Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Atas Lautan Awan
Bintang Pengembara meluncur meninggalkan pelabuhan udara Kota Seribu Angin saat matahari mencapai puncaknya.
Dari geladak atas, pemandangannya sungguh menakjubkan. Kapal udara raksasa itu membelah lautan awan putih yang membentang sejauh mata memandang, sesekali menembus kabut tipis yang meninggalkan embun di pagar kayu. Di bawah, Benua Tengah perlahan mengecil—pegunungan menjadi kerutan di permukaan bumi, sungai-sungai menjadi benang perak yang berkilau, dan kota-kota menjadi titik-titik kecil yang tak lagi bisa dikenali.
Xiao Chen berdiri di haluan kapal, angin ketinggian mengibaskan rambut putihnya yang panjang. Jubah putihnya berkibar seperti sayap, dan dalam cahaya matahari yang tidak terhalang awan, pendar keperakan di rambutnya semakin jelas terlihat. Beberapa penumpang lain yang juga berada di dek tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh—beberapa hanya melirik, beberapa menatap terlalu lama sampai tersandung kaki sendiri.
"Aneh," kata Wei Ling, yang berdiri di sampingnya. "Kau tidak melakukan apa-apa, tapi orang-orang terus menatapmu."
"Itu karena rambutku," jawab Xiao Chen, nadanya ringan. "Atau mataku. Atau wajahku." Dia menoleh pada Wei Ling, senyum nakalnya muncul. "Kau sendiri kenapa menatapku terus?"
Wei Ling memalingkan wajahnya cepat. "Aku tidak menatapmu."
"Kau baru saja menatapku."
"Aku... mengawasi pemandangan di belakangmu."
"Pemandangan di belakangku adalah tiang kapal."
Wajah Wei Ling memerah. "Diam."
Xiao Chen tertawa kecil. Dia menyukai ini—godaan ringan, reaksi malu-malu, permainan kata-kata yang tidak pernah gagal membuatnya terhibur. Tapi hari ini, pikirannya tidak sepenuhnya di sini. Sebagian dari dirinya masih memikirkan peta dari kain emas, titik berdenyut di Benua Selatan, dan apa yang mungkin ditemukannya di sana.
"Kau memikirkan reruntuhan itu, ya?" tanya Wei Ling, seolah membaca pikirannya.
"Ya."
"Apa yang kau harapkan ditemukan di sana?"
Xiao Chen menatap awan di depan mereka. "Jawaban. Atau setidaknya, pertanyaan yang lebih baik."
—
Kabinya berada di dek tengah—enam kamar yang disediakan oleh Paviliun Harta Surgawi untuk rombongan mereka. Masing-masing cukup luas, dengan dipan empuk, meja tulis kecil, dan jendela bundar yang menghadap ke laut awan. Di malam hari, pemandangan dari jendela itu berubah menjadi kegelapan yang dihiasi bintang-bintang.
Malam pertama di kapal, Xiao Chen duduk di dipannya, kedua potong kain emas terbentang di hadapannya. Pola-pola formasi di atasnya berputar pelan, menciptakan cahaya keemasan yang menerangi ruangan.
Ketukan di pintu.
"Masuk."
Wei Ling melangkah masuk. Dia sudah berganti pakaian—jubah biru mudanya diganti dengan gaun tidur sederhana berwarna putih, mirip dengan yang dikenakan Xu Mei malam sebelumnya. Rambut cokelatnya tergerai bebas, tidak lagi diikat ekor kuda. Tanpa riasan dan dalam pencahayaan redup, dia terlihat lebih muda, lebih lembut, dan sedikit gugup.
"Aku tidak bisa tidur," katanya, seolah itu menjelaskan kunjungannya di tengah malam.
"Aku juga." Xiao Chen memberi isyarat ke arah dipan. "Duduklah."
Wei Ling duduk di tepi dipan, menjaga jarak yang sopan. Matanya tertuju pada kain emas. "Itu semakin terang."
"Aku tahu. Sepertinya semakin banyak potongan yang kukumpulkan, semakin kuat resonansinya." Xiao Chen melipat kain itu dan menyimpannya. "Tapi aku tidak ingin membicarakannya sekarang."
"Lalu apa yang ingin kaubicarakan?"
"Kau."
Wei Ling menegang. "A-aku?"
Xiao Chen bergeser mendekat. Gerakannya lambat, memberi Wei Ling waktu untuk mundur jika dia mau. Tapi Wei Ling tidak mundur. Dia tetap di tempatnya, matanya terpaku pada Xiao Chen, jantungnya berdebar kencang.
"Aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama," kata Xiao Chen, suaranya rendah. "Kau adalah orang pertama yang kutemui di dunia ini. Kau yang pertama kali percaya padaku. Kau yang pertama kali membelaku di depan ayahmu."
"Itu... itu hanya—"
"Dan kau terus ada di sampingku. Di setiap pertarungan. Di setiap langkah." Tangan Xiao Chen terangkat, menyentuh pipi Wei Ling dengan lembut. "Aku tidak pernah berterima kasih dengan benar."
"Kau tidak perlu—"
"Rasa terima kasih dan keinginan itu berbeda." Ibu jari Xiao Chen mengusap pipinya, merasakan kehangatan kulitnya. "Aku bisa berterima kasih padamu dengan kata-kata. Tapi aku juga... menginginkanmu."
Wei Ling lupa cara bernapas.
"Apakah kau menginginkanku juga?" tanya Xiao Chen.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Wei Ling menatapnya, dan untuk pertama kalinya, dia tidak memalingkan wajah. Dia tidak bersembunyi di balik rasa malu. Dia menatap langsung ke mata ungu keemasan itu, dan di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini ditahan akhirnya lepas.
"Ya," bisiknya. "Sejak hari pertama."
Xiao Chen menciumnya.
Bukan ciuman singkat seperti sebelumnya. Ini dalam, intens, penuh dengan semua hal yang tidak terucapkan selama berminggu-minggu. Bibir mereka bertemu, dan Wei Ling membalas dengan semangat yang mengejutkan dirinya sendiri. Tangannya naik ke bahu Xiao Chen, mencengkeram jubahnya, menariknya lebih dekat.
Xiao Chen menjatuhkannya pelan ke dipan, tubuhnya di atas tubuh Wei Ling. Ciuman mereka semakin dalam, lidah bertemu, napas bercampur. Tangannya bergerak—bukan dengan terburu-buru, tapi dengan keyakinan. Dia menyingkirkan tali gaun tidur Wei Ling satu per satu, dan kain putih itu meluncur turun, memperlihatkan bahunya yang halus, tulang selangkanya yang indah, dan lekuk payudaranya yang montok.
"Kau cantik," bisik Xiao Chen di telinganya, suaranya serak. "Kau tahu itu?"
Wei Ling menggigit bibirnya sendiri, menahan erangan saat bibir Xiao Chen menyusuri lehernya, mengecup di bawah telinganya—titik sensitif yang dia temukan sebelumnya. Tapi kali ini dia tidak berhenti di situ. Dia terus turun, ke tulang selangka, ke atas payudaranya, dan Wei Ling melengkungkan punggungnya tanpa sadar.
"Xiao Chen..."
"Shh." Mulutnya menemukan putingnya, dan Wei Ling mendesah keras. Lidahnya berputar, menghisap lembut, sementara tangannya yang lain memainkan pasangannya. Jari-jarinya mencubit dan memutar, menciptakan sensasi yang membuat Wei Ling mencengkeram seprai.
"Aku—aku belum pernah—"
"Aku tahu." Xiao Chen mengangkat kepalanya, menatapnya. "Kau mau aku berhenti?"
Wei Ling menatapnya. Wajahnya merah, napasnya tidak teratur, tapi matanya penuh dengan keinginan yang tidak bisa disembunyikan. "Jangan berhenti. Tolong."
Xiao Chen tersenyum—senyum nakal yang sekarang terasa sangat berbeda. "Itu yang ingin kudengar."
Dia melepaskan jubahnya sendiri, memperlihatkan tubuhnya yang sempurna—otot-otot atletis yang terbentuk alami, kulit putih bersih yang kontras dengan rambutnya. Wei Ling menatapnya tanpa bisa berkata-kata. Bahkan tubuhnya pun sempurna. Tentu saja.
Tangannya kembali ke tubuh Wei Ling, kali ini turun lebih rendah. Melewati perutnya yang rata, melewati pinggulnya yang mulai basah, dan berhenti di antara kedua pahanya. Jari-jarinya menyentuh bagian paling intimnya, dan Wei Ling tersentak.
"Kau basah," bisik Xiao Chen.
"Kau... kau yang membuatku seperti ini."
"Bagus."
Jarinya mulai bergerak, menemukan ritme yang membuat Wei Ling terengah-engah. Dia tidak terburu-buru—dia memperhatikan setiap reaksi, setiap desahan, setiap kali tubuh Wei Ling melengkung. Ketika satu jari masuk, Wei Ling mengerang keras. Ketika dua jari, dia mencengkeram lengan Xiao Chen.
"Kau... kau pernah melakukan ini sebelumnya?" tanyanya di antara napas.
"Tidak. Tapi aku belajar dengan cepat."
Jarinya terus bergerak, semakin cepat, semakin dalam, sementara ibu jarinya menemukan titik paling sensitif dan menekannya dengan lembut. Wei Ling sekarang sudah tidak bisa bicara—hanya erangan dan desahan yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya gemetar, dan Xiao Chen bisa merasakan dindingnya mulai berdenyut.
"Aku—aku akan—"
"Lepaskan," bisik Xiao Chen di telinganya. "Aku ingin merasakanmu."
Dan Wei Ling melepaskan. Tubuhnya melengkung, tangannya mencengkeram seprai, dan erangan panjang lolos dari bibirnya saat gelombang kenikmatan menghantamnya. Xiao Chen terus menggerakkan jarinya, memperpanjang orgasmenya sampai Wei Ling akhirnya terkulai di dipan, napasnya tersengal.
"Bagus," kata Xiao Chen, mencium keningnya. "Sekarang, biarkan aku menunjukkan lebih banyak."
Dia memposisikan dirinya di antara kaki Wei Ling, dan gadis itu bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat menyentuh pahanya. Dia melihat ke bawah, dan matanya membelalak.
"Itu... itu akan muat?"
"Pelan-pelan," jawab Xiao Chen. "Percaya padaku."
Dia mendorong masuk perlahan, dan Wei Ling merasakan dirinya terisi dengan cara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ada sedikit rasa sakit—tajam, singkat—dan Xiao Chen berhenti, memberinya waktu untuk menyesuaikan diri.
"Kau baik-baik saja?"
Wei Ling mengangguk, air mata kecil menggenang di sudut matanya. "Lanjutkan."
Dia mulai bergerak, pelan pada awalnya, membiarkan Wei Ling terbiasa dengan sensasinya. Tapi seiring waktu, gerakannya semakin dalam, semakin cepat, dan rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kenikmatan yang berbeda. Wei Ling melingkarkan kakinya di pinggang Xiao Chen, menariknya lebih dekat, dan setiap dorongan membuatnya terengah-engah.
"Lebih cepat," bisiknya. "Tolong."
Xiao Chen mematuhinya. Gerakannya semakin cepat, semakin kuat, suara tubuh mereka bertemu memenuhi ruangan bersama desahan dan erangan Wei Ling. Dipan itu sedikit berderit, tapi tidak ada yang peduli—seluruh dunia di luar kabin ini sudah tidak ada.
Ketika Wei Ling mencapai puncak untuk kedua kalinya, kali ini lebih intens. Seluruh tubuhnya gemetar, dan dia meneriakkan nama Xiao Chen tanpa peduli siapa yang mendengar. Beberapa detik kemudian, Xiao Chen mengikutinya, melepaskan kehangatannya ke dalam dirinya dengan erangan rendah.
Mereka terkulai di dipan, saling berpelukan. Napas mereka perlahan kembali normal. Keringat mengkilap di kulit mereka. Wei Ling berbaring di dada Xiao Chen, rambutnya yang cokelat tergerai di atas otot-ototnya.
"Itu..." Dia mencari kata-kata. "...lebih dari yang kubayangkan."
"Kau sering membayangkannya?"
Wei Ling memukul dadanya pelan. "Jangan merusak momennya."
Xiao Chen tertawa kecil, menggenggam tangan yang memukulnya dan mencium jari-jarinya. "Terima kasih, Wei Ling."
"Untuk apa?"
"Untuk segalanya. Untuk percaya padaku. Untuk ada di sampingku." Dia menatap matanya. "Untuk menjadi yang pertama."
Wei Ling menatapnya, dan ada sesuatu di matanya yang lebih dalam dari gairah. "Aku... aku mencintaimu, Xiao Chen. Aku tahu kita baru bertemu beberapa bulan, tapi aku—"
Xiao Chen menciumnya lagi, kali ini lembut. "Aku tahu."
"Kau... tahu?"
"Aku bisa merasakannya. Setiap kali kau menatapku. Setiap kali kau tersenyum. Setiap kali kau membelaku." Dia mengusap rambutnya. "Aku mungkin tidak sepenuhnya mengerti cinta—belum. Tapi aku tahu bahwa kau penting bagiku. Lebih dari yang bisa kujelaskan."
Itu bukan pernyataan cinta yang dramatis. Tapi bagi Wei Ling, itu cukup. Karena dia tahu Xiao Chen—dia tahu bahwa pemuda ini, yang muncul entah dari mana, yang tidak ingat masa lalunya, yang memiliki kekuatan absolut yang tidak bisa dijelaskan—dia tulus.
Dan itu lebih berharga dari segalanya.
—
Keesokan paginya, Wei Ling bangun dengan tubuh yang sedikit nyeri—tapi nyeri yang menyenangkan.
Dia meregang di dipan, tersenyum pada dirinya sendiri. Sinar matahari masuk melalui jendela bundar, menerangi kabin dengan cahaya keemasan. Di sampingnya, Xiao Chen duduk bersila, sudah berpakaian, membaca salah satu gulungan dari perpustakaan Paviliun Harta Surgawi.
"Pagi," katanya tanpa menoleh dari gulungan.
"Pagi." Wei Ling duduk, menarik selimut menutupi dadanya. "Kau... kau sudah bangun lama?"
"Beberapa jam. Aku tidak butuh banyak tidur."
"Oh." Wei Ling memainkan ujung selimut. "Tentang tadi malam..."
"Apakah kau menyesal?"
"Tidak!" jawab Wei Ling terlalu cepat. "Sama sekali tidak. Aku hanya... tidak menyangka akan seintens itu."
Xiao Chen menoleh, senyum nakalnya muncul. "Kalau begitu, kita bisa mengulanginya malam ini. Dan malam berikutnya. Dan malam—"
"Xiao Chen!" Wei Ling melempar bantal ke arahnya. Tapi dia tertawa, dan itu membuatnya merasa lebih baik.
—
Di ruang makan kapal, suasana pagi itu sedikit berbeda.
Wei Zhen, yang duduk di ujung meja, melirik putrinya yang muncul dengan pipi sedikit merah dan langkah yang sedikit berbeda. Dia tidak mengatakan apa-apa—hanya menyesap tehnya dan menghela napas panjang. Feng Mo dan Zhang Yuan, untungnya, terlalu sibuk dengan sarapan mereka untuk memperhatikan.
Tapi Xu Mei, yang duduk di meja seberang, memperhatikan.
"Kau terlihat... berbeda pagi ini," katanya pada Wei Ling dengan nada yang sulit diartikan.
"Aku tidur nyenyak," jawab Wei Ling cepat.
"Tentu saja." Xu Mei menyesap tehnya, matanya melirik ke arah Xiao Chen yang baru saja masuk ke ruang makan.
Lin Yao, yang duduk sendirian di meja sudut, juga memperhatikan. Mata hijaunya menatap Wei Ling, lalu Xiao Chen, lalu kembali ke piringnya. Ekspresinya tidak berubah, tapi genggamannya pada sumpit sedikit lebih keras.
"Ada yang terjadi tadi malam?" tanyanya datar saat Xiao Chen lewat.
"Banyak hal," jawab Xiao Chen samar. "Kenapa? Kau ingin tahu detailnya?"
"Tidak."
"Yakin?" Xiao Chen berhenti, menatapnya dengan senyum nakal. "Kapan-kapan, kalau kau penasaran, kau bisa datang ke kabinku. Aku akan... menjelaskannya."
Lin Yao menatapnya dengan mata menyipit. "Kau tidak akan membuatku semudah itu."
"Aku tidak bilang kau mudah. Aku bilang aku akan menunggu." Xiao Chen berjalan pergi, meninggalkan Lin Yao yang menatap punggungnya dengan ekspresi campuran antara frustrasi dan sesuatu yang lebih dalam.
Dia membenci betapa dia menyukai tantangan ini.
—
Bersambung ke Episode 6...