Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Malam Midodareni Darah
Hujan di luar sana bukan lagi sekadar air, tapi seperti tumpahan tinta hitam yang menelan habis cahaya bulan.
Di dalam kamar pengantin yang luasnya tak seberapa, aroma melati menyerang indra penciuman Kinasih sampai-sampai ia mual.
Di tengah ruangan itu, duduk sebuah keranda jati tua yang ditutupi kain hijau lusuh dengan sulaman ayat-ayat yang sudah mulai lepas benangnya.
Kinasih duduk di tepi ranjang, tangannya gemetar meremas kebaya merahnya.
"Nggak usah pucat begitu, Nasih. Anggap saja ini malam pertama paling elit se-Kabupaten," celetuk sebuah suara dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah angkuh. Itu Mak Saroh, dukun pengantin yang merangkap sebagai algojo tradisi di desa ini. Di tangannya ada nampan berisi sesajen dan kopi pahit.
"Elite dari mananya, Mak? Ini keranda! Bukan laki-laki!" Kinasih berseru, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.
Mak Saroh meletakkan nampan di bawah kaki keranda, lalu menatap Kinasih tajam. "Laki-laki mah bisa mati, Nasih. Tapi 'Dia' yang ada di dalam sini? Dia abadi. Dia yang jaga sawah kita tetap hijau, dia yang jaga rahim ibu-ibu di desa ini tetap subur.
Masa kamu diajak nikah sama penjaga desa saja sewot?"
"Kalau memang hebat, kenapa harus aku?"
"Karena kamu wangi," jawab Mak Saroh pendek sambil menyalakan kemenyan.
Tiba-tiba, pintu kamar ditendang terbuka. Seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan napas terengah-engah berdiri di sana.
Namanya Bima, satu-satunya orang di desa ini yang berani terang-terangan bilang kalau tradisi ini "sampah".
"Mak! Hentikan gila-gilaan ini!" teriak Bima.
Mak Saroh tidak menoleh. "
Bima, jangan lancang.
Kamu mau kualat?"
"Kualat? Yang bikin kualat itu kalau kita biarin gadis waras dikunci sama mayat berabad-abad!" Bima mendekat ke arah Kinasih, mencoba menarik tangannya.
"Nasih, ayo pergi. Aku sudah siapkan motor di balik hutan."
Kinasih menatap Bima dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak bisa, Bim. Kamu lihat di luar jendela?"
Bima menoleh ke jendela.
Di sana, di bawah guyuran hujan, belasan warga desa berdiri diam. Mereka tidak membawa payung.
Mereka hanya berdiri mematung memutari kamar itu, memegang obor yang apinya tidak padam meski diterjang hujan lebat.
"Mereka nggak akan biarin aku lewat, Bim," bisik Kinasih.
"Aku punya parang, Nasih! Kita terobos!" Bima keras kepala.
"Dan kamu pikir kamu bisa lawan apa yang ada di dalam sini?" Suara Mak Saroh mendadak berubah menjadi berat dan serak.
Duk.
Suatu bunyi berasal dari dalam keranda. Bukan ketukan jari, tapi seperti sesuatu yang berat menghantam kayu.
Duk.
Duk.
Bima membeku.
Parang di pinggangnya mendadak terasa sangat berat.
"Itu... apa?" tanya Bima pelan.
"Itu pengantin pria," jawab Mak Saroh sambil tersenyum lebar hingga giginya yang hitam terlihat.
"Dia sudah lapar. Dia sudah mencium bau keringat Kinasih."
"Mak, tolong..." Kinasih mulai mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.
"Sstt... dengerin, Nasih," Mak Saroh mendekati Kinasih, membelai pipinya yang halus.
"Tugasmu gampang.
Nanti, jam dua belas pas, kamu harus buka kain hijaunya.
Terus, kamu masuk ke dalam. Tidur di sampingnya sampai fajar."
"Masuk ke dalam?!" Bima berteriak ngeri.
"Maksudmu dia harus tidur sama mayat di dalam kotak sempit itu?"
"Bukan mayat, Bima sayang.
Dia cuma... belum bangun sempurna."
KRAAAKK.
Tutup keranda jati itu bergeser beberapa sentimeter.
Bau bangkai bercampur melati menyeruak, membuat Bima jatuh terduduk karena rasa pening yang luar biasa.
"Nasih... lari..." Bima berusaha bangkap, tapi kakinya lemas seperti jeli.
Kinasih melihat ke arah keranda.
Sebuah tangan—kalau bisa disebut tangan—mulai muncul dari sela-sela tutup yang terbuka.
Kulitnya hitam legam, kering seperti kerupuk, tapi kuku-kukunya panjang dan
tajam seperti silet karat.
"Keluar sekarang, Bima.
Sebelum Pengantin Pria menganggapmu sebagai camilan pembuka," perintah
Mak Saroh dingin.
"Nggak! Nasih!"
Mak Saroh mengayunkan tangannya ke udara.
"Bawa dia keluar!"
Dua pria bertubuh besar dengan mata kosong masuk ke kamar dan menyeret Bima keluar.
Suara teriakan Bima perlahan menjauh, tenggelam oleh suara hujan yang makin menggila.
Kini, hanya ada Kinasih, Mak Saroh, dan keranda yang mulai bergetar hebat itu.
"Nasih," Mak Saroh mendekat, berbisik tepat di telinga Kinasih.
"Jangan pernah coba-coba lihat wajahnya kalau kamu belum siap gila. Ingat, tutup matamu, peluk dia, dan jangan lepaskan sampai ayam berkokok. Kalau kamu lepas..."
"Kalau aku lepas?" tanya
Kinasih gemetar.
"Maka desa ini nggak akan punya matahari besok pagi.
Dan kamu? Kamu akan jadi kayu jati berikutnya untuk keranda ini."
Mak Saroh berjalan keluar, lalu mengunci pintu dari luar dengan gembok besi yang berat.
KLIK.
Kinasih sendirian. Kamar itu terasa semakin menyempit.
Lampu minyak di sudut ruangan mulai berkedip-kedip, seolah-olah oksigen di sana sedang dihisap oleh sesuatu yang sangat besar.
Duk. Duk. Duk.
"Si... siapa di sana?" suara Kinasih nyaris tak terdengar.
Sreeeeeet.
Tutup keranda itu bergeser lebih lebar lagi. Sebuah suara bisikan—bukan suara manusia, tapi seperti suara gesekan kertas pasir—terdengar dari dalam kegelapan kayu jati itu.
"Ki... na... sih..."
Kinasih memejamkan mata rapat-rapat. "Ini nggak nyata.
Ini cuma mimpi buruk. Ini cuma tradisi bodoh."
"Wangi... mu... seperti... ibu... ku..."
"Pergi! Jangan dekati aku!" Kinasih berteriak sambil melempar bantal ke arah keranda.
Namun, bantal itu tidak sampai.
Bantal itu terhenti di udara, tertangkap oleh tangan hitam yang kini sudah keluar sepenuhnya dari keranda.
Sosok itu mulai merangkak keluar.
Suara tulangnya yang berderak terdengar seperti ranting pohon yang patah satu per satu.
Krak. Klik. Krak.
"Bima! Tolong aku, Bima!" Kinasih menjerit histeris sambil menggedor-gedor pintu kayu yang terkunci.
Di balik pintu, ia tidak mendengar suara Bima.
Ia justru mendengar suara warga desa yang mulai melantunkan mantra dalam bahasa jawa kuno, rendah dan monoton, seperti dengungan ribuan lebah.
“Langgeng... dadi pengantin... dadi siji... ing peteng...”
Kinasih menoleh ke belakang.
Sosok dari dalam keranda itu kini sudah berdiri tegak. Tingginya hampir menyentuh plafon kamar.
Tubuhnya dibungkus kain kafan yang sudah berubah warna menjadi cokelat lumpur.
Wajahnya tertutup kain tipis yang basah oleh cairan hitam.
Sosok itu melangkah maju.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak lendir yang berbau belerang.
"Tolong... jangan bunuh aku," rintih Kinasih, jatuh berlutut.
Sosok itu berhenti tepat di depan Kinasih.
Hawa dingin yang luar biasa memancar dari tubuhnya, membuat napas Kinasih mengeluarkan uap seolah-olah ia berada di puncak gunung es.
Tangan hitam itu terulur, menyentuh dagu Kinasih. Kuku tajamnya menggores sedikit kulit Kinasih hingga darah merembes keluar.
"Jangan... takut..." bisik sosok itu. "Aku... sudah... menunggumu... seratus... tahun..."
"Kenapa aku?"
"Karena... hanya... kamu... yang... bisa... merasakan... detak... jantungku... yang... sudah... berhenti..."
Tiba-tiba, lampu minyak padam.
Kamar itu gelap total.
Dalam kegelapan, Kinasih merasakan tubuh dingin itu memeluknya. Sangat erat.
Begitu erat hingga ia merasa tulang rusuknya akan patah.
Bau kematian itu kini menyelubunginya sepenuhnya.
"Ingat, Nasih..." suara Mak Saroh terdengar sayup-sayup dari luar.
"Jangan lepaskan pelukanmu. Apapun yang terjadi di dalam sana."
Kinasih merasakan tangan sosok itu membimbingnya menuju satu tempat.
Menuju mulut keranda yang terbuka lebar, menganga seperti rahang raksasa yang siap menelannya bulat-bulat.
"Bim... maafkan aku..." bisik Kinasih sebelum ia merasa dirinya ditarik masuk ke dalam kegelapan kayu yang sempit dan pengap.
Pintu keranda itu pun tertutup rapat.
BRAKK.
Di luar, warga desa berhenti merapal mantra. Mereka tersenyum serentak.
Malam itu, Karang Jati telah mendapatkan tumbal barunya.
Dan di dalam keranda, di antara tulang belulang yang dingin, Kinasih mulai merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian: detak jantung yang perlahan mulai berpindah ke dalam dadanya sendiri.