NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu yang Mengendapi

Pagi pertama setelah badai semalam terasa sangat asing. Matahari terbit di ufuk Jakarta dengan warna oranye yang tenang, seolah tidak pernah terjadi pertumpahan darah di puncak gedung Atmaja Group. Gue berdiri di balkon rumah dinas, menatap jalanan yang mulai ramai dengan orang-orang yang berangkat kerja—orang-orang yang nggak pernah tahu kalau dunia mereka baru saja diselamatkan dari kegelapan satu abad lalu.

Gue menunduk, melihat tangan gue. Tato naga itu sekarang tidak lagi membara. Warnanya kembali menjadi hitam pekat, tenang, seolah sedang tidur panjang setelah pesta besar yang melelahkan.

"Kopinya, Ka."

Nadia berdiri di samping gue, menyodorkan cangkir keramik hangat. Wajahnya masih terlihat pucat, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya, tapi sorot matanya jauh lebih hidup. Dia menyandarkan kepalanya di bahu gue.

"Aku masih ngerasa ini semua mimpi," bisik Nadia. "Rumah ini, kantor, semuanya... kerasa beda sekarang."

"Karena emang udah beda, Nad," jawab gue pelan sambil menyeruput kopi pahit gue. "Harganya terlalu mahal buat bikin semuanya kembali normal."

Gue teringat pemakaman tertutup Baron dan Kian yang dilakukan Pasukan Serigala Putih subuh tadi. Nggak ada upacara mewah. Cuma ada gue, Leo, dan Hana yang berdiri di bawah rintik hujan gerimis. Leo nggak pakai koat putihnya, dia pakai setelan hitam, dan untuk pertama kalinya, gue nggak liat dia senyum atau ngegombal. Dia cuma diam, menaruh dua keping koin perak di atas nisan kakaknya.

Tiba-tiba, suara mobil SUV putih menderu di depan pagar. Gue tahu itu siapa.

Gue dan Nadia turun ke bawah. Leo sudah berdiri di sana, menyandar di pintu mobilnya. Dia kembali pakai turtle neck putih, tapi lengannya masih dibebat gips. Di sampingnya, Hana berdiri dengan jaket kulit hitam, rambutnya diikat ekor kuda, matanya sedingin es seperti biasa.

"Yo, Bosque! Udah siap buat denger kabar buruk?" Leo menyapa dengan gaya santainya, meski suaranya masih agak serak.

"Apa lagi sekarang, Leo? Sakti Langit kan udah jadi abu," kata gue sambil ngerangkul pinggang Nadia.

Leo ngeluarin tablet transparan miliknya. "Sakti Langit emang udah mampus. Tapi aset Naga Selatan itu kayak kecoa, Tuan Muda. Begitu kepalanya diputus, badannya mencar ke mana-mana. Reno? Dia dibawa lari sama sisa-sisa pengikut fanatiknya sebelum gedung itu meledak."

Gue mengepalkan tangan. "Reno masih hidup?"

"Dia nggak bakal bisa lari jauh, Arka," sahut Hana tiba-tiba. Dia melangkah maju, memberikan sebuah amplop cokelat kecil ke gue. "Gue nemuin ini di saku salah satu Kuntilanak Langit kemarin. Ada daftar nama pejabat dan pengusaha yang selama ini jadi penyokong dana Naga Selatan. Termasuk beberapa orang yang ada di dewan komisaris Atmaja Group."

Gue buka amplop itu. Nama-namanya bikin gue mual. Pengkhianatan ini ternyata akarnya jauh lebih dalam dari yang gue bayangkan.

"Jadi, apa rencana lu sekarang, Naga Utara?" Leo menaikkan alisnya, menatap gue dengan tatapan serigala yang siap berburu lagi. "Mau balik jadi supir santai, atau mau gue bantu buat bersih-bersih kota ini sampai ke akar-akarnya?"

Gue terdiam sebentar, menatap Nadia yang nunggu jawaban gue. Gue tahu, kalau gue milih buat bersih-bersih, hidup tenang kami nggak akan pernah ada. Tapi kalau gue diem, kematian Baron dan Kian nggak akan pernah tuntas nilainya.

"Gue nggak akan pernah balik jadi supir yang cuma nunggu perintah," ucap gue tegas. Gue tatap Leo dan Hana bergantian. "Siapin Pasukan Serigala Putih. Hana, gue butuh insting assassin lu buat lacak tikus-tikus ini."

Gue balik badan, menatap rumah besar di belakang gue.

"Kita nggak cuma bakal bersih-bersih, Leo. Kita bakal bangun tatanan baru. Di mana nggak ada lagi orang kayak Sakti Langit yang bisa mainin nyawa manusia sesuka hati."

Hana tersenyum tipis—senyum pertama yang gue liat dari dia. "Gue suka rencana itu."

Gue balik ke kamar bentar, ngeraih jam tangan peninggalan kakek gue yang selama ini cuma gue simpen di laci. Pas gue pake, ada sensasi dingin yang pas, seolah-olah jati diri gue sebagai "Naga" udah nyatu sepenuhnya sama rutinitas harian gue sekarang.

​"Leo, kita mulai dari yang paling deket," kata gue sambil jalan keluar bareng dia menuju mobil.

​"Siap, Bosque. Target pertama: Pak Surya Kencana dan tiga komisaris lainnya yang semalam sok-sokan mau ngadain rapat darurat buat gantiin posisi Nadia," Leo nyengir, tapi kali ini cengirannya keliatan haus darah.

​Kami sampai di gedung pusat Atmaja Group satu jam kemudian. Gedungnya emang masih dalam renovasi karena hancur di lantai atas, tapi ruang rapat di lantai bawah masih utuh. Gue masuk ke sana tanpa ketuk pintu.

​BRAKK!

​Pintu jati itu kebuka lebar. Di dalem, ada lima orang tua berbaju mahal yang lagi sibuk bisik-bisik. Begitu liat gue masuk bareng Leo yang pake gips dan Hana yang masih bawa hawa kematian, muka mereka langsung pucat pasi.

​"Arka? Kamu... kamu harusnya masih di rumah sakit!" seru Surya Kencana, suaranya gemeteran.

​Gue narik kursi di kepala meja, posisi yang harusnya buat CEO. Gue duduk di sana, nyandarin punggung dengan santai. "Rumah sakit ngebosenin, Pak Surya. Lebih seru ngeliat tikus-tikus lagi panik nyari lubang sembunyi."

​Leo naruh tabletnya di tengah meja. Layarnya nampilin semua bukti transaksi gelap mereka ke rekening cangkang milik Naga Selatan. "Hooo, liat deh, Tuan-tuan sekalian. Angkanya cantik banget ya? Banyak nolnya. Sayangnya, semua ini udah masuk ke database Serigala Putih. Sekali gue pencet enter, karier kalian bukan cuma berakhir, tapi pindah ke balik jeruji besi."

​Hana berdiri di belakang kursi gue, tangannya mainin sabit kecil yang dia putar-putar dengan kecepatan gila. "Atau kalau kalian lebih milih jalur cepat... gue bisa bantu 'beresin' urusan dunia kalian sekarang juga," bisiknya dingin.

​"K-kami bisa jelaskan! Kami ditekan oleh Sakti Langit!" salah satu komisaris mencoba membela diri.

​"Penjelasan kalian nggak akan balikin nyawa Baron sama Kian," potong gue dengan suara rendah yang bikin lampu ruangan berkedip karena tekanan energi naga gue. "Sekarang cuma ada dua pilihan: Kalian tanda tangan surat pengunduran diri dan serahin semua saham kalian ke Nadia secara sukarela, atau kalian gue serahin ke kepolisian dengan bukti yang bikin kalian nggak akan liat matahari lagi sampai mati."

​Nggak butuh waktu lama buat mereka rebutan pulpen. Mereka pengecut. Orang-orang yang cuma berani main di belakang layar emang nggak punya mental buat hadepin naga secara langsung.

​Setelah urusan di kantor beres, Leo bisik ke gue pas kita di parkiran. "Tuan Muda, ada satu hal lagi. Informan gue baru aja dapet sinyal HP Reno di pelabuhan tikus daerah Banten. Dia mau cabut ke luar negeri sore ini."

​Gue nengok ke Hana. Mata gue berpendar perak tipis. "Hana, lu mau ikut jemput dia?"

​Hana cuma ngangguk singkat, matanya berkilat penuh dendam. "Gue yang bakal kasih dia 'hadiah' terakhir."

​"Gaspol, Bosque!" Leo masuk ke kursi kemudi. "Kita tunjukin sama Reno kalau lari dari Naga itu cuma bakal bikin dia capek sebelum mati."

​Gue liat ke arah laut dari kejauhan. Ini bukan akhir, ini adalah pembersihan. Dan gue bakal pastiin, setelah hari ini, nggak akan ada lagi yang berani nyentuh apa yang jadi milik gue.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!