Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedalaman yang Membisu
Pesawat amfibi bermesin ganda itu membelah kegelapan di atas Samudra Hindia, meninggalkan kerlip lampu Jakarta yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan lain. Di dalam kabin yang sempit dan bergetar, Sora Kalani menatap layar radar yang hanya menampilkan hamparan biru tua yang tak berujung. Namun, di dalam kotak perunggu di pangkuannya, The Chronos Weaver mulai berdenyut dengan irama yang semakin cepat—sebuah resonansi yang memanggil pulang jantung mekanisnya.
Hael, yang duduk di kursi pilot, terus menyesuaikan tuas kendali. Wajahnya diterangi oleh cahaya hijau dari panel instrumen. "Kita sudah hampir sampai di koordinat itu, Sora. Tapi radar tidak mendeteksi apa pun. Tidak ada pulau, tidak ada kapal induk. Hanya laut lepas sedalam lima ribu meter."
Sora membuka jam saku ibunya. Cahaya perak dari kristal di dalamnya tiba-tiba memproyeksikan garis vertikal yang menembus lantai pesawat, menunjuk langsung ke dasar samudra. "Ia tidak ada di permukaan, Hael. Ayah tidak menyembunyikannya di tempat yang bisa dilihat oleh satelit."
"Maksudmu... di bawah sana?" Hael melirik ke arah jendela, di mana ombak raksasa berbuih putih menghantam kegelapan. "Pesawat ini tidak dirancang untuk menyelam, Sora."
"Turunkan kita ke air, Hael. Percayalah pada suar itu."
Dengan manuver yang ekstrem, Hael mendaratkan pesawat amfibi itu di atas permukaan laut yang ganas. Guncangan hebat menghantam badan pesawat, membuat Sora harus berpegangan erat pada kursi. Begitu mesin dimatikan, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka, hanya interupsi suara deburan ombak yang menghantam lambung pesawat.
Tiba-tiba, The Chronos Weaver mengeluarkan gelombang sonar frekuensi rendah yang membuat air di sekitar pesawat mulai berputar. Sebuah pusaran air raksasa terbentuk secara simetris, namun alih-alih menelan mereka, permukaan laut itu seolah-olah terbelah oleh sebuah struktur mekanis masif yang perlahan naik dari kedalaman.
Sebuah menara logam berbentuk silinder, dilapisi dengan material anti-korosi yang berkilauan seperti kulit hiu, muncul ke permukaan. Di puncaknya, terdapat sebuah dermaga otomatis yang pas dengan ukuran pesawat mereka.
"Selamat datang di The Meridian Vault," bisik Sora, teringat nama yang pernah ia lihat di catatan tersembunyi ayahnya.
Mereka keluar dari pesawat, melangkah ke atas dermaga logam yang terasa sangat stabil meski dihantam ombak. Udara di sana berbau ozon dan garam murni. Sebuah pintu kedap udara terbuka tanpa suara, menampakkan lorong lift kaca yang menuju jauh ke bawah permukaan laut.
Saat lift mulai meluncur turun, Sora dan Hael disuguhi pemandangan bawah laut yang luar biasa. Cahaya-cahaya bioluminesens dari struktur bangunan menyinari kegelapan abadi samudra. Di sana, di kedalaman yang seharusnya mematikan bagi manusia, berdirilah sebuah kota mekanis kecil yang sunyi—markas rahasia para pembelot The Architects of Time.
"Tempat ini... ia bergerak mengikuti arus tektonik," Hael mengamati layar monitor di dalam lift. "Itulah sebabnya tidak ada yang bisa melacaknya. Ia adalah jam raksasa yang bagian-bagiannya adalah seluruh bangunan ini."
Lift berhenti di lantai dasar, yang ternyata merupakan sebuah aula besar yang dikelilingi oleh ribuan tabung penyimpanan jam kuno. Di tengah aula, seorang wanita berambut putih perak berdiri memunggungi mereka, menatap sebuah jam pasir raksasa yang pasirnya tidak jatuh ke bawah, melainkan melayang ke atas.
Wanita itu berbalik. Wajahnya memiliki garis ketegasan yang sama dengan Aris Kalani.
"Sora. Hael. Kalian datang lebih cepat dari yang aku perkirakan," ucap wanita itu. Suaranya terdengar seperti gesekan logam mulia, dingin namun berwibawa.
"Siapa Anda?" tanya Sora, tangannya secara naluriah mencengkeram The Chronos Weaver.
"Namaku Martha. Aku adalah nakhoda sebelum dirimu, Sora. Dan aku adalah alasan mengapa ayahmu bisa melarikan diri sepuluh tahun lalu," wanita itu mendekat, matanya menatap koin perunggu di tangan Hael. "Hael Arlo... kamu sangat mirip dengan ayahmu. Penuh dengan keraguan, namun tetap memilih untuk setia."
Hael melangkah maju. "Keluarga Vance mengejar kami. Organisasi Arsitek Waktu tahu posisi tempat ini sekarang. Kenapa Anda memanggil kami ke sini jika tempat ini adalah target?"
Martha tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh dengan ironi pahit. "Karena The Meridian Vault bukan hanya tempat persembunyian. Ia adalah kunci untuk menyetel ulang sejarah yang telah dirusak oleh mereka. Arsitek Waktu tidak ingin mengendalikan masa depan; mereka ingin menghapus masa lalu agar mereka bisa menulis ulang dunia sesuai kehendak mereka."
Martha menunjuk ke arah jam pasir yang melayang. "Pasir itu... itu adalah representasi dari garis waktu yang stabil. Dan sekarang, ia mulai retak. Aktivasi The Chronosphere di Jakarta telah memicu protokol akhir mereka. Mereka sedang menuju ke sini untuk mengambil 'Mesin Ketiga' yang sebenarnya—yang bukan hanya sekadar data, tapi sebuah perangkat pembalik waktu."
Sora merasa kedinginan merayapi punggungnya. "Membalik waktu? Ayah tidak pernah mengatakan itu mungkin."
"Karena ayahmu tahu betapa berbahayanya rahasia itu, Sora. Itulah sebabnya dia memecahnya menjadi tiga bagian. Dan sekarang, kamu membawa dua bagian terakhirnya ke sini. Kita tidak punya waktu untuk berdebat. Pasukan Arsitek Waktu sudah berada di perimeter luar."
Tiba-tiba, seluruh bangunan itu bergetar hebat. Alarm frekuensi rendah meraung dari dinding-dinding logam. Di layar pemantau, terlihat puluhan kapal selam taktis berwarna hitam pekat sedang mengepung fasilitas tersebut.
"Mereka di sini," bisik Hael, tangannya meraba senjata di pinggangnya.
Sora menatap The Chronos Weaver. Ia menyadari bahwa pertempuran di Paris dan Jakarta hanyalah latihan kecil. Di kedalaman Samudra Hindia ini, ia tidak hanya berjuang untuk nama baik ayahnya, tapi untuk mencegah dunia jatuh ke tangan mereka yang ingin menghapus setiap jejak kemanusiaan dari garis waktu.
"Martha," panggil Sora, suaranya kini sekeras baja. "Tunjukkan padaku di mana aku harus menempatkan mesin ini. Jika mereka ingin menulis ulang sejarah, mereka harus melewati aku terlebih dahulu."
Martha mengangguk, matanya memancarkan rasa bangga. "Ikuti aku, sang nakhoda. Waktunya bagi kita untuk menunjukkan bahwa detak jantung manusia jauh lebih kuat daripada roda gigi dingin mana pun."