NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benci Tapi Suka

Zahra punya masalah baru. Bukan masalah besar, maupun Pak Irwan, Kiara atau rahasia keluarga yang belum sepenuhnya terkuak. Masalah yang jauh lebih sederhana dan justru karena itu jauh lebih merepotkan.

Terbiasa dengan suara pintu depan jam tujuh malam yang artinya Rafandra pulang. Sarapan yang selalu ada meski Mbak Reni tak masak dan yang paling merepotkan Rafandra itu sendiri.

"Ini masalah besar."

.

.

.

Sinta menangkap perubahan itu dalam tiga menit pertama telepon.

"Lo nyebut namanya lagi."

"Gue lagi cerita, Sin. Wajar kalau nyebut nama orang yang gue ceritain."

"Lo nyebut namanya dengan nada yang beda, Zah."

"Nada apa."

"Kayak orang yang lagi bucin habis. lo tau lah nadanya kayak apa, Zah."

Zahra berdiri di depan jendela kamar, menatap taman belakang yang sudah mulai gelap.

"Gue nggak jatuh cinta sama dia," kata Zahra. Tegas.

"Gue nggak bilang gitu."

"Lo mau bilang gitu."

"Gue mau bilang," Sinta memilih kata-katanya, "bahwa lo mulai peduli dan itu beda dari jatuh cinta. Tapi sama berbahayanya kalau lo nggak hati-hati. Itu baru, lo bakal beneran—."

"Udah, udah... Sin. Iya gue Tau." Potongnya.

Zahra diam. "Peduli". Kata yang lebih kecil dari cinta tapi entah kenapa terasa lebih sulit diakui.

"Gue nggak bisa nggak peduli, Sin," kata Zahra akhirnya. "Dia suami gue. Gue tinggal serumah sama dia. Wajar kalau—"

"Zahra." Sinta memotong pelan. "Sejak kapan lo rationalize perasaan lo pake kata 'wajar'?"

Zahra menutup mata. "Sejak gue takut ngakuin yang sebenernya.

"Gue nggak tau harus ngerasa apa," kata Zahra jujur. "Itu masalahnya. Gue nggak bisa benci dia karena dia nggak jahat. Gue nggak bisa percaya dia sepenuhnya karena masih banyak yang dia sembunyiin. Gue nggak bisa jatuh cinta karena—"

"Karena lo takut."

Hening.

"Iya," kata Zahra pelan. "Karena gue takut."

.

.

.

Malam itu di meja makan, Zahra mengamati Rafandra diam-diam. Caranya memegang sendok rapi, terkontrol, bahkan waktu makan pun tidak ada gerakan yang terbuang sia-sia. Caranya membaca pesan di HP dengan ekspresi yang tidak berubah meski isinya jelas serius. Caranya sesekali mendongak dan waktu menangkap Zahra menatap tidak berkomentar, hanya mengangguk kecil sebelum kembali ke makanannya.

Tidak kikuk. maupun canggung. Seolah wajar saja kalau Zahra menatapnya.

"Rafandra tau gue perhatiin dia dan dia fine-fine aja." Pikirannya terheran-heran melihat Rafandra tak bereaksi.

"Ada yang salah dengan makanannya?" tanya Rafandra tanpa mendongak.

"Nggak." Zahra buru-buru menatap piringnya. "Ga ada masalah, makannya enak kok."

"Lalu kenapa kamu tidak makan."

"Gue lagi mikir."

"Soal?"

Zahra mempertimbangkan berbohong. Lalu memilih setengah jujur: "Skripsi."

Rafandra meletakkan sendoknya. "Bab berapa sekarang?"

"Empat. Tapi analisanya masih berantakan."

"Analisis apa?"

Zahra menoleh sedikit terkejut dia bertanya lebih jauh. "Analisis dampak kebijakan fiskal terhadap UMKM di Jakarta Selatan."

Rafandra diam sebentar, mikir.

"Datamu dari mana?"

"BPS sama beberapa jurnal. Kenapa?"

"Ada laporan internal dari divisi riset kami yang mungkin relevan." Rafandra kembali makan. "Aku bisa minta dikirimkan kalau kamu mau."

Zahra menatapnya. "Dia nawarin bantu skripsi gue?"

Bukan dengan cara yang besar atau dramatis. Hanya menawarkan. Santai. Seperti itu hal yang biasa.

"Boleh?" tanya Zahra.

"Kalau tidak boleh aku tidak akan menawarkan."

Zahra menahan senyum. "Makasih, Om."

Rafandra mengangguk. Melanjutkan makan dan Zahra kembali ke makanannya dengan perasaan yang tidak dia minta tapi datang juga hangat, kecil, dan sangat bahagia.

.

.

.

Laporan itu dikirimkan keesokan paginya. Bukan oleh Mbak Reni atau supir atau siapapun tapi langsung masuk ke email Zahra, dikirim dari alamat email Rafandra sendiri, dengan subjek yang singkat: Semoga berguna.

Zahra membuka emailnya jam delapan pagi dan membaca subjek itu tiga kali. 'Semoga berguna.' Dua kata yang dari Rafandra terasa seperti paragraf panjang dari orang lain.

Ia membuka lampirannya, laporan setebal empat puluh halaman, data yang jauh lebih kaya dari yang bisa Zahra kumpulkan sendiri dari BPS dan jurnal-jurnal yang dia pakai.

Zahra langsung tahu dua hal:

ini akan sangat membantu skripsinya.

Rafandra pasti minta laporan ini disiapkan kemarin malam, setelah makan malam, setelah percakapan itu. Artinya dia langsung mengerjakan begitu sampai di studio.

Langsung. Zahra menutup laptopnya sebentar. Menarik napas.

.

.

.

Sorenya Zahra ke studio untuk pertama kali atas inisiatif sendiri, bukan karena tidak bisa tidur atau tidak ada tujuan jelas. Rafandra ada di dalam, seperti biasa. Menoleh waktu Zahra masuk.

"Laporannya sangat membantu." Zahra berdiri di ambang pintu. "Serius. Gue nggak nyangka datanya selengkap itu."

Rafandra mengangguk pelan. "Bagus."

"Gue mau tanya ada nggak yang spesifik soal UMKM sektor kuliner? Itu fokus penelitian gue."

Rafandra memiringkan kepalanya sedikit gesture yang Zahra mulai kenal artinya dia sedang memproses. "Ada beberapa. Aku cek dulu mana yang relevan."

"Nggak buru-buru kok—"

"Duduk." Dia menunjuk sofa di sudut. "Aku cari sekarang. Lima menit."

Zahra duduk dan selama lima menit berikutnya ia duduk di sofa sudut itu tempat yang sama dengan malam pertama dia tidak bisa tidur, sementara Rafandra mencari file di laptopnya dengan efisiensi yang tidak mengejutkan tapi tetap membuat Zahra kagum.

"Omm rafa mengingat detail yang gue bilang waktu makan malam. Sektor kuliner. Dia ingat gue nyebut itu"

"Ini." Rafandra memutar laptopnya ke arah Zahra tiga file sudah terbuka. "Yang paling relevan yang kedua. Tapi yang pertama punya konteks historis yang mungkin berguna untuk bab dua."

Zahra maju ke depan meja, membaca sekilas. Mereka berakhir bicara hampir satu jam Rafandra yang menjelaskan beberapa konteks data, Zahra yang mengajukan pertanyaan, keduanya yang sesekali tidak setuju soal interpretasi angka tertentu dan waktu tidak setuju itu, waktu Zahra bilang "tapi ini bisa dibaca dua arah, om" dan Rafandra mengerutkan dahi dan bilang "jelaskan" Zahra merasa seperti dirinya sendiri. Bukan istri yang masih mencari tempat. Bukan orang yang terjebak di situasi yang tidak dia pilih.

Hanya Zahra yang sedang berdebat soal data dengan seseorang yang sama-sama serius.

"Kamu benar," kata Rafandra akhirnya, soal satu poin yang mereka perdebatkan. Datar tapi diucapkan.

Zahra menatapnya. "Om akuin gue bener?"

"Kalau kamu benar, aku akan bilang." Tatapannya langsung. "Aku tidak punya kepentingan untuk mempertahankan argumen yang salah."

Zahra mengangguk pelan. Mereka kembali ke layar.

Tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang yang begeser bukan gempa, bukan longsor. Lebih seperti puzzle yang satu keping kecilnya tiba-tiba jatuh ke tempat yang pas.

"Gue suka ngobrol sama dia." Batinnya kegirangan dan itu yang bikin Zahra takut, bukan karena perasaan itu salah. Tapi karena perasaan itu sangat mudah untuk terus tumbuh. Zahra belum tahu apakah ada ruang untuk itu di sini.

Belum tahu apakah Rafandra dengan semua dindingnya yang tinggi dan rahasianya yang belum selesai terbuka, punya ruang yang sama.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!