Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kumpul warga
Tim Tio terus mencari petunjuk.
Menyusuri tiap tempat yang mungkin saja dikunjungi oleh Lira sebelum hilang.
Warga makin resah.
Ini bagaikan teror yang tak berkesudahan.
Rapat di rumah kepala desa diadakan.
Andre turut hadir karena dirinya yang merupakan salah satu aparatur desa sekaligus anak dari pak Herman.
Pendapat dan keluh kesah warga didengarkan.
Pak Rahman juga turut hadir ditemani oleh Bagas serta bu Sukma. Meski baru sembuh, tapi pria paruh baya itu tetap ingin hadir di rapat warga. Ada harapan terselip dihatinya karena turut hadir disana.
Beberapa orang yang tadinya menuduh dan menggeruduk rumahnya hanya menatap penuh malu pada pria paruh baya itu.
"Pak Rahman, saya selaku kepala desa mohon maaf atas kesalahpahaman sehingga membuat beberapa warga melempari rumah pak Rahman" ucap pak Herman mewakili warga yang bersalah.
"Saya paham atas kemarahan dan kepanikan kita selama beberapa bulan ini. Tapi yang saya tidak bisa terima ada beberapa orang yang menuduh putri kami Maharani sebagai dukun. Padahal kita tahu kalau Rani itu gadis biasa yang pendiam. Lagipula kami tidak memiliki keturunan dukun. Tolong bersihkan nama Rani dari stigma negatif itu pak Herman" ujar pak Rahman tegas meminta.
Pak Herman memandang orang-orang yang tertunduk lesu.
"Saya minta yang pernah berkata demikian nanti bisa meminta maaf langsung pada keluarga pak Herman... Bagaimana, kalian setuju?" titah pak Herman.
"Baik pak..." jawab para warga serentak.
"Kita memang sedang mencari jalan keluar dari kasus ini tapi kita juga harus mengedepankan logika bukan 'katanya..' Katanya si A begini, lalu kata si B begini. Jangan mudah terhasut oleh pendapat yang belum bisa dibuktikan kebenarannya... Kita harus bersatu bukan saling fitnah yang bisa menimbulkan korban diantara kita sendiri..." ujar pak Herman memberi nasehat.
"Baik pak..." sahut warga serentak.
Dalam kesibukan musyawarah itu, Andre hanya sibuk dengan ponselnya.
Laki-laki yang kini menyandang status duda tampan itu begitu sibuk dengan sesuatu di layar berkilau itu.
Sesekali bibirnya tertarik mengerucut dan sesekali juga nampak menggerutu.
Bagas memeperhatikan setiap perubahan itu dan mencatatnya didalam galeri kepalanya.
Andre mengangkat pandangannya sehingga bertubrukan dengan mata Bagas.
Secepat kilat ekspresi Andre berubah dingin.
Bagas mengangguk dengan sebuah senyuman manis dibibirnya.
Begitu rapat usai, Andre buru-buru mendatangi Bagas yang hendak pulang dengan sepeda motornya.
"Gas... Kamu mau langsung pulang?" cegat Andre.
Bagas melirik kedua orangtuanya. "Iya mas.... Kenapa memangnya? Mas Andre ada perlu denganku?"
"Ah tidak... Aku cuma mau kasih tumpangan pada kalian karena kan pak Rahman yang baru saja pulang dari rumah sakit. Tak elok naik motor terlalu lama" kilah Andre beralasan.
"Tidak usah repot-repot nak Andre... Bapak sudah baik-baik saja dan bisa diboncengi Bagas dengan motornya... Lagipula, Bagas nggak kencang juga kok" tolak pak Rahman halus.
"Nggak apa pak... Lagipula saya juga sekalian mau kekota,jadi sekalian saya antar... Ayo naik pak, buk..." ajak Andre.
"Andre benar pak Rahman... Sekalian saja dengan Andre naik mobil...." timpal pak Herman yang ikut menghampiri mereka.
Lagi pak Rahman memandang istri dan anaknya. "Baiklah,.. Terimakasih sebelumnya nak Andre.."
Pak Rahman dan bu Sukma akhirnya ikut naik menumpang di mobil Andre sedangkan Bagas memilih naik motornya sendiri lalu mengikuti dari belakang.
"Saya turut prihatin atas kepergian nona Meri.. Maaf kami tidak melayat karena kondisi kami yang juga kurang baik setelah kehilangan Maharani... " ujar pak Rahman membuka pembicaraan.
"Tak apa pak... Dan terimakasih atas ucapannya.. Saya turut prihatin atas hilangnya Rani... Dia karyawan yang rajin serta ramah pada siapapun.." ujar Andre memuji Rani. Kalimat yang penuh kepalsuan belaka.
Ada raut sedih di wajah bu Sukma saat mendengar orang lain memuji putri sulungnya.
"Kami yakin dia berada disatu tempat.... Semoga suatu hari dia pulang dan kami bisa berkumpul lagi seperti dulu... " tutur pak Rahman.
Andre tak lagi menyahuti ucapan pak Rahman. Dia memilih fokus pada jalanan.
Mobil Andre tiba didepan halaman rumah pak Rahman. Laki-laki itu segera pergi setelah kedua paruh baya itu turun dan masuk kedalam rumah.
Mata Andre masih menatap dari kaca spion tengah.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Ya... kalian benar... Maharani memang ada disatu tempat yang takkan pernah kalian temui karena memang sudah lenyap...." tawa Andre menggema.
Tawa seorang psikopat kejam.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tio masih berada dikantornya.
Wajahnya lelah karena sudah beberapa hari ini tidak pulang dan kurang beristirahat.
Dia baru selesai menyeduh kopi hitam yang entah sudah keberapa kalinya.
Tik...
Mendadak lampu ruangan penyidik padam mendadak.
Tio menekan flash di ponselnya.
Mencari saklar lampu untuk dinyalakan kembali.
Kuduknya merinding.
Ada seseorang yang berada diruangan itu selain dirinya.
Jemari yang akan menyentuh saklar lampu urung dilakukan.
Fokusnya kini beralih pada layar laptopnya.
Pupil mata Tio melebar.
Itu rekaman Lira yang melintasi jalan perbatasan desa menuju kota.
Buru-buru Tio merekam lewat ponselnya.
Rekaman itu begitu jelas dan jernih.
Hingga motor yang dikendarai Lira berhenti di depan sebuah hotel bintang lima.
Nomor kendaraan motor gadis itu telah dicatat oleh Tio.
"xx 5123 xxx...." gumamnya.
Ada sebuah tulisan di layar laptop-nya setelah tayangan rekaman tersebut.
"JIKA KAU BERHASIL MENGUNGKAP KASUS INI, MAKA KASUS LAIN JUGA AKAN IKUT TERBONGKAR KARENA PELAKUNYA SAMA"
Tio mengusap dagunya.
Ternyata firasatnya benar.
Ini bukan kasus orang hilang biasa. Pasti ada rahasia dibalik semua ini.
Entah itu dendam atau semacam pesugihan.
Setidaknya itu yang selama beberapa hari ini Tio pikirkan. Terlebih dia selalu bermimpi bertemu gadis manis penghuni hutan pinus.
"Apa petunjuk ini darimu? Apa kamu juga korban dari penjahat yang sama" Tio bermonolog sendiri.
"Aku akan ungkap siapa dalangnya dan kalian para korban akan mendapat keadilan.." tekad Tio.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ujang dan Tio baru saja selesai menemui manager hotel dimana Lira menginap sesuai dengan petunjuk.
Benar. Ada nama Lira di deretan buku tamu.
Rekaman kamera pengintai juga jelas menunjukkan perempuan itu masuk kedalam salah satu kamar mahal di hotel tersebut.
Tak lama seorang laki-laki memakai topi dan masker masuk kedalam kamar.
Karena di kamar tidak dipasangi CCTV jadi Tio tidak bisa melihat wajah laki-laki tersebut.
"Tunggu... Mundur di menit sebelumnya saat laki-laki itu masuk...." pinta Tio pada petugas keamanan.
"Laki-laki itu mengenakan jam tangan branded... " gumam Tio.
Ujang mendekatkan wajahnya ke layar.
"Tipe Longines Conquest buatan Swiss.... Waw... Kayaknya dia bukan laki-laki sembarangan..... Harganya aja udah bisa beli satu motor matic keluaran terbaru...." timpal Ujang.
"Ya... Hanya ada satu laki-laki yang sering pakai jam tangan itu...." ucap Tio yang terdengar seperti gumaman.
"Baik.. Kami sudah simpan rekaman ini... Terima kasih atas kerjasamanya..." pamit Tio dan Ujang setelah selesai memindahkan rekaman ke flashdisk yang mereka bawa.
Sepanjang perjalanan kembali kekantor, Tio terus saja mengaitkan semua temuannya.
"Jang... Kamu kan sudah lama tinggal disini, kamu pasti tahu dong siapa-siapa saja orang terkaya di desa ini" tanya Tio pada Ujang yang fokus menyetir.
"Ada juragan Kardi.. Keluarga pak Samad tapi beliau lebih sering tinggal di kota karena bisnisnya ada disana dan pulang sesekali saja ketika hari besar... Pak Herman dan orangtuanya... Setahu ku hanya mereka... Tapi kalau dilihat dari posturnya, nggak mungkin mereka deh..."
"Memang bukan mereka. Laki-laki itu masih muda, mungkin seusia kita lah...." timpal Tio meluruskan pikiran Ujang.
Ujang menoleh pada Tio dengan tatapan aneh.
"Bukan aku, karena aku tidak suka pakai jam tangan mahal"tukas Tio.
" Memang bukan kamu tapi seseorang yang seusia denganmu" tegas Ujang meluruskan.
Keduanya saling pandang dengan alis terangkat seolah isi kepala mereka saling terkoneksi satu sama lain.
"Kita jangan asal tuduh tanpa bukti... Penyelidikan ini harus benar-benar jelas karena bisa saja mengungkap kasus lainnya...."
"Termasuk hilangnya putri dari pak Rahman, Maharani?" timpal Ujang.
"Ya.... Jangan beri tahu Hasan dulu... Kita selidiki diam-diam laki-laki itu"
"Baiklah, aku setuju...."
Keduanya tak lagi membahas hal itu hingga bukti-bukti yang mereka kumpulkan lengkap.
bersambung....