Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 20
Fathur berjongkok di samping tubuh ibunya yang masih pingsan di lantai teras. Keheningan sesaat menyelimuti kerumunan itu. Para tetangga menanti ledakan amarah Fathur kepada Rumi, namun yang mereka lihat justru ketenangan yang dingin dari wajah pria itu.
"Ibu... bangun, Bu," bisik Fathur datar. Tidak ada nada panik di suaranya.
Bu Sri tidak bergeming. Ia masih setia pada perannya, sesekali kelopak matanya bergetar hebat—akting yang terlalu dipaksakan bagi siapa pun yang jeli melihatnya.
"Terima kasih Bapak dan Ibu sekalian sudah peduli pada keluarga saya," ujar Fathur dengan suara lantang namun tetap sopan.
"Tapi bisakah kalian pergi, biarkan kamu menyelesaikan masalah keluarga ini. Karena percuma penjelasan saya di mata kalian hanya akan terlihat sebagai pembelaan diri untuk saya dan istri. Saya tak akan mencoba untuk meyakinkan kalian, apalagi kalian orang lain yang tak tahu masalah sebenarnya! Bersikaplah sewajarnya sebagai seorang tetangga, jangan menghakimi siapapun tanpa tahu yang sebenarnya," ucapan Fathur membuat wajah semua orang yang ada di sana memerah.
Dari tadi mereka sibuk menyalahkan Rumi, apalagi dengan akting meraung dan teriakan dari Bu Sri sangat meyakinkan mereka.
"Bu Bangun! Aku tahu ibu tidak pingsan. Atau ibu mau aku balurkan minyak angin panas ini ke seluruh wajah ibu?" bisik Fathur. Bu Sri masih bertahan dengan aktingnya.
Lalu, Fathur mengambil botol air mineral dari motornya. Tanpa ragu, ia mengguyur wajah ibunya dengan air dingin itu sampai kerudung Bu Sri basah kuyup.
"Aduh! Apa-apaan ini! Basah semua! Apa yang kamu lakukan menantu sial-an!"Bu Sri langsung terduduk tegak, memaki-maki Rumi yang sedari tadi masih berdiri di tempatnya. Dia mengomel sambil mengusap wajahnya. Hilang sudah kesan "sekarat" yang ia bangun sejak tadi.
Fathur tertawa getir di depan wajah ibunya. Melihat ibunya ternyata berpura-pura . Bahkan dia masih menyalahkan Rumi dengan hal yang tak di lakukan istrinya.
"Bukan Rumi Bu, tapi aku. Kenapa ibu selalu menyalahkan Rumi atas apa yang tak pernah dia perbuat? Bukankah selama tiga tahun ini dia selalu berusaha untuk menjadi istri yang berbakti? Rumi selalu menuruti keinginan ibu, termasuk beres-beres di rumah ibu hampir setiap hari selam tiga tahun. Tiga tahun Bu, perjuangan Rumi mendapatkan restu dari ibu. Tapi yang istriku dapatkan apa? Hanya kebencian dan juga fit-nah dari ibu. Cukup Bu, selama ini aku selalu diam dan berharap ibu berubah dan menerima Rumi,"
Para tetangga mulai berbisik pedas. Wajah Bu Sri yang tadi memerah seketika berubah menjadi pias.
"Ya ampun, aktingnya niat banget sampai rebahan di ubin."
"Tega banget ya, memutar balikkan fakta, udah tua juga bukannya bertaubat!"
"Malu-maluin keluarga saja, sudah tua kelakuan begitu."
Tetangga di kontrakan Rumi berbalik mengumpat dirinya. Padahal tadi dia sudah senang saat mendengar mereka menyerang Rumi dengan kata-kata kasar. Bu Sri yang menyadari situasi telah berbalik, mencoba berdiri dengan sisa keberanian dan tak tahu malunya.
"Fathur! Kamu tega mempermalukan Ibu di depan orang banyak? Ibu ini yang melahirkan kamu!"
"Dan Rumi adalah orang yang akan melahirkan anak saya, Bu! Orang yang Ibu sebut pembawa sial ini, adalah wanita yang memberikan kebahagiaan untuk Fathur. Dan tolong jangan lagi membawa Dona dalam kehidupan keluarga Fathur. Berhenti berusaha membuat rumah tangga anak ibu han-cur karena ambisi Ibu. Aku tak pernah mau menikah dengan Dona seperti yang ibu mau!"
Wajah Bu Sri berubah pucat pasi. Ia menoleh ke arah tetangga, namun yang ia dapati hanya tatapan jijik dan kesal apalagi mendengar jika Bu Sri sengaja menghadirkan pela-kor untuk rumah tangga anaknya membaut mereka mual dan meninggalkan Bu Sri dengan wajah memelasnya.
"Pulanglah, Bu," ujar Fathur dengan nada rendah yang sangat dalam.
"Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi sebelum Ibu bisa menghargai nyawa cucu Ibu sendiri. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Rumi karena ulah Ibu hari ini, ibu tak kan lagi menemukan Fathur anak ibu saat ini."
Fathur merangkul Rumi yang masih menangis sesenggukan, lalu membimbingnya masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.
Bu Sri berdiri mematung di teras. Pakaiannya basah, kerudungnya berantakan, dan telinganya panas mendengar cemoohan tetangga yang perlahan membubarkan diri sambil tertawa mengejek. Hari itu, bukan Rumi yang terusir, melainkan martabat Bu Sri yang habis tak bersisa di aspal jalanan.
Fathur tidak langsung bicara. Ia menuntun istrinya duduk di sofa kecil mereka, lalu berlutut di hadapan Rumi. Diambilnya kedua tangan sang istri, dikecupnya jemari yang masih gemetar itu dengan penuh perasaan.
"Maafkan aku, Dek," bisik Fathur parau.
"Maaf karena aku terlambat bersikap tegas. Maaf karena membiarkanmu menanggung luka ini sendirian selama tiga tahun."
Rumi mendongak, matanya yang sembab menatap Fathur dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa lega, namun juga kelelahan yang teramat sangat.
"Aku tidak pernah berniat memisahkan Mas dengan Ibu. Aku hanya... aku hanya ingin diterima, Mas."
"Aku tahu, sayang. Aku sangat tahu," Fathur mengusap air mata di pipi Rumi.
"Tapi ada saatnya kebaikanmu bukan lagi dianggap sebagai bakti, melainkan kesempatan bagi orang lain untuk menginjakmu. Ibu sudah keterlaluan. Kali ini, bukan cuma kamu yang dia sakiti, tapi juga anak kita. Aku tak mau kehilangan anak kita untuk yang kedua kalinya,"
Fathur meletakkan telapak tangannya di perut Rumi yang masih rata. Ada kilat protektif di matanya. Kejadian tadi benar-benar menjadi titik balik baginya. Ia sadar, diamnya selama ini justru menjadi "senjata" bagi ibunya untuk terus menindas Rumi.
"Besok kita akan pindah ke rumah dinas Mas," ucap Fathur membuat Rumi mengerutkan keningnya.
"Rumah dinas?" beo Rumi.
Fathur mengeluarkan amplop coklat dari tas kerjanya. Surat pengangkatan dirinya menjadi wakil manager. Dan dia juga mendapatkan fasilitas juga tunjangan lain. Selain gaji yang tentunya jauh lebih besar.
"Mas ini?" Kaget Rumi tak percaya.
"Berkat doa kamu dan juga rezeki bawaan anak kit, Dek!" jawab Fathur memeluk istrinya.
Perasaan campur-campur yang mereka rasakan saat ini. Rumi merasa sangat bahagia, bukan karena suaminya naik jabatan. Namun sikap Fathur yang sudah berubah. Setidaknya suaminya sudah memilih membela dirinya, padahal Rumi sudah berkecil hati dan berniat pergi kalau Fathur masih hanya diam.
Sementara itu, di luar sana, Bu Sri berjalan dengan langkah gontai. Air dingin yang mengguyur tubuhnya kini terasa menusuk hingga ke tulang, namun rasa malu di dadanya jauh lebih membakar. Ia bisa merasakan mata para tetangga mengintip dari balik gorden, membisikkan namanya dengan nada hina.
"Sia-lan!" umpat Bu Sri lirih sambil meremas kerudungnya yang basah kuyup.
"Awas kamu Rumi, kamu sudah mencuci otak anakku sendiri!"
Namun, ancaman itu terasa kosong. Ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fathur benar-benar berbalik melawannya. Ancaman Fathur yang mengatakan jika dia tak akan lagi menjadi anak yang sama membuatnya takut. Apalagi hanya Fathur, anak yang bisa dia kendalikan. Sedangkan dua anak lelakinya yang lain sudah di kendalikan para istrinya.
Malam harinya, ponsel Fathur terus bergetar. Pesan singkat dari Elisa.
"Mas, Ibu nangis-nangis di rumah. Katanya Mas tega mengusir Ibu demi perempuan itu? Kok Mas berubah sih? Apa kamu udah nggak sayang ibu lagi Mas? Jangan jadi anak durhaka dengan membela wanita seperti itu, Mas! Nanti kamu menyesal!"
Fathur membaca pesan itu dengan wajah datar. Ia kemudian beralih ke kontak ibunya. Sebelum mematikan ponsel, ia mengirimkan satu pesan terakhir:
Ibu, istirahatlah. Renungkan semua yang terjadi hari ini. Aku tidak membenci Ibu, tapi aku harus melindungi keluargaku. Tolong jangan hubungi aku atau Rumi sampai Ibu benar-benar sadar bahwa Rumi adalah menantu Ibu, bukan musuh Ibu.
Fathur mengusap lembut kepala istrinya yang baru saja terlelap. Wajah lelah Rumi terlihat dengan jelas. Ada rasa bersalah yang mendalam di dalam diri Fathur. Dan dia ingin menebusnya sebelum terlambat.
lihat selanjutnya ....
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒