"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suara raungan mesin motor Mas Dika yang dipacu maksimal terdengar seperti pekikan kemarahan yang membelah sunyinya siang itu. Ia bahkan tidak mematikan mesin dengan benar; motor itu tergeletak begitu saja di halaman setelah standarnya diturunkan asal-asalan. Hanya butuh dua puluh menit baginya untuk sampai, sebuah kegilaan yang membuktikan betapa hancurnya perasaan Dika saat mendengar kabar dari Satria.
Langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu pantofel berderap keras di atas lantai. Namun, langkah itu terhenti di dapur. Mas Dika terpaku menatap nasi yang berserakan di lantai dan piring yang pecah.
"Dika, kamu sudah pulang? Tadi itu si Aira cuma—" Mbak Diana mencoba membuka suara, namun diputus oleh tatapan Mas Dika yang mematikan.
"Diam, Mbak! Jangan sebut namanya dari mulutmu!" bentak Mas Dika, membuat Mbak Diana seketika menciut. Ia langsung melesat menuju kamar dengan napas memburu.
Di dalam kamar, Mas Dika melihatku terbaring lemah dengan wajah sepucat kapas. Satria sedang memegangi tanganku, sementara Bi Sumi mengompres dahiku dengan tangan yang gemetar hebat.
"Ra..." Mas Dika menghambur, berlutut di samping ranjang. "Sayang, mana yang sakit? Maafin Mas... Mas gagal."
Aku hanya bisa merintih pelan, memegangi perutku yang terasa sangat kencang. Mas Dika menoleh ke arah Bi Sumi dengan mata yang merah padam. "Bi, jujur sama saya. Apa yang terjadi di dapur tadi? Kenapa piringnya pecah dan nasi berserakan di lantai?"
Bi Sumi melirik ketakutan ke arah pintu, namun melihat kondisi Aira, ia akhirnya memberanikan diri. "Tadi... Non Aira mau makan karena lapar banget, Mas. Tapi Mbak Diana datang, piringnya dirampas sampai nasinya tumpah. Mbak Diana bilang Non Aira cuma benalu... dan bilang anak ini harus tes DNA karena nggak percaya itu darah daging Mas Dika."
Mendengar kata "tes DNA", rahang Mas Dika mengeras hingga urat lehernya menonjol. Satria yang baru tahu kenyataan itu pun ikut terperangah marah. Mas Dika berdiri perlahan, auranya berubah menjadi sangat gelap dan mencekam.
Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan keluar kamar. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman godam. Ia sampai di ruang tengah, tepat di depan Ibu dan Mbak Diana yang masih berdiri kaku.
"IBU! MBAK DIANA! KELUAR SEMUA!" teriak Mas Dika menggema ke seluruh penjuru rumah. "Kalian anggap apa istri saya?! Kalian anggap apa anak saya?!"
Dika! Jaga sopan santun kamu! Ada tamu Ibu di sini!" teriak Ibu Mertua, berusaha menutupi kegugupannya dengan kemarahan. Namun, Mas Dika tidak bergeming. Ia justru melangkah mendekat, membuat teman sosialita Ibu Mertua terburu-buru pamit karena ketakutan melihat urat leher Dika yang menonjol.
"Sopan santun? Ibu bicara soal sopan santun setelah membiarkan Mbak Diana memperlakukan istri saya seperti binatang?!" suara Mas Dika menggelegar, memenuhi setiap sudut ruang tengah yang megah itu. "Aira lapar, Bu! Dia mengandung anak saya! Tapi Mbak Diana merampas piringnya sampai nasinya tumpah di lantai? Di mana hati nurani kalian?!"
Mbak Diana mencoba berdiri tegak, meski kakinya gemetar. "Dika, Mbak cuma mau kamu sadar! Perempuan itu cuma bawa sial! Soal tes DNA, itu demi kebaikanmu juga! Siapa yang tahu kalau itu beneran darah dagingmu?"
BRAKK!
Mas Dika memukul meja kayu jati di hadapannya hingga vas bunga di atasnya terguncang. "CUKUP! Kalau Mbak sekali lagi meragukan anak saya, detik ini juga saya anggap Mbak bukan kakak saya lagi!"
Ibu Mertua menutup mulutnya, syok mendengar kalimat itu keluar dari mulut anak kesayangannya. "Dika... kamu keterlaluan! Kamu mau jadi anak durhaka hanya karena perempuan itu?"
"Jika membela istri dan anak saya disebut durhaka, maka biarlah!" Mas Dika menatap Ibunya dengan sorot mata yang hancur. "Dika bawa Aira ke sini karena Dika pikir rumah ini adalah tempat paling aman, tapi ternyata rumah ini lebih berbahaya daripada jalanan. Ibu dan Mbak Diana sudah keterlaluan."
Mas Dika berbalik, tidak sudi lagi menatap mereka. Ia kembali ke kamar dengan langkah lebar. Di dalam kamar, ia melihat Satria yang masih menemaniku dengan wajah cemas.
"Sat, bantu Mas. Kemasi semua barang-barang Mbak Aira sekarang juga," perintah Mas Dika tanpa ragu.
Aku terperanjat, menahan nyeri di perutku sambil menatapnya. "Mas... kita mau ke mana?"
Mas Dika berlutut di hadapanku, ia mencium tanganku dengan air mata yang mulai luruh. "Kita pergi dari sini, Ra. Mas nggak akan biarkan kamu dan anak kita dihinakan lebih lama lagi. Kita pulang ke rumah Bapak kamu, atau kita cari kontrakan kecil. Asal nggak di sini. Mas lebih baik hidup susah daripada melihat kamu diinjak-injak seperti ini."
Di ambang pintu, Ibu Mertua dan Mbak Diana berdiri mematung melihat Dika yang mulai memasukkan pakaianku ke dalam tas dengan gerakan marah. Mereka tidak menyangka bahwa gertakan mereka hari ini justru menjadi alasan Mas Dika untuk benar-benar pergi meninggalkan rumah megah itu.
Suasana kamar yang kian panas itu mendadak hening saat sebuah langkah kaki yang berat dan tenang terdengar mendekat. Bapak Mertua baru saja melangkah masuk, masih dengan kemeja kerjanya yang rapi. Beliau berdiri di ambang pintu, menatap tas pakaian yang terbuka, Dika yang sedang emosi, dan aku yang masih terbaring lemah.
"Bapak sudah dengar semuanya dari depan," ucap Bapak Mertua dengan suara rendah namun berwibawa. Beliau melirik ke arah Ibu dan Mbak Diana yang masih mematung, lalu kembali menatap Dika.
"Pak, Dika nggak bisa lagi di sini. Dika nggak mau istri Dika disiksa pelan-pelan oleh ucapan Mbak Diana," seru Mas Dika dengan napas memburu, tangannya tetap lincah memasukkan sisa pakaianku ke tas.
Ibu Mertua segera menghampiri suaminya, mencari perlindungan. "Pak! Lihat anakmu! Dia mau pergi, dia mau menuruti perempuan itu untuk meninggalkan kita!"
Namun, di luar dugaan, Bapak Mertua tidak marah. Beliau justru menghela napas panjang dan menatap Mas Dika dengan sorot mata yang penuh pengertian. "Pergilah, Dik. Bapak tidak akan melarang."
Mbak Diana terperanjat. "Pak?! Bapak malah dukung mereka?"
Bapak Mertua menoleh ke arah putri sulungnya dengan tatapan dingin. "Karena Bapak gagal mendidik kamu untuk punya rasa kemanusiaan, Diana. Rumah ini sudah terlalu beracun untuk wanita hamil seperti Aira. Jika tetap di sini, bukan hanya batin Aira yang hancur, tapi moral keluarga ini juga akan habis."
Beliau kemudian berjalan mendekati Mas Dika, menepuk pundak anak laki-lakinya itu dengan mantap. "Bawa dia ke tempat yang lebih aman. Jaga kehormatan istrimu, karena itu adalah tugas pertamamu sebagai laki-laki. Soal biaya dan kebutuhan, jangan pikirkan. Bapak tetap akan memantau kalian."
Mas Dika tertegun, matanya berkaca-kaca menatap ayahnya. "Makasih, Pak."
Bapak Mertua kemudian menatapku yang masih terbaring, lalu mengangguk kecil seolah memberi restu yang selama ini terkubur. "Sabar ya, Nduk. Pergilah cari ketenangan."
Kita ke kosan yang Mas sewa dulu ya,mas perpanjang lagi masa sewanya," ucap Mas Dika sedikit berteriak agar suaranya menembus deru angin dan bising jalanan.
Aku tersentak pelan. Kosan itu... tempat yang menjadi saksi bisu segala rahasia dan dosa kami.
"Nggak apa-apa ya, Ra? Sementara kita di sana dulu sampai Mas dapat kontrakan yang lebih layak. Mas nggak mau bawa kamu ke rumah Bapak malam ini dalam kondisi kacau begini. Mas nggak mau Bapak makin kepikiran lihat muka kamu yang pucat," lanjutnya lagi, genggaman tangannya di jemariku yang melingkar di pinggangnya mengerat.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan wajahku di balik punggungnya. Ada rasa pahit yang tersisa, namun jauh di dalam lubuk hati, aku bersyukur. Kosan sempit itu setidaknya memberikan privasi yang tidak bisa kubeli di rumah megahnya. Di sana, aku tidak perlu merasa seperti pencuri hanya untuk mengambil segelas air.
Motor Mas Dika memasuki gang sempit menuju kosan. Suasana di sana masih sama, riuh dengan suara anak-anak kecil bermain dan aroma masakan tetangga kos yang menyeruak ke jalanan. Begitu motor berhenti di depan kamar nomor tiga, Mas Dika langsung turun dan membuka gembok pintu.
Debu tipis menyambut kami saat pintu terbuka. Mas Dika meletakkan tas besar kami di lantai kayu, lalu segera menghampiriku. "Kamu duduk dulu, Ra. Jangan banyak gerak. Perut kamu masih kencang?"
"Sudah agak mendingan, Mas," jawabku jujur. Berada jauh dari tatapan Mbak Diana ternyata adalah obat yang paling ampuh bagi rahimku yang sempat menegang.
Mas Dika berlutut di depanku, ia mengusap pelan perutku, lalu menatapku dengan sorot mata yang penuh kelegaan. "Maafin Mas ya, Ra. Kita harus balik ke sini lagi. Tapi Mas janji, di sini kamu bisa makan tenang, tidur tenang. Nggak ada yang bakal rampas piring kamu lagi."
Aku terisak kecil, bukan karena sedih, tapi karena merasa akhirnya punya ruang untuk bernapas. Di kamar kos berukuran 3x4 ini, aku merasa jauh lebih terhormat daripada di dalam rumah mewah yang meminggirkanku. Mas Dika kemudian berdiri, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bapakku,memberi kabar bahwa kami sudah pindah, meski dengan alasan yang harus diperhalus agar tidak memicu badai baru di hati Bapak.