NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Terimakasih, Sang Mentor

"Lama banget! Kalian habis dari mana sih? Kok Luq cuma pakai kaos?" tanya Vino sambil melirik Luq yang kini hanya memakai kaos t-shirt.

"Tadi... ada urusan teknis," jawab Hazel datar.

"Dan Rea, kok pakai hoodie Luq? Gak panas apa?" tanya Vino lagi, melihat hoodie hitam Luq melilit pinggangku.

Aku tersenyum tipis, "Iya, kak Vin. Di mall dingin banget, aku lagi kurang enak badan terus Kak Luq baik banget mau minjemin."

Luq hanya duduk dengan santai meski terlihat sangat lelah. Dia mengambil sumpit dan mulai memasukkan potongan daging ke dalam kuah Mala. "Udah, makan aja. Gue laper banget hari ini."

Vino akhirnya berhenti bertanya dan sibuk menikmati daging sapi yang empuk. Kami pun makan dengan lahap. Suasana restoran yang hangat perlahan mencairkan rasa lelah Luq. Dia tidak banyak bicara, tapi aku melihatnya tersenyum saat melihatku dan Hazel bercanda soal siapa yang lebih dulu menghabiskan kuah kaldu.

Di tengah kepulan uap panas hotpot, aku menatap Luq. Dia lelah, dia harus bekerja keras, tapi hari ini dia rela kehilangan hoodie-nya dan berdebat soal "stabilitas sayap" pembalut hanya agar aku bisa makan dengan tenang tanpa merasa malu.

Malam itu, saat kami mengantar Luq pulang, aku melihatnya berjalan masuk ke rumahnya yang sederhana. Aku tahu, besok dia harus bekerja lagi, sekolah lagi, dan mengurus ibunya. Tapi bagiku, dia bukan hanya seorang pekerja kafe. Dia adalah sosok ksatria yang menggunakan hoodie sebagai jubahnya.

Hari Senin pagi terasa berbeda. Hoodie hitam milik Luq masih terlipat rapi di sudut kamarku, sudah kucuci dan harum dengan aroma deterjen favoritku. Menatap hoodie itu membuatku teringat kembali pada "misi penyelamatan" di minimarket kemarin. Perdebatan teknis tentang "stabilitas sayap" pembalut antara Kak Hazel dan Luq masih membuatku tertawa setiap kali aku mengingatnya.

Tapi lebih dari itu, aku teringat ekspresi Luq saat dia memberikan hoodie itu. Dia lelah, pakaian kerjanya tipis, tapi dia sama sekali tidak ragu. Aku tahu, hidup Luq tidak semudah itu. Pekerjaannya di kafe, ibunya yang sakit, sekolahnya... semuanya menumpuk di pundaknya.

Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Sore itu, setelah jam sekolah berakhir, aku meminta Kak Hazel mengantarku ke kafe tempat Luq bekerja.

"Tumben mau ke kafe itu? Bukannya tugas sekolah lo udah beres?" tanya Kak Hazel sambil mengendarai motor.

"Cuma mau balikin hoodie-nya Kak Luq, Kak. Sekalian mau beli kopi buat Mama," jawabku berbohong tipis. Padahal, aku sudah menyiapkan sekotak buah-buahan segar untuk ibu Luq yang kutitipkan nanti.

Sesampainya di kafe, suasananya cukup ramai. Aku duduk di salah satu meja pojok agar tidak mengganggu pekerjaannya. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat sisi lain Luq yang jarang terlihat saat kami jalan-jalan. Dia tidak lagi menjadi "kakak mentor" yang santai. Dia adalah pekerja yang cekatan, ramah pada pelanggan, dan sangat fokus.

Dia terlihat lebih kurus dari dekat, dengan kantung mata yang samar. Hatiku mencelos melihatnya. Ternyata beban yang dia bawa benar-benar nyata, bukan sekadar cerita.

Saat shift-nya selesai, Luq berjalan menuju meja kasir. Dia tampak melepas napas panjang saat melepas apronnya. Saat matanya menyapu ruangan dan menemukan aku duduk di sana, dia terlihat kaget, lalu senyum tipisnya muncul.

Dia menghampiriku. "Rea? Kok di sini? Hazel mana?"

"Kak Hazel nunggu di parkiran. Aku ke sini cuma mau balikin ini," kataku sambil menyodorkan hoodie hitam yang sudah terlipat rapi.

Luq menerimanya, lalu duduk di depanku sebentar. "Harusnya nggak usah repot-repot dibawa ke sini. Bisa dikasih pas kita ketemu nanti."

"Nggak apa-apa, Kak. Makasih ya buat hari Minggu kemarin. Maaf kalau Kakak jadi repot karena urusan teknis sayap... itu," kataku sambil tertawa kecil.

Luq ikut tertawa, suaranya terdengar sedikit serak. "Itu bakal jadi sejarah hidup gue, Rea. Debat sama kakak kamu soal barang yang bahkan gue nggak tahu cara pakainya."

Aku menatapnya ragu, lalu memberanikan diri bertanya, "Kak Luq... Ibu gimana kabarnya?"

Luq terdiam sejenak. Matanya yang tadinya teduh tampak sedikit meredup. "Masih dalam perawatan. Kadang memang berat, tapi ya... harus dijalani. Makanya gue harus kerja lebih giat."

"Kakak nggak boleh capek-capek banget. Kalau ada yang bisa dibantu, bilang ya, Kak. Aku mungkin cuma anak SMP, tapi aku bisa bantu-bantu jaga ibu kak Luq di waktu luang atau apa pun yang bisa aku kerjain dari rumah," kataku tulus.

Luq menatapku lekat. Dia terlihat tersentuh. "Makasih, Rea. Kamu udah cukup bikin gue tenang dengan nggak nambah masalah. Rea anak baik."

Sebelum dia benar-benar pergi untuk pulang, aku menyerahkan kantong plastik berisi buah-buahan. "Ini... titip buat Ibu, ya. Bukan apa-apa kok, cuma buah-buahan supaya Ibu cepat pulih."

Luq tertegun melihat isi kantong itu. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara haru dan rasa tidak enak hati. "Rea, ini... gue jadi nggak enak."

"Terima aja, Kak. Sebagai tanda terima kasih karena udah jadi mentor yang sabar," kataku sambil berdiri. "Aku duluan ya, Kak Hazel udah nunggu."

Aku berjalan keluar kafe dengan perasaan lega. Aku tidak melakukan hal besar, tapi melihat Luq tersenyum tulus membuat rasa tidak enak hatiku karena telah merepotkannya di hari Minggu kemarin sedikit berkurang.

Di dalam mobil, Kak Hazel menatapku melalui kaca spion. "Gimana? Udah Beli kopinya?"

"Belum, Kak. Nanti aja, pesan online Lagi ada diskon."

"Seterah deh, tadi gue liat lu ngobrol bareng Luq" Kak Hazel tersenyum tipis. "Luq itu orang baik, Rea. Dia keras sama dirinya sendiri, tapi dia lembut sama orang lain. Pertahankan pertemanan sama dia."

"Harusnya Aku yang bilang gitu, pertahanin Teman kayak Luq. Kak." jawab Aku sambil tertawa kecil.

Aku sadar, masa remaja bukan hanya tentang seragam sekolah atau nilai ujian. Ini tentang orang-orang yang kita temui, tentang bagaimana kita saling menjaga di saat-saat sulit, dan tentang bagaimana kita belajar untuk saling memberi.

Malam itu, aku membuka laptop. Ada satu bug yang belum selesai di proyekku. Tapi kali ini, aku tidak merasa sedang bekerja sendirian. Aku merasa, di luar sana, ada orang hebat yang sedang berjuang, dan aku juga harus berjuang untuk menjadi sehebat dia.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!