Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lucian menatapnya sejenak, lalu melepaskan cengkeramannya dan berbalik.
"Marcus, bawa dia kembali ke selnya. Biarkan dia berpikir!"
Marcus tertawa sinis sebelum menarik Selena dengan kasar. Saat ia diseret keluar dari ruangan, Selena menoleh dan melihat Lucian masih berdiri di sana dan menatapnya dengan ekspresi penuh kemenangan.
"Jangan terlalu lama mengambil keputusan, Selena! Kesabaranku ada batasnya," katanya santai.
Pintu besi besar menutup di belakangnya dan Selena akhirnya menyadari bahwa ia benar-benar dalam bahaya yang lebih besar dari yang ia bayangkan.
Marcus menyeret Selena kembali ke lorong gelap dan tangannya mencengkeram pergelangan Selena begitu kuat hingga hampir mematahkan tulangnya.
"Berhenti menarikku seperti ini!" Selena meronta dan mencoba melepaskan diri, tetapi sia-sia.
Marcus hanya terkekeh. "Lucian benar-benar tertarik padamu. Aku penasaran, apa yang membuatmu begitu spesial?"
Selena menggigit bibirnya. Ia sendiri tidak tahu. Ia hanya seorang manusia biasa, bukan? Suara langkah mereka menggema di sepanjang lorong. Setiap kali mereka melewati tikungan, Selena mencoba menghafalkan jalan keluar, jika ada kesempatan, ia harus melarikan diri.
Namun, harapan itu pupus ketika mereka tiba di depan sebuah pintu baja yang lebih besar dari sel sebelumnya. Marcus membukanya dan mendorong Selena masuk dengan kasar.
Selena tersandung, lalu jatuh ke lantai batu yang dingin. Ia mendongak dengan napas tersengal dan matanya melebar. Ini bukan sel biasa. Ruangan ini luas, tetapi bukan untuk menahan tahanan biasa.
Di tengahnya, ada simbol aneh yang diukir di lantai. Lambang-lambang berwarna merah tua entah tinta atau darah yang membentuk pola melingkar yang tampak seperti mantra kuno. Udara di dalam ruangan terasa berbeda dingin dan berat. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kenapa aku dibawa ke sini?" Selena bertanya dan suaranya penuh kewaspadaan.
Marcus hanya menatapnya dengan seringai puas. "Lucian tidak hanya ingin bicara, manusia kecil. Dia ingin mengujimu."
Sebelum Selena bisa bertanya lebih lanjut, Marcus berbalik dan menutup pintu dengan suara berdebum keras.
Selena berlari ke pintu dan mencoba menariknya, tetapi tentu saja, pintu itu terkunci rapat.
Ia mengutuk dalam hati. Napasnya memburu saat ia berbalik dan menatap simbol di lantai. Ada sesuatu yang tidak beres dan semakin lama ia berada di ruangan ini semakin kuat perasaan itu menghantamnya.
Tidak lama kemudian dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki mendekat lagi. Langkah itu bukan milik Marcus, langkah ini lebih lambat, lebih tenang, dan lebih mengancam.
Pintu terbuka dan Lucian masuk dengan tatapan yang sulit diartikan. Selena mundur secara naluriah.
"Tidak perlu takut. Aku berubah pikiran dan hanya ingin melihat sesuatu," katanya, suaranya begitu halus seolah mencoba menenangkannya.
Ia berjalan mendekati lingkaran simbol itu, lalu menatap Selena.
"Masuklah ke dalam!"
Selena menggeleng. "Tidak mungkin."
Senyuman Lucian memudar. Ia menghela napas pelan, lalu menatapnya dengan pandangan yang membuat jantung Selena mencelos.
"Itu bukan permintaan, Selena."
Sebelum Selena bisa bereaksi, tubuhnya terasa panas dan terbakar dari dalam. Ia menjerit dan jatuh berlutut saat rasa sakit menusuk dadanya.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" Ia tersengal dan tubuhnya mulai gemetar.
Lucian hanya menatapnya dengan dingin. "Aku hanya membantumu menemukan jawaban."
Rasa sakit semakin menjadi-jadi. Nafas Selena tersenggal dan matanya melebar saat ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam tubuhnya. Seolah-olah ada sesuatu yang terbangun dan saat ia akhirnya menatap Lucian dengan ketakutan, pria itu hanya tersenyum puas.
"Kita lihat siapa kamu sebenarnya."
Rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuh Selena dan menusuk hingga ke tulangnya. Nafasnya pendek dan terputus-putus seolah paru-parunya tiba-tiba menolak bekerja.
Ia berusaha berdiri, tetapi lututnya melemas. Dadanya terasa sesak dan detak jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging.
Lucian tetap berdiri di depan lingkaran simbol itu dan menatapnya dengan ekspresi penuh minat.
"Rasakan itu, Selena? Darahmu merespons," katanya dengan suara rendah.
Selena mencengkram dadanya dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
"Aku tidak mengerti," suaranya bergetar.
Lucian melangkah lebih dekat dan auranya begitu kuat hingga udara di sekelilingnya bergetar.
"Kamu bukan manusia biasa. Aku bisa mencium baunya sejak pertama kali aku melihatmu. Ada sesuatu dalam dirimu, sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki manusia," bisiknya dan matanya berkilat dengan cahaya keemasan.
Selena menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya ...."
"Apa kamu pernah bertanya-tanya mengapa Joan begitu melindungimu?" Lucian memotong. "Mengapa kamu bisa merasakan kehadiran para manusia serigala lebih kuat dibanding manusia lain? Mengapa tubuhmu tidak bereaksi seperti manusia biasa saat berada di antara kami?"
Selena membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ia ingin menyangkalnya, tetapi jauh di dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang selalu terasa salah. Dari kecil, ia bisa merasakan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Ia bisa mendengar langkah kaki dari kejauhan dan merasakan tatapan seseorang meski tidak ada orang di sekitarnya. Dan sekarang, tubuhnya bereaksi terhadap sesuatu yang bahkan ia tidak pahami.
Lucian tersenyum tipis seolah bisa membaca pikirannya.
"Ini bukan kebetulan. Darahmu adalah kunci dari sesuatu yang lebih besar," katanya, suaranya hampir seperti bisikan menggoda.
Tiba-tiba rasa sakit di tubuh Selena mencapai puncaknya. Ia berteriak.
Dada dan lengannya terasa terbakar seolah sesuatu mencoba keluar dari dalam dirinya. Kulitnya berdenyut-denyut, dan dalam sekejap matanya berubah.
Bayangannya di lantai mencerminkan cahaya keemasan yang menyala dalam pupilnya, warna yang sama seperti milik Lucian.
Selena tersentak. "Tidak mungkin."
Lucian menyeringai puas.
"Kamu bukan manusia biasa, Selena. Kamu adalah salah satu dari kami."
Selena terengah dan tubuhnya masih gemetar, tetapi bukan karena ketakutan melainkan karena kebenaran yang menghantamnya seperti gelombang pasang.
Ia bukan manusia biasa dan bukan hanya seorang gadis biasa yang terseret ke dalam dunia para manusia serigala. Selama ini, ia telah menjadi bagian dari dunia itu dan entah bagaimana, Lucian mengetahuinya sebelum ia sendiri menyadarinya.
Selena tersungkur ke lantai dan dadanya naik-turun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya masih berdenyut dengan panas aneh yang belum sepenuhnya menghilang.
Matanya menatap ke lantai batu di bawahnya di mana pantulan cahaya keemasan dari matanya sendiri masih terpancar.
"Aku bukan manusia serigala," gumamnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Lucian mendekat dan suaranya dalam dan tenang. "Kamu bukan manusia, Selena."
Kata-katanya menggema di telinga Selena seperti mantra kutukan. Ia ingin menyangkalnya dan ingin mengatakan bahwa Lucian berbohong, tetapi tubuhnya berkata sebaliknya.
Selama ini, ia memang selalu merasa berbeda. Telinganya lebih tajam dari manusia biasa. Nalurinya lebih kuat dan sekarang matanya memantulkan warna yang bukan miliknya.
Lucian berlutut di hadapannya, lalu mengangkat dagunya dengan satu jari agar ia menatap langsung ke dalam matanya.
"Kamu mungkin tidak ingin mempercayainya, tetapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Darahmu telah bereaksi terhadap lingkaran ini. Itu bukan kebetulan," bisiknya.