NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:243.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Bruk!

"Mas..."

Yuda tersenyum menghimpit tubuh Ning ke tembok. "Maaf, Mas terlalu kasar ya?"

Pipi Ning memerah, "Mas... Ini di dapur..." bisiknya lirih. "Kita harusnya... Pindah ke kamar..." tangan Ning merangkul lebih dalam leher suaminya.

Yuda tertawa kecil, "Enggak sempat. Mas udah enggak tahan..."

Yuda semakin menekan tubuhnya, tangan menahan kaki Ning di atas pinggang. Bibirnya sudah mencium Ning dengan rakusnya.

"Aaahhh~" Ning memekik kecil, "ini enggak pantas di dapur..."

Senyum Yuda semakin melebar, walau bibir Ning seperti menolak, tapi kedutan di bawah sana seperti meminta lebih.

"Setelah ini kita coba di ruang tamu..."

Suara jeritan Ning terdengar indah, membuat Yuda semakin dalam menyatukan tubuhnya...

****

Pagi itu Ning terbangun dengan kaget.

“Ya Allah—” ia duduk setengah melonjak, menoleh ke jam dinding. Angkanya membuat jantungnya jatuh ke perut. “Aku kesiangan!”

Ia mengusap wajah, merutuki diri sendiri. Lalu, seperti baru sadar sepenuhnya, Ning terdiam. Seprai terasa hangat. Bantal di sisi kanan masih menyisakan lekuk kepala Yuda—tapi orangnya sudah tak ada.

“Mas?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ning menghela napas panjang, menutup mata sejenak. Ingatan semalam datang seperti gelombang—bukan rinciannya, hanya rasa lelah manis yang membuat tubuhnya ingin bersembunyi lebih lama di kasur. Ia menggeleng kecil, bibirnya mengerut kesal.

“Mas Yuda…” gumamnya lirih, setengah menyalahkan. “Bikin aku ketiduran begini.”

Ia bangkit perlahan, meraih kruk, melangkah keluar kamar. Begitu sampai ruang tengah, langkahnya terhenti.

Rumah itu rapi. Terlalu rapi untuk ukuran pagi yang biasanya kacau. Piring-piring sudah bersih dan tersusun. Lantai disapu. Meja makan tertata, dengan piring berisi nasi hangat, telur dadar, tumis sayur, dan segelas teh manis mengepul pelan.

Di tengah meja, selembar kertas kecil terlipat rapi.

Ning mendekat, jantungnya berdebar aneh. Ia membuka memo itu.

Ning,

Mas berangkat dulu. Semua udah beres Ratuku. Sarapan jangan diskip, ya.

Kalau kangen, bilang. Mas akan langsung meluncur.

—Mas Yuda

Ning menutup mulutnya dengan tangan. Pipi dan telinganya memanas bersamaan.

“Ya Allah…” bisiknya, malu sendiri. Ia menatap sekeliling, seolah Yuda masih mengintip dari balik pintu. “Dia selalu begini... Kenapa sih Mas baik banget… Sementara Ning belum bisa balas apa-apa...”

Ia duduk, menyentuh piring, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng. Ada rasa bersalah yang lembut, karena terlambat bangun, karena tak sempat mencium tangan suaminya, bercampur hangat yang membuat dadanya lapang.

“Terima kasih,” ucapnya pada ruang yang sunyi. "Ning nggak tau gimana cara balas kebaikan Mas."

****

Di kantor, Ridho berjalan menyusuri lorong dengan berkas di tangan. Langkahnya mantap, wajahnya datar, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi kepalanya tidak.

Ning.

Nama itu muncul begitu saja, ringan tapi menghantam. Ridho berhenti sebentar, menelan ludah. “Kenapa lagi…” gumamnya.

Ia melangkah lagi... dan...

Bruk.

“Maaf...” suara perempuan terdengar kaget.

Ridho refleks membungkuk, memunguti berkas dan map yang jatuh berserakan. Saat jari-jarinya menyentuh kertas, kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya bergetar.

Ning tertawa kecil di bawah lampu taman.

Ning menatapnya dengan mata teduh.

Ning... "Mas Ridho..." menyebut namanya pelan.

“Ning…” Ridho terhuyung.

Ia memegang pelipis, napasnya memburu. Potongan-potongan itu menyatu, bukan sebagai bayangan asing, tapi kenangan yang kembali.

Bukan Dewi.

Wanita yang ia cintai… Ning.

“Mas?” rekan kerjanya menahan lengannya. “Mas Ridho pucat. Mas kenapa?”

“Kepala… ku... pusing,” jawabnya parau.

Tak lama, Ridho sudah terbaring di klinik kantor. Perawat memeriksa tekanan darah. Dunia terasa jauh, tapi pikirannya justru tajam... terlalu tajam.

Ning...

Bayangan di rumah sakit waktu itu melintas.

"Siapa?"

"Suami Ning..."

Ridho menutup matanya... Air mata keluar mengalir dari sudutnya. Lalu bayangan itu bertumpuk dengan Dewi.

Kebohongan yang dia buat.

Pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan, saling tumpang tindih dengan bayangan Ning. Dadanya bergetar oleh marah yang dingin. Ridho memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Tenang. Ia memilih diam.

Dewi datang dengan wajah cemas yang dipoles rapi. “Mas!” Ia mendekat. “Kenapa? Kata orang Mas pingsan?”

Ridho diam. Tak membuka mata sama sekali. "Suster, kenapa ini? Kenapa suami saya belum sadar? Apa sedari tadi begini?"

"Tadi sudah sadar, Mbak. Cuma pasien butuh istirahat dulu."

Dewi menghela napas, tapi cemasnya belum reda. "Ya ampun, Mas. Kamu kenapa lagi?" bisiknya.

Dewi meraih tangan suaminya. Ridho menariknya perlahan, nyaris tak terlihat, tapi jelas terasa.

“Mas?” Dewi mengernyit. “Kamu udah sadar?”

Ridho hanya mengangguk pelan. Untuk mengeluarkan suara saja dia enggan, apalagi melihat wajah Dewi. Mungkin jika dia membuka mata, dia akan langsung meledak.

"Suster, suami saya sepertinya udah sadar."

"Biarkan pasien istirahat dulu, ya, Mbak." Suster itu memeriksa sebentar.

Dewi mengangguk. Tapi, pikiran dan hatinya tak tenang. Banyak rasa khawatir dan cemasnya memenuhi dada.

Sore hari datang.

"Mas, biar Dewi aja yang nyetir kalau Mas masih pusing," tawar Dewi yang berjalan menyesuaikan langkah Ridho.

Ridho tak menjawab. Dalam hatinya, jijik itu tumbuh, bukan pada tubuh Dewi, tapi pada dusta yang menyelubungi semuanya.

"Mas..."

Ridho masuk ke mobil, menutup cepat dan menguncinya. Sampai Dewi tak bisa masuk.

"Mas! Aku belum masuk!" seru Dewi sambil mengetuk pintu. "Mas!"

Tidak! Ridho kini bahkan merasa jijik dengan semuanya. Suara Dewi, tubuh Dewi, bau Dewi... Semua... dia bahkan merasa jijik sudah bercinta dengan Dewi semalam...

"Mas!" teriak Dewi yang kini ditinggalkan begitu saja di halaman kantor. "Ya Allah, kenapa Mas Ridho malah ninggalin aku sih?"

Malam turun pelan. Di kamar, Dewi menutup pintu, memutar badan, menatap Ridho yang duduk di tepi ranjang. Dia buang jauh rasa marahnya tadi sore karena ditinggalkan Ridho. Dia harus tau kenapa sikap Ridho jadi berubah dingin...

“Mas,” katanya hati-hati. "Mas apa yang terjadi? Mas marah sama Dewi? Apa salah Dewi, Mas?"

Ridho menatapnya. Lama. Tatapan itu membuat Dewi menggigit bibir.

“Mas ingat sesuatu?” tanyanya lagi setelah menelan ludahnya dengan sangat susah.

“Kenapa nanya?” tanya Ridho tenang, terlalu tenang.

“Enggak apa-apa,” Dewi tersenyum tipis. “Aku cuma takut Mas kepikiran yang aneh-aneh.”

Ridho tertawa pendek, pahit. “Yang aneh-aneh?”

Dewi mendekat, mencoba menyentuh bahunya. Ridho berdiri, menjauh satu langkah.

“Mas...”

“Aku ingat,” potong Ridho.

Dewi membeku.

“Aku ingat semuanya,” lanjut Ridho, suaranya rendah. “Tentang Ning. Tentang bagaimana kamu memelintir cerita. Tentang bagaimana aku menikah... bukan karena cinta.”

Wajah Dewi memucat.

"Kenapa pucat? Tau kamu sudah melakukan kejahatan?"

"Bu-bukan begitu, Mas..."

Ridho menatapnya tajam. “Kau sudah menipuku... Memanfaatkan hilang ingatanku... Membodohi ku... Dan...” suaranya bergetar, lalu mereda. “Dan Ning… sudah menikah dengan pria lain.”

Kalimat itu menghantam dirinya sendiri. Ia menutup mata, menarik napas, menahan amarah.

“Mas,” Dewi meraih lengan Ridho. “Dengar dulu...”

Ridho melepaskan. “Jangan sentuh aku.”

Dewi terhuyung satu langkah. “Mas...”

"Aku jijik sama kamu, Dewi!"

Ia meraih jaket.

“Mas!?” suara Dewi pecah. "Mas mau ke mana?"

Ridho melangkah ke pintu, berhenti sejenak tanpa menoleh. “Ke tempat Ning.”

Pintu tertutup.

Dewi terduduk di ranjang. Tangannya gemetar. Napasnya tersengal, lalu pecah menjadi tangis.

“Ning… Ning... Ning lagi...” bisiknya, marah dan takut bercampur. “Gara-gara kamu, Ning.”

1
Sri rahayu
kenapa kalau Ning istri Yuda Ranu ? bukankah dulu kamu yg nyuruh Yuda mencari Ning dan melindunginya .kan Ning bukan kekasihmu .seharusnya kamu bersukur Ning sudah membantumu bangkit dan mulai sembuh ?
sutiasih kasih
sdh tau kn skrg....
jdi harap sadar diri y ranu.... klo ning adalah istri dri adikmu...
klo km msih mksa buat jdi pmbinor.... smoga Azab brkali lipat mnimpamu lg🙄🙄🙄
sunaryati jarum
Kalau sudah tahu terima kenyataan ,kau yang lalai menabrak Ning.Ikhlaskan itu juga cara penebusan kesalahan kamu.Jangan egois, semua menyayangimu Ranu.
N Wage
pokoke bagus👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Ranu jangan egois .Jika hubungan Yuda dan Ning membaik,emak lanjut mengikuti kisahnya
delis armelia
ya allah akhirnya ketahuan... nunggu besok berasa lama
Yensi Juniarti
bagus saya suka..
biar Ranu sadar dimana posisinya...
berharap sama bini orang...
jangan ya bang ya... JANGAN...
bibuk Hannan & Afnan
akhirnya Ranu tahu dgn sendirinya status Ning dan Yudha
bibuk Hannan & Afnan
Yanh=yang
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ya dsn yg pinter ranu dia nyari tau smuanya dgn sat set. yg lain bodoh aplg mamanya em knp kl jujur toh haruse yg ngamuk marah tuh ning krn ditabrak ranu, gak masuk akal banget
nunik rahyuni
ya...harap sadar diri.
jgn minta dikasihani terus. jgn jd org lemah terus bergantung sm ning...memanfaat kn ning...
sadar. .oe..sadar...kmu yg nabrsk bukanya mengaku dan minta maaf..malah memanfaatkan...pikirkan perasaan ning..
kelg g tau diri sih menurut q
nunik rahyuni: iya..mundur jauh jauh🪠🪠🪠
total 2 replies
Nana Geulise
woi..woi sadar Ranu ning itu istrinya yuda...jangan nanti jadi korban keegoisan kalian(ranu.yuda n mm a ggun) kasihan ning🥺🥺🥺
Arin
Bagus gitu kan..... Biarpun Ranu tau sendiri tentang Ning dan Yuda. Dan semoga semua jadi lebih baik. Ranu tidak terlalu berharap lagi kepada Ning
Dinar Keke
Ayo mama Anggun segera kasih tau kebenarannya. Ranu harus tau diri,dia harus sadar diri kalau masih menyimpan perasaan dengan Ning akan merusak hubungan antara dia dan Yuda
Dinar Keke
Ceritanya dirapel nih komentarku Maaf ya dari awal aku suka ceritanya adem ayem Ada konflik sedikit, sekedar tidak bosan membaca. Begitu Ning sembuh bisa behjalan, dab akhirbya kembali kerumah besar timbul masalah besar.
Ning gak salah dia membantu, tapi karena dia menghargai posisi suami dia memilih mundur.. Karena keadaanlah yang memaksa dia terus bertahan untuk membantu Ranu, harusnya yang bertanggung jawab kedua orttunya Ranu.
Udah mending balik kerumah kontrakan, hidup kalian lebih damai disana.
Jumi Saddah
seharus dari awal di beritahu klo ning adlh istri yuda,,dan juga ju2r klo kecelakaan yg ning alami tu karna ranu,,,jdi nda ada salah faham begini kan,,
Sri Rahayu
Ajak Ning pindah kerumah kalian lg Yuda...bukan kewajiban Ning utk menyembuhkan Ranu...hrs nya ortu mu bersyukur berkat adanya Ning Ranu bisa sadar lg...kasihan Ning tersiksa batin nya gimana kl dia tau Ranu lah yg menabrak nya...lanjut Thorr😘😘😘
Eka Burjo
ok
Eka Burjo
aneh sih menurutku, istri tetap istri Yuda kamu ga harus ngalah sama kakak mu🙄
Samsiah Yuliana
udah ah Ning, bner kata kamu, berhenti aja jdi terapis nya, ganti sama yg ahli aja kah, jadi kasihan kan semuanya😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🙏🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!