Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETERIKATAN JIWA
Di saat yang bersamaan, jauh dari kediaman Wijaya yang sedang kalut, Xavier Valerius berdiri mematung di balkon kantor pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit miliknya.
Hembusan angin kencang menerpa jas hitamnya yang mahal, namun pria itu tidak bergeming, wajahnya yang terpahat sempurna seperti patung marmer tampak dingin, dengan sorot mata kelabu yang tajam menatap lurus ke depan.
Deg
Tiba-tiba, Xavier memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi nyeri yang asing, sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki garis darah yang sama.
"Ugh..." Xavier mengerang rendah, suaranya berat dan serak.
Cengkeraman tangannya di pagar balkon menguat hingga besi solid itu sedikit melengkung di bawah kekuatannya, dia bisa merasakan aliran energinya bergejolak hebat, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menarik paksa jiwanya untuk pergi ke satu titik koordinat tertentu.
"Tuan? Ada yang salah?" tanya Simon yang baru saja masuk ke ruangan dengan tumpukan dokumen di tangannya.
Simon tertegun saat melihat bosnya yang biasanya tenang dan tak tersentuh itu kini menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan.
Xavier tidak menjawab, namun rahangnya mengeras dan tatapannya mendingin, lebih dingin dari suhu pendingin ruangan di kantor itu.
"Darah itu... bergejolak," gumam Xavier sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Xavier memejamkan matanya sejenak, di dalam kegelapan penglihatannya, dia seolah melihat kilasan cairan merah yang menetes dan mendengar suara rintihan samar yang memanggil satu nama.
Aroma lili putih yang bercampur dengan aroma anyir darah menusuk indra penciumannya yang tajam.
"Lyra..." desis Xavier, lirih.
Xavier memutar tubuhnya dengan gerakan cepat dan elegan, menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerja nya, Auranya mendadak berubah menjadi sangat menekan, membuat Simon mundur satu langkah untuk memberi jalan.
"Siapkan pengawalan jarak jauh, aku akan keluar," perintah Xavier dingin, tanpa menoleh sedikit pun.
"Tapi Tuan, sepuluh menit lagi ada pertemuan dengan investor dari Eropa. Mereka sudah menunggu di ruang rapat," ucap Simon mencoba mengingatkan dengan nada gemetar.
Xavier menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, menoleh sedikit ke arah Simon, dengan tatapan mata yang kini berkilat keperakan membuat bulu kuduk Simon berdiri tegak.
"Batalkan semuanya! Jika mereka protes, beli seluruh saham perusahaan mereka dan tutup mulut mereka dengan uang," jawab Xavier datar, namun penuh penekanan.
"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Simon cepat, menyadari bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa menghentikan keinginan seorang Xavier Valerius jika pria itu sudah menetapkan tujuannya.
Xavier melangkah keluar dari kantornya dengan langkah lebar yang penuh wibawa.
Di dalam lift pribadi yang menurun dengan cepat, dia terus menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku, Thomas Wijaya. Semakin kau mencoba menguncinya, semakin kuat takdir akan membawanya kembali ke pelukanku," batin Xavier dingin.
Xavier tahu, apa yang dirasakan Lyra saat ini adalah reaksi dari kehadiran dirinya, segel itu retak karena raga manusia gadis itu tidak sanggup menanggung kebangkitan jiwa yang sedang dipanggil oleh tuannya.
Begitu sampai di parkiran, Xavier langsung masuk ke dalam mobil sport hitamnya.
BRUMM!
Suara raungan mesin mobil itu menggema di seluruh area parkir saat dia menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat membelah jalan.
Xavier tidak peduli jika kunjungannya nanti akan memicu perang terbuka dengan keluarga Wijaya, baginya, melihat kondisi Lyra secara langsung adalah prioritas utama. Karena baginya, Lyra bukan sekadar gadis, melainkan kepingan jiwanya yang hilang selama ratusan tahun, dan dia tidak akan membiarkan 'sangkar' buatan manusia itu merusak permatanya lebih lama lagi.
Xavier menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat raungan mesin mobil sport-nya membelah jalanan Jakarta yang padat. Tatapannya lurus ke depan, setajam silet, dengan rahang yang mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas.
Sensasi nyeri di dadanya belum hilang, justru semakin kuat, seolah-olah ada benang tak kasat mata yang ditarik kencang dari arah kediaman Wijaya.
"Sial," desis Xavier rendah.
Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.
Xavier bukan tipe pria yang mudah panik, baginya, emosi adalah kelemahan. Namun, merasakan keterikatan yang menderita ini membuat sisi buas dalam dirinya memberontak.
"Jangan berani-berani menyentuhnya, Thomas," gumam Xavier, suaranya dingin dan mengancam, seolah pria tua itu ada di hadapannya.
Xavier tahu, keluarga Wijaya pasti sedang mencoba menekan kekuatan Lyra, dan itulah yang membuat raga Lyra tersiksa, baginya, Lyra adalah mahakarya yang sedang dipaksa menjadi kerikil biasa.
Di dalam mobil yang melaju kencang itu, Xavier teringat kembali pada bayangan seorang gadis dengan gaun putih di hamparan salju yang selalu muncul dalam mimpinya selama ratusan tahun, gadis yang jiwanya kini bersemayam di tubuh Lyra Clarissa Wijaya.
"Kau adalah milikku, Lyra. Dulu, sekarang, dan selamanya," batin Xavier dengan kilat perak di matanya yang semakin pekat.
Sesampainya di kawasan elit tempat kediaman Wijaya berada, Xavier tidak langsung menerobos gerbang utama, bisa saja dia merobohkan gerbang kokoh itu, tapi Xavier memilih menekan ego dan emosi nya.
Xavier menghentikan mobilnya beberapa puluh meter dari sana, di bawah bayangan pohon besar yang rimbun.
Dia turun dari mobil nya, dan berdiri tegak dengan jas hitam yang berkibar tertiup angin kencang.
Xavier memejamkan mata, membiarkan instingnya meluas, menembus pagar tinggi dan penjagaan ketat pasukan Wijaya.
Deg
Aroma darah...
Xavier tersentak, pupil matanya mengecil, dari tempat nya dia berdiri, dia bisa mencium aroma anyir darah yang bercampur dengan wangi bunga lili dari arah kamar di lantai dua. Darah itu milik Lyra.
"Mereka membiarkanmu terluka?" bisik Xavier, dan kali ini auranya benar-benar membunuh.
Nyeri di dadanya kini telah berubah menjadi sebuah tarikan yang tenang namun menuntut.
Xavier melangkah dengan keanggunan seorang bangsawan sejati, jas hitamnya terkancing sempurna, dan ekspresi wajahnya kembali datar seolah-olah dunia sedang baik-baik saja.
Namun, di balik ketenangan itu, mata kelabu nya berkilat tajam saat menghirup udara sore yang membawa aroma anyir darah dari balik tembok tinggi itu.
"Darahnya.... Sial! dia sedang dalam kondisi tidak stabil, batin Xavier, mengeraskan rahangnya.
Xavier berjalan mendekati gerbang utama dengan langkah tegap dan tatapan tajam nya, para penjaga berpakaian hitam di depan gerbang langsung bersiaga, namun aura yang dipancarkan Xavier membuat mereka secara naluriah tidak langsung menarik senjata, melainkan berdiri dengan sikap waspada yang penuh rasa segan.
"Berhenti. Ini kawasan pribadi keluarga Wijaya. Apa Anda memiliki janji temu?" tanya komandan penjaga dengan nada bicara yang tetap terjaga.
Xavier berhenti tepat di depan garis gerbang, dia tidak menunjukkan kemarahan, hanya tatapan dingin yang seolah bisa menembus raga pria di depannya.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,