NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Hari kedua di Heimdall.

Pagi datang dengan suara yang sama—

ramai.

Hidup.

Tak pernah benar-benar diam.

Grachius berjalan di antara kerumunan.

Langkahnya tetap tenang.

Namun kini… lebih terbiasa.

Ia tidak lagi berhenti setiap beberapa langkah.

Tidak lagi terlalu lama memperhatikan hal-hal kecil.

Ia mulai… menyatu.

Sedikit.

Namun tetap berbeda.

Tatapannya masih sama.

Tenang.

Tajam.

Ia melewati pasar.

Tempat yang lebih ramai dari kemarin.

Pedagang berteriak.

Orang-orang berdesakan.

Suara tawar-menawar memenuhi udara.

Grachius berjalan melewati mereka semua.

Tanpa tujuan jelas.

Namun tidak tersesat.

Lalu—

ia mendengar sesuatu.

“…katanya itu sudah ditulis.”

Langkahnya sedikit melambat.

“Ditulis?”

“Ramalan.”

Grachius tidak menoleh.

Namun pendengarannya fokus.

Dua pria berdiri di dekat salah satu lapak.

Berbicara dengan suara setengah berbisik.

“Ramalan tentang apa?”

Yang satu terlihat ragu.

Namun tetap menjawab.

“…tentang kehancuran para dewa.”

Sunyi sejenak.

Grachius berhenti.

Tidak bergerak.

“Jangan bicara sembarangan,” kata yang lain cepat.

“Kalau penjaga dengar—”

“Aku dengar dari orang kuil.”

“…kuil?”

“Iya.”

Ia menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang terlalu dekat.

“Katanya… suatu hari…”

“…langit akan runtuh.”

Angin berhembus.

Namun terasa lebih dingin.

“…dan para dewa akan jatuh.”

Grachius tidak bergerak.

“…oleh siapa?”

Sunyi.

“…tidak jelas.”

“…tapi katanya…”

Ia menelan pelan.

“…bukan dewa.”

Detik itu—

sesuatu terasa berhenti.

Grachius perlahan menoleh.

Sedikit.

“…lalu apa?”

Yang satu menggeleng.

“Katanya… sesuatu di antara.”

Sunyi.

“…atau mungkin… sesuatu yang lebih buruk.”

Angin berhembus lebih kencang.

Grachius menatap mereka beberapa detik.

Lalu—

ia berbalik.

Melanjutkan langkahnya.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun—

di dalam dirinya—

tidak.

Kata-kata itu terus terulang.

Kehancuran para dewa.

Bukan dewa.

Di antara.

Langkahnya tetap stabil.

Namun pikirannya… bergerak.

“…kebetulan?”

Gumamnya pelan.

Ia tidak percaya pada kebetulan.

Namun ia juga tidak langsung percaya pada ramalan.

Namun—

kata-kata itu…

terlalu tepat.

Terlalu dekat.

Grachius berhenti sejenak di ujung jalan.

Menatap ke arah langit.

Langit yang sama.

Langit yang akan ia hadapi.

“…ramalan…”

Ia mengalihkan pandangannya.

“…atau hanya ketakutan manusia.”

Tidak ada jawaban.

Namun satu hal jelas—

jalan yang ia pilih…

mungkin bukan hanya miliknya.

Dan di suatu tempat—

sesuatu yang tidak terlihat—

mungkin sudah…

menunggu.

Grachius kembali berjalan.

Namun kali ini—

langkahnya sedikit berbeda.

Lebih dalam.

Lebih pasti.

Seolah tanpa sadar—

ia sedang berjalan…

menuju sesuatu yang sudah lama menunggunya.

...----------------...

...----------------...

Dua hari sebelumnya—

Langit di atas Mainland tetap sama.

Tenang.

Seolah tidak ada yang berubah.

Namun—

informasi mulai bergerak.

Di kuil-kuil.

Di kota-kota.

Di tempat-tempat yang tidak terlihat.

Satu nama mulai tersebar.

Tanpa bentuk jelas.

Tanpa wajah.

“Seorang anak setengah…”

“…akan menghancurkan para dewa.”

...----------------...

...----------------...

Di atas—

di antara langit dan dunia—

bergerak sosok yang tidak terikat.

Nuntius.

Tidak membawa senjata.

Tidak membawa niat.

Hanya… pesan.

Ia tidak memilih.

Tidak memihak.

Ia menyampaikan.

Itu tugasnya.

Jika ia berbohong—

langit sendiri akan menolaknya.

Dan itu…

lebih buruk dari kematian.

...----------------...

...----------------...

Di satu kuil—

para penjaga saling berbisik.

“Ini ramalan?”

“Sepertinya.”

Sunyi.

Dan dari sana—

kata-kata itu menyebar.

Dianggap ramalan.

Dianggap mitos.

Dianggap ancaman.

Namun satu hal pasti—

itu bukan kebetulan.

...----------------...

...----------------...

Jauh dari sana—

di luar dunia manusia—

terdapat wilayah yang tidak bisa dijangkau sembarangan.

Forbidden Zone.

Dan di dalamnya—

wilayah tinggi yang menyentuh langit.

Aetherion Highlands.

Angin di sana berbeda.

Lebih tajam.

Lebih ringan.

Seolah dunia di bawah… tidak berarti.

Di puncak tebing tinggi—

berdiri seseorang.

Sagitta.

Busur di tangannya berkilau samar.

Sunchaser.

Ia menatap ke kejauhan.

Tidak ada ekspresi.

Lalu—

angin berubah.

“Seperti biasa… kau tidak pernah diam.”

Suara itu muncul tanpa arah.

Sagitta tidak menoleh.

“…kau datang.”

Sosok lain muncul.

Tidak dengan langkah.

Tidak dengan suara.

Nuntius.

“Pesan,” katanya singkat.

Sagitta akhirnya melirik.

Sedikit.

“Bicara.”

Tidak ada rasa hormat.

Tidak ada kesopanan.

Hanya… kesombongan yang tenang.

Nuntius tidak terganggu.

“Seorang pemuda setengah dewa.”

Angin berhenti.

“Rambut putih.”

“…dengan warna kuning-merah.”

Mata Sagitta sedikit menyipit.

“Dia sedang bergerak.”

Sunyi.

“Ke arahmu.”

Beberapa detik berlalu.

“…dan?”

Nuntius tetap tenang.

“Tujuannya jelas.”

Ia menatap Sagitta lurus.

“…membunuhmu.”

Sunyi.

Angin kembali berhembus.

Lalu—

Sagitta tertawa pelan.

“…itu saja?”

Ia mengangkat busurnya sedikit.

“Makhluk setengah… menantang dewa?”

Nada suaranya… merendahkan.

“Menarik.”

Nuntius tidak bereaksi.

“Tugasku selesai.”

Ia mulai menghilang.

Namun sebelum benar-benar pergi—

“Dia bukan satu-satunya yang bergerak.”

Sagitta tidak menjawab.

Namun matanya…

berubah sedikit.

Bukan takut.

Tapi…

tertarik.

Nuntius menghilang sepenuhnya.

Sunyi kembali.

Sagitta berdiri sendirian di tebing itu.

Ia menatap ke bawah.

Ke arah dunia.

“…datanglah.”

Gumamnya pelan.

Tangannya menggenggam Sunchaser.

“Biar aku lihat…”

Matanya menyipit.

“…berapa lama kau bisa bertahan.”

Angin berhembus lebih kencang.

Dan di kejauhan—

langit tetap diam.

Namun—

permainan…

telah dimulai.

...----------------...

...----------------...

Langit di atas Kota Heimdall tetap cerah.

Namun tidak semua bagian kota merasakan hal yang sama.

Grachius berjalan tanpa tujuan pasti.

Menyusuri jalan-jalan yang belum ia lewati.

Semakin jauh ia melangkah—

bangunan mulai berubah.

Tidak lagi kokoh.

Tidak lagi terawat.

Dinding retak.

Kayu lapuk.

Atap yang hampir runtuh.

Suara ramai masih ada—

namun berbeda.

Lebih pelan.

Lebih berat.

Grachius berhenti sejenak.

Matanya mengamati.

Orang-orang di sana—

berbeda.

Tubuh kurus.

Pakaian kotor.

Wajah lelah.

Beberapa duduk diam di pinggir jalan.

Beberapa hanya… menatap kosong.

Anak-anak—

tidak berlari.

Mereka hanya melihat.

Sunyi.

Grachius berjalan pelan.

Langkahnya tidak berubah.

Namun—

perasaannya… iya.

“…ini juga dunia manusia.”

Gumamnya pelan.

Ia terus berjalan.

Dan kemudian—

ia melihat mereka.

Sekelompok orang dengan pakaian rapi.

Berbeda dari sekitar.

Bersih.

Tertata.

Orang-orang kuil.

Mereka berdiri di tengah jalan.

Dan di hadapan mereka—

beberapa gadis muda.

Ketakutan.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Menatap satu per satu.

Menilai.

Seperti memilih barang.

Grachius berhenti.

Tatapannya berubah.

“…apa ini…”

Tidak ada yang menjawab.

Namun ia melihat.

Satu gadis dipilih.

Tangannya ditarik.

Ia mencoba menahan.

Namun tidak kuat.

Orang-orang di sekitar—

hanya melihat.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang melawan.

Sunyi.

“…persembahan.”

Suara itu pelan.

Dari seseorang di samping jalan.

Grachius menoleh sedikit.

“Untuk dewa.”

Sunyi.

“…kenapa?”

Orang itu tertawa pahit.

“…kau baru di sini.”

Ia menatap ke arah para orang kuil itu.

“Supaya kota ini… tetap ‘dilindungi’.”

Grachius kembali melihat ke depan.

Gadis itu sudah ditarik.

Menangis.

Namun tidak ada yang menolong.

“…dilindungi…”

Kata itu terasa… salah.

Ia mengingat sesuatu.

Tentang para dewa.

Tentang kekuasaan.

Tentang apa yang mereka lakukan.

Namun ini—

lebih buruk.

“…mereka…”

Tangannya mengepal.

“…mengambil manusia…”

Matanya menyipit.

“…untuk memuaskan diri.”

Sunyi.

Sesak.

Namun Grachius tidak bergerak.

Ia berdiri.

Diam.

Mengamati.

Para orang kuil mulai berjalan.

Membawa gadis itu pergi.

Langkah mereka tenang.

Seolah ini hal biasa.

Saat mereka melewati Grachius—

salah satu dari mereka berhenti sejenak.

Seorang pria paruh baya.

Tatapannya tajam.

Ia melirik Grachius.

Sejenak—

ia merasakan sesuatu.

Sesuatu yang… tidak biasa.

Namun—

ia tidak berkata apa-apa.

Tidak menghentikan langkahnya.

Ia hanya berjalan lagi.

Dan rombongan itu pergi.

Meninggalkan Grachius—

yang masih berdiri diam.

Sunyi.

Angin berhembus.

Namun kali ini—

tidak terasa ringan.

Grachius menunduk sedikit.

“…ini juga… mereka.”

Bukan hanya pembunuhan.

Bukan hanya pengkhianatan.

Namun—

kerusakan.

Perlahan.

Dalam.

Ia mengangkat kepalanya.

Tatapannya berbeda.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

“…aku mengerti sekarang.”

Bukan hanya untuk dirinya.

Namun untuk dunia ini.

Dan untuk pertama kalinya—

balas dendamnya…

tidak lagi hanya milik pribadi.

Langkahnya kembali bergerak.

Namun kali ini—

lebih berat.

Dan lebih pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!