NovelToon NovelToon
Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:24.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.

Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.

Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Brak!

Sebuah map plastik tebal mendarat keras di atas meja Bayu. Beberapa lembar kertas di dalamnya tumpah berhamburan.

"Ini hasil kerja kamu selama sebulan, Bayu? Data klien berantakan, laporan pengeluaran tidak sesuai dengan nota kas. Kamu mau merampok perusahaan?"

Suara Pak Handoko, manajer operasional yang perutnya selalu membuncit di balik kemeja ketatnya, menggema di seluruh ruangan divisi. Suasana kantor yang awalnya dihiasi suara ketikan mendadak hening. Semua mata tertuju pada meja Bayu di sudut ruangan.

Bayu mendongak perlahan. Wajahnya tenang, tidak ada raut panik atau ketakutan. Ia merapikan kertas-kertas yang berserakan, lalu menatap angka-angka di sana sekilas.

"Maaf, Pak. Tapi data pengeluaran ini bukan saya yang menyusun. Ini dokumen dari divisi lapangan yang diserahkan Reza tadi pagi. Saya hanya diminta merekapitulasi bagian akhirnya saja."

Di seberang meja, Reza yang sedang memegang cangkir kopi langsung tersedak. Ia menaruh cangkirnya dengan kasar.

"Loh, kok jadi gue, Bay? Jelas-jelas dari kemarin lo yang pegang file mentahnya. Jangan lempar batu sembunyi tangan dong. Kalau emang lo ada butuh uang tambahan, nggak gini caranya bikin laporan fiktif."

Tari, yang duduk tak jauh dari Bayu, menggebrak mejanya pelan.

"Bohong. Kemarin sore gue lihat sendiri Reza minta file itu dari Bayu dengan alasan mau dicek ulang," bela Tari dengan nada tajam.

"Cukup!" bentak Pak Handoko. Wajahnya merah padam. Ia menunjuk tepat ke depan hidung Bayu. "Saya tidak mau dengar alasan. File ini keluar dari mejamu, tanda tanganmu ada di bawah. Sebagai hukuman atas kerugian waktu ini, gaji kamu bulan ini saya potong tiga puluh persen. Dan kamu tidak akan dapat uang lembur. Titik."

Pak Handoko berbalik dan melangkah pergi menuju ruangannya, diikuti senyum miring kemenangan dari bibir Reza.

Bayu masih terdiam di kursinya. Tiga puluh persen. Bagi seorang manajer, itu mungkin hanya uang rokok dan bensin. Tapi bagi Bayu, itu adalah garis tipis antara bisa makan nasi warteg atau hanya mengganjal perut dengan air putih selama sepuluh hari ke depan.

"Lima puluh ribu. Itu sisa uang di rekeningku sekarang setelah bayar sewa kos," batin Bayu. Kepalanya mulai menghitung cepat. "Pemotongan gaji ini ilegal secara kontrak, tapi kalau aku protes ke HRD, Pak Handoko akan membuat hidupku lebih menderita sampai aku memilih mengundurkan diri tanpa pesangon."

Ia menghela napas panjang. Marah tidak akan mengubah saldonya. Naif jika ia berpikir keadilan selalu ada untuk karyawan rendahan sepertinya. Ia butuh kekuatan. Ia butuh uang.

Jam pulang kantor tiba. Hujan turun sangat deras, seolah langit Jakarta ikut menertawakan nasibnya hari ini.

Syuuuutt... Byaaarr!

Cipratan air dari ban mobil mewah yang melintas hampir mengenai celana bahan Bayu yang sudah mulai pudar warnanya. Ia berdiri merapat di bawah atap Halte TransJakarta Sudirman yang bocor di beberapa titik. Angin malam menusuk tulang.

Bayu merogoh saku celananya yang dingin. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak membelah diagonal. Ia membuka aplikasi perbankan.

Saldo: Rp 50.000.

Bayu tersenyum getir.

"Malam ini makan mi instan pakai telur. Besok pagi jalan kaki ke stasiun. Masih bisa hidup," batinnya menyemangati diri sendiri, meski perutnya mulai berbunyi minta diisi.

Saat ia bersandar pada tiang halte yang karatan, matanya menangkap sesuatu. Sebuah stiker hitam kecil tertempel di tiang itu, tepat sejajar dengan matanya.

Sebuah barcode QR.

Tidak ada tulisan iklan. Tidak ada logo pemerintah. Hanya stiker kode biasa yang terlihat sedikit bercahaya aneh di bawah remang lampu halte.

Orang biasa mungkin akan mengabaikannya. Tapi Bayu, yang sedang mencari pengalih perhatian dari rasa lapar dan dingin, membuka kamera ponselnya. Ia hanya iseng. Mungkin itu tautan untuk mendapatkan voucher diskon makanan cepat saji atau semacamnya.

Tit!

Kamera ponselnya memindai kode tersebut. Sedetik kemudian, layarnya berkedip hitam.

"Yah, mati. Sialan, jangan bilang ini virus malware," umpat Bayu pelan. Ia menepuk-nepuk bagian belakang ponselnya.

Tiba-tiba, layar kembali menyala. Namun bukan gambar latar belakang aslinya yang muncul, melainkan sebuah layar pemuatan berwarna emas elegan.

[Mengunduh Sistem Perdagangan Dunia... 100%]

[Instalasi Aplikasi Toko Ajaib Berhasil.]

[Menautkan DNA dan Saldo Keuangan Pengguna... Selesai.]

Bayu mengerutkan dahi. Di layar utamanya kini bertengger sebuah aplikasi baru dengan ikon koin emas bersayap. Nama aplikasinya: Toko Ajaib.

Ia mencoba menekan lama ikon tersebut untuk menghapusnya, takut jika itu adalah aplikasi pinjaman online ilegal yang bisa menyedot sisa uangnya.

[Aplikasi Sistem Utama tidak dapat dihapus.]

Peringatan itu muncul dengan tegas. Bayu menghela napas panjang. Karena tidak ada pilihan, ia membuka aplikasi tersebut untuk melihat seberapa jauh penipuan ini bekerja.

Antarmukanya sangat bersih, mirip platform investasi kelas atas. Namun, daftar barang yang dijual di halaman utama membuat Bayu nyaris tertawa keras di tengah halte.

[Hak Kepemilikan 51 Persen Saham PT Bumi Karya]

Deskripsi: Menjadikan Anda pemegang saham mayoritas dan direktur utama perusahaan tambang terbesar. Dokumen legal akan disiapkan oleh Sistem tanpa celah hukum.

Harga: 50.000 Koin Sistem

[Sertifikat Hak Milik Lahan Komersial SCBD 2 Hektar]

Deskripsi: Lahan strategis di pusat kota. Bebas sengketa.

Harga: 100.000 Koin Sistem

[Pil Penyembuh Segala Penyakit]

Deskripsi: Menyembuhkan kanker, gagal ginjal, dan regenerasi sel dalam hitungan menit.

Harga: 5.000 Koin Sistem

"Aplikasi halusinasi tingkat dewa," gumam Bayu. "Siapa developer yang bikin game ginian? Buat ngejek orang miskin?"

Ia berniat mematikan layar ponselnya. Namun, ada sebuah spanduk kecil berkelap-kelip di bagian atas aplikasi bertuliskan: Flash Sale Harian - Tersisa 10 Menit!

Bayu mengeklik spanduk itu. Halaman berpindah ke sebuah etalase dengan hanya satu barang yang ditampilkan.

[Kacamata Penilai Barang Antik]

Deskripsi: Memungkinkan pengguna melihat usia asli, material, dan nilai pasar dari setiap benda bersejarah. Sangat akurat.

Harga Normal: 1.000 Koin Sistem.

Harga Flash Sale: Rp 10.000.

Bayu terdiam. Sepuluh ribu rupiah? Harga itu tidak menggunakan embel-embel Koin Sistem seperti barang gila lainnya. Itu menggunakan nominal uang nyata.

Sifat analitisnya bekerja. Jika aplikasi ini adalah penipuan yang ingin menguras rekening, biasanya mereka akan memotong ratusan ribu atau jutaan. Sepuluh ribu terlalu kecil untuk sebuah kejahatan siber yang rumit. Di sisi lain, harga itu sangat pas untuk membuat orang yang putus asa mencoba peruntungannya.

"Sepuluh ribu. Kalau ini hilang, aku masih punya empat puluh ribu untuk bertahan hidup. Tapi kalau ini game simulasi, lumayan buat hiburan," batin Bayu.

Jarinya menyentuh tombol beli.

[Konfirmasi Pembelian: Kacamata Penilai Barang Antik seharga Rp 10.000?]

Bayu menekan tombol ya.

Tidak ada jendela keamanan yang meminta kata sandi bank. Tidak ada kode OTP. Layar hanya memuat selama dua detik.

[Transaksi Berhasil.]

[Saldo Anda telah dipotong Rp 10.000.]

Notifikasi dari aplikasi bank di ponsel Bayu langsung muncul beriringan.

[Debit: Rp 10.000 - Transfer ke: Unknown Merchant.]

Mata Bayu membulat. Jantungnya berdetak kencang. Itu bukan angka simulasi. Uangnya benar-benar terpotong secara ajaib tanpa melewati sistem keamanan bank mana pun di dunia.

"Sialan! Beneran kena retas gue!" Bayu setengah berteriak. Ia bersiap menekan nomor pusat layanan bank untuk memblokir rekeningnya saat itu juga.

Tuk!

Sesuatu yang keras dan ringan tiba-tiba jatuh dari atas kepalanya, mengenai hidungnya, lalu mendarat mulus ke dalam telapak tangannya yang terbuka.

Bayu terpaku. Panggilan teleponnya terhenti sebelum sempat tersambung.

Di telapak tangannya, tergeletak sebuah kacamata berbingkai kawat tipis bergaya klasik. Lensa kacamatanya jernih, namun jika diperhatikan dengan saksama, ada kilau biru samar yang mengalir di dalamnya.

Tangan Bayu gemetar. Ia menatap kacamata itu, lalu menatap layar ponselnya bergantian. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Halte itu cukup ramai, tapi tidak ada satu pun orang yang melemparinya kacamata. Benda itu seolah tercipta dari udara kosong.

"Tidak masuk akal. Ini melanggar hukum fisika," pikir Bayu. Otaknya yang sangat rasional menolak percaya, tapi bukti fisik itu nyata di tangannya.

Dengan napas tertahan, Bayu membuka gagang kacamata itu dan memakainya.

Dunia di sekitarnya tidak berubah. Hujan masih turun, mobil masih berlalu-lalang. Namun, saat ia menatap ke arah jam tangan imitasi yang dipakai oleh seorang bapak tua di sebelahnya, sebuah jendela informasi kecil berwarna biru transparan melayang di udara, tepat di atas jam tangan tersebut.

[Jam Tangan Merk Palsu. Material: Baja ringan murahan. Usia: 2 Tahun. Nilai Pasar: Rp 35.000.]

Bayu menelan ludah. Ia menunduk menatap sepatu kulitnya sendiri yang sudah usang.

[Sepatu Kulit Sintetis. Material: Poliuretan. Usia: 3 Tahun. Nilai Pasar: Rp 0 (Tidak Layak Jual).]

Ini nyata. Kacamata ini berfungsi sempurna. Aplikasi itu bukan penipuan, bukan juga sekadar game simulasi. Itu adalah toko sungguhan yang bisa memanipulasi realitas dunia.

Bayu melepas kacamata itu dengan cepat, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya bagian dalam, menempel di dadanya. Jantungnya bergemuruh hebat, mengalahkan suara hujan badai Jakarta malam itu.

Bus TransJakarta akhirnya datang dan membuka pintunya. Orang-orang berdesakan masuk.

Bayu melangkah ke dalam bus dengan perasaan yang benar-benar berbeda. Setengah jam yang lalu, ia hanyalah seorang budak korporat yang gajinya dipotong semena-mena. Ia merasa seperti sampah yang siap dibuang kapan saja oleh kota ini.

Tapi sekarang? Ia meraba saku dadanya. Kacamata itu masih di sana.

Bayu tersenyum. Bukan senyum pasrah yang biasa ia tunjukkan pada Pak Handoko, melainkan senyum tajam yang dipenuhi ambisi yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

"Reza, Pak Handoko... kalian pikir kalian bisa menginjakku sesuka hati karena aku miskin?" batin Bayu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela bus yang basah. "Tunggu saja. Permainan baru saja dimulai."

1
ラマSkuy
/Proud/
ラマSkuy
nah MC begini yang gua demen 👍
ラマSkuy
wah apakah bukan hanya Bayu yang punya sistem jadi selain MC ada lagi yang punya sistem. tapi unik juga ya biasanya sistemnya itu menyatu dengan jiwa MC tapi ini dihpnya MC
ラマSkuy
nice 👍
Ironside
Bagus Kak /Smile/, btw mana Insectnya /Curse//Curse//Curse/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
ラマSkuy
waw/Sly/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
terserah anda Thor /Ok//Good/
Mamat Stone
pasti salah kaprah 🤣👻
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!