Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. kematian yg memalukan.
"Aduh, Mbak! Bisa cepet dikit nggak sih? Saya ini mau rapat, telat lima menit saja bonus saya dipotong!"
Kinan menarik napas dalam, memaksakan ujung bibirnya naik hingga membentuk senyum yang terlihat tulus, padahal aslinya mekanis.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan kemeja licin terus-terusan menggebrak meja kasir Indofebruari.
"Iya, Bapak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ini sistemnya sedang loading sebentar," jawab Kinan lembut. Suaranya merdu, tapi di dalam hatinya sudah ada konser maki-maki.
Sabar, Kinan... Sabar. Inget cicilan motor. Inget beras di kosan habis. Kalau gue tabok ini orang pakai pemindai barcode, besok gue makan batu, batinnya.
"Sistem loading atau Mbaknya yang nggak becus? Dari tadi cuma pencet-pencet doang!" semprot pria itu lagi.
"Selesai, Pak. Totalnya jadi seratus dua puluh ribu lima ratus rupiah. Mau sekalian tebus murah minyak gorengnya?"
"Nggak usah! Lama!" Pria itu menyambar kantong plastiknya dan melenggang pergi tanpa pamit.
Kinan mengembuskan napas lega. "Hih, dasar si Bapak. Semoga rapatnya lancar, tapi semoga kopinya tumpah ke celana," gumamnya pelan sambil mengelap meja kasir.
Suasana toko sedang agak lengang. Kinan menyenggol lengan Aris, rekan kerjanya yang sedang menata stok cokelat di dekat kasir.
"Ris, jagain bentar ya. Gue mau cek 'jendela dunia' dulu," bisik Kinan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Jangan lama-lama, Nan. Kalau ketahuan Pak Bos, mampus lo," balas Aris.
Kinan mulai scrolling TikTok. Suara musik jedag-jedug memenuhi telinganya lewat earphone sebelah. Baru saja dia mau tertawa melihat video kucing, perhatiannya teralih pada pintu kaca toko yang berdenting.
Seorang perempuan remaja masuk. Penampilannya sangat mencolok karena sangat... berantakan. Wajahnya agak kumal, memakai sweater hitam kebesaran dan celana jeans yang sobek di bagian lutut.
Gelagatnya aneh, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu yang bukan barang belanjaan.
Kinan mematikan layar ponselnya. Insting kasirnya bergejolak.
"Ris," panggil Kinan tanpa menoleh, matanya terpaku pada cewek itu. "Tuh, ada pelanggan mencurigakan di rak kosmetik. Pantau dari dekat, pura-pura *restock* barang kek di sana. Gue pantau lewat CCTV dari sini."
"Oke, siap," Aris bergerak luwes menuju area belakang.
Kinan menatap monitor CCTV di bawah meja kasir. Benar saja, remaja itu bukannya memilih merk bedak, malah sibuk memasukkan beberapa botol parfum mahal dan beberapa kotak suplemen ke dalam kantong dalam sweater-nya.
"Gila, banyak banget yang diambil!" bisik Kinan geram. "Eh, eh! Dia mau keluar!"
Remaja itu mempercepat langkahnya melewati jalur kasir tanpa menoleh.
"Dek! Maaf, barang di balik *sweater*-nya belum dibayar!" teriak Kinan.
Bukannya berhenti, cewek itu malah langsung lari kencang keluar toko.
"WOI! MALING! ARIS, KEJAR!" teriak Kinan.
Tanpa pikir panjang, Kinan menumpukan kedua tangannya di meja kasir. Dengan gerakan atletis yang lahir dari saking seringnya dikejar deadline dan penagih utang, dia melompat melewati meja kasir.
Brak!
"Heh! Berhenti nggak lo! Gue yang ganti kalau itu barang hilang, curut!" teriak Kinan sambil berlari keluar toko.
Aksi kejar-kejaran terjadi di trotoar. Cewek itu ternyata lari sangat cepat. Kinan tidak peduli, napasnya memburu, keringat bercucuran.
Bayangan gajinya dipotong untuk mengganti parfum jutaan rupiah membuatnya punya tenaga tambahan seperti Naruto.
"Woi! Berhenti! Jangan lari ke sana, bego!"
Tanpa sadar, pengejaran itu membawa mereka ke pinggir area yang terbuka lebar. Pagar pembatas entah kenapa terbuka. Cewek pencuri itu nekat memanjat dan melompat masuk ke... jalur jalan tol.
"Eh, gila! Lu mau mati?!" Kinan ikut melompat. Adrenalin sudah menutup akal sehatnya.
Kinan lari di tengah aspal hitam yang panas. Dia hanya fokus pada punggung hitam di depannya. "Sini lo! Balikin parfumnya!"
TIIIIIIIIIN!
Suara klakson panjang memekakkan telinga. Kinan menoleh ke samping kiri. Cahaya silau dari lampu depan mobil BMW perak menghantam matanya. Mobil itu melaju sangat kencang, dan jaraknya sudah terlalu dekat untuk mengerem.
DUAK!
Tubuh Kinan terasa seringan kapas. Dia terlempar tinggi ke udara sebelum akhirnya mendarat dengan dentum keras di aspal.
Rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh sarafnya, lalu tiba-tiba rasa itu hilang, digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar.
Kinan tergeletak dengan posisi tidak wajar. Darah mulai mengalir membasahi aspal. Di sisa-sisa kesadarannya yang meredup, dia melihat si cewek pencuri tadi berhenti berlari.
Cewek itu berbalik, menatap Kinan dengan wajah bingung, lalu dengan santainya memasukkan tangannya ke dalam celana... seolah sedang membetulkan sesuatu.
Oalah... batin Kinan lemah. Pencuri yang viral itu... yang suka masukin tangan ke celana kalau habis beraksi... Ternyata beneran ada.
Pandangan Kinan mengabur. Gue mati... demi parfum yang belum tentu ori? Tragis amat hidup gue...
Kegelapan total menjemputnya.
_____________
"Sst! Pelan-pelan sedikit suaranya."
Suara itu terdengar jauh, tapi perlahan mendekat. Kinan merasa kepalanya sangat berat, seolah baru saja dihantam truk tronton, bukan lagi BMW.
"Tapi Dayang Lin, tabib bilang kalau Permaisuri tidak bangun hari ini, kita harus-"
"Diam! Jangan berisik, Permaisuri sedang tidur. Kalau sampai Yang Mulia terbangun karena ocehanmu, kepalamu taruhannya!"
Kinan mengerutkan kening. Dayang? Permaisuri? Apa ini? Aris lagi nonton drakor di sebelah mayat gue?
Dengan susah payah, Kinan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat bukanlah langit-langit toko Indofebruari yang putih dan berjamur, melainkan kelambu sutra berwarna merah marun dengan sulaman benang emas yang sangat rumit.
Dia mencium aroma wangi yang sangat mewah—bukan bau parfum maling tadi, tapi bau dupa cendana yang menenangkan. Kinan mencoba duduk, tapi tubuhnya terasa sangat kaku.
"Eung..." lenguh Kinan.
"Permaisuri! Anda sudah bangun?"
Seorang wanita dengan pakaian kuno seperti di film-film kolosal yang sering lewat di TikTok-nya mendekat dengan wajah pucat campur lega.
Kinan melongo. Dia melihat tangannya sendiri. Putih, mulus, lentik, dan... sangat terawat.
Jauh berbeda dengan tangannya yang biasanya kasar karena sering angkat galon dan menyapu lantai toko.
"Permaisuri? Siapa? Gue?" tanya Kinan dengan suara serak.
Wanita itu bersujud di lantai. "Ampun, Yang Mulia. Apakah kepala Anda masih sakit? Segera panggilkan tabib!"
Kinan melihat sekeliling kamar yang luasnya mungkin seukuran tiga toko Indofebruari digabung jadi satu. Furnitur kayu jati, emas di mana-mana, dan kasur yang empuknya seperti awan.
Bentar... Permaisuri?
Kinan mencoba mengingat blurb novel "transmigrasi" yang sering dia baca kalau lagi gabut di kasir.
Gue... beneran masuk ke tubuh permaisuri?
Kinan meraba dadanya, lalu meraba tempat tidurnya yang berlapis sutra. Senyum perlahan mengembang di wajahnya, makin lama makin lebar.
Gue kaya! Gue nggak perlu jadi kasir lagi! Nggak perlu dengerin omelan bapak-bapak kurang sajen! Selamat tinggal minyak goreng tebus murah, selamat datang hidup mewah!
"Yang Mulia? Mengapa Anda tersenyum seperti itu?" tanya si Dayang ketakutan.
Kinan menoleh, matanya berbinar. "Nggak apa-apa. Saya cuma lagi seneng... tidur saya nyenyak banget. Oh iya, sekarang... jam berapa?"
"Matahari hampir tenggelam, Yang Mulia."
"Bagus. Siapkan makanan paling enak dan paling mahal yang ada di dapur kerajaan ini. Jangan pakai lama!" perintah Kinan dengan nada yang dibuat-buat anggun, padahal hatinya sedang salto kegirangan.
Mari kita mulai hidup sebagai permaisuri kaya raya!