"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di ujung senja
Baskara mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Lara dengan kejujuran yang telanjang. "Tapi melihat kamu jatuh di kantin tadi... melihat kamu ketakutan di bawah tangga semalam... saya sadar satu hal. Rasa takut saya kehilangan senyum kamu jauh lebih besar daripada rasa lelah saya."
Lara terpaku, napasnya tertahan. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Baskara yang menjalar hingga ke hatinya.
"Selama ini saya dikenal sebagai orang yang kaku dan hanya peduli pada aturan," lanjut Baskara dengan senyum getir yang tipis. "Tapi sejak kamu datang, semua aturan itu tidak lagi penting. Yang penting hanya memastikan kamu aman, memastikan kamu tidak sendirian. Saya tidak bisa lagi membohongi diri sendiri, Lara."
Baskara mengecup lembut punggung tangan Lara yang terbalut perban, sebuah tindakan yang sangat sopan namun penuh makna.
"Saya menyukaimu. Bukan sebagai asisten, bukan sebagai adik tingkat, tapi sebagai perempuan yang ingin saya jaga setiap harinya. Saya ingin menjadi orang pertama yang kamu cari saat petir datang, dan orang terakhir yang kamu lihat sebelum kamu tidur."
Lara merasakan matanya memanas. Air mata haru perlahan mengalir di pipinya. Segala rasa takut, rasa terasing, dan tekanan dari Manda selama ini seolah menguap begitu saja digantikan oleh perasaan dihargai yang luar biasa.
"Kak..." suara Lara bergetar. "Aku... aku pikir Kakak cuma kasihan sama aku."
Baskara menggeleng pasti, ia menghapus air mata di pipi Lara dengan ibu jarinya. "Kasihan tidak akan membuat saya bertahan bangun semalaman di depan pintu kamarmu, Lara. Itu adalah rasa sayang."
Lara menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan intens Baskara. Genggaman tangan pria itu yang begitu hangat justru membuatnya merasa semakin kecil. Ia menarik perlahan tangannya yang terbalut perban, seolah merasa dirinya tidak pantas menerima perhatian sebesar itu.
"Kak... jangan bicara begitu," bisik Lara dengan suara yang nyaris hilang. "Aku ini siapa? Aku cuma mahasiswa baru yang ceroboh, yang selalu merepotkan Kakak, yang bahkan nggak bisa melindungi diri sendiri sampai harus membuat Kakak mengorbankan posisi Kakak di kampus."
Lara meremas ujung almamaternya, setetes air mata jatuh mengenai perban di tangannya. "Kakak itu hebat, dikagumi banyak orang, punya masa depan yang cerah. Sedangkan aku... aku cuma bawa masalah buat Kakak. Kakak pantas mendapatkan seseorang yang setara, seseorang yang nggak lemah seperti aku."
Suasana yang tadinya penuh bunga mendadak berubah menjadi pilu. Lara merasa jurang antara dirinya dan sang Ketua Panitia terlalu lebar untuk diseberangi. Ia merasa perlakuan manis Baskara selama ini hanyalah bentuk kemurahan hati seorang pemimpin kepada bawahannya yang malang.
Baskara terdiam melihat reaksi Lara. Ia tidak marah, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Bukannya menjauh, Baskara justru menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah sofa, memaksa Lara untuk melihatnya kembali.
"Lara, lihat saya," pinta Baskara dengan nada yang tidak bisa dibantah, namun tetap lembut.
Lara perlahan mengangkat wajahnya, menatap Baskara dengan mata yang sembab.
"Siapa yang bilang kamu lemah?" tanya Baskara serius. "Kamu bertahan di bawah tekanan Manda berhari-hari tanpa mengeluh. Kamu berdiri di atas podium tadi pagi dan menjalankan tugasmu dengan sempurna meski kamu ketakutan setengah mati semalam. Itu bukan lemah, Lara. Itu keberanian."