"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jejak Merah di Arsip Lama
"Hapus semuanya, Axelle! Jangan biarkan satu bit pun data dari rumah sakit itu jatuh ke tangan mereka, meskipun kau harus membakar seluruh server pusatnya!"
Suara Liam menggelegar di ruang tengah mansion, bergema hingga ke langit-langit marmer yang tinggi. Ia berdiri di belakang Axelle, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi putar anaknya dengan begitu kencang hingga buku jarinya memutih. Matanya yang biasanya sedingin es kini menyala-nyala oleh kepanikan yang berusaha ia sembunyikan di balik amarah.
Axelle tidak menjawab. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menciptakan simfoni ketukan yang memekakkan telinga. Wajah remaja itu kaku, cahaya biru dari layar monitor memantul di kacamatanya, memperlihatkan barisan kode yang terus bergulir.
[Kenapa mereka mencari data sepuluh tahun lalu?! Apa yang mereka cari dalam catatan medis Blair? Komplikasi persalinan? Atau... catatan perubahan perilaku pasca-trauma? Sial, jika Maximilian menemukan celah sedikit saja bahwa Blair 'berbeda', mereka akan menggunakan alasan ketidakstabilan mental untuk membatalkan hak warisnya. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh rahasia istriku!]
Aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memegang cangkir teh yang sudah mendingin. Jantungku berdegup seperti genderang perang. Sebagai mantan pegawai bank, aku tahu persis: data medis adalah "senjata pemusnah massal" dalam audit korporat. Satu catatan tentang depresi pasca-melahirkan atau amnesia sesaat bisa dipelintir menjadi alasan hukum untuk mencabut perwalian.
"Liam, tenanglah," ucapku, meski suaraku sendiri sedikit bergetar. "Berteriak tidak akan mempercepat koneksi internet Axelle."
"Aku tidak bisa tenang, Blair! Maximilian itu bukan manusia, dia adalah mesin pencari kesalahan!" Liam berbalik menatapku, matanya penuh kecemasan yang dalam. "Dia mencoba membuktikan bahwa kau bukan 'Blair yang sah' hanya karena kau tiba-tiba menjadi jenius. Dia ingin mencari celah medis untuk menjatuhkanmu!"
Aku melangkah mendekat, meletakkan cangkir tehku di meja terdekat. "Lalu biarkan dia mencari. Selama fisiknya adalah tubuh Blair, catatan medis itu tidak akan menunjukkan hal lain selain data biologis."
"Bukan itu masalahnya, Ma," potong Axelle tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Mereka tidak hanya mencari data biologis. Mereka mencari hasil pemindaian otak sepuluh tahun lalu setelah Mama pingsan di pesta ulang tahun pertama aku. Mereka ingin membandingkan pola neurologis Mama yang dulu dengan pola pikir 'bankir' Mama yang sekarang."
Aku tersentak. Pola neurologis? Itu terlalu canggih untuk teknologi medis biasa, tapi bagi Raven Trust yang memiliki akses ke laboratorium di Zurich, itu mungkin saja.
"Apa kau bisa menahannya?" tanyaku pada Axelle.
"Aku sedang melakukan Counter-Hack. Aku mengirimkan ribuan data sampah untuk membingungkan sistem mereka," sahut Axelle. "Tapi Papa... Maximilian baru saja keluar dari kamarnya. Dia menuju ke sini."
Pintu ruang tengah terbuka perlahan. Maximilian melangkah masuk dengan setelan jasnya yang sempurna, tidak ada sehelai rambut pun yang bergeser. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel satelit yang masih menyala.
"Sepertinya putra Anda sedang sibuk bermain dengan server rumah sakit di Jakarta Pusat, Tuan Liam," ucap Maximilian dengan nada datar yang mengerikan. "Sangat impresif untuk anak seusianya. Namun, meretas arsip medis adalah tindak pidana federal di bawah yurisdiksi firma kami."
Liam melangkah maju, menghalangi pandangan Maximilian terhadap Axelle. "Kau yang memulai perang ini, Maximilian. Kau melanggar privasi istriku!"
"Saya hanya melakukan audit integritas, Tuan Liam," Maximilian berjalan mendekati aku, menatapku dengan mata biru esnya yang tajam. "Nyonya Blair, ada sebuah laporan lama yang sangat menarik. Sepuluh tahun lalu, setelah pingsan itu, Anda dilaporkan mengalami 'perubahan kepribadian sementara' menurut catatan suster jaga. Namun, laporan itu tiba-tiba hilang dari arsip fisik sehari kemudian. Siapa yang menghapusnya? Liam? Atau... Anda sendiri?"
Aku tersenyum tipis, menatapnya tanpa berkedip. Kemampuan negosiasi bankirku mengambil alih. "Catatan suster jaga yang kelelahan setelah sif malam? Kau membangun kasus besarmu di atas gosip murahan, Maximilian? Aku kecewa. Kukira Raven Trust lebih profesional dari itu."
"Gosip atau bukan, fakta bahwa putra Anda mencoba menghancurkan data itu sekarang justru membuktikan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga di sana," Maximilian mengangkat ponselnya. "Tim saya di Zurich sudah mendapatkan akses bayangan. Dalam lima menit, pemindaian itu akan terunduh."
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/