NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

"Ah... ah... aku... aku sibuk kerja jadi lupa..."jawabnya terbata-bata.

"Lupa?! Alasannya payah!" seru Huo Feilin tak terima. "Cepat pikirkan sekarang! Kita harus merayakan ini dengan besar-besaran! Xin Yi tidak boleh merasa diabaikan lagi!"

Xin Yuning segera mengangkat tangan menolak keras usul ibunya.

"Tidak bisa, Bu! Jangan berpikir untuk mengadakan pesta besar atau mengundang banyak orang!" serunya tegas.

"Kondisi Xin Yi baru saja membaik secara mental dan fisik. Dia belum siap menghadapi sorotan publik atau perayaan yang terlalu heboh. Lagipula identitasnya sebagai putri keluarga Xin masih sensitif; kalau kita pamerkan ulang tahunnya sekarang, nanti malah muncul gosip-gosip aneh yang membuat dia stres lagi. Ingat kejadian sebelumnya kan?"

Huo Feilin menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia sadar anaknya benar. Terlalu ramai justru bisa berbahaya bagi kesehatan gadis itu.

"Baiklah... kita lakukan secara pribadi dan hangat saja di dalam keluarga," putus Huo Feilin.

Xin Fuyang hanya bisa menunduk lesu. Ia benar-benar merasa dirinya adalah ayah yang kurang baik di dunia. Baru saja putrinya sembuh, ia hampir membuat kesalahan besar lagi karena kelalaiannya sendiri.

Malam itu Xin Yi tidur sangat nyenyak dan panjang. Tubuhnya memulihkan energi sepenuhnya.

Keesokan paginya, seperti biasa gadis itu bangun sendiri saat fajar menyingsing. Ia mengenakan pakaian olahraga dan siap untuk lari pagi rutinnya.

Namun saat ia membuka pintu kamarnya dan turun ke bawah, ia sedikit terkejut.

Di ruang tamu, Xin Fuyang sudah bangun! Padahal biasanya pria itu baru bangun jam 7 atau 8 pagi. Hari ini ia sudah rapi, duduk dengan wajah yang berusaha terlihat santai namun sedikit kaku.

"Pagi, Ayah," sapanya sopan.

"Pagi, Yi Yi. Mau lari pagi?" tanya Ayahnya.

Xin Yi mengangguk, lalu berjalan ke depan pintu untuk memakai sepatu lari nya.

Tiba-tiba Xin Fuyang berbicara dengan nada yang sengaja dibuat ceria.

"Yi Yi... lusa kita akan pergi liburan keluarga ke pantai. Udara laut bagus untuk kesehatanmu. Ayah sudah siapkan semuanya—villa dan perjalanannya. Kita pergi bersama-sama ya?"

Xin Yi berhenti mengikat tali sepatunya. Ia terdiam sejenak.

Liburan ke pantai... lusa...?

Gadis itu langsung tersadar. Pasti ini ulah Xin Yuning!

Pasti kakaknya sudah memarahi Ayah dan Ibu soal tanggal ulang tahunnya, dan sekarang mereka sibuk mencari alasan untuk merayakannya secara diam-diam dengan dalih "liburan".

Meskipun caranya sedikit kaku dan canggung, tapi niat baik itu terasa jelas.

Xin Yi tidak membongkar kebohongan manis itu. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis.

"Baiklah. Ayo pergi," jawabnya lembut.

Setelah selesai memakai sepatu, ia membuka pintu dan berlari keluar menyambut udara pagi yang segar, dengan hati yang terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.

Perjalanan menuju bandara berjalan lancar. Xin Yi duduk di sebelah Xin Yuning di dalam pesawat, menikmati pemandangan awan dari jendela.

Ternyata, ini bukan hanya liburan keluarga semata. Saat masuk ke gerbang khusus, mereka bertemu lagi dengan Quan Yubin, Zhao Yun, dan Rong Yuan.

Ternyata mereka semua sudah sepakat untuk ikut serta! Rencananya mereka akan menginap bersama di vila mewah milik keluarga Xin yang terletak di kawasan pantai eksklusif.

Sesampainya di bandara kota tujuan, udara yang hangat dan berhembus segar langsung menyambut. Namun, karena perjalanan cukup melelahkan dan Xin Yi baru saja sembuh, ia mulai mengantuk berat.

Tanpa pikir panjang, Xin Yuning langsung membungkuk dan memangku tubuh adiknya yang mungil dengan mudah.

Gadis itu pun langsung memeluk leher kakaknya dan memejamkan mata, bersandar nyaman di pundak kakaknya.

Pemandangan Tuan Muda Xin yang gagah dan keren menggendong adiknya dengan penuh kasih sayang itu membuat Zhao Yun dan yang lainnya tersenyum geli sekaligus terharu di belakang.

Mereka menggunakan tiga mobil mewah yang sudah menunggu untuk berangkat menuju area vila.

Sesampainya di vila yang luas dan indah, Xin Yi langsung diantar ke kamar tidurnya yang sudah disiapkan khusus dengan sangat nyaman dan tenang. Xin Yuning membaringkannya pelan dan membiarkannya tidur sepuasnya tanpa diganggu.

Di rumah utama, Nenek dan Kakek Xin memang tidak ikut. Usia mereka sudah terlalu tua untuk perjalanan jauh dan perubahan cuaca, jadi mereka memilih tinggal di rumah dengan tenang ditemani pelayan.

Sementara itu:

- Huo Feilin turun ke dapur untuk memastikan stok makanan dan bahan-bahan segar sudah tersedia lengkap, khawatir kalau-kalau putrinya bangun dan lapar di tengah malam.

- Xin Fuyang sedang berbicara serius dengan tim keamanan, memastikan area vila ini benar-benar tertutup, aman, dan tidak ada orang luar yang bisa mengganggu privasi keluarga mereka.

Di lantai dua, kamar-kamar tamu sudah disiapkan. Xin Yuning dan ketiga temannya memiliki kamar masing-masing, namun mereka memilih berkumpul di kamar Xin Yuning untuk mengobrol santai sambil menunggu malam tiba.

Mereka duduk melingkar di karpet tebal atau bersandar di sofa.

Quan Yubin yang duduk di posisi utama tampak paling dewasa. Usianya kini menginjak 25 tahun, membuatnya menjadi yang tertua dan paling bijaksana di antara kelompok teman-teman ini.

Di bawahnya ada Zhao Yun dan Rong Yuan yang sama-sama berusia 22 tahun, masih penuh semangat dan suka bercanda.

Dan yang paling muda adalah Xin Yuning sendiri, yang meskipun masih muda tapi statusnya sebagai "tuan rumah" dan kakak membuatnya tampak sangat bertanggung jawab hari ini.

"Jadi rencananya besok gimana?" tanya Rong Yuan sambil membuka kaleng minuman. "Mancing? Atau bermain air?"

Xin Yuning tersenyum. "Kalian bisa melakukan apapun besok. Yang penting hari ini kita pastikan adikku harus tidur nyenyak dulu. Besok adalah hari spesialnya..."

Xin Yi terbangun saat matahari sudah mulai terbenam. Udara di Kota M memang sangat panas dan lembap, membuat tubuhnya yang baru sembuh sedikit berkeringat. Ia segera mandi segar, menyegarkan tubuhnya sebelum turun ke bawah.

Di halaman belakang yang terbuka dekat dapur, suasana sangat hangat dan meriah. Semua orang sedang menikmati pesta barbeque sederhana.

Bahkan Xin Fuyang dan Huo Feilin tampak sangat santai, duduk bersandar sambil menyeruput minuman dingin. Sudah sangat lama mereka tidak merasa sebebas dan senyaman ini, jauh dari tekanan pekerjaan dan urusan rumit.

Orang pertama yang menyadari kedatangan Xin Yi adalah Quan Yubin.

Pria itu sedang memanggang daging, lalu ia mengangkat tangan dan melambai pelan ke arah gadis itu.

"Yi Yi sudah bangun? Kemarilah..."

Xin Yi berjalan mendekat. Penampilannya hari ini sangat santai dan imut. Ia hanya mengenakan kaos putih polos yang agak longgar, celana kain hitam, dan sepasang sandal rumah berbentuk kepala kelinci yang lucu.

Belum sempat ia duduk, Zhao Yun sudah sigap mengambilkan tusukan daging panggang yang baru matang, berasap dan harum, lalu menyerahkannya langsung ke tangan gadis itu.

"Nah, ini yang paling enak! Coba makan selagi hangat!"

"Terima kasih, Kak Zhao," ucap Xin Yi dengan sopan, namun matanya jelas lebih hidup.

Tak mau kalah, Rong Yuan segera mengambil gelas dan menuangkan jus persik dingin penuh es batu untuknya, lalu meletakkannya tepat di hadapan tangan gadis itu.

Melihat ketiga temannya begitu antusias dan cepat melayani adiknya, Xin Yuning yang duduk di ujung meja mendengus pelan.

Wajahnya sedikit cemberut dan terlihat tidak puas, seolah berkata 'itu adikku, kenapa kalian yang layani?!'

Xin Yi yang sedang mengunyah daging dengan lahap, menyempatkan diri melirik ke arah kakaknya.

Pria ini... sungguh kekanak-kanakan. batinnya. Tapi anehnya, sikap manja dan posesif kakaknya itu justru membuatnya merasa disayang.

Tanpa berkata apa-apa, Xin Yi mengambil potongan daging di tusukannya yang belum sempat digigitnya, lalu mengarahkannya tepat ke depan mulut Xin Yuning.

"Ah..." perintahnya pelan dengan tatapan datar namun penuh kasih sayang.

"......"

Wajah Xin Yuning yang tadinya cemberut langsung berubah cerah seketika. Mulutnya terbuka lebar dengan senyum lebar, menerima suapan dari adiknya dengan bahagia luar biasa.

Zhao Yun dan Rong Yuan di sebelah mereka hanya bisa saling tatap dan menahan tawa.

Gila, cuma disuapin saja bisa senengnya setengah mati. Dasar kakak yang suka memperlihatkan kasih sayang.

Malam semakin larut, suasana yang tadinya riuh perlahan menjadi lebih tenang.

Xin Fuyang mengulurkan tangannya, memegang bahu istrinya dan membantunya berdiri. Wajah mereka terlihat rileks namun kantuk mulai menyerang.

"Kami naik ke kamar dulu untuk istirahat," ucap Ayah itu sambil menguap pelan. Ia menoleh ke arah putranya, "Yuning, kalian juga jangan begadang terlalu malam. Jangan biarkan adikmu tidur larut malam, ingat kondisinya masih pemulihan."

"Siap, Ayah. Mengerti," jawab Xin Yuning cepat.

Pasangan suami istri itu pun berjalan masuk meninggalkan halaman belakang, menyisakan keempat anak muda itu di sana.

Xin Yi duduk bersila di kursi santai yang empuk. Di pangkuannya terdapat mangkuk kristal berisi stroberi segar berukuran besar yang baru saja diambilkan oleh kakaknya.

Satu per satu buah merah itu ia masukkan ke mulutnya, menikmati rasa manis dan asam yang segar, sementara matanya menatap layar ponselnya membaca pesan-pesan ucapan selamat yang mulai masuk dari Nenek dan yang lainnya.

Zhao Yun dan Rong Yuan sudah tidak sanggup lagi. Kedua pemuda itu tampak memerah karena minum terlalu banyak, langkah mereka sudah sempoyongan.

"Aduh... kepalaku pusing. Aku mau tidur dulu..." gumam Zhao Yun sambil tertawa cengengesan, diikuti oleh Rong Yuan yang juga mengangguk setuju.

Mereka berdua pun berjalan tertatih-tatih menuju kamar masing-masing.

Kini, hanya tersisa tiga orang di sana.

Xin Yuning dan Quan Yubin masih duduk berbincang santai, membahas beberapa hal ringan tentang bisnis dan sekolah, suara mereka rendah dan tenang agar tidak mengganggu suasana.

Xin Yi meletakkan ponselnya. Ia mendongak, menatap langit malam di atas kepalanya.

Bulan tampak sangat bulat dan bersinar terang, menerangi gelapnya malam dengan cahaya yang lembut. Angin laut berhembus pelan menyapu wajahnya.

Dalam hati, gadis itu tersadar.

Hari ini... tepat hari ini.

Dia sudah genap berusia 18 tahun.

Dia sudah resmi menjadi orang dewasa.

Perjalanan hidupnya yang penuh liku, dari desa yang keras hingga kini berada di lingkungan mewah dan penuh kasih sayang ini, akhirnya membawanya sampai di titik ini. Mata bulat itu menatap bintang dengan perasaan yang damai dan penuh harapan.

Selamat ulang tahun, Xin Yi. Selamat menuju babak baru sebagai wanita dewasa.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!