NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Diskusi dan pengarahan pun selesai sudah. Segala hal penting sudah dibahas, instruksi sudah diberikan, dan target sudah ditetapkan dengan jelas.

"Baiklah, sepertinya untuk hari ini cukup sampai di sini. Saya harus kembali ke Surabaya karena masih ada rapat penting sore nanti," ucap Sulthan sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut karena aktivitas tadi.

"Siap Tuan Sulthan. Terima kasih banyak atas kunjungan dan arahannya. Kami pasti akan bekerja maksimal," jawab Pak Bambang hormat.

Namun, sebelum rombongan beranjak, Pak Bambang tampak sedikit ragu tapi memberanikan diri mendekat. Wajahnya terlihat penuh harap.

"Ehm... Tuan Sulthan... Bolehkah kami meminta waktu sebentar saja?" tanya Pak Bambang sopan.

"Ada apa, Pak Bambang?" tanya Sulthan santai.

"Begini Tuan... Bolehkah kita berfoto bersama dulu? Sebagai dokumentasi dan kenang-kenangan bahwa Tuan sudah datang meninjau lokasi langsung. Nanti fotonya akan kami pajang di kantor proyek sebagai penyemangat tim," pinta Pak Bambang dengan senyum penuh harap.

Sulthan terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Oh boleh, tidak masalah. Ayo."

Mendengar izin itu, wajah Pak Bambang serta para staf dan teknisi langsung berseri-seri bahagia. Mereka pun segera mengatur posisi.

Mereka semua berkumpul di area terbuka tepat di tengah lokasi proyek. Tidak ada bangunan megah yang menjadi latar, hanya hamparan tanah luas yang akan dibangun, tiang pancang yang mulai berdiri, dan langit biru yang cerah di atasnya. Justru itulah maknanya, foto di awal mula sebelum pembangunan dimulai.

Sulthan berdiri di posisi paling tengah, tampak gagah dan tinggi menjulang. Di sebelah kirinya berdiri Pak Bambang, dan di sebelah kanannya berdiri Juniarta serta Putri. Di barisan belakang, para staf dan teknisi berjejer rapi dengan wajah penuh bangga.

"Siap semuanya?" tanya orang yang memegang kamera.

Ternyata yang ditunjuk untuk memotret adalah Pak Didik. Dengan sigap dia mengambil ponsel pintar milik Pak Bambang, lalu mundur beberapa langkah untuk mendapatkan sudut pandang yang pas.

"Siap... Ayo senyum semua! Siap... Ceeet!"

Klik! Klik! Klik!

Beberapa kali jepretan kamera terdengar. Ada foto formal dengan wajah serius wibawa, ada juga yang sedikit tersenyum ramah. Momen bersejarah itu pun berhasil terabadikan dengan baik.

"Alhamdulillah... dapat bagus semua fotonya," kata Pak Didik sambil menyerahkan kembali ponsel itu.

Pak Bambang langsung melihat hasilnya dan sangat senang. "Wah bagus sekali! Terima kasih banyak Tuan."

Pak Bambang lalu maju ke depan, menjabat tangan Sulthan dengan sangat erat dan tulus.

"Terima kasih banyak sekali atas waktu dan perhatiannya, Tuan Sulthan. Kehadiran Bapak pagi ini membuat kami semua semakin termotivasi. Mohon doanya supaya proyek ini lancar jaya dan sukses selalu," ucap Pak Bambang penuh rasa syukur.

"Sama sama, Pak Bambang. Kerjakan yang terbaik, hasil tidak akan mengkhianati usaha," balas Sulthan bijak. "Saya pamit dulu."

"Sampai jumpa lagi, Tuan! Hati-hati di jalan!" seru Pak Bambang dan seluruh tim serentak sambil membungkuk hormat.

Sulthan pun berjalan menuju mobil dinasnya. Pak Didik sudah siap membukakan pintu.

Satu per satu kendaraan mulai menyalakan mesin. Mobil pengawal bergerak duluan, disusul mobil Sulthan, dan ditutup oleh mobil Juniarta dan Putri di belakang.

Rombongan pun meninggalkan lokasi proyek itu, meninggalkan Pak Bambang dan timnya yang masih berdiri memandangi mobil yang menjauh, sambil menatap foto di layar ponsel dengan wajah bahagia.

•••

Perjalanan pulang lancar dan cepat tanpa kendala. Iring-iringan mobil berhasil memasuki kota Surabaya tepat saat jam makan siang mulai berlalu.

Tanpa berhenti di tempat lain, mobil-mobil dinas itu langsung melaju menuju gedung perkantoran megah Aditama Gold Group. Suasana di luar sangat panas dan gerah, matahari sedang tepat di atas kepala membuat suhu udara terasa menyengat.

Mobil-mobil pun masuk ke area parkir dalam gedung yang sejuk dan teduh. Begitu kendaraan berhenti sempurna, mereka semua segera turun.

Pak Didik langsung bertugas memarkirkan kendaraan dengan rapi, sementara Sulthan, Juniarta, dan Putri berjalan beriringan menuju lift utama.

Saat melewati lantai dasar dan area resepsionis, para karyawan, staf administrasi, dan satpam yang melihat kedatangan mereka langsung berhenti beraktivitas sejenak.

"Selamat siang, Tuan Sulthan..."

"Selamat siang, Mas Jun, Mbak Putri..."

Satu per satu dari mereka membungkuk hormat dengan wajah sopan dan penuh rasa takjub melihat ketiga orang penting itu berjalan dengan gagah melewati mereka. Sulthan hanya menganggukkan kepala sedikit sebagai balasan, wajahnya tetap tenang dan berwibawa.

Ting!

Pintu lift terbuka dan mereka masuk. Tak lama kemudian, pintu terbuka kembali di lantai paling atas, area eksekutif yang tenang dan privat.

Sesampainya di ruangan kerja yang luas dan ber-AC dingin itu, rasa lelah mulai terasa.

"Oke, kalian bisa istirahat sebentar. Kita lanjut kerja nanti jam dua," ucap Sulthan sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja besarnya. Dia melepas dasinya yang terasa sedikit mengikat leher, wajahnya terlihat sedikit berkeringat dan tidak nyaman.

"Siap Bos," jawab Juniarta dan Putri serentak.

Juniarta pun segera mengambil telepon internal dan menekan nomor kantin.

"Halo, ini dari ruangan Bos. Tolong antarkan kesini tiga gelas minuman jeruk peras segar, yang dingin ya. Segera," perintah Juniarta singkat melalui telepon.

Setelah menutup telepon, mereka duduk santai di sofa tamu kecil sambil menunggu pesanan datang.

Namun, rasa gerah dan panas yang menempel di badan akibat perjalanan dan aktivitas di lokasi proyek tadi ternyata cukup mengganggu Sulthan. Keringat terasa mengering dan membuat kulitnya gatal serta tidak nyaman, apalagi dia memakai setelan jas tebal seharian.

Tanpa banyak bicara, Sulthan pun berdiri dan berjalan menuju pintu di sudut ruangan yang menghubungkan ke ruang privat atau kamar tidur santai miliknya yang tertutup rapat dan sangat aman.

"Sebentar ya, saya ke dalam dulu," ucapnya singkat.

"Silakan, Bos," sahut Juniarta.

Ketika pintu ruang privat tertutup rapat, Sulthan tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat dan terbiasa, dia langsung melepaskan kancing kemeja satu per satu, menurunkan celana bahan, hingga sepatu dan kaus kaki pun dilepaskan.

Dalam hitungan detik, tubuh kekar dan putih bersih itu telanjang sempurna.

"Aahh... baru ini rasanya lega," gumamnya.

Udara dingin dari AC langsung menyapu seluruh permukaan kulitnya, menghilangkan rasa gerah dan lengket seketika. Rasanya sangat bebas, nyaman, dan alami. Baginya, melepas semua pakaian saat sendirian di ruangan tertutup adalah cara terbaik untuk me-refresh pikiran dan tubuh agar kembali segar.

Sulthan berjalan santai menuju sofa empuk di dalam ruangan itu, lalu duduk dengan santai dan rileks, menikmati kebebasannya sembari menunggu minuman segar yang dipesan Juniarta tiba.

Belum lama Sulthan duduk menikmati kesegaran udara di tubuhnya yang telanjang, terdengar suara ketukan pintu.

Tok.. tok.. tok..

"Masuk," sahut Sulthan santai tanpa rasa canggung sedikitpun.

Pintu terbuka, dan Juniarta masuk dengan tangan membawa nampan berisi tiga gelas besar berisi minuman jeruk peras segar yang masih mengeluarkan uap dingin. Es batu masih beradu di dalam gelas itu, terlihat sangat menyegarkan.

Namun, saat masuk, Juniarta sama sekali tidak kaget atau memalingkan wajah. Dia tidak menutup mata atau merasa malu. Justru dia berjalan biasa saja mendekat.

Bagi Juniarta, ini sudah hal yang biasa. Ruangan ini adalah wilayah paling privat milik Bosnya, dan mereka berdua sudah sangat dekat layaknya saudara. Dia tahu betul kebiasaan Sulthan yang suka bebas tanpa pakaian saat merasa gerah atau ingin rileks total.

"Minumannya sudah datang, Bos," kata Juniarta datar sambil meletakkan nampan itu di atas meja kecil di hadapan Sulthan.

"Taruh situ saja, Jun," jawab Sulthan santai sambil mengambil salah satu gelas.

Saat itulah, Juniarta menghela napas panjang. Wajahnya terlihat berkeringat dan memerah karena panas.

"Huahh... gerah banget ya hari ini, Bos. Badan rasanya lengket semua abis keliling proyek tadi," keluh Juniarta sambil mengibaskan tangannya di depan wajah. Dia menatap tubuh Sulthan yang bebas dan sejuk itu, lalu terlihat berpikir sejenak.

Dengan keberanian dan kedekatan yang sudah terjalin bertahun-tahun, Juniarta pun memberanikan diri.

"Begini Bos... kalau tidak keberatan, boleh saya ikut buka baju juga di sini? Duh, rasanya pengen ngerasain leganya juga, gerah banget ini," tanya Juniarta sambil tersenyum kecut.

Sulthan yang sedang meneguk air jeruk pun tersenyum tipis mendengarnya.

"Boleh saja, Jun. Ini kan ruangan kita sendiri, aman terkendali. Anggap saja seperti di kamar mandi. Silakan, lepas saja semua biar lega," jawab Sulthan merestui dengan santai.

"Terima kasih, Bos!" seru Juniarta lega.

Tanpa perlu disuruh dua kali, Juniarta pun mulai bergerak cepat. Dia melepas jasnya, melepas kemeja, lalu menurunkan celana bahan dan kaus kakinya. Dalam sekejap, dia juga ikut berdiri telanjang 100% sempurna di hadapan Bosnya.

Dua tubuh kekar dan maskulin itu kini sama-sama bebas tanpa sehelai benang pun menutupi.

"Aahh... enaknya! Baru ini rasanya hidup," gumam Juniarta sambil meregangkan tubuhnya ke atas dan membiarkan udara AC menyapu seluruh kulitnya. Rasa gerah dan panas yang tadi mengganggu perlahan hilang terbawa angin dingin.

Mereka berdua pun duduk bersanding di sofa empuk itu, santai dan lepas.

"Nah, ini baru namanya istirahat beneran, Jun," kata Sulthan sambil menyeruput minuman jeruk perasnya. Rasa asam manis yang segar langsung membasahi tenggorokan dan menyegarkan pikiran.

"Iya nih Bos, beda rasanya. Bebas gini enak banget," jawab Juniarta sambil ikut meneguk minumannya.

Mereka pun asyik mengobrol santai, melepas penat. Obrolan mereka ringan, mulai dari membahas kondisi proyek di Mojokerto tadi pagi, bercanda soal tingkah Pak Bambang yang terlihat gugup, sampai membahas rencana kerja minggu depan.

Suasana sangat akrab, nyaman, dan penuh kehangatan persahabatan antara Bos dan Asisten yang sudah saling percaya sepenuhnya.

•••

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!