"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Tenang Sebelum Badai
Suasana di dalam pangkalan The Forge tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara logam yang beradu dari bengkel Jagal, atau dengung mesin kapal yang sedang dipanaskan di hangar. Tapi bagi Andra, kesunyian yang sesungguhnya ada di dalam kepalanya sendiri. Sejak Elara bangun dan mulai bisa berkomunikasi, Sistem di kepala Andra seolah-olah menjadi lebih "hidup", seakan-akan ada frekuensi baru yang terus-menerus mencoba menyelaraskan diri.
Andra duduk di kursi kendali ruang kerjanya, menatap tumpukan data logistik yang dikirim oleh Vex. Dia baru saja memesan ribuan ton bahan bakar dan suku cadang menggunakan saldo Shopee Affiliate-nya yang entah bagaimana masih bisa diakses lewat jaringan satelit bayangan.
"Kamu sudah tiga jam tidak berkedip, Andra," suara Siska mengejutkannya. Siska masuk sambil membawa nampan berisi makanan hangat—sesuatu yang mewah di tengah sabuk asteroid. "Makan dulu. Kamu tidak bisa menyelamatkan dunia kalau pingsan karena telat makan."
Andra tersenyum tipis, menerima piring itu. "Aku cuma sedang menghitung risiko, Siska. Menyerang Mars bukan seperti menyerang markas Antartika kemarin. Itu adalah benteng terakhir mereka. Kalau kita gagal di sana, tidak akan ada tempat sembunyi lagi di galaksi ini."
"Tapi kita punya Elara sekarang," Siska duduk di depan Andra. "Aku lihat dia tadi di ruang latihan. Dia bisa mengendalikan drone kecil hanya dengan menatapnya. Kemampuannya berkembang sangat cepat."
Andra menghentikan kunyahannya. Itulah yang sebenarnya dia takutkan. Semakin kuat Elara, semakin besar pula ancaman yang mengintai anak itu. "Dia masih terlalu kecil untuk memikul beban sebesar ini, Siska. Aku ingin dia punya masa kecil yang normal, bukan jadi senjata pemungkas dalam perang luar angkasa."
"Dunia kita sudah tidak normal sejak 'The Void' mengambil alih, Andra," balas Siska lembut. "Justru dengan mengakhiri ini, kamu memberinya kesempatan untuk punya masa depan yang biasa saja nanti."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Jagal masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh keringat dan oli. "Tuan! Anda harus lihat ini ke hangar. Vex baru saja menangkap sinyal transmisi jarak jauh. Bukan dari Mars, tapi dari Bumi."
Andra langsung berdiri, meletakkan piringnya begitu saja. Mereka bertiga berlari menuju pusat komunikasi. Di sana, Vex sedang sibuk mengutak-atik konsol hologram.
"Apa yang terjadi?" tanya Andra cepat.
"Seseorang dari dalam jaringan 'The Void' mencoba mengirim pesan terenkripsi ke koordinat lama stasiun Orion," jelas Vex. "Karena stasiun itu sudah hancur, sinyalnya terpental ke relay cadangan yang kita retak kemarin. Pesan ini ditujukan untukmu, Andra."
Vex menekan sebuah tombol, dan suara statis mulai terdengar sebelum berubah menjadi suara seorang wanita yang terdengar sangat ketakutan.
"Andra... kalau kamu mendengar ini... tolong jangan langsung ke Mars. Itu jebakan. Mereka sudah tahu kamu membawa Proyek 02. Mereka sengaja membiarkanmu menghancurkan Antartika supaya kamu merasa menang dan terburu-buru menyerang pusat. Mereka sedang menyiapkan 'The Great Reset'—sebuah sinyal yang akan mematikan semua Benih secara permanen dari jarak jauh."
Pesan itu terputus. Ruangan menjadi sangat sunyi.
"Siapa itu?" tanya Jagal.
"Itu suara salah satu asisten riset ayahku yang dulu pernah membantu aku lari," bisik Andra. "Dia masih di sana. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk mengirim ini."
Andra mengepalkan tangannya. Jadi, rencana serangan langsung ke Mars yang dia susun semalaman bisa jadi adalah jalan menuju kematian massal bagi seluruh armadanya.
[Ding! Menganalisis Pola Transmisi...] [Peringatan: Terdapat Kode Tersembunyi dalam Frekuensi Pesan. Memulai Dekripsi...]
"Sistem, apa itu?" tanya Andra dalam hati.
[Selesai. Kode Tersembunyi: Koordinat Satelit Induk 'Eye of Sauron' di Orbit Jupiter. Satelit itu adalah pemancar utama untuk 'The Great Reset'.]
Andra menarik napas panjang. Targetnya berubah. "Vex, lupakan Mars untuk sementara. Kita punya target baru."
"Jupiter?" Vex mengernyitkan dahi. "Itu jauh dari jalur utama. Kita akan membuang banyak bahan bakar."
"Kalau kita tidak menghancurkan satelit itu duluan, begitu kita sampai di Mars, mereka tinggal menekan tombol dan kita semua akan mati otak dalam sekejap," tegas Andra. "Kita bagi armada. Jagal, kamu pimpin tim kecil untuk melakukan gangguan di perbatasan Mars sebagai pengalih perhatian. Aku, Siska, dan Vex akan membawa Nemesis ke Jupiter."
"Bagaimana dengan Elara?" tanya Siska cemas.
"Dia ikut denganku. Dia adalah satu-satunya yang bisa merasakan frekuensi satelit itu dari jarak jauh," jawab Andra.
Malam itu juga, pangkalan The Forge menjadi sangat sibuk. Persiapan yang tadinya dijadwalkan tiga hari dipercepat menjadi beberapa jam. Andra pergi ke kamar Elara. Dia melihat gadis kecil itu sedang mencoba menggambar sesuatu di kertas digital—gambar sebuah rumah sederhana dengan matahari kuning yang besar.
"Elara," panggil Andra pelan.
"Kita akan pergi lagi ya, Kak?" Elara menoleh, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Iya. Kita harus mematikan sebuah lampu besar di langit supaya semua orang bisa tidur nyenyak," kata Andra sambil berlutut di depan Elara. "Aku butuh bantuanmu. Tapi aku janji, aku tidak akan membiarkanmu kelelahan."
Elara mengangguk, lalu memeluk leher Andra. "Aku tidak takut, Kak. Selama ada Kakak, suaranya tidak terlalu menakutkan."
Persiapan selesai. Armada mulai bergerak keluar dari asteroid. Kali ini, mereka tidak lagi berbaris rapi, melainkan menyebar untuk menghindari deteksi radar jarak jauh. Jagal dan pasukannya melesat menuju arah berlawanan, menciptakan tanda panas palsu untuk memancing kapal patroli 'The Void'.
Di anjungan Nemesis, Andra duduk di kursi kapten. Dia membuka menu Sistem-nya satu terakhir kali sebelum melakukan lompatan.
[Status Saldo: 154.000 Kristal.] [Menu Upgrade Kapal: Tersedia Perlindungan Anti-Sinyal Frekuensi Rendah. Biaya: 50.000 Kristal.]
"Beli," perintah Andra tanpa ragu.
Cahaya biru keunguan mulai menyelimuti badan kapal Nemesis. Ini adalah perlindungan tambahan untuk memastikan pesan peringatan tadi tidak menjadi kenyataan saat mereka mendekati Jupiter.
"Lompatan dimulai dalam tiga... dua... satu!" seru Vex.
Dunia di depan mata Andra seolah memanjang, lalu semuanya menjadi gelap sesaat sebelum pemandangan planet raksasa Jupiter dengan badai merahnya yang legendaris muncul memenuhi kaca depan. Di orbit planet itu, sebuah struktur logam raksasa yang tampak seperti mata mekanis sedang berputar perlahan.
"Itu dia," gumam Andra. "Mata yang mengawasi seluruh sistem."
"Tuan, ada sepuluh kapal pengawal kelas berat terdeteksi!" teriak petugas radar.
Andra berdiri, energi emas mulai keluar dari pundaknya, menyatu dengan sistem kendali kapal. "Jangan beri mereka waktu untuk membalas. Tembak semua meriam utama! Kita hancurkan mata itu sekarang juga!"
berakhir dengan guncangan hebat di kapal Nemesis saat mereka mulai baku tembak di orbit Jupiter. Perang yang sesungguhnya bukan lagi soal angka di saldo, tapi soal kecepatan melawan waktu sebelum 'The Great Reset' diaktifkan.