Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Perkenalan yang Manis
Ada sebuah kepuasan yang aneh dan memabukkan ketika kau berdiri di tengah keramaian, mengetahui bahwa kau baru saja membakar sebagian dari dunia mereka, dan tidak ada satu pun dari orang-orang di sekitarmu yang menyadarinya.
Aku berdiri di sudut Galeri Nasional Seni Kontemporer di kawasan Jakarta Pusat, memegang sebuah gelas piala berisi air mineral bersoda dengan irisan lemon. Ruangan pameran ini dipenuhi oleh bau cat minyak yang khas, aroma parfum mahal dari ratusan tamu undangan VVIP, dan alunan musik instrumen cello yang dimainkan secara langsung di tengah ruangan.
Pameran seni tunggal ini mengusung tema "Dekonstruksi Realitas". Sebuah tema yang sangat ironis, mengingat apa yang baru saja kulakukan pada realitas kota ini hanya beberapa jam yang lalu.
Di layar televisi datar yang terpasang bisu di area lounge galeri, saluran berita masih terus memutar ulang rekaman amatir dari kebakaran di Gedung Arsip Pengadilan Tinggi. Asap hitam mengepul di layar kaca, sementara running text di bawahnya terus memperbarui status buronan Hakim Agung Setiawan. Pria tua yang dulu disembah layaknya dewa hukum itu kini berstatus buron tingkat nasional, dicari oleh KPK, kepolisian, dan diburu oleh mantan sekutunya sendiri di Vanguard Group yang ketakutan.
Satu pilar telah runtuh sepenuhnya ke tanah. Tanpa tembakan peluru. Tanpa setetes pun darah di tanganku malam ini. Hanya dengan rentetan kode digital dan sepercik api metanol.
Aku menyesap air sodaku, merasakan gelembung-gelembung kecil pecah di lidahku. Rencanaku berjalan dengan presisi yang sempurna. Setiawan sudah tamat. Jenderal Sudiro dan Darmawan Salim saat ini pasti sedang mengunci diri di ruangan anti-sadap mereka, saling menuduh, saling mencurigai siapa yang membocorkan data keuangannya. Paranoia sedang bekerja menggerogoti otak mereka.
Sekarang, aku hanya perlu bersabar menunggu mereka membuat kesalahan fatal berikutnya.
Namun, di tengah simfoni kehancuran yang sedang kuorkestrasikan ini, insting kelangsungan hidupku yang telah terasah di jalanan selama sepuluh tahun tiba-tiba meronta pelan. Bulu kuduk di tengkukku meremang. Sensasi dingin merayap di punggungku, sebuah peringatan biologis bahwa aku sedang diawasi.
Bukan diawasi oleh kamera pengawas galeri. Bukan pula tatapan lapar dari para sosialita kesepian yang sejak tadi mencoba mencari perhatianku karena mengira aku adalah miliarder muda yang masih lajang.
Tatapan ini berbeda. Tatapan ini berat, menguliti, dan penuh perhitungan. Ini adalah tatapan seorang predator yang sedang menilai letak kelemahan mangsanya.
Tanpa mengubah arah bahuku, aku menggunakan pantulan dari kaca pigura lukisan abstrak di depanku untuk mengamati area di belakang punggungku.
Di sana, sekitar sepuluh meter dariku, berdiri seorang wanita.
Ia mengenakan dress sutra selutut berwarna hitam matte yang potongannya sangat sederhana namun menempel sempurna pada tubuhnya. Tidak ada belahan dada yang berlebihan, tidak ada perhiasan mencolok di leher atau pergelangannya. Ia memadukannya dengan sepatu hak rendah bergaya boots pergelangan kaki—jenis alas kaki yang memungkinkan seseorang untuk berlari kencang atau menendang rahang seseorang jika situasi mengharuskannya.
Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan tergerai menutupi separuh bahunya. Di tangannya terdapat sebuah tas tangan desainer berukuran sedang. Tas itu terlihat sedikit lebih berat dari yang seharusnya, dan cara tangan kanannya beristirahat tepat di dekat bukaan tas itu... memberitahuku bahwa ada sepotong baja seberat delapan ratus gram di dalamnya. Pistol Glock-19 kompak. Standar detektif kepolisian.
Elara Salim.
Jantungku berdetak satu ketukan lebih cepat. Sebuah sensasi adrenalin murni menyengat aliran darahku.
Aku sudah menduga bahwa kepolisian pada akhirnya akan menemukan benang merah menuju identitasku setelah aku membocorkan dokumen kasus kecelakaan ayahku semalam. Tapi aku mengkalkulasi bahwa butuh waktu setidaknya tiga atau empat hari bagi tim siber mereka untuk membersihkan enkripsi, mencari korelasi data, dan menggunakan perangkat lunak pengenal wajah pada foto lamaku.
Fakta bahwa wanita ini berhasil melacak wajahku dan menemukanku di acara galeri seni ini hanya dalam waktu kurang dari dua belas jam... membuktikan bahwa ia jauh lebih brilian dan jauh lebih berbahaya dari semua musuhku yang lain.
Elara tidak membawa tim taktis bersenjata laras panjang. Ia tidak memerintahkan petugas berseragam untuk mengepung galeri ini dan memborgolku di depan publik. Fakta itu saja sudah memberitahuku apa rencananya. Ia belum memiliki bukti fisik yang kuat. Data pengenal wajah dan kecurigaan dari dokumen masa lalu tidak cukup untuk mendapatkan surat perintah penangkapan bagi seorang "investor" bersih tanpa catatan kriminal sepertiku.
Ia datang ke sini bukan untuk menangkapku. Ia datang ke sini untuk memancingku. Ia ingin melakukan profil psikologis secara langsung. Ia ingin melihat apakah pria bernama Arlan ini benar-benar sang monster yang menyayat leher kota ini.
Sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun—terbentuk di sudut bibirku.
Bagus, batinku. Mari kita menari.
Aku mengendurkan otot-otot bahuku, mengatur postur tubuhku agar terlihat seratus persen rileks, layaknya seorang pecinta seni yang tidak memiliki beban hidup. Aku memutar tubuhku perlahan, meninggalkan lukisan abstrak itu, dan melangkah dengan ritme santai menuju sebuah lukisan besar beraliran realisme yang dipajang di ujung ruangan.
Lukisan itu menggambarkan sebuah kapal layar kuno berbahan kayu yang sedang dihantam badai laut yang luar biasa brutal. Langit di kanvas itu dilukis dengan warna abu-abu kehitaman, dengan kilatan petir yang menyambar tiang utama kapal yang mulai patah. Di geladak kapal, terlihat siluet orang-orang yang berjatuhan ke dalam ombak yang gelap.
Aku berdiri di depan lukisan itu, memasukkan tangan kiriku ke dalam saku celana panjang kustomku, dan menyesap air sodaku dengan tenang.
Melalui ekor mataku, aku menyadari Elara telah bergerak. Langkah kakinya nyaris tanpa suara di atas lantai marmer galeri. Aroma sandalwood yang tajam dan menggoda itu kembali menyapa indra penciumanku, persis seperti wangi yang kucium saat kami berpapasan di bar The Obsidian dua malam lalu. Bedanya, malam ini aku tidak memakai mantel hitam yang menyembunyikan wajahku. Malam ini, aku berdiri telanjang di bawah cahaya lampu pameran.
Ia berhenti tepat di sebelah kananku, hanya berjarak kurang dari setengah meter. Jarak personal yang sengaja dilanggar untuk menciptakan tekanan psikologis.
"Lukisan yang cukup mengganggu untuk dipajang di acara amal yang dipenuhi orang-orang kaya," suara Elara mengalun memecah keheningan di antara kami. Nada suaranya rendah, sedikit serak, dan sangat terkontrol. Ia menatap lurus ke arah kanvas raksasa itu, tidak memandangku.
Aku menoleh ke arahnya, membiarkan mataku bertemu dengan profil samping wajahnya. Struktur rahangnya tegas, namun garis hidung dan bibirnya memiliki kelembutan yang sangat kontras dengan profesinya yang keras.
"Seni yang sejati memang tidak diciptakan untuk membuat penontonnya merasa nyaman, Nona," balasku, menggunakan intonasi suaraku yang paling hangat dan ramah—suara Arlan sang investor. "Seni diciptakan untuk memaksa kita melihat kebenaran yang sering kali kita abaikan. Orang-orang di ruangan ini... mereka menyukai kapal yang mewah dan pelayaran yang tenang. Tapi pelukis ini mengingatkan mereka bahwa badai tidak pernah memilih siapa yang akan ditenggelamkannya."
Elara akhirnya menoleh. Mata cokelat gelapnya bertemu langsung dengan mataku.
Ada sebuah benturan tak terlihat di udara saat pandangan kami terkunci. Aku bisa melihat ketegangan di pupil matanya. Ia sedang memindai wajahku, mencocokkan setiap inci fitur wajahku dengan data forensik yang ada di dalam kepalanya, atau mungkin dengan bayangan pria bertopi di bar yang telah mengancamnya. Ia sedang mencari retakan pada topeng manusia yang sedang kukenakan.
"Badai memang tidak memilih mangsanya," kata Elara, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Tapi seseorang harus mengendalikan kemudi kapal tersebut. Sering kali, kapal itu tenggelam bukan karena kemarahan alam, melainkan karena keserakahan sang kapten yang menolak mengubah arah."
Kalimat itu sarat akan makna ganda. Ia tidak sedang membicarakan lukisan kapal ini. Ia sedang membicarakan ayahnya, Darmawan Salim, sang kapten Vanguard Group. Dan ia sedang membicarakan aku, sang badai yang datang menghancurkannya.
Detektif ini benar-benar tidak suka berbasa-basi. Aku menyukai keberaniannya.
"Analisis yang sangat tajam," aku mengangguk pelan, mengangkat gelasku sedikit ke arahnya sebagai gestur penghormatan. "Sepertinya Anda bukan tipikal pengamat seni biasa. Izinkan saya memperkenalkan diri. Arlan. Arlan Wiratama."
Aku mengulurkan tangan kananku padanya. Menyebutkan nama lengkapku secara terbuka adalah sebuah pertaruhan. Aku tahu dia sudah mengetahui namaku dari berkas kasus orang tuaku. Reaksi yang akan ia berikan pada detik ini akan menentukan arah permainan kami selanjutnya.
Elara menatap tanganku yang terulur selama dua detik penuh. Ia tidak terlihat terkejut mendengar nama belakangku, yang mengonfirmasi bahwa ia memang sudah membongkar seluruh berkas kejaksaan itu pagi ini.
Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya dan membalas jabat tanganku.
"Elara," ucapnya singkat. Ia tidak menyebutkan nama belakangnya. "Hanya Elara."
Sentuhan telapak tangannya terasa kontras dengan duniaku. Tangannya hangat, dengan sedikit kapalan kasar di pangkal jari telunjuk dan ibu jarinya—bekas gesekan grip senjata api yang rutin digunakan di lapangan tembak. Jabat tangannya kuat, menolak untuk didominasi. Saat kulit kami bersentuhan, ada semacam arus listrik statis mikroskopis yang menjalar naik ke lenganku. Sebuah reaksi kimia yang sangat mengganggu logika sosiopatku.
"Senang bertemu dengan Anda, Nona Elara," aku melepaskan jabat tangan kami dengan durasi yang tepat agar tidak terlihat canggung atau menghindar. "Apakah Anda sering mengunjungi pameran beraliran dekonstruksi seperti ini?"
"Hanya saat saya sedang mencari sesuatu yang hilang," jawabnya lugas. Ia menyilangkan lengannya di depan dada, sebuah gestur pertahanan yang dikombinasikan dengan serangan. "Saya bekerja di bidang investigasi. Terkadang, melihat kekacauan di atas kanvas membantu saya memahami kekacauan di dunia nyata."
"Investigasi?" Aku mengangkat sebelah alisku, berpura-pura terkejut dengan sangat meyakinkan. "Maksud Anda semacam jurnalisme? Atau Anda bekerja di firma hukum?"
"Lebih ke arah penyelesaian masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh orang lain," Elara memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tak pernah lepas dari bola mataku, berusaha menembus korneaku untuk mencari monster yang bersembunyi di baliknya. "Sebut saja saya seseorang yang bertugas membersihkan kekacauan yang ditinggalkan oleh orang-orang yang merasa dirinya tidak tersentuh hukum."
"Pekerjaan yang sangat mulia. Sekaligus sangat melelahkan, saya asumsikan," aku tertawa pelan, tawa yang empuk dan renyah. "Saya sendiri hanya seorang investor yang mencari peluang di pasar yang bergejolak. Membeli saat harga hancur, dan membangun ulang dari puing-puingnya. Pekerjaan saya jauh lebih membosankan dibandingkan pekerjaan Anda."
"Investor yang membangun ulang dari puing-puing?" Elara mendengus pelan, senyum sinisnya kembali muncul. "Beberapa investor yang saya kenal tidak keberatan menghancurkan gedung itu sendiri hanya agar mereka bisa membeli tanahnya dengan harga murah. Apakah Anda tipe investor yang seperti itu, Tuan Arlan?"
Serangannya sangat frontal dan akurat. Ia pada dasarnya baru saja menuduhku sebagai dalang di balik kehancuran Setiawan di depan wajahku sendiri. Jika aku adalah penjahat amatir, otot rahangku pasti sudah menegang atau mataku akan berkedip panik.
Namun, aku telah berlatih untuk tidak memiliki emosi selain yang kuizinkan untuk terlihat.
"Tuduhan yang sangat kejam terhadap profesi saya, Elara," aku mencondongkan tubuhku sedikit lebih dekat kepadanya, merendahkan volume suaraku hingga hanya bisa didengar oleh kami berdua di tengah alunan musik cello. "Tapi Anda tidak sepenuhnya salah. Terkadang, sebuah struktur memang sudah terlanjur membusuk dari dalam. Rayap-rayapnya sudah memakan fondasi utamanya. Dalam kasus seperti itu... bukankah membakar gedung tersebut hingga rata dengan tanah adalah satu-satunya cara untuk membersihkan hama dan memulai sesuatu yang baru?"
Aku melihat jakun di leher Elara bergerak pelan saat ia menelan ludah. Tarikan napasnya tertahan selama sepersekian detik. Aku baru saja memberikan pengakuan tidak langsung kepadanya. Sebuah pengakuan yang dibungkus rapi dalam metafora bisnis, yang tidak akan pernah bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan, namun cukup untuk memberitahunya bahwa ia sedang berbicara dengan orang yang tepat. Sang Joker.
Udara di antara kami terasa mendadak sangat panas dan padat, seolah oksigen di sekitar lukisan kapal badai ini baru saja disedot habis.
"Masalahnya dengan membakar gedung," balas Elara, suaranya kini bergetar sangat halus menahan amarah yang mendidih di dadanya, "api tidak pernah bisa dikendalikan sepenuhnya. Api itu buta. Ia akan menyambar gedung di sebelahnya. Ia akan membakar orang-orang tak bersalah yang terjebak di dalamnya. Dan pada akhirnya... api itu akan membakar orang yang menyalakannya."
"Itu adalah risiko operasional," jawabku tenang, menatap lurus ke dalam lautan kemarahan di mata cokelatnya. "Bagi seseorang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan, terbakar menjadi abu bersama musuh-musuhnya adalah sebuah kemenangan."
Kami berdua terdiam selama beberapa detik. Dunia di sekitar kami seolah menghilang. Orang-orang kaya yang menenggak sampanye, musik klasik yang mengalun, kilatan lampu kilat dari kamera wartawan hiburan di seberang ruangan... semuanya lenyap. Di sudut galeri ini, hanya ada seorang detektif yang dikhianati oleh darah dagingnya sendiri, dan seorang algojo bayangan yang kehilangan masa lalunya.
Kami berdiri di atas papan catur yang sama, namun mewakili dua warna yang ditakdirkan untuk saling menghancurkan.
Elara adalah anomali terbesar dalam rencanaku. Ia adalah putri dari pria yang ingin kubunuh dengan tanganku sendiri. Seharusnya aku membencinya. Seharusnya aku merencanakan kematiannya untuk menyiksa ayahnya.
Namun, menatap keberaniannya yang mentah saat ini, melihat bagaimana ia menolak untuk tunduk pada ketakutan yang pasti sedang meremas jantungnya, membuat sebuah perasaan asing menyusup ke dalam rongga dadaku yang selama sepuluh tahun ini hanya diisi oleh kebencian. Sebuah rasa ketertarikan yang fatal. Aku mengaguminya.
"Anda pria yang sangat menarik, Arlan Wiratama," kata Elara akhirnya, memecah kesunyian yang mencekik itu. Ia melonggarkan silangan tangannya di dada. "Atau mungkin sangat berbahaya. Saya masih mencoba memutuskan."
"Mengapa tidak mencoba mencari tahu sendiri?" Aku meletakkan gelas sodaku yang sudah habis ke atas nampan pelayan yang lewat, lalu mengambil sebuah kartu nama dari saku dalam jasku. Kartu nama bersih berbahan kertas matte hitam tanpa logo perusahaan, hanya berisi nama 'Arlan' dan sebuah nomor telepon pribadi.
Aku menyodorkan kartu itu kepadanya.
"Jika Anda lelah memandangi lukisan badai di dalam galeri," ucapku dengan senyum yang kali ini tidak bisa kutahan untuk sedikit lebih tulus, "mungkin kita bisa berdiskusi lebih lanjut tentang investasi dan 'pembersihan gedung'. Makan malam? Besok malam jam delapan?"
Elara menatap kartu nama hitam di tanganku seolah itu adalah sebuah granat aktif. Ia tahu bahwa menerima kartu ini berarti ia secara resmi masuk ke dalam perangkapku. Ia tahu bahwa makan malam denganku bukanlah sebuah kencan romantis, melainkan sebuah interogasi psikologis di mana nyawanya bisa saja menjadi taruhannya.
Namun, ia juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk membongkar identitas ganda yang kumiliki dan mencegahku membunuh lebih banyak orang. Ia tidak punya pilihan lain selain ikut bermain dalam permainanku.
Perlahan, dua jari Elara yang lentik menjepit kartu hitam itu dan menariknya dari tanganku.
"Besok malam jam delapan," jawabnya, suaranya kembali dingin dan profesional. Ia memasukkan kartu itu ke dalam saku blazer-nya yang rapi. "Pastikan Anda tidak terlambat, Tuan Arlan. Saya sangat tidak suka menunggu."
"Saya selalu datang tepat waktu untuk hal-hal yang penting, Elara."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, wanita itu memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi meninggalkanku, punggungnya tegak, rambut hitamnya bergoyang mengikuti ritme langkah kakinya yang penuh determinasi. Langkah seorang pejuang yang bersiap menuju medan perang.
Aku berdiri mematung di depan lukisan badai itu, terus menatap punggungnya hingga ia menghilang di balik pintu kaca putar galeri seni tersebut. Wangi sandalwood dan mesiu yang ditinggalkannya masih tertinggal pekat di udara, menginvasi indra penciumanku dan menolak untuk pergi.
Aku menarik napas panjang, merasakan dadaku bergemuruh oleh campuran antara antisipasi pembunuhan dan gairah yang tidak terduga. Rencanaku yang sempurna, algoritma balas dendam yang telah kususun selama sepuluh tahun tanpa cela, kini memiliki satu variabel liar (x) yang tidak bisa diprediksi. Elara Salim tidak akan segan-segan menarik pelatuk pistolnya ke arah kepalaku jika ia menemukan bukti fisik bahwa aku adalah sang Joker.
Dan ironisnya, ancaman mematikan dari wanita itulah yang membuatku merasa benar-benar hidup untuk pertama kalinya sejak kematian ibuku.
Aku menyentuh dadaku sendiri dari luar jas, merasakan ritme jantungku yang berdetak dengan gembira. Dalam permainan catur berdarah yang kutulis ini, di mana setiap gerakan dirancang untuk menyayat leher musuh-musuhku tanpa ampun... senyum menantang Elara Salim adalah racun yang paling indah.