Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Amelia menghabiskan bruschetta yang dipilihkan Caelan sebagai hidangan pembuka. Hidangan roti panggang bawang putih yang diberi toping tomat dan basil itu renyah di mulut, kaya rasa, tapi tidak berlebihan sehingga Amelia bisa memakan hidangan utama dengan lahap.
Hidangan utamanya adalah Risotto alla Milanese, nasi creamy dengan bumbu kunyit, bumbunya cukup kuat dan meninggalkan rasa pekat di lidah. Namun, hidangan penutup berupa panna cotta membuat rasa yang tertinggal dari hidangan utama tersapu oleh manisnya puding krim cokelat khas Italia.
Secara keseluruhan semua makanan itu sesuai dengan lidah Amelia. Ia merasa kenyang dan puas, hampir melupakan alasan mengapa dirinya dan Caelan berakhir di restoran Italia, bukan menghabiskan makan malam di rumah orangtua Caelan.
Sambil menikmati panna cotta, Amelia akhirnya memberanikan diri bertanya, “Jadi, apa yang membuatmu begitu marah?”
Caelan memainkan cangkir berisi kopi hitam yang pria itu pilih sebagai hidangan penutup makan malam. Untuk beberapa saat Caelan tidak menjawab, tapi akhirnya pria itu bersuara, “Aku kesal pada sikap Tante Joan dan Clara padamu. Pertanyaan-pertanyaan mereka sangat menyudutkanmu.”
Amelia tersenyum tipis, berusaha agar terlihat tidak terpengaruh pada perkataan Joan dan Clara. Namun, ia tidak bisa menyembunyikannya. “Perkataan mereka memang cukup jahat, tapi tidak sampai membuat harga diriku hancur berkeping-keping. Sebab harga diriku ternyata tidak setinggi itu. Jika tidak, mana mungkin aku datang padamu meminta pertanggungjawaban terhadap Emi.”
“Kau melakukan hal yang benar untuk memperjuangkan masa depan Emi,” ujar Caelan lembut.
“Iya, aku pun tidak menyesal melakukannya,” kata Amelia. “Namun, aku tidak bisa menghentikan orang-orang dari pemikiran mereka bahwa aku memanfaatkan Emi agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik darimu dan keluargamu.” Dengan pahit Amelia mengakui bahwa dirinya bisa saja dilihat negatif oleh orang-orang di luar sana.
“Aku memikirkannya selama seminggu ini, bahwa jika aku menerima lamaranmu rasanya seperti memanfaatkan kondisi saat ini. Situasi kita yang istimewa memaksa kita dekat, lalu membuatmu terikat dan akhirnya …” Amelia tidak melanjutkan kalimatnya.
“Melamar,” Caelan melanjutkan. “Kalaupun kau memanfaatkan situasi kita yang istimewa, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sebab memilikimu di sisiku bagiku adalah sebuah anugerah. Apalagi aku tahu, kau tidak pernah memanfaatkan situasi kita. Kau orang paling jujur yang pernah kukenal, Amelia.”
Amelia belum pernah dicintai sebelumnya. Tidak oleh orang di luar keluarganya. Caelan pria pertama yang menyatakan cinta dan langsung melamar. Jadi, Amelia belum memiliki pengalaman. Namun, dari yang Amelia dengar, lihat, dan baca, tidak semua wanita bisa dicintai dengan tulus oleh pasangannya.
Kini, Amelia dihadapkan dengan seorang pria yang begitu tulus, penyayang, dan perhatian. Jika ditanya bagaimana rasanya, Amelia merasa seperti dicintai ugal-ugalan meskipun tidak punya pengalaman sebagai perbandingan. Namun, kasih sayang Caelan, Amelia rasa lebih dari kasih sayang yang sudah pernah diterimanya dari keluarga terdekat; orangtua dan Olivia.
“Jangan terpengaruh pada ucapan keluarga Weston malam ini, mereka hanya sedang marah dan tidak puas,” Caelan melanjutkan, “padahal biasanya mereka tetangga yang cukup baik.”
“Sebelum rencana perjodohan digagalkan oleh kehadiranku,” sahut Amelia.
Caelan meringis. “Ternyata kau juga menyadarinya.”
Amelia hanya mengangkat bahu.
“Ibuku,” kata Caelan lalu menghela napas. “Selain pada keluarga Weston, aku juga kesal pada orangtuaku, terutama Mama. Sudah pasti ini ide Mama untuk menjodohkanku dengan Clara.”
Amelia menunggu Caelan mengeluarkan kejengkelan hati sambil memerhatikan dengan saksama semua kata yang keluar dari mulut pria itu.
“Sebenarnya, ini bukan pertama kali Mama mencoba menjodohkanku dengan Clara. Mama menyukai Clara sejak dulu. Mama dan Tante Joan teman satu sekolah, kemudian menjadi tetangga, dan cukup dekat. Clara lebih muda dua tahun, sudah seperti adikku. Namun, Mama sepertinya berpikiran lain, dan ingin Clara menjadi bagian keluarga.”
Amelia mendengarkan sambil menahan cemburu. Namun, di sisi lain juga berusaha berpikiran logis dan mencoba memahami posisi Clara.
“Aku dan Henry tidak pernah memiliki perasaan lebih pada Clara. Mama sudah lama menyerah menjodohkan Henry dengan Clara karena Henry suka berganti pacar.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Amelia.
“Aku jarang punya hubungan asmara, dan beberapa tahun terakhir aku memang tidak memilikinya. Mungkin itu yang membuat Mama berpikir aku bisa menikah dengan Clara. Apalagi setelah Henry meninggal, Mama jadi lebih bertekad agar aku cepat menikah.”
Amelia memikirkan obrolan dengan Anna sebelumnya. Wanita itu seperti mendukung hubungan Amelia dan Caelan, tapi ternyata juga berniat menjodohkan Caelan dengan wanita lain. Mungkin tujuan Anna hanya ingin Caelan menikah tanpa benar-benar peduli siapa yang akan menjadi istri Caelan nanti.
“Malam ini mungkin rencana Mama dan Tante Joan untuk mempertemukanku dengan Clara, berharap akan ada kabar bahagia. Sayangnya, aku tidak bisa memberikannya.”
“Jadi, tidak ada kabar bahagia?” pancing Amelia.
“Aduh, bukan itu maksudku.” Caelan mencoba menjelaskan. “Maksudku, kabar gembiranya tidak seperti yang ibuku harapkan.”
“Ya, aku mengerti, ibumu mungkin tidak mengharapkanku jadi menantunya,” sahut Amelia.
“Tidak, bukan begitu maksudnya,” sanggah Caelan. “Mama sangat menyukaimu, tadi dia sudah menyatakannya dengan jelas, bukan? Jadi, jangan berpikiran macam-macam, Sayang.”
Amelia memandangi Caelan sambil tersenyum. “Coba ulangi lagi,” pintanya.
“Apa?” Caelan kebingungan.
“Panggilan itu.”
“Sayang?”
Amelia mengangguk. “Aku suka mendengarnya.”
Caelan mengembuskan napas lega. “Miss Cammeron, aku tidak tahu ternyata kau pandai menggoda.”
Amelia tersenyum angkuh. “Kau hanya tahu sedikit tentangku,” ujarnya, “dan aku juga baru tahu sedikit tentangmu. Apa kau yakin ingin melanjutkan hubungan ini?”
Caelan mengulurkan tangan, meraih jemari Amelia. Pria itu lalu mengangguk. “Aku tidak akan mundur. Bagaimana denganmu? Mamaku mungkin tidak menganggapmu sebagai menantu pilihan, apa kau yakin bisa menghadapinya?”
Amelia mengingat Anna yang pernah memberinya dukungan, lalu Anna yang mengatur perjodohan Caelan dengan Clara. Kedua sikap itu datang dari wanita yang sama. Bisa jadi ada kesalahpahaman atau memang Anna sulit dihadapi. Mungkin Amelia akan menghadapi drama menantu vs mertua seperti di beberapa kisah film atau novel. Amelia akan menghadapi apa pun itu, asalkan Caelan yakin untuk bersamanya.
“Aku akan membuat orangtuamu menerimaku.” Amelia menjawab dengan yakin.
“Terima kasih dan maaf untuk kejadian malam ini,” ucap Caelan.
Amelia menggenggam tangan Caelan. “Tidak perlu dipermasalahkan. Ke depannya pasti akan lebih baik.”
Amelia dan Caelan pulang ke rumah Keluarga Harrison sekitar pukul sepuluh malam. Caelan langsung mengantar Amelia ke kamar, tapi pria itu tidak langsung pergi. Caelan berdiri cukup lama di samping ranjang bayi dan memerhatikan Emi yang terlelap.
Amelia menghampiri Caelan. “Gadis kecil ini sangat merindukanmu.”
“Aku juga. Aku harus minta maaf karena mengabaikannya selama seminggu,” ujar Caelan.
“Hanya Emi?”
Caelan merangkul Amelia. “Tentu saja, kau juga. Besok aku akan menemani kalian seharian untuk membayar kesalahanku. Bagaimana?”
“Boleh juga,” jawab Amelia. “Apa kita akan pergi keluar?”
“Ada tempat yang ingin kau datangi?”
Amelia menggeleng. “Sebenarnya, hanya ingin keluar untuk menghindari suasana canggung jika bertemu dengan orangtuamu.”
“Aku mengerti. Besok aku akan membawa kau jalan-jalan.” Caelan memeluk Amelia.
“Hanya aku?”
“Emi juga. Kita bertiga akan bersenang-senang.”