Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FOURTEEN
Jerry menoleh tajam ke arah Zacky. "Zacky! Aku sudah menyuruhmu mengawasi pengobatannya setiap hari!"
Zacky menarik napas panjang, ia berdiri tegak meskipun tahu ia akan menjadi sasaran kemarahan. "Maafkan saya, Tuan Besar. Semenjak Nyonya Muda menikah dengan Tuan Muda, Nyonya melarang keras Tuan Muda mengonsumsi obat-obatan itu. Nyonya bilang itu bukan obat, melainkan racun. Selama ini, atas perintah Nyonya, Tuan Muda hanya mengonsumsi vitamin dan suplemen alami."
Dokter Leon meletakkan stetoskopnya dengan kasar. "Apa?! Nyonya Muda itu bukan dokter! Ini bahayanya jika pengobatan dihentikan tanpa pengawasan medis. Aksa memiliki ketidakseimbangan kimiawi di otaknya. Tanpa obat itu, dia akan terus meledak seperti ini!"
Jerry ikut menyalahkan. "Zacky, kenapa kau mengikuti kata-kata Della? Dia hanya seorang gadis yang baru masuk ke keluarga ini!"
Zacky tidak mundur. "Karena saya juga mulai meragukan obat itu, Tuan Besar. Nyonya Muda mengatakan bahwa obat yang diberikan selama ini adalah obat jiwa dosis tinggi yang sebenarnya untuk pasien tahap akhir, bukan untuk pemulihan trauma."
Leon wajahnya memerah. "Beraninya dia meragukan kredibilitas saya! Mana obatnya? Aku ingin membuktikan bahwa resepku sudah benar!"
Zacky berbalik menuju lemari kecil di sudut ruangan dan mengambil beberapa botol obat yang masih terbungkus plastik, belum sempat dibuka oleh Della. Ia menyerahkannya pada Dokter Leon.
Leon mengambil botol-botol itu, namun saat ia melihat label farmasi yang tertera di sana, ekspresinya tiba-tiba berubah dari marah menjadi bingung, lalu berubah menjadi pucat.
"Ini... ini bukan obat yang aku resepkan," bisik Leon pelan.
"Apa maksudmu, Dokter Leon?" tanya Jerry heran.
Leon memeriksa nomor seri dan kandungan kimianya. "Obat yang aku tulis di resep adalah penstabil dosis sedang. Tapi botol-botol ini... kandungannya adalah Clozapine dosis tinggi dikombinasikan dengan halusinogen tingkat rendah. Ini memang obat untuk skizofrenia akut yang sudah tidak bisa dikendalikan. Aksa tidak menderita skizofrenia! Aksa hanya mengalami trauma berat yang menyebabkan kecemasan dan bipolar. Jika dia minum ini bertahun-tahun, saraf otaknya akan mati pelan-pelan!"
Jerry tertegun. Ruangan bawah tanah itu mendadak terasa jauh lebih dingin. "Jadi... apa yang dikatakan Della itu benar? Ada yang menukar obat Aksa?"
Leon memeriksa label apoteknya kembali. "Label ini palsu. Seseorang telah memalsukan resep saya dan menggantinya dengan obat ini sebelum sampai ke tangan Zacky."
Zacky menatap Jerry dengan tatapan yang sangat tajam. "Seseorang di rumah ini, atau seseorang yang sangat dekat dengan kita, ingin Tuan Muda Aksa menjadi gila secara permanen agar dia tidak bisa mewarisi Herlos Grup, Tuan Besar."
Suasana di kamar bawah tanah itu berangsur senyap setelah Dokter Leon menyelesaikan penjelasannya. Aksa, yang baru saja menerima suntikan dosis tinggi obat penenang yang asli, kini terkulai lemas di atas ranjang besi. Napasnya berat dan teratur, namun sisa-sisa amarah masih tampak dari urat-urat yang menonjol di lengannya. Ia belum sadar sepenuhnya, terjebak dalam tidur paksa untuk mengistirahatkan saraf otaknya yang hampir meledak.
Tuan Jerry berdiri di samping ranjang, menatap cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada penyesalan mendalam di matanya. Bagaimana bisa di bawah atapnya sendiri, ada musuh yang secara perlahan mencoba menghancurkan satu-satunya pewaris Herlos?
"Zacky," panggil Jerry dengan suara rendah namun tajam seperti sembilu. "Kumpulkan semua orang. Sekarang. Tidak ada pengecualian."
"Baik, Tuan Besar."
Ruang tengah mansion Herlos yang biasanya megah kini tampak seperti reruntuhan pasca badai. Pecahan guci, piring, dan furnitur yang hancur akibat amukan Aksa masih berserakan, menambah kesan mencekam bagi siapa pun yang melihatnya.
Di tengah kekacauan itu, seluruh pelayan, supir, hingga petugas keamanan dikumpulkan. Ada sekitar tiga puluh orang yang berdiri berbaris dengan kepala tertunduk. Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang ketakutan. Mereka semua tahu reputasi Tuan Besar Jerry—pria tua itu bisa lebih kejam daripada Aksa jika menyangkut keselamatan keluarganya.
Jerry duduk di kursi singgasananya yang masih utuh, sementara Zacky berdiri di sampingnya memegang beberapa botol obat yang menjadi bukti pengkhianatan.
"Selama bertahun-tahun, aku memberi kalian tempat tinggal, upah yang layak, dan perlindungan," suara Jerry menggelegar, memantul di dinding-dinding tinggi mansion. "Tapi ternyata, ada ular yang aku pelihara di dalam rumah ini."
Zacky melangkah maju, tatapannya menyapu setiap wajah yang ada di barisan tersebut. "Seseorang telah berani menukar obat Tuan Muda Aksa dengan racun saraf dosis tinggi. Siapa pun pelakunya, dia tidak hanya mengkhianati keluarga Herlos, tapi dia sedang mencoba membunuh Tuan Muda secara perlahan."
Mendengar kata 'racun', beberapa pelayan mulai gemetar hebat. Isak tangis tertahan terdengar dari barisan belakang. Mereka tahu benar apa yang terjadi jika seseorang menjadi pengkhianat di keluarga ini, mereka tidak akan hanya dipecat, tapi dipastikan tidak akan pernah bisa melihat matahari di dunia luar lagi.
"Zacky, bacakan catatannya," perintah Jerry dingin.
Zacky membuka sebuah buku laporan logistik. "Berdasarkan catatan jadwal pengambilan obat di apotek pusat selama satu tahun terakhir, hanya ada dua orang yang memiliki akses rutin untuk mengambil pesanan medis atas nama Tuan Muda."
Zacky berhenti sejenak, memberikan tekanan mental yang luar biasa pada suasana. "Supir senior, Pak Danu. Dan pelayan kepercayaan area dapur, Bi Inah. Maju!"
Dua orang yang disebut namanya itu jatuh berlutut di lantai marmer. Tubuh mereka berguncang hebat. Pak Danu, pria yang sudah bekerja selama lima belas tahun, tampak pucat pasi, sementara Bi Inah mulai menangis histeris.
"Tuan... saya tidak tahu apa-apa! Saya hanya mengambil apa yang diberikan apoteker!" jerit Bi Inah sambil bersujud di kaki Jerry.
Zacky mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Jangan berbohong. Kami sudah memeriksa mutasi rekening kalian berdua. Ada aliran dana besar dari pihak ketiga setiap tanggal pengambilan obat. Siapa yang memerintahkan kalian?!"
Jerry berdiri, mendekati Pak Danu dan menekan pundak pria itu dengan ujung tongkatnya. "Katakan padaku, Danu. Apakah nyawa cucuku sebanding dengan uang yang kau terima? Siapa yang memberimu perintah?"
Danu mendongak. Alih-alih memohon ampun, ekspresi ketakutan di wajahnya perlahan berubah menjadi senyuman getir yang aneh. Ia menatap Jerry dengan mata yang menyipit, menolak untuk menyebutkan nama sang majikan rahasia.
"Kami tidak akan mengatakannya, Tuan Besar," bisik Danu dengan suara bergetar namun menantang.
"KAU BERANI MELAWAN?!" bentak Zacky, melangkah maju dengan emosi.
Bi Inah yang bersujud di samping Danu tiba-tiba berhenti menangis. Ia mendongak, menatap kehancuran di ruang tengah mansion dengan tatapan kosong. "Kalian tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami... karena esok atau lusa, keluarga Herlos memang sedang menunggu kehancurannya. Istana megah ini akan runtuh, dan Tuan Muda Aksa akan menjadi orang pertama yang gila dan menghancurkan kalian semua."
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua