NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GSS

Ella menjelaskan apa yang ia ketahui. Prosedur penggeledahan rumah dalam kasus korupsi di Indonesia diatur cukup ketat, harus ada surat izin penggeledahan. Pemilik rumah juga harus ditemani RT/RW.

"Ya ampun Mbak Ella, kamu tidak tahu yang namanya kondisi mendesak ya? Kamu itu baru lulus SMA, kan? Tentu tidak paham bagaimana cara kerja penegak hukum." pak Polisi geleng-geleng kepala. "Sudah, lebih baik patuh saja. Ikut apa kata ibu tiri kamu!"

"Tidak. Aku nggak akan meninggalkan rumah ini. Aku mau di sini terus sebab ini bukan rumah Ayah. Ini rumah Ibu yang diberikan untukku. Jadi aku berhak mempertahankan. Kalau bapak tetap ingin menggeledah, mana surat izinnya? Sudah laporan pada RT di sini?" Ella bersikukuh, ia tidak mengizinkan siapapun mengacak-acak rumah peninggalan ibunya.

Entah karena enggan pindah, Sisil yang semula agak berlawanan dengan Ella sekarang berdiri di samping saudara tirinya itu. Ia mendukung keputusan Ella untuk tetap tinggal di rumah ini.

Setelah beberapa saat berdiskusi dengan Bu Vero, polisi yang datang itu akhirnya menyampaikan keputusan mereka dengan nada yang tidak membuka banyak ruang untuk ditawar.

Mereka tetap akan melakukan penggeledahan, namun kali ini dengan satu penyesuaian, Ella diminta untuk mendampingi sebagai perwakilan dari pemilik rumah.

Kalimat itu terdengar seperti bentuk kompromi, tapi cara mereka menyampaikannya lebih terasa seperti keputusan yang sudah bulat sejak awal.

Ella sempat ingin mengajukan keberatan, setidaknya meminta kehadiran pihak lingkungan seperti RT atau RW agar prosesnya lebih resmi dan transparan, sesuatu yang ia tahu seharusnya menjadi prosedur wajar. Namun kata-kata itu hanya berhenti di ujung pikirannya. Ia melihat cara kedua polisi itu saling bertukar pandang singkat, melihat gestur mereka yang serba cepat, nada bicara yang semakin ringkas, semuanya memberi satu kesan yang sama kalau mereka terburu-buru. Bukan sekadar menjalankan prosedur, tapi seperti mengejar sesuatu. Dan Ella tahu, dalam situasi seperti ini, permintaannya kemungkinan besar hanya akan diabaikan atau dipersulit. Jadi ia menelan niatnya sendiri, mengangguk pelan, dan memilih untuk tetap berada di dalam rumah, mengawasi langsung setiap langkah mereka. Jika ada sesuatu yang benar-benar mereka cari, sesuatu yang mungkin berkaitan dengan pesan terakhir ayahnya, maka ia tidak akan membiarkan benda itu ditemukan tanpa ia tahu.

Proses penggeledahan berlangsung lebih lama dari yang Ella bayangkan. Setiap sudut rumah diperiksa dengan teliti. Laci dibuka satu per satu, map-map dokumen dibalik, lemari disisir tanpa terlewat. Bahkan ruang-ruang yang jarang digunakan pun tidak luput dari perhatian. Namun semakin lama berlangsung, semakin jelas satu hal yang tidak bisa diabaikan: tidak ada yang mereka cari. Tidak ada tumpukan uang mencurigakan, tidak ada dokumen rahasia, tidak ada barang mewah yang tidak seharusnya dimiliki. Semua terlihat biasa. Terlalu biasa, bahkan.

Uang yang ditemukan di rumah hanya sejumlah wajar, disimpan seadanya, tidak lebih dari kebutuhan harian. Data rekening yang sempat disebutkan pun, sejauh yang disinggung polisi, tidak menunjukkan sesuatu yang ganjil, jumlahnya sesuai dengan gaji seorang pejabat, tanpa lonjakan mencurigakan. Fakta itu seharusnya cukup untuk meredakan kecurigaan, tapi justru tidak.

Polisi itu tidak berhenti. Sebaliknya, ia terlihat semakin ingin menemukan sesuatu.

Beberapa kali ia kembali ke ruang yang sama, membuka ulang laci yang sebelumnya sudah diperiksa, memperhatikan detail yang bahkan Ella sendiri tidak pernah pikirkan sebelumnya. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ketidakpuasan yang jelas.

“Apa ada tempat lain?” tanyanya tiba-tiba, menoleh ke arah Ella yang sejak tadi berdiri mengawasi.

Ella mengerutkan kening. “Tempat lain?”

“Rumah lain, gudang, atau mungkin tempat penyimpanan di luar,” lanjutnya. “Ayah Anda pernah menyebut sesuatu seperti itu?”

Ella menggeleng pelan. “Tidak ada.”

Polisi itu menatapnya sejenak, seperti mencoba memastikan. “Coba dipikir lagi,” katanya, kali ini sedikit lebih menekan. “Kadang ada hal-hal yang dianggap sepele, tapi justru penting.”

Ella tetap diam sejenak, memaksa dirinya terlihat berpikir, meski dalam benaknya hanya satu hal yang terus berputar. Sepatu kaca. Benda kecil yang kini tersembunyi di saku bajunya terasa semakin berat.

Ia tahu polisi itu bukan mencari uang. Bukan dokumen biasa. Mereka mencari sesuatu yang lebih spesifik. Sesuatu yang belum mereka temukan. Dan selama mereka belum menemukannya mereka tidak akan berhenti.

“Tidak ada,” ulang Ella akhirnya, lebih tegas.

Hening sejenak mengisi ruangan. Polisi itu mengangguk pelan, tapi jelas belum sepenuhnya percaya. Ia menoleh ke rekannya, lalu kembali menyapu ruangan dengan pandangan tajam, seolah jawaban itu belum cukup. Dan di tengah ketegangan itu, Ella mulai menyadari sesuatu yang lebih mengganggu, jika semua tuduhan itu benar-benar tentang korupsi, maka yang mereka cari seharusnya sudah jelas.

Uang. Dokumen. Aliran dana. Tapi ini terasa berbeda. Terlalu spesifik. Terlalu terarah. Seolah mereka tahu ada sesuatu yang sangat penting tapi tidak tahu di mana menemukannya. Dan itu berarti apa pun yang ada di dalam saku Ella sekarang, mungkin jauh lebih berharga dari yang ia bayangkan.

Ketegangan di dalam rumah itu tidak juga mereda, justru semakin menebal seiring waktu berjalan. Polisi belum menemukan apa pun, tapi sikap mereka tidak berubah, tetap fokus, tetap mencari, seolah yakin bahwa sesuatu memang ada di sini. Dan kini, tekanan itu tidak hanya datang dari mereka.

“Ella, coba kamu ingat lagi,” suara Bu Vero terdengar, kali ini lebih mendesak dari sebelumnya.

Ella menoleh.

Perempuan itu tidak lagi duduk tenang seperti tadi. Ia berdiri, langkahnya mendekat, wajahnya tampak lebih tegang, lebih terlibat dari yang seharusnya. “Ayahmu pasti pernah menyimpan sesuatu. Barang penting. Dokumen, atau apa pun,” lanjutnya, nadanya semakin menekan. “Kamu anaknya. Tidak mungkin kamu tidak tahu.”

Ada sesuatu dalam cara ia berbicara yang membuat Ella merasa tidak nyaman. Bukan sekadar khawatir. Tapi seperti mendesak. Memaksa. Seolah ia benar-benar butuh jawaban itu.

Ella mengerutkan kening, menahan rasa jengkel yang mulai muncul. “Aku sudah bilang, nggak ada,” jawabnya, berusaha tetap tenang.

“Coba ingat lagi,” potong Bu Vero cepat. “Ini penting.”

“Penting buat siapa?” balas Ella, nada suaranya mulai berubah.

Hening sejenak. Semua mata kembali tertuju pada mereka. Polisi yang sejak tadi memperhatikan kini ikut diam, seolah sengaja memberi ruang.

Ella menatap langsung ke arah Bu Vero. Lebih tajam. Lebih berani. “Dari tadi semua orang nanya hal yang sama,” lanjutnya pelan, tapi jelas. “Seolah-olah ada sesuatu yang harus aku tahu.” Ia berhenti sebentar. Lalu bertanya, “Apa sih sebenarnya yang kalian cari?” kini giliran Ella yang mendesak mereka. Sebenarnya ini cara Ella agar ia bisa lepas.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!