NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanah yang Membara

Udara Bandung yang lembap dan beraroma tanah basah menyambut keluarga Arkana saat mereka menuruni tangga pesawat. Bagi Kenzo dan Aara, ini adalah kepulangan yang tak pernah direncanakan. Bagi Adrian, ini adalah pertemuan pertama dengan tanah yang selama ini hanya ia dengar dalam dongeng-dongeng pengantar tidur ibunya.

Selusin mobil hitam yang menunggu di ujung landasan bukan milik polisi, melainkan unit keamanan swasta berseragam abu-abu gelap tanpa lencana. Seorang pria paruh baya dengan batik sutra bermotif parang rusak melangkah maju. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan ketajaman yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah lama bermain di koridor kekuasaan.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Adrian Pratama. Dan selamat datang, Tuan Kenzo, Nyonya Aara," ucap pria itu dengan suara berat namun sopan. "Saya Baskara. Saya adalah ajudan pribadi kakek Anda, dan sekarang, saya adalah Wali sementara bagi aset Anda."

Kenzo tidak melepaskan tangan dari gagang pistol yang tersembunyi di balik jaketnya. "Kami tidak datang untuk upacara penyambutan, Baskara. Kami datang untuk jawaban."

Baskara tersenyum tipis. "Jawaban itu ada di balik gerbang Puri Pratama. Silakan, mobil sudah siap. Kota ini tidak lagi aman bagi Anda jika tetap berada di tempat terbuka seperti ini."

Iring-iringan mobil melesat menembus kemacetan Bandung menuju perbukitan tinggi di daerah Lembang. Di sana, di balik tembok batu tinggi yang ditumbuhi lumut dan dijaga oleh sensor inframerah canggih, berdiri sebuah mansion kolonial raksasa yang telah direnovasi total dengan teknologi modern. Itulah Puri Pratama.

Adrian menempelkan wajahnya ke kaca mobil, matanya yang cerdas mengamati setiap detail pertahanan yang ia lewati. "Mama, tempat ini punya sistem pemindai retina di setiap pohon," bisiknya pelan.

Aara mengusap rambut putranya, hatinya berdegup kencang. "Kakekmu sepertinya lebih paranoid daripada ayahmu, Adrian."

Begitu mereka masuk ke dalam aula utama yang megah, Baskara menghentikan langkahnya di depan sebuah lukisan besar. Lukisan itu menampilkan seorang pria tua yang sangat mirip dengan Adrian dengan mata yang tajam dan garis bibir yang tegas.

"Kakek Anda, Tuan Kusuma Pratama, bukan hanya seorang pengusaha," Baskara memulai penjelasannya. "Beliau adalah pendiri faksi 'Nusantara', sebuah organisasi bayangan yang didirikan untuk menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia dari campur tangan pihak luar termasuk organisasi seperti FBA dan The Hive."

Kenzo menyipitkan mata. "Jadi, selama ini FBA mengejar Aara bukan hanya karena serum Valkyrie, tapi karena mereka ingin menggunakan Aara untuk masuk ke dalam jaringan Nusantara?"

"Tepat," jawab Baskara. "Dan sekarang, dengan runtuhnya Miller, faksi-faksi kecil di dalam Nusantara mulai berebut takhta. Mereka tidak menginginkan Adrian sebagai pewaris. Mereka menginginkannya sebagai pion... atau menghilangkannya sama sekali."

Aara merasa amarah mulai membakar dadanya. Ia telah menghancurkan satu organisasi global hanya untuk melindungi anaknya, dan kini ia menemukan bahwa di tanah airnya sendiri, ancaman itu justru datang dari darah daging keluarganya sendiri.

"Siapa yang memimpin pemberontakan ini, Baskara?" tanya Aara dingin. Nada centilnya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh suara seorang agen elit yang siap memburu.

"Paman Anda sendiri, Nyonya. Surya Pratama. Dia merasa bahwa harta ini seharusnya jatuh ke tangannya, bukan kepada seorang 'anak haram' yang lahir di pelarian," jawab Baskara tanpa ragu.

"Dia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya," desis Aara.

Malam itu, saat Adrian tertidur di kamar yang dijaga ketat, Kenzo dan Aara berdiri di balkon yang menghadap kerlip lampu kota Bandung dari kejauhan.

"Kita tidak bisa hanya bertahan di sini, Kenzo," ucap Aara. "Surya akan mengirimkan orang. Dia akan menggunakan hukum Indonesia, koneksi politiknya, dan mungkin pembunuh bayaran lokal."

Kenzo menarik Aara ke dalam pelukannya. "Kita tidak akan menunggu dia datang. Kita akan melakukan apa yang selalu kita lakukan terbaik."

"Serangan fajar?" Aara memberikan kerlingan nakal yang sudah lama tidak ia tunjukkan.

"Lebih dari itu. Kita akan mengambil alih Nusantara dalam satu malam," jawab Kenzo.

Pukul 02.00 dini hari.

Kenzo dan Aara bergerak tanpa sepengetahuan Baskara. Menggunakan perlengkapan taktis yang mereka bawa dari Islandia, mereka menyusup ke kediaman Surya Pratama di kawasan mewah Dago Pakar.

Aara bergerak seperti bayangan di antara pohon-pohon pinus, melumpuhkan penjaga luar dengan peluru bius tanpa suara. Sementara itu, Kenzo masuk melalui balkon lantai dua, menggunakan kabel baja untuk berayun masuk.

Di dalam kamar utama, Surya Pratama sedang tertidur lelap, tidak menyadari bahwa maut sedang berdiri di ujung tempat tidurnya.

Kenzo menempelkan pisau titaniumnya ke leher Surya. "Bangun, Paman. Ada keponakanmu yang ingin menyapa."

Surya terjaga dengan mata terbelalak, napasnya tersengal saat melihat sosok Kenzo yang tampak seperti iblis di kegelapan. "Kau... Kenzo Arkana? Bagaimana bisa..."

"Aku tidak suka orang yang mencoba mencuri masa depan anakku," kata Kenzo dengan suara rendah yang menggetarkan nyali.

Aara muncul dari balik pintu, memutar-mutar pistol kustomnya dengan gaya yang sangat provokatif. "Dan aku sangat benci pria yang memanggil anakku 'anak haram'. Itu sangat tidak sopan, Paman."

Surya gemetar hebat. "Kalian tidak bisa membunuhku! Seluruh Nusantara akan memburu kalian!"

"Oh, kami tidak akan membunuhmu," Aara mendekat, menyuntikkan sebuah cairan ke lengan Surya. "Ini adalah serum kejujuran yang dimodifikasi. Besok pagi, kau akan menyerahkan seluruh asetmu kepada Adrian Pratama di depan notaris publik. Dan jika kau mencoba berkhianat, cairan ini akan memicu serangan jantung instan yang tidak akan bisa dideteksi oleh otopsi mana pun."

Kenzo melepaskan pisaunya. "Pilihannya mudah, Surya. Menjadi orang kaya yang pensiun dalam diam, atau menjadi mayat yang terlupakan."

Pagi harinya, sebuah pengumuman mengejutkan mengguncang dunia bisnis dan organisasi bayangan di Indonesia. Surya Pratama secara resmi mengundurkan diri dan menyerahkan seluruh kendali aset keluarga Pratama kepada wali sah dari Adrian Pratama.

Di Puri Pratama, Adrian sedang duduk di taman, memperhatikan seekor kupu-kupu tropis yang hinggap di tangannya. Ia menoleh saat Kenzo dan Aara berjalan mendekat dengan senyum kemenangan.

"Papa, apa kita akan tetap di sini?" tanya Adrian.

Kenzo berlutut di depan putranya, memakaikan kembali liontin King yang sempat ia lepas untuk dibersihkan. "Ya, Adrian. Di sini, kau tidak perlu lagi bersembunyi. Tempat ini milikmu sekarang."

Aara memeluk mereka berdua, merasakan kehangatan matahari Indonesia yang sesungguhnya. Mereka tahu, perjalanan sebagai penguasa Nusantara baru saja dimulai. Akan ada musuh baru, tantangan baru, dan intrik politik yang lebih rumit.

Namun, selama sang Raja Mafia dan sang Ratu Agen berdiri di samping sang Anak Alpha, tidak ada satu pun kekuatan di bumi ini yang bisa meruntuhkan benteng yang mereka bangun.

Di kejauhan, Gunung Tangkuban Perahu tampak megah di bawah sinar matahari pagi. Sebuah bab baru telah tertulis bukan lagi tentang pelarian di atas es, melainkan tentang penguasaan di atas tanah leluhur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!