NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8 : SANDIWARA DI MEJA MAKAN DAN JEBAK MANIS MERTUA

Sinar matahari pagi Jakarta yang mulai memanas menyusup dengan lancang melalui celah gorden sutra heavy blackout di kamar utama mansion Arkatama. Cahaya keemasan itu menari-nari di atas karpet bulu domba yang masih menyisakan jejak kelopak mawar merah yang kini sudah layu, berubah warna menjadi kecokelatan, dan hancur terinjak-injak akibat drama semalam. Aroma melati yang tadinya sangat kuat kini mulai bercampur dengan bau maskulin dari parfum Devan dan aroma sampo stroberi milik Anya yang masih tertinggal di bantal.

Anya Clarissa perlahan-lahan membuka matanya. Indra perabanya lebih dulu bangun daripada kesadarannya. Ia merasakan sesuatu yang sangat hangat dan kokoh di bawah pipinya—sesuatu yang berdetak dengan irama yang tenang dan dalam. Ia juga merasakan sebuah lengan besar dan berat melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya seolah ia adalah guling yang paling berharga di dunia.

Anya mengedipkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya yang masih kabur. Detik berikutnya, jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa "sesuatu yang hangat" itu adalah dada bidang Devan Arkatama. Wajahnya terkubur di sana, mencium aroma kulit pria itu yang bersih dan maskulin. Ingatan tentang badai petir semalam menghujam kepalanya seperti godam. Ia ingat bagaimana ia memohon perlindungan, dan bagaimana musuh bebuyutannya itu memeluknya hingga ia terlelap.

Anya baru saja akan menarik diri dengan panik ketika sebuah ketukan keras—hampir seperti gedoran—terdengar dari pintu kayu jati kamar mereka.

"Devan! Anya! Bangun, Sayang! Matahari sudah tinggi!" suara melengking Mama Arkatama yang penuh energi terdengar dari balik pintu. "Mama dan Papa datang membawa sarapan spesial untuk pengantin baru! Ayo, jangan malas-malasan di dalam!"

Anya membeku. Matanya melebar menatap pintu. Ia melirik Devan yang rupanya sudah terbangun karena suara itu, namun pria itu justru semakin merapatkan pelukannya, matanya masih terpejam dengan kerutan di dahi.

"Devan... bangun! Mama kamu ada di luar!" bisik Anya dengan nada mendesak sambil mencoba mendorong bahu Devan.

"Diamlah, ini masih jam tujuh pagi," gumam Devan dengan suara serak yang terdengar sangat rendah dan berbahaya bagi kesehatan jantung Anya.

Ceklek!

Bunyi kunci yang diputar membuat Anya hampir copot jantung. Ia lupa bahwa mertuanya adalah tipe orang tua yang merasa rumah anaknya adalah rumahnya juga. Pintu terbuka lebar, menyingkap sosok Mama Arkatama yang tampak sangat modis dengan setelan linen putih, diikuti oleh Papa Arkatama yang membawa nampan kayu besar berisi berbagai macam makanan yang aromanya langsung memenuhi ruangan.

Dalam hitungan detik, insting bertahan hidup Anya bekerja. Ia mencoba berguling menjauh, namun kakinya justru terjerat selimut tebal. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjungkal ke lantai jika Devan tidak dengan refleks secepat kilat menarik lengannya. Akibatnya, Anya justru jatuh tepat di atas tubuh Devan, dengan tangan yang bertumpu pada otot perut pria itu yang keras.

"Oh! Ya ampun! Sepertinya kita benar-benar mengganggu momen penting, Pa!" Mama Arkatama berteriak kegirangan, menutup mulutnya dengan tangan, namun matanya tetap melotot lebar melihat posisi "panas" anak dan menantunya.

Anya merasa wajahnya seperti terbakar. Rambutnya berantakan, piyama satinnya tersingkap hingga pangkal paha, dan ia sedang menindih suaminya yang bertelanjang dada di atas ranjang yang penuh kelopak mawar. Ini adalah pemandangan paling memalukan sekaligus paling meyakinkan untuk sebuah pernikahan kontrak.

"Ma... Pa... kenapa tidak mengetuk dulu?" Devan bersuara, suaranya kini lebih jernih meski ia tetap tidak melepaskan tangannya dari pinggang Anya. Ia justru sengaja menarik Anya lebih dekat, membuat dada mereka bersentuhan, hanya untuk membuat sandiwara ini terlihat lebih nyata di depan orang tuanya.

"Kami sudah mengetuk, Sayang! Kalian saja yang terlalu... sibuk," goda Mama Arkatama sambil meletakkan tasnya di sofa. "Ayo, Anya Cantik, jangan malu begitu. Mama sangat senang melihat kalian serasi. Devan, lepaskan istrimu, biarkan dia bersiap. Kita akan sarapan bersama di bawah."

Papa Arkatama berdeham, mencoba menahan senyumnya. "Segeralah turun. Papa ingin bicara soal hadiah pernikahan kalian."

Setelah orang tua mereka keluar dan menutup pintu, Anya segera melompat turun dari ranjang seolah kasur itu baru saja berubah menjadi bara api. Ia berdiri dengan napas terengah-engah, membenahi piyamanya dengan tangan gemetar.

"Kamu! Kenapa tadi tidak melepaskanku?!" tuntut Anya, menunjuk Devan dengan jarinya yang masih bergetar.

Devan bangkit dari ranjang dengan gerakan malas yang terlihat sangat seksi, mengusap rambutnya yang berantakan. "Kalau aku melepaskanmu, kamu akan jatuh ke lantai dan kepalamu akan bocor. Dan lagi, bukankah itu yang kita inginkan? Membuat mereka percaya? Kamu lihat wajah Mama? Dia terlihat seperti baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah."

Anya menggeram kesal. Ia menyambar handuknya dan berlari ke kamar mandi tanpa membalas ucapan Devan. Di bawah guyuran air dingin, ia mencoba menghapus rasa hangat tangan Devan yang masih tertinggal di kulitnya. Ini hanya peran, Anya. Ingat rumah Mama. Ingat dua belas miliar, ia merapal kalimat itu seperti mantra.

Tiga puluh menit kemudian, mereka berdua turun ke ruang makan yang luasnya hampir sama dengan luas kantor studio Anya. Meja makan kayu oak panjang itu sudah penuh dengan makanan: bubur ayam Cianjur, roti panggang dengan selai truffle, jus jeruk segar, dan kopi aroma Arabika yang sangat kuat.

Anya duduk di samping Devan. Papa dan Mama Arkatama sudah menunggu dengan wajah berseri-seri.

"Nah, ini dia pasangan kita," ujar Papa Arkatama sambil melipat koran ekonominya. "Bagaimana malam pertama kalian di rumah ini? Nyenyak?"

"Sangat nyenyak, Pa. Kamarnya sangat... nyaman," jawab Devan datar sambil mulai mengambil roti.

"Anya, kenapa diam saja? Makanlah, Sayang. Kamu butuh tenaga ekstra," ucap Mama Arkatama dengan kerlingan mata yang sangat jelas maksudnya.

Anya tersenyum kaku. Ia mengambil sesendok bubur, namun tangannya masih sedikit kaku. Tiba-tiba, Mama Arkatama menyenggol lengan Devan. "Devan, jangan egois. Suapi Anya. Kamu harus belajar menjadi suami yang romantis."

Devan menghentikan kunyahannya. Ia menatap Mamanya, lalu melirik Anya yang sedang menatapnya dengan tatapan "Jangan-Berani-Berani-Melakukannya". Namun, Devan tahu ia tidak punya pilihan. Ia mengambil sendok dari tangan Anya, menyendok sedikit bubur, lalu mengarahkannya ke depan bibir Anya.

"Ayo, Sayang... buka mulutmu," ucap Devan dengan nada yang dibuat semanis mungkin, namun matanya memancarkan kilat jahil yang membuat Anya ingin sekali menendang tulang keringnya di bawah meja.

Anya terpaksa membuka mulutnya. Bubur itu masuk, rasanya enak, tapi ia merasa seperti sedang menelan duri. "Terima kasih, Papa Devan yang baik hati," balas Anya sambil memberikan senyum yang sangat manis namun penuh ancaman.

"Oh ya," Papa Arkatama memecah suasana yang penuh ketegangan tersembunyi itu. "Papa sudah memesan tiket kelas satu untuk kalian ke Maldives besok pagi. Penerbangan jam sembilan. Sebuah resor pribadi di atas air sudah Papa sewa selama seminggu penuh."

Anya tersedak jus jeruknya. "Maldives? Besok?!"

"Iya, Anya. Anggap saja ini liburan singkat agar kalian lebih intim. Papa tahu kalian berdua gila kerja, jadi Papa sudah meminta sekretaris Devan dan asisten di studiomu untuk mengosongkan jadwal kalian selama seminggu," lanjut Papa Arkatama dengan nada yang tidak menerima bantahan.

"Tapi Pa, proyek The Emerald Garden sedang dalam masa penanaman krusial!" protes Anya.

"Tanaman bisa tumbuh sendiri, Anya. Tapi pernikahan membutuhkan pupuk perhatian," sahut Mama Arkatama dengan bijak, meski terdengar sangat memaksa.

Devan mengepalkan tangannya di bawah meja. Seminggu di pulau terpencil hanya berdua dengan Anya? Itu bukan liburan, itu adalah ujian ketahanan mental baginya. Namun, ia melihat tatapan tajam ayahnya. Ayahnya sedang menguji kesungguhannya.

Jika ia menolak, ayahnya mungkin akan mulai curiga bahwa pernikahan ini hanyalah akal-akalan.

"Kami akan pergi, Pa. Terima kasih hadiahnya," ucap Devan akhirnya, membuat Anya menoleh padanya dengan tatapan tidak percaya.

Acara sarapan itu berlanjut dengan obrolan tentang masa kecil Devan yang kaku, yang membuat Anya tertawa puas saat mendengar cerita bagaimana Devan pernah menangis karena kehilangan mainan kapalnya. Devan hanya bisa duduk diam dengan wajah merah padam, sesekali membalas dengan sindiran tentang bagaimana Anya yang "galak" pasti akan membuat hiu di Maldives ketakutan.

Di balik tawa dan kemesraan palsu itu, ada sebuah kenyataan pahit yang mulai mereka sadari. Mereka sedang terseret semakin dalam ke dalam skenario yang mereka buat sendiri. Di meja makan yang mewah itu, di bawah pengawasan orang tua yang penuh harap, Anya dan Devan baru saja menandatangani "kontrak" lain yang tidak tertulis: bahwa selama seminggu ke depan, mereka harus melupakan kebencian dan belajar untuk tidak saling membunuh saat hanya ada mereka berdua di tengah samudera Hindia.

Saat orang tua mereka akhirnya pamit pulang, Devan langsung melepaskan tangan Anya yang sejak tadi ia genggam di atas meja.

"Siapkan kopermu. Jangan membawa tanah ke Maldives," ucap Devan dingin sambil berdiri.

Anya berdiri, menatap punggung Devan yang kokoh. "Dan kamu, jangan bawa komputermu ke tempat tidur. Ini liburan, Tuan CEO, bukan rapat umum pemegang saham."

Mereka saling bertatapan untuk terakhir kalinya di ruang makan itu, sebuah tantangan bisu tercipta. Besok, di bawah langit biru Maldives, sandiwara ini akan mencapai babak barunya yang paling berbahaya.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!