NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Pulang gih. Aku sendirian juga nggak apa-apa," ujar Hana melihat Reiga mulai hilang kesadaran. Pria itu pasti lelah dan ngantuk berat. Kabar Eyang pingsan. Langsung ke RS. Nggak jadi mandi. Ambil sweater yang paling dekat, sampai akhirnya pinjam kaos-nya Zidane.

Reiga benar-benar belum istirahat sepulang kerja. Makan saja belum. Baiklah, kalau soal makanan, tadi dibawakan Om Derma sekalian kesini bersama Tante Wulan. Jadi bisa dimakan kapan saja.

Tadinya Hana juga ingin pulang. Kasihan dan nggak enak sama Reiga. Hanya saja, ujian kali ini bagai datang bertubi. Tante Wulan mendapat kabar jikalau ibunya jatuh dari tempat tidur. Neneknya Nana memang mengidap stroke, sudah lama. Alhasil Hana didapuk menunggui Eyang Uti malam ini, menemani Mbok Minjo yang sedang dalam perjalanan menuju kemari. Hana pun tak keberatan. Dia juga cemas dengan keadaan Eyang Uti. Ditambah, Hana tahu kapasitas Mbok Minjo. Yang tidak mungkin disuruh mengurus administrasi atau berkomunikasi baik dengan dokter nantinya. Jadi, sudah benar kalau dialah yang menunggui Eyang Uti malam ini.

Reiga membuka matanya. Menengok dengan senyum tipis. Ah, dia memang sangat mengantuk dan lelah. Namun tangan kirinya itu, gatal, ingin meraih tangan kanan Hana, yang digenggamnya kemudian, dielus pelan dengan ibu jari kirinya.

"Aku yang kenapa-napa, kalau tinggalin kamu sendirian di sini," ucapnya masih sempat menggoda Hana.

"Dih! Alay!" cibir Hana, padahal faktanya dia senang.

"Bukan alay, tapi sayang," tukas Reiga dengan senyum terkulum.

"Sayang sama aku?" tanya Hana yang sudah kepalang kecanduan ucapan cinta Reiga.

Reiga terkekeh.

"Aku lagi ngantuk, malah diajak adu gombal gini sih, Han," ujarnya kembali duduk tegak.

"Idihhhh!! Siapa yang ajak kamu adu gombal," cibir Hana heran.

Reiga tersenyum malu, sambil menggigit bibir bawahnya. Hana terpana, "Emang boleh seganteng ini, Rei?" gumam Hana dalam hatinya tanpa sadar.

"Emang boleh, kamu juga se-gemesin ini, Han?" balas Reiga dalam hati juga.

Reiga menatap Hana. Lekat. Penuh cinta.

Dan apa yang mereka lakukan sebelum telepon pembawa kabar Eyang Uti pingsan, terbayang di kepala Reiga begitu saja, terputar, bagai tengah menonton film pendek. Terus diputar ulang sampai rasanya iman Reiga nyaris runtuh. Tergerus. Tepat seperti tadi.

"Astagfirullah al adzim," sebut Reiga bagai habis melakukan dosa.

Ia mengusap wajahnya seraya membuang muka kearah lain. Menarik napas yang panjang, seakan habis melalui hal yang berat.

Hana memasang wajah bertanya.

"Kok istighfar?"

"Kamu sih."

"Dih! Emang aku kenapa????" Hana bingung.

Reiga menatap Hana. Memperlihatkan sorot mata yang diperlihatkannya pada Hana tadi saat Reiga kebablasan dan kadung mengenalkan Hana pada ciuman yang tidak sepatutnya mereka lakukan. Well, ciuman saja sebenarnya sudah termasuk perbuatan tidam patut. Tapi Reiga bisa apa? Jiwa dan raganya memuja dan mendamba Hana. Tidak bisa dibantahnya.

Hana tertegun dengan sorot mata Reiga. Sorot mata yang dimiliki seorang pria dewasa normal yang hasratnya tengah bergelora.

Jantung Hana berdebar maha cepat. Asam lambungnya naik. Debaran nggak jelas yang membuatnya salah tingkah. Sorot mata yang menyetrum Hana untuk memikirkan hal yang sama yang sebagaimana tengah Reiga pikirkan. Hingga bulu kuduknya meremang.

"Reishardd!! Ihhh!!" pekik Hana seraya menutup mata Reiga dengan tangan kanannya yang ditariknya dari genggaman pria itu. Tak tahan sendiri dengan cara Reiga menatapnya, atau dirinya sendiri yang memang terlalu centil dan gatal.

Reiga terkekeh.

"Paham kan maksud aku?" goda Reiga.

"Dih!" omel Hana. "Kenapa jadi aku yang salah???" heran Hana.

Reiga memandangi Hana dalam syahdu-nya sendiri. Hana kembali salah tingkah. Mukanya merah seperti kepiting diceburkan ke air panas. Hana sontak menutup mata Reiga dengan dua tangannya sekaligus.

"Reishardddd!!! Jangan liatin aku kayak gitu!!!" protes Hana.

Tawa Reiga berderai. Ngantuknya perlahan hilang. Hebat ya, Hana. Kafein bukan! tapi bisa membuat Reiga terjaga.

Reiga meraih dua tangan Hana, dikatupkannya menggunakan dua tangannya, lalu dikecupnya sambil mencuri lihat Hana. Membuat kegaduhan dalam diri Hana.

"Ada Eyang, Reigaaaa!! Astaga!!! Cabul deh!!" omel Hana.

Reiga hanya mengulum senyum.

"Terus kalau nggak ada Eyang, boleh, Han?"

tanya Reiga dengan low tone yang membekukan akal sehat Hana.

"Berani?" tantang Hana.

Hana yakin sejuta persen, Mas Ayang-nya akan menjaganya sampai SAH!

"Enggak! Makanya aku pusing sendiri!!" curhat Reiga dengan muka frustasi penuh komedi yang membuat Hana tak mampu menahan tawa.

"Senang ya, ngetawain penderitaan aku," ujar Reiga. Lengan kirinya sudah menarik pinggang Hana mendekat. Menempelkan dahi mereka berdua. Reiga mengatupkan mulut, hingga menggemeretakkan giginya saking gemasnya dengan Hana.

Tawa mereka berderai pelan, takut membangunkan Eyang Uti.

"Kamu, Ih!! Pervert banget!!" ujar Hana sambil terkekeh pelan.

"Asli! Pengen aku gigit kamu, Han," ujar Reiga gemas.

Hana antara ge-er dan malu hati,

mendengarnya, sampai mengigit bibir bawahnya.

Pancaran kebahagiaan dari wajah Reiga membuat Hana terpana. "Ini, Rei. Ekspresi seperti ini yang harusnya dimiliki seseorang kayak kami.

Bebas. Tanpa beban."

"Then i bite you first," ucap Hana lalu meraih wajah kanan Reiga dan menempelkan bibirnya di pipi kiri pria itu. Lama.

Reiga terhenyak.

"Ah, shit! Yang kuat ya, Rei. Punya pacar iseng kayak gini".

Hana tersenyum jahil.

Reiga terpana sendiri. Senyum manusia yang ditatapnya lebih memabukkan dari wine manapun yang ada di dunia ini.

"Eyang, maafin Reiga ya," ujarnya lalu menarik dagu Hana dengan tangan kanannya. Mengecup bibir Hana cepat.

Kedua mata Hana mendelik.

"Reisharddddd!!" pekik Hana dengan suara tercekat.

"She is my idol," ucap Hana.

Mengalirlah airmata Eyang Uti. Dalam diamnya. Entah dalam keadaan terjaga maupun terlelap. Ucapan Hana menggelayut setia, tak mau lepas.

"Apa yang sudah Eyang perbuat pada kamu, Han?"gumamnya dengan mulut mengatup kuat, menahan tangis. "Kamu yang ternyata selalu sesayang itu sama Eyang kamu yang nggak tahu diri ini."

"Kan, apa Denis bilang..." Suara familiar yang dirindukannya itu. Mata tuanya melihat putra tengahnya, berdiri di samping kasurnya.

"Den?"

Denis tersenyum sehangat biasanya. Sorot mata hangat yang dirindukan Eyang Uti selama 9 tahun.

"Hana tidak pernah membenci Mama. Anak Denis itu anak baik, Mah," ucapnya dengan bangga, persis sebagaimana ia biasa mengucapkannya.

Airmata Eyang Uti mengalir lebih banyak begitu mendengar kalimat panjang Denis selain 'Titip Hana dan Sara' yang sering diucapnya.

"Jangan lelah menunggu kedatangan Hana ya, Mah. Mama harus tetap sehat. Tetap kuat. Gar kelak, saat Reiga datang meminang Hana, ada Mama duduk tepat di tempat seharusnya Denis duduki. Ada Mama, yang akan mewakili Denis menerima niat baik Reiga untuk menjaga dan membahagiakan anak kesayangan Denis itu, Mah," ucap Denis dengan pelupuk mata berair.

"Den, Mama ..." Eyang Uti terisak dengan pesan panjang Denis untuknya. Sesunggukkan seperti pertama kali ia mendengar pernyataan kematian Denis sore itu.

Berteriak sama kerasnya seperti Hana dan Sara.

Kalau anak yang ditinggal orangtua dinamai yatim piatu. Lantas bagaimana dengan dirinya? Eyang Uti tidak pernah membayangkannya. Kehilangan Denis. Tidak pernah menyangka bahwa selain mengantarkan Denis ke dunia, ia pun harus mengantarkan anaknya ke liang tempat peristirahatan terakhir manusia.

Sesak yang nyata itu.

"Maafin Mama, Den. Maafin Mama," ucap berulang Eyang Uti dengan wajah banjir airmata.

Denis menyentuh tangan kanan Eyang Uti.

Dikecupnya khidmat. "Semua ini bukan salah, Mama. Ini takdir, Mah. Denis ikhlas. Mama juga harus ikhlas. Doain Denis ya, Mah," ucapnya sebelum memberikan senyum terakhir dan hilang seperti tidak pernah ada.

Napas Eyang Uti kian tersengal atas pecahnya tangis yang selalu dipendamnya selama ini.

Derma yang baru masuk kamar rawat inap, kaget mendapati Mama-nya terisak begitu.

"Mah, kenapa?? Ada apa??? Bagian mana yang sakit???"

Pertanyaan Derma tak mampu dijawab Eyang Uti. Hatinya begitu sakit. Tak mampu ia berkata. Sore itu tangisnya pecah. Terdengar begitu merana, karena memang semerana itu hatinya. Kehilangan Denis. Kehilangan Hana.

*

"Hanaaaaaaaa!!" Lengkingan suara Nana membuat Hana menahan pintu lift yang sudah setengahnya menutup itu.

Sepupunya itu berlari lebih cepat, lalu masuk ke dalam lift. Terengah. "Kaki gue sakit," keluh Nana.

"Ya gimana nggak sakit sih, Nyet! Lu lari pakai heels kayak gitu. Cowok mana lagi yang lo patahin hatinya, sampai datang terlambat janjian sama gue???" sindir Hana.

Mereka memang janjian mau menjenguk Eyang Uti. Itu juga bujuk rayu Nana. Karena hanya dia sendirilah yang belum melihat Eyang.

Nana nyengir. Hana memencet angka 7.

"Kok tujuh?"

"Mau ke ruangan Zidane dulu."

Kedua mata Nana membuka.

"Zidane praktek di sini???!!! Ihhh, kok gue nggak dikasih tauu??" sebal Nana seakan info Zidane praktek di RS ini sama pentingnya dengan info keadaan Eyang.

Hana memperhatikan muka Nana.

"Gue ngamuk kalo sampai Zidane lu jadiin korban lu yang selanjutnya ya, Arana!!" tuduh Hana mencium gelagat yang tidak baik. Sekalipun, Hana suka usilin Zidane. Hana sungguh tidak rela kalau Zidane menjadi salah satu korban Nana. Anak itu terlalu baik. Cowok baik-baik. Dan Reiga sayang banget sama Zidane. Mana punya muka, Hana nanti kalau sampai Nana mempermainkan Zidane?

Nana menyunggingkan senyum.

"Itu paper bag apa? Buat Eyang? Sejak kapan lu sebaik itu sama Eyang?"

"Sialan!" ujar Hana dengan mata memicing. Nana terkekeh.

"Ini buat Zidane. Ucapan terima kasih karena udah operasi Eyang," ujar Hana mengangkat paper bag berisi dua kotak berisi kue sus rasa durian dari Boens Soes. Hasil contekan dari Reiga.

Nana kembali kaget. Saking kagetnya, mulutnya sampai membuka.

"Dokter ganteng, keren, jago, berbakat, dan supel yang diceritain bokap gue tuh si Zidane, Hannnnn????!!"

Nana tercengang sendiri. Hana terkekeh. Reaksi

Nana, persis seperti reaksinya setelah operasi. Sampai dalam diam dan kagumnya Hana akan kemampuan bedah yang dimiliki Zidane, Hana berpikir jika almarhum ayah-nya ditangani Zidane, mungkin Denis masih ada di sini. Hal yang diutarakannya pada Reiga yang langsung mengatakan bahwa kematian adalah takdir mutlak.

Tidak bisa diubah.

Iya sih, Hana juga tahu itu. Namun hati kecil manusia-nya yang merindu Denis, berharap akan hal-hal kecil seperti itu.

"Yaudah biar gue aja yang kasih Zidane! Lo langsung turun aja di lantai kamar Eyang," sergah Nana merebut paper bag, menekan tombol 5.

Hana kaget, tidak sempat menghindar, pintu lift terbuka. Tepat di lantai 5. Nana mendorong tubuh Hana keluar lift.

"Arana!! Gila lo ya!!" sungut Hana.

Arana Soediro, kalau sudah menentukan target, maka sejengkal pun tidak akan dibiarkan lepas.

Hana berdecak. Sial banget! Padahal dia tidak niat ke sini lagi. Menurut Hana, peran dia cukuplah sampai mengantar Eyang ke RS dan memastikan keadaan Eyang stabil. Hana tidak ingin berinteraksi dengan Eyang. Hatinya masih terlalu sakit. Kadang, ia merasa konyol dengan sikapnya yang sok mendamaikan Reiga dengan Tante Sheila, saat hatinya sendiri saja menolak berdamai dengan keputusan pahit sepihak yang dipilih Eyang.

Kalau bukan karena Nana yang membujuknya, dengan alasan males ke RS sendirian. Hanya tinggal Nana yang belum menjenguk Eyang Uti dan si geblek itu pintar sekali memohon-mohon minta ditemenin di depan Sara. Yang sudah pasti langsung ikut memborbardir Hana dengan kalimat, "Sana, Han. Pergi!"

Eh, sekarang, tuh anak malah melipir ke Zidane dulu. Hana merogoh handphone-nya. Mengetik sesuatu yang dikirimnya cepat ke Zidane.

Hana

Dane, ada zombie kebelet mau macarin lu tengah menuju ruangan lu. Hati-hati ya, Dane. Gue nggak tanggung jawab kalo lu kena pelet terus patah hati.

<(--)

TUNG!

Hana tercengang melihat betapa cepatnya Zidane membalas pesannya.

Zidane

Zombie-nya namanya Arana bukan??? Kalo iya, gue mau minta dosis pelet tingkat tinggi.

Berderailah tawa Hana.

"Si gelo!" tukasnya lalu memasukkan handphone ke dalam clutch hitam chanel yang disangkutkannya di bahu kanan.

Langkah Hana terhenti. Itu Lana yang baru saja keluar dari kamar Eyang. Pandangan mereka bertemu.

"Eh ada Adrianne Hana," sinis Lana.

Senyum yang disunggingkan Lana saat ini entah mengapa ditangkap Hana sebagai suatu bukti kalau memang Lana si pemberi nomor handphone Reiga pada Cyila.

Hana berjalan mendekat.

"Maksud lu apa sih, Lan?" tanya Hana.

Lana berdecak.

"Ya apalagi emangnya? Kalau bukan karena gue pengen liat lo merana, Hana? Lo harus sama menderitanya kayak gue lah," jawab Lana tidak berniat sama sekali menyembunyikan kebenaran bahwa dia pelakunya. Meski Hana belum menyebut namanya.

Konyolnya, Lana mengakuinya dengan senyuman angkuh dan suara yang tinggi. Seakan dia adalah korbannya.

Hana tertawa getir.

"Ada masalah apa sih sama gue? Sampai segitunya lo benci sama gue, Lan???"

Hana tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.

"Karena gue capek dibanding-bandingin sama lo, Han! Gue capek kalah sama lo!! GUE CAPEK!!! ANJING! BANGSAT!!"

Lana hanya berani mengatakannya dalam hati.

Apa kata Hana kalau sampai sepupunya itu tahu asal muasal kebencian memuakkan yang menyesakkan dadanya ini hanyalah perkara iri-mengiri yang sungguh kontras dengan kepercayaan diri Lana yang sungguh terkenal di luar sana itu.

"Ngaca sana!"

"Dih!! Sakit lu, Lan!!" cemooh Hana dengan muka heran bercampur sewot.

"Relax, Han. Soon, lo bakal merasakan sakit yang sama. Ketika cowok lo mencintai cewek lain," tukas Lana.

Hana terdiam.

Teringat ucapan Reiga yang mengatakan Arnold sayang padanya. Tapi, bukankah Arnold bilang hubungannya dengan Lana baik-baik saja? Apa si kunyuk itu membohonginya?

"Maksud lo apa sih, Lan??"

Lana berdecak.

"Jijik gue! Setiap kali lo bersikap playing victim kayak gini!!!"

Hana ganti berdecak.

"Gue?? Lo bilang gue yang playing victim??? Kayaknya lo yang harus ngaca duluan ketimbang gue!!"

Hana sudah kadung emosi. Lana menggemeretakkan giginya. Mana mungkin ia berantem dengan Hana di sini. Mau dikemanakan mukanya??? Image baik, dokter teladan, penuh inspiratif, yang disematkan padanya selama ini.

Hana tertawa mengejek.

"Kenapa, Lan? Takut?? Takut semua orang tahu siapa Alana Soediro yang sebenarnya??" ejek Hana.

Lana menggemeretakkan giginya lebih keras.

"Anjing!"umpatnya dalam hati.

"Lo nggak capek apa?? Gue aja capek liat lo??!! Hidup dalam kepura-puraan yang memuakkan. Cuma demi bisa merasakan perhatian dari orang-orang yang nggak pernah benar-benar menghargai lo," tukas Hana begitu busur panah yang tepat mengenai sasaran.

"Lo nggak berhak nge-judge hidup gue ya, Han!!!

"Lana mengucapnya setengah berteriak.

Hana mencibir.

"Terus yang lo lakukan selama ini sama hidup gue apa!!!??" balas Hana tak kalah keras.

"Anjing ya lu!!!" Lana tidak bisa menahan kata kasar yang ingin diucapkannya pada Hana.

"Elu yang Anjing!!" sahut Hana.

"Gue pastikan lo bakal kehilangan cowok kesayangan lo itu, persis seperti lo merebut Arnold dari gue!!"

Hana terhenyak.

"Najis! Kapan gue ngerebut Arnold dari lo!???" pekik Hana tidak terima.

Jijik ia mendengarnya.

Lana berdecak. "Nggak usah sok innocent deh lu, Han!! Senang kan lo!? Arnold yang lo kejar selama 4 tahun kayak orang bego itu akhirnya cinta sama lo!" sinis Lana.

Tuduhan Lana sungguh membuat Hana naik pitam.

"Jaga bicara lo ya, Lan!!" kesal Hana.

TUNG!

Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Lana. Menjeda adu mulutnya dengan Hana. Pesan yang membuat Lana menyunggingkan senyum yang menyebalkan pada Hana. Tak ragu ia mengirimkan foto itu ke nomor Hana.

TUNG!

"Udah gue kirim," ketus Lana.

Hana mengernyitkan dahi.

"Apaan?"

"Liat aja sendiri. Awal dari pembalasan ini, Han," sinis Lana dengan mimik wajah mengejek yang begitu kental.

Hana mengambil handphone di dalam tasnya. Membuka pesan Lana. Kedua mata Hana yang membesar. Ekspresi terkejut sepupunya itu. Pucat bercampur marah, lengkap dengan kagetnya. Bibir Lana kian melengkung naik bak bulan sabit.

Lana mengirimnya sebuah foto.

Foto yang terasa lebih brengsek dibandingkan melihat foto gosipnya dengan Reiga dulu yang disebar Spatch! yang membuat Hana murka.

Itu Reiga tengah berdiri berhadapan dengan Cyila.

Berlatar belakang alat gym. Cyila tersenyum begitu manis pada Reiga yang juga tersenyum padanya. Senyuman formal biasa. Tidak ada yang istimewa dari foto tersebut. Bahkan, Hana mengenali kaki bertato naga di betis kanan Brandon masuk ke dalam frame. Sebuah bukti shahih kalau Reiga tidak hanya berdua dengan Cyila.

Sayangnya, hati Hana keburu dimakan virus cemburu. Virus yang menyebar dan menjalar begitu cepat bagai air bah. Memenuhi hati Hana meski ia terus mencoba berlogika dan realistis. Asam lambung Hana sudah naik. Napasnya memburu. Seingin apapun Hana menunjukkan tampang tidak peduli dan baik-baik saja. Lana tetap bisa melihat kecemburuan itu dari bola mata Hana.

Lana berjalan mendekat. Mensejajarkan tubuhnya dengan Hana meski beda arah. Berbisik di telinga kanan Hana.

"Enjoy the show, Han," sinisnya dengan menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

Hana terdiam.

Tidak mampu membalasnya.

*

"Harusnya tadi lu nggak senyum, Rei!" tukas Tristan sewot dari bilik mandinya, mencurahkan kesewotannya di sesi mandi sehabis nge-gym yang mereka lakukan bersama. Tentunya dibilik-bilik yang terpisah.

Tristan mengomentari reaksi Reiga yang menurutnya terlalu ramah pada Cyila yang jelas-jelas keganjenan pada Reiga.

Brandon tertawa.

"Apa sih lu, Tan!? Senyumnya Reiga tuh refleks kali," ujar Brandon.

"Beda sama senyum lu ya, Ndon," ledek Syein.

Pecah tawa Brandon. Karena Syein memang benar.

"Tapi kalo Hana liat, bisa mampus lu, Rei," sahut Tristan lagi.

Reiga tak menjawab. Ia sedang terhenyak sendiri akan penglihatan menyesakkan. Hana yang tertawa dengan mata berbinar di atas pangkuan orang lain.

Ah, Tristan benar!

Tidak seharusnya Reiga tersenyum pada Cyila seperti tadi.

"Rei ..., masih hidup kan lo?" sebal Tristan dicuekkin.

Namun Reiga tetap belum menjawab.

"Emangnya Hana cemburuan?" celetuk Rama.

"Normal sih," jawab Syein.

"Kenapa lu yang jawab, Sat!" tukas Brandon sambil tergelak tawa.

"Abis Mas Ayang-nya diam aja dari tadi," ujar Syein ikut tertawa bersama Brandon.

Rama penasaran. Keluar dari biliknya dan melihat bilik mandi Reiga yang tepat ada disampingnya. Ia tersenyum meledek melihat Reiga tengah bengong seperti banyak pikiran. Padahal masalahnya hanya satu.

Mampuslah ia jika Hana sampai tahu!

Padahal selingkuh juga nggak. Punya pikiran selingkuh juga nggak. Bahkan, hebatnya Hana nih, gadis itu mampu menghapus jejak Cyila sungguh bersih bagai debu tersapu hujan.

"Kalau nggak ikhlas jaga Eyang, pulang sana!" ketus Eyang Uti melihat muka Hana ditekuk sejak tadi. Duduk di samping kanan kasurnya.

Hana mendengus.

Kalau bukan karena permintaan Om Derma, Hana mungkin sudah pergi dari sini. Mencari Reiga. Meminta penjelasan pria itu atas foto kampret yang dikirim Lana padanya. Rasanya Hana ingin meninju sesuatu.

"Maaf ya Eyang, Eyang harus ditungguin sama cucu paling nyebelin yang nggak bisa dibanggakan kayak Hana," sinis Hana.

Beginilah kalau ia bertemu dengan Eyang Uti. Ada saja yang diperdebatkan. Mbok Minjo yang sedang memotong apel dan mengupas jeruk di pantry malah menyunggingkan senyum.

Sudah lama tidak mendengar Non Hana dan Majikannya bersua. Hana memang selalu menghindar. Dua perempuan terkuat Soediro dari generasi dua dan tiga ini memang paling jagonya debat.

"Kalau lagi berantem sama Reiga, kenapa jadi Eyang yang kena getahnya??"

Hana terperanjat. Semudah itukah membaca makna muka kusutnya dan hati kesalnya.

"Eyang sok tau!" tandas Hana.

Eyang Uti mencibir.

"Kenapa dia?? Selingkuh?"

Hana mendelik.

"Enggak ya, Eyang! Reiga nggak begitu!!" bela Hana pada Reiga padahal jelas-jelas dia sedang menaruh kesal pada Reiga sekarang.

Eyang Uti terkekeh sinis.

Meski faktanya, ia sangat menyukai Reiga.

Malam di mana kesadarannya kembali sempurna. Namun kedua matanya masih terlalu lengket untuk dibuka seutuhnya. Eyang Uti tetap bisa melihatnya. Meski hanya dari ujung mata kiri dan kepala nyaris tidak menoleh. Senyum penuh cinta anak lelaki yang terus memandangi cucu perempuannya. Senyum yang membuat hatinya ikut tersenyum juga. Senyum yang membuatnya paham mengapa Denis, begitu yakin menyerahkan Hana pada Reiga.

Anak ini begitu cinta. Amat sangat cinta pada Hana-nya.

"Kamu tuh persis Ayah kamu ya, Han. Kalau udah cinta sama orang, bakal buta nggak bisa bedakan mana yang benar, mana yang salah," ujar Eyang Uti.

Hana merengut. Kedua matanya memicing kearah Eyang. Mau berkilah tapi itu fakta. Mau ngaku tapi kok malu.

"Mana sih fotonya!?"

Hana terperanjat.

"Eyang tahu darimana ada foto???" takjub Hana.

Eyang Uti terkekeh bangga nan angkuh.

"Eyang tuh hidup jauh lebih lama dari kamu, Hana. Semua model lelaki sudah khatam Eyang pelajari."

Hana mencibir.

"Inikah perkataan orang yang cuma pernah pacaran satu kali seumur hidup sama Akung," ledek Hana dengan muka yang menyebalkan.

Mereka beradu tatapan tidak mau kalah.

Mbok Minjo datang membawakan dua piring potongan jeruk sunkist dan apel, senampan penuh.

"Silahkan, debatnya sambil makan, Bu, Non," ucap Mbok Minjo dengan tersenyum.

"Mbok Minjoo0000....," kompak Hana dan Eyang dalam satu tarikan napas. Entah itu cara mereka menegur, intonasi suara, ataupun cara mereka menatap. Darah memang kental.

Kekompakkan yang malah membuat senyum lebar Mbok Minjo.

"Reiga bukan tukang selingkuh ya, Eyang!!" sewot Hana.

"Tahu darimana?? Wong anaknya aja ganteng, tinggi, kaya, pintar, dan omongannya manis begitu. Pasti banyak perempuan yang mau kan???"

Hana jengkel dengan mudah dibuat Eyang. Ia menunjukkan foto yang dikirim Lana pada Eyang. Ketimbang foto, Eyang Uti lebih penasaran atas alasan Lana mengirim foto ini pada Hana. Semoga apa yang ditakutkannya akan Lana selama ini, tidaklah kejadian. Kalau iya, maka Hana benar adanya. Eyang Uti telah gagal sebagai seorang Ibu bagi Devan.

"Eyang liat sendiri kan?? Nggak ada yang aneh dari fotonya?!" ngotot Hana yang heran sendiri mengapa sekesal apapun dirinya sekarang pada Reiga, Hana tetap membela pria itu mati-matian. Cinta memang gila. Hana saja sampai hilang logika.

"Kalau memang yakin, kenapa merengut kayak gitu?" Eyang Uti mulai melancarkan tujuan sebenarnya dari debat kusir yang tak penting ini.

Hana menghela napas. Diam. Tidak tahu harus bicara apa.

"Menurut Eyang gimana?"

Hana tiba-tiba ingin menanyakannya.

"Yakin sanggup dengar pendapat Eyang? Tumben," tandas Eyang Uti.

Hana melirik Eyang Uti sebal.

"Eyang tuh niat kasih tahu atau enggak sih, Yang?" sebal Hana.

Eyang Uti berdecak.

"Sana pulang! Temui Reiga, tanya kebenarannya! Baru kembali ke sini untuk dengar pendapat Eyang," jawab Eyang Uti dengan ekspresi menantang saat menatap Hana.

Hana, ditantang?

Gali bangkai titanic juga bakal dia jabanin. Apalagi kalau yang menantangnya adalah Eyang Uti.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!