blood Purification mendapati kaki mereka terpaku pada tanah. Wei Lan tidak lagi ragu, ia bergerak di antara mereka seperti dewi kematian.

Setiap tebasan telapak tangannya memutus aliran kehidupan musuh, meninggalkan jejak es di setiap luka.

​Chen Lin mengamati dari atas, sesekali melepaskan Teknik Bayangan Tujuh Pedang untuk mencegat serangan jarak jauh yang mengincar punggung Wei Lan.

Ia bekerja sebagai pengatur ritme di balik layar, memastikan bahwa Wei Lan dapat meluapkan seluruh kekuatannya tanpa terganggu.

​Pertempuran itu singkat namun brutal. Feng Mo, yang awalnya sombong, mendapati kapaknya membeku dan retak saat beradu dengan telapak tangan Wei Lan.

Di bawah tekanan aura Puncak Tingkat 9 yang murni, sang tetua luar Klan Feng itu akhirnya tumbang dengan jantung yang membeku total.

​"Selesai, Tuanku,"

Wei Lan berdiri di tengah tumpukan patung es, napasnya stabil namun wajahnya memerah karena adrenalin. Ia menatap Chen Lin dengan binar kekaguman yang semakin dalam.

"Bagus. Tapi ini baru permulaan," jawab Chen Lin.

"Kabar tentang kesembuhanmu dan kematian

Feng Mo akan mencapai kota dalam hitungan jam. Sekarang, saatnya kau kembali ke Klan Wei. Ambil posisimu kembali, dan aku akan mengawasimu dari balik bayang-bayang."

​Beberapa jam kemudian, Kota Qīngchú diguncang oleh kemunculan Wei Lan di gerbang utama Klan Wei. Berita tentang kesembuhan total Nona Pertama menyebar lebih cepat dari api yang ditiup angin.

Di Aula Utama Klan Wei, suasana sangat tegang. Patriark Wei, seorang pria berwibawa dengan rambut yang mulai memutih, duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang berkaca-kaca.

​"Lan-er... kau... kau benar-benar telah sembuh?" Patriark Wei berdiri, suaranya bergetar saat merasakan aura Puncak Tingkat 9 yang memancar dari putrinya. "Bagaimana mungkin? Alkemis terbaik sekalipun mengatakan..."

​"Ayah, takdir memiliki jalannya sendiri," jawab Wei Lan dengan anggun.

Ia tidak menyebut nama Chen Lin, sesuai janjinya.

"Seorang pengembara misterius memberiku penawar, dan kini aku telah kembali untuk memenuhi kewajibanku pada klan."

​Patriark Wei tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa kebahagiaan yang sudah lama tidak terdengar di aula itu.

"Luar biasa! Dengan kau di Puncak Tingkat 9 di usia sedini ini, masa depan Klan Wei akan bersinar terang!"

​Namun, di sudut aula, seorang wanita cantik dengan pakaian sutra yang terlalu mewah menatap pemandangan itu dengan mata menyipit penuh kebencian.

Dia adalah Ibu Tiri Wei Lan, Nyonya Han. Di sampingnya, putrinya sendiri Wei Shua tampak pucat pasi karena merasa posisinya sebagai jenius kedua di klan kini terancam sepenuhnya.

​Nyonya Han melangkah maju dengan senyuman yang dipaksakan.

"Selamat, Lan-er. Sungguh keajaiban yang luar biasa. Namun, sebagai Ibu, aku juga memikirkan masa depanmu yang lebih luas. Mengingat kau sudah mencapai usia dewasa dan bakatmu telah kembali, bukankah ini saat yang tepat untuk memikirkan stabilitas klan kita?"

​Patriark Wei mengernyit. "Apa maksudmu?"

​"Klan Qin dari wilayah Selatan telah berkali-kali mengajukan lamaran untuk Tuan Muda mereka, Qin Feng," lanjut Nyonya Han, suaranya manis namun mengandung racun.

"Qin Feng adalah praktisi berbakat di ranah Marrow Purification. Pernikahan antara kau dan dia akan menciptakan aliansi yang tak tertandingi di Kota Qīngchú. Ini adalah kepentingan klan, Lan-er. Lagipula, kau sudah cukup umur untuk membina rumah tangga."

​Ruangan itu mendadak sunyi. Para tetua klan mulai berbisik-bisik, banyak yang mengangguk setuju. Pernikahan politik adalah hal lumrah, dan mengawinkan Wei Lan dengan Klan Qin akan memberikan perlindungan ekstra terhadap agresi Klan Feng yang sedang meradang.

​Wei Lan merasakan amarah dingin menjalar di tulang belakangnya.

Di benaknya, hanya ada satu bayangan, seorang pemuda berjubah abu-abu yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menariknya dari jurang kematian.

Dibandingkan dengan Chen Lin, Tuan Muda Qin Feng hanyalah debu di jalanan.

"Aku menolak," suara Wei Lan memotong diskusi para tetua seperti pedang yang menebas sutra.

​Nyonya Han terkesiap, wajahnya berubah kaku.

"Menolak? Lan-er, ini demi klan! Jangan egois!"

​Wei Lan melangkah maju ke tengah aula, auranya meledak, menekan semua orang yang ada di sana hingga para penjaga di pintu harus berpegangan pada tombak mereka agar tidak jatuh.

Ia menatap Ibu tirinya dengan tatapan meremehkan yang membuat Nyonya Han mundur selangkah.

​"Kepentingan klan tidak akan tercapai dengan menjualku pada orang luar," ucap Wei Lan dengan lantang. Matanya berkilat penuh tekad.

"Dan yang paling penting... aku tidak akan pernah menikah dengan Qin Feng karena aku sudah memiliki seseorang yang kusukai! "

.......

​Kata-kata itu seolah meruntuhkan atap aula. Seluruh orang di ruangan itu membeku dengan ekspresi sangat terkejut. Patriark Wei hampir terjatuh dari kursinya, sementara para tetua saling pandang dengan mulut terbuka.

Wei Lan jarang keluar rumah. Selama bertahun-tahun ia terkurung oleh penyakitnya. Ia hampir tidak pernah berinteraksi dengan pria mana pun, bahkan dari kalangan bangsawan Qīngchú sekalipun.

Siapa pria yang sanggup mencuri hati Nona Pertama yang terkenal dingin dan penyendiri ini?

​"Siapa?!" Patriark Wei akhirnya bersuara, suaranya bercampur antara marah dan penasaran.

"Lan-er, siapa pria itu? Dari klan mana dia berasal?"

​Wei Lan terdiam sejenak, wajahnya sedikit merona saat membayangkan sosok misterius Chen Lin, namun ia segera mengembalikan ekspresi dinginnya.

"Dia bukan dari klan mana pun yang kalian kenal. Tapi dia adalah orang yang memberiku hidup baru. Dan mulai hari ini, tidak ada satu pun pria di daratan utama ini yang boleh menyentuhku kecuali dia."

Di luar aula, tersembunyi di balik bayang-bayang pilar raksasa, Chen Lin mendengarkan setiap kata tersebut dengan indra spiritualnya. Lin XingYu tertawa kecil di dalam kalung giok.

​"Oh, Chen Lin... sepertinya pionmu telah berubah menjadi perisai yang sangat setia. Dia baru saja menyatakan perang pada tradisi klannya demi dirimu. Apakah kau siap menghadapi badai yang akan datang? Klan Qin tidak akan tinggal diam setelah dihina seperti ini."

​Chen Lin tidak tersenyum. Matanya menatap ke arah Wei Lan yang berdiri tegak di tengah aula, menantang seluruh keluarganya.

"Dia memilih jalannya sendiri. Tapi jika Klan Qin atau Nyonya Han berani menyentuhnya... mereka akan belajar bahwa es tidak hanya membekukan, tapi juga menghancurkan hingga menjadi debu."

Malam itu, pengakuan Wei Lan menjadi skandal terbesar dalam sejarah Kota Qīngchú. Di balik pintu tertutup, Nyonya Han mulai menyusun rencana yang lebih keji, sementara Klan Qin mulai memobilisasi pasukan mereka karena merasa terhina.

​Namun di sebuah sudut kota yang sunyi, Chen Lin mulai merasakan getaran di dalam sumsum tulangnya.

Cairan Sumsum Kristal Hitam yang ia konsumsi sebelumnya mulai bereaksi dengan emosi dan energi di sekitarnya.

​"Persiapkan dirimu, Chen Lin," bisik Lin XingYu. "Konflik ini akan menjadi tungku pembakar bagi terobosanmu. Marrow Purification tidak akan datang melalui meditasi yang damai, tapi melalui pembaptisan darah dan api."

​Chen Lin menutup matanya, membiarkan energi Birunya berputar.

Malam di Kota Qīngchú tak pernah benar-benar sunyi sejak Wei Lan melontarkan sumpahnya di Aula Besar

Angin yang berembus dari wilayah Selatan membawa aroma wangi bunga persik yang tajam, namun di baliknya terselip bau amis logam dan niat membunuh yang pekat.

Pernyataan Wei Lan bukan sekadar penolakan itu adalah tamparan bagi Klan Qin, sang penguasa wilayah Selatan yang selama ini memuja kehormatan di atas segalanya.

​Di sebuah paviliun tersembunyi yang diselimuti tanaman merambat, Chen Lin duduk bersila di atas lantai batu.

Di depannya, sebotol kecil cairan perak berkilauan Esensi Sumsum Langit hasil jarahan terakhir dari pemimpin Unit Bayangan Klan Feng. Chen Lin menatap botol itu dengan mata yang menyimpan pantulan bintang-bintang yang membeku.

​"Jangan terburu-buru, Chen Lin," suara Lin XingYu merambat lembut, seperti sutra yang menyentuh kulit.

"Nona Wei mu telah membakar jembatan di belakangnya. Dia telah menjadikan dirimu sebagai pusat dunianya, meski dunia itu kini dipenuhi oleh serigala yang kelaparan. Sekarang, kau harus menjadi lebih kuat dari sekadar seorang jenius, kau harus menjadi fondasi yang tak tergoyahkan."

​Di kediaman Klan Wei, suasana berubah menjadi dingin yang menyesakkan. Nyonya Han, sang ibu angkat, berdiri di balkon kamarnya sambil memilin helai kain sutranya hingga memucat.

Di matanya, Wei Lan bukan lagi seorang putri, melainkan duri yang harus segera dicabut sebelum tumbuh menjadi lebih besar.

​"Dia pikir dia bisa menghina Klan Qin dan tetap berdiri tegak?" bisik Nyonya Han, suaranya mengandung racun yang lebih tajam dari belati.

"Jika dia menginginkan pria misterius itu, maka aku akan memastikan pria itu menjadi abu, dan Wei Lan akan merangkak di kaki Qin Feng untuk memohon ampun."

​Tanpa sepengetahuan Patriark Wei, Nyonya Han telah mengirimkan sepucuk surat rahasia kepada Qin Feng, Tuan Muda Klan Qin.

Isinya sederhana namun mematikan, lokasi persembunyian pria yang diduga sebagai kekasih Wei Lan dan janji bantuan dari dalam klan untuk menjatuhkan posisi Wei Lan sebagai pewaris.

​Tiga hari setelah pengakuan itu, saat bulan mencapai puncaknya, keheningan di sekitar vila rahasia Chen Lin pecah oleh suara langkah kuda yang berat.

Qin Feng tiba dengan jubah perang berwarna emas redup, memegang tombak panjang yang memancarkan aura api yang sanggup menguapkan embun malam.

​"Keluarkan dia!" teriak Qin Feng, suaranya menggelegar, penuh dengan amarah praktisi ranah Marrow Purification Tingkat 2.

"Aku ingin melihat wajah pria yang berani mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku!"

​Chen Lin melangkah keluar dari kegelapan. Ia tidak mengenakan topeng, namun capingnya tetap menutupi sebagian wajahnya.

Di sampingnya, Wei Lan muncul dengan pedang giok yang sudah terhunus, matanya berkilat penuh kebencian.

​"Qin Feng, kau tidak punya urusan di sini. Pergi, atau kau akan menjadi mayat di lereng gunung ini," ancam Wei Lan, suaranya sedingin es abadi.

​"Membela dia, Lan-er? Itu hanya membuatku semakin ingin menghancurkannya!" Qin Feng melesat maju, tombaknya berputar menciptakan naga api yang menyambar ke arah Chen Lin.

​Namun, sebelum Wei Lan sempat bertindak, Chen Lin mengangkat satu tangannya. Teknik Pembeku Spiritual meledak dalam bentuk yang berbeda.

Kali ini, ia tidak membekukan udara, melainkan membekukan momentum serangan itu sendiri.

​Bum!

​Api naga itu membeku di udara, menjadi patung api kristal yang kemudian pecah berkeping-keping.

Chen Lin melangkah maju, setiap pijakannya membuat bumi bergetar dan lapisan perak tipis mulai muncul di permukaan kulitnya.

​"Ini saatnya, Chen Lin" perintah Lin XingYu.

​Chen Lin tidak menyerang balik dengan senjata. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai wadah. Saat tombak Qin Feng menghantam tubuhnya, Chen Lin tidak terpental.

Sebaliknya, ia menangkap mata tombak itu dengan tangan telanjang. Esensi dari Inti Sumsum Kristal Hitam yang selama ini ia simpan di dalam tubuhnya tiba-tiba bereaksi dengan benturan energi api Qin Feng.

​Rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke pusat tulangnya. Di dalam sistem internalnya, darah mulai mendidih, merembes masuk ke dalam pori-pori tulang yang keras.

Ini adalah Marrow Purification.

​Sumsum tulangnya, yang selama ini berwarna putih tulang biasa, perlahan-lahan berubah menjadi lebih cerah dan berkilauan.

Setiap getaran dari serangan Qin Feng justru membantu Chen Lin melatih esensi itu untuk masuk lebih dalam ke dalam struktur tulangnya.

​"Apa?! Bagaimana mungkin kau menahan seranganku dengan tubuh fana?!" Qin Feng berteriak frustrasi, ia mengerahkan seluruh tenaganya, namun tombaknya seolah tertanam di dalam gunung es yang tak tergoyahkan.

​Chen Lin mengangkat wajahnya. Di bawah cahaya rembulan, matanya kini benar-benar terbuka sepenuhnya.

"Kekuatanmu... hanyalah percikan api kecil di depan samudra esku."

​Dengan satu sentakan tangan, Chen Lin menghancurkan tombak Qin Feng menjadi puluhan bagian.

Gelombang energi perak meledak dari tubuhnya, menghempaskan Qin Feng hingga jatuh berlutut, memuntahkan darah segar yang langsung membeku di tanah.

Wei Lan terpaku melihat pemandangan itu. Ia tahu Chen Lin kuat, tapi melihatnya menembus ranah di tengah pertempuran dengan cara yang begitu ekstrem membuatnya semakin terpesona.

Baginya, Chen Lin bukan lagi sekadar penyelamat; dia adalah sosok dewa yang berjalan di antara manusia.

​Ia berlari mendekati Chen Lin saat pemuda itu sedikit terhuyung setelah ledakan energi tersebut. Wei Lan menangkap tubuh Chen Lin, membiarkan kepala pemuda itu bersandar di bahunya.

"Tuanku... kau terluka?" bisiknya dengan nada yang sangat lembut, penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan lagi.

​Chen Lin menatap Wei Lan. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat ketulusan yang murni di mata sang Nona Wei.

"Aku tidak apa-apa. Tulangku... kini sudah berubah."

​Wei Lan tersenyum, air mata haru menggenang di sudut matanya. Ia tidak peduli jika seluruh dunia memusuhinya, selama ia bisa berada di samping pria ini.

Ia mempererat pelukannya, seolah-olah ingin membagikan kehangatan tubuhnya kepada Chen Lin yang selalu terasa dingin.

​"Aku akan melindungimu," janji Wei Lan pelan. "Meskipun aku harus melawan seluruh klan di daratan ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

Qin Feng melarikan diri dengan sisa kekuatannya, membawa kekalahan yang memalukan.

Namun, kemenangan ini hanyalah pembukaan dari tragedi yang lebih besar. Di dalam bayang-bayang, seorang mata-mata Nyonya Han telah merekam semuanya.

Identitas pemuda misterius itu mungkin belum sepenuhnya terungkap, namun kekuatannya kini telah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas lima klan.

​Chen Lin berdiri perlahan, dibantu oleh Wei Lan. Ia bisa merasakan kekuatan baru yang mengalir dari sumsum tulangnya kekuatan yang jauh lebih padat dan murni.

Marrow Purification Tingkat 1.

​Fase baru kultivasinya telah dimulai. Ia bukan lagi sekadar memurnikan darah, tapi menempa fondasi tulangnya.

​"Kau telah melakukannya, Chen Lin," Lin XingYu berkata dengan nada puitis.

"Tulangmu kini telah menjadi lebih kuat dan kokoh. Tapi ingat, semakin bersinar perak itu, semakin panjang bayangan yang akan mengejarmu. Nyonya Han tidak akan berhenti, dan Klan Qin akan kembali dengan seluruh kekuatan mereka."

​Chen Lin menatap langit yang mulai memucat. Ia menggenggam tangan Wei Lan yang masih memegangnya erat.

"Biarkan mereka datang. Aku ingin melihat, apakah daratan ini cukup kuat untuk menahan beban dari sumsum perakku."

​Malam itu berakhir dengan aroma es dan api yang memudar, meninggalkan dua jiwa yang kini terikat lebih erat oleh takdir dan rahasia.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!