Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Fondasi yang retak
Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang terik menembus jendela kaca besar Unit 402, menyinari partikel debu yang menari-nari di atas meja marmer. Namun, bagi Saga, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi.
Ia duduk di meja makan, kemeja kerjanya dikancingkan hingga ke lubang paling atas—sebuah upaya bawah sadar untuk memulihkan martabatnya yang runtuh semalam.
Di depannya, secangkir kopi hitam pekat mengepulkan uap. Ia menatap kopi itu seolah-olah sedang mencari jawaban atas pertanyaan eksistensial: Bagaimana ia bisa kehilangan kendali hanya karena satu gelas jamu?
Nala keluar dari dapur dengan langkah yang sengaja dibuat seringan mungkin, membawa piring berisi roti panggang yang sedikit gosong di bagian pinggir.
"Pagi, Mas Arsitek," sapa Nala. Suaranya terdengar terlalu ceria, tipe keceriaan yang biasanya membuat Saga ingin memutar bola mata, tapi pagi ini justru membuat jantungnya berdesir aneh.
Saga hanya berdehem pelan tanpa mengangkat wajah. "Pagi."
"Gimana tidurnya? Nyenyak? Atau... masih berasa 'semangat' kayak kata Tante Sofia?" Nala meletakkan piring itu tepat di depan Saga, sengaja mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat reaksi pria itu.
Saga meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi klunting yang tegas. Ia mendongak, menatap Nala dengan tatapan "mode profesional" andalannya. "Nala, mengenai kejadian semalam... itu adalah anomali biologis. Saya harap kamu cukup dewasa untuk tidak menjadikannya bahan lelucon atau, lebih buruk lagi, menganggapnya sebagai sesuatu yang sentimental."
Nala menarik kursi dan duduk di hadapan Saga. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, tersenyum lebar. "Anomali biologis ya? Istilah arsitek emang beda. Tapi Mas, anomali itu hampir saja membuat Mas narik aku lebih dekat kalau saja Mama nggak telepon."
Telinga Saga memerah—sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri yang tidak bisa ia kontrol. "Itu karena suhu tubuh saya mencapai titik kritis. Saya butuh sesuatu yang dingin, dan kebetulan kamu ada di sana."
"Oh, jadi aku cuma dianggap kompres es batu berjalan?" Nala berpura-pura terluka, meletakkan tangan di dada. "Sakit banget lho, Mas. Padahal aku udah bela-belain bawain ember."
Saga menghela napas panjang. Ia tahu berdebat dengan Nala saat gadis itu sedang di atas angin adalah kesia-siaan. Ia memilih untuk mengganti topik. "Hari ini saya ada pertemuan dengan klien untuk proyek museum di Kota Tua. Kamu ada jadwal wawancara?"
Nala mengangguk, mulutnya penuh dengan roti panggang. "He-eh. Di galeri seni daerah Menteng. Kenapa? Mas mau antar?"
"Tidak. Saya hanya ingin memastikan kamu tidak membuat kekacauan di luar sana yang bisa merusak reputasi saya sebagai 'suami' kamu," jawab Saga ketus, meski sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan fokus dari bayangan Nala di atas sprei merah semalam.
Sore harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Saga baru saja menyelesaikan rapat yang melelahkan saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Eyang Utari.
“Saga, Eyang dengar dari Mama kamu, jamunya manjur ya? Eyang kirim satu dus lagi lewat kurir, sudah sampai di apartemen. Jangan lupa diminum rutin biar Nala cepat isi.”
Saga hampir saja menjatuhkan ponselnya ke genangan air di parkiran. Satu dus? Itu cukup untuk membuat satu batalyon tentara kehilangan akal sehat. Dengan tergesa-gesa, ia memacu mobilnya pulang, berniat membuang dus itu sebelum Nala menemukannya.
Namun, saat ia membuka pintu Unit 402, pemandangan yang menyambutnya justru lebih buruk dari bayangannya.
Nala sedang berdiri di ruang tamu, memegang satu botol jamu yang sudah terbuka. Di sampingnya, ada seorang pria asing bertubuh tegap, mengenakan jaket kulit, yang tampak sedang tertawa bersama Nala.
"Mas Saga! Pas banget!" seru Nala.
"Ini kenalin, namanya Rio. Dia kurir langganan Eyang yang nganterin paket tadi. Terus pas dia datang, aku lagi bingung baca label botol yang baru ini, soalnya tulisannya beda lagi."
Saga berjalan mendekat dengan aura dingin yang bisa membekukan hujan di luar. Ia menatap Rio—si kurir yang tampak terlalu ramah—lalu beralih ke Nala.
"Terima kasih, Mas Rio. Tugas Anda sudah selesai, kan?"
Rio, yang merasa atmosfer mendadak mencekam, berdehem.
"Oh, iya Pak. Saya permisi dulu. Mbak Nala, kalau butuh bantuan lagi soal... eh, 'stamina' atau barang antik lainnya, hubungi nomor saya saja yang di resi."
Setelah Rio pergi, Saga langsung menyambar botol di tangan Nala. "Nala, berapa kali saya bilang jangan sembarangan bicara dengan orang asing, apalagi soal isi paket dari Eyang!"
Nala mengerutkan kening. "Lho, emang kenapa? Rio baik kok. Dia cuma jelasin kalau jamu yang ini beda, namanya 'Sari Asmara'. Katanya buat—"
"Cukup!" potong Saga. "Masuk ke kamar. Sekarang."
"Mas Saga cemburu ya?" Nala melipat tangan di dada, matanya berkilat jahil.
Saga terdiam. Ia berdiri di tengah ruang tamu yang kembali berantakan karena kardus-kardus baru.
"Saya tidak cemburu. Saya hanya... bertanggung jawab atas keselamatan dan nama baik rumah tangga ini."
"Garis selotipnya, Mas," tunjuk Nala ke arah lantai.
"Mas lagi-lagi berdiri di wilayah aku."
Saga menunduk. Benar saja, kedua sepatunya berada jauh melampaui batas selotip hitam. Ia menatap Nala, lalu menatap botol jamu di tangannya. Perlahan, Saga melangkah maju, bukannya mundur. Ia kini berdiri sangat dekat dengan Nala, membuat gadis itu harus mendongak.
"Garis ini," bisik Saga, suaranya terdengar berbahaya namun memikat. "Sepertinya sudah tidak relevan lagi sejak kamu memaksa saya meminum ramuan itu semalam."
Nala menahan napas. "Maksud Mas?"
Saga tidak menjawab. Ia hanya meletakkan botol itu di meja, lalu berbalik menuju kamarnya tanpa kata lagi. Namun, Nala bisa melihat tangan Saga sedikit gemetar saat memegang pegangan tangga.
Malam itu, mereka berdua tahu bahwa pondasi kebohongan mereka mulai retak. Bukan karena orang lain, tapi karena perasaan asing yang mulai merembes masuk melalui celah-celah yang dibuat oleh perhatian-perhatian kecil (dan sedikit bantuan jamu Eyang).