NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Inhumane Gen

Sol sepatunya menempel pada ubin beton yang lengket. Bau itu menampar wajahnya tanpa peringatan.

Bukan sekadar bau karat darah yang ia cium di gang buntu tadi. Ini lebih pekat. Lebih busuk.

Bangunan tua itu berdiri bisu di ujung terdalam distrik Utara. Fasad luarnya hancur seperti pabrik tekstil yang sudah mati belasan tahun lalu.

Tapi bau yang menguar dari balik pintu besinya bercerita lain.

Bau formalin murahan. Bau obat bius kadaluarsa. Bau daging yang dibakar paksa.

Ia mendorong pintu berat itu. Engsel berkaratnya menjerit pelan, memecah kesunyian malam yang meludah turun dari langit.

Lorong di depannya gelap gulita. Hanya ada satu sumber cahaya dari celah pintu di ujung lorong yang terbuka setengah.

Ia melangkah maju. Kakinya terasa seperti terbuat dari beton cor.

Ruangan di balik pintu itu lebih mirip neraka buatan manusia.

Lampu pijar kuning berkedip sakit di langit-langit. Mengirimkan bayangan panjang yang menari acak di dinding basah.

Beberapa meja operasi berkarat berjajar tak beraturan. Di atasnya, potongan manusia tergeletak begitu saja.

Ada lengan yang kulitnya dikelupas habis hingga menyisakan otot merah mentah. Ada dada yang dibiarkan terbuka, memamerkan tulang rusuk yang patah berantakan.

Semuanya dimutilasi. Semuanya dijadikan mainan daging yang tidak ada harganya.

Lalu matanya menangkap satu benda mati di sudut ruangan. Benda yang membuat lambungnya seolah diremas tangan kasat mata.

Sebuah sepatu bot karet hitam.

Sepatu bot itu basah oleh genangan cairan merah gelap. Persis seperti bentuk sepatu yang berhenti di depan wajahnya saat ia meringkuk di bawah meja makan belasan tahun lalu.

Sepatu itu. Sepatu itu. Sepatu keparat itu.

Napasnya tersangkut di kerongkongan. Dadanya dihantam memori malam hujan yang mencabut nyawa ibunya.

Ingatan tentang suara serak yang menyuruhnya hidup kembali berdenging tajam di telinganya.

Ia memaksa kepalanya menoleh ke tengah ruangan. Ke arah sumber isakan kecil yang nyaris tak terdengar.

Di sana, diikat paksa pada kursi besi tebal.

Adiknya.

Wajah anak laki-laki itu hancur berantakan. Separuh rahangnya terkoyak seolah dikunyah hewan buas. Lengan kirinya dipotong sebatas siku, menyisakan tunggul daging yang berdenyut brutal.

Tapi anak itu tidak mati.

Tunggul lengan itu mengeluarkan suara basah. Suara daging yang tumbuh paksa.

Serat-serat otot merayap keluar secara tidak masuk akal. Menjahit diri mereka sendiri dengan kecepatan yang membuat perut mual.

Adiknya menangis. Air matanya bercampur darah kental yang mengalir dari celah pelipis yang sobek.

Rasa sakit dari regenerasi paksa itu pasti jauh lebih gila daripada kematian itu sendiri.

Ia berdiri membeku di ambang pintu. Otaknya menolak memproses pemandangan absurd ini.

Dinding realitasnya runtuh berkeping-keping.

Seseorang terkekeh dari balik bayangan sudut ruangan.

Seorang pria kurus dengan jas putih kotor melangkah maju. Tiga pria berbadan besar dengan senapan mesin laras panjang mengikutinya rapat dari belakang.

"Kau akhirnya datang menemui kami."

Pria kurus itu mengetuk layar tablet di tangannya. Ia sama sekali tidak melihat ke arah wanita itu. Matanya sibuk memandangi barisan data.

"Regenerasi yang luar biasa," gumam pria itu pelan. "Sama persis seperti spesimen pertama kita. Sangat memuaskan."

Ia tidak menjawab. Bibirnya terkunci rapat hingga sobek berdara.

"Tiga belas tahun kami menunggu tubuh kalian matang," suara pria jas putih itu mengalun datar, tanpa emosi.

Kalimat itu menembus dadanya.

"Malam itu, di bawah meja makan, kami sengaja membiarkan kalian bernapas."

Biarkan kedua anak itu hidup.

Kalimat itu. Kalimat yang memakan masa kecilnya hidup-hidup. Mereka tidak pernah berbelas kasihan. Mereka sedang menanam bibit unggul.

"Keluarga kalian diberkati gen yang indah. Gen abnormal. Fisik yang menolak untuk membusuk," pria itu menunjuk santai ke arah adiknya yang terus merintih.

"Ayah kalian sudah membuktikannya lebih dulu."

Dunia di sekeliling wanita itu berhenti berputar sepenuhnya. Oksigen lenyap dari ruangan.

"Dia menjadi sumber genetik kami bertahun-tahun. Eksperimen hidup yang tidak pernah habis dipanen dagingnya."

Ayahnya tidak hilang. Ayahnya tidak lari meninggalkan mereka.

Ayahnya dipotong. Dipanen. Terus-menerus. Selama belasan tahun.

"Sekarang, aset yang sudah matang harus kembali ke laboratorium," pria itu memberi isyarat malas pada para algojonya. "Tangkap betina itu. Potong kedua kakinya jika dia mencoba melawan."

Satu detik berlalu. Dua detik berlalu.

Kewarasan yang ia pelihara bertahun-tahun sebagai pegawai kantoran mendadak hancur berantakan.

Normal. Normal. Normal.

Kata itu menguap dari tengkoraknya. Tergantikan oleh insting predator yang selama ini ia kunci di dasar jiwanya.

Seorang algojo maju dengan langkah berat. Ia mengangkat popor senapan baja ke arah wajah wanita itu.

Ia tidak menghindar sedikit pun.

Ia membiarkan popor baja itu menghantam pipinya dengan telak. Suara tulang retak bergema di ruangan pengap itu.

Tulang rahangnya bergeser keras. Darah menyembur kasar dari sela-sela giginya.

Tapi sedetik kemudian, terdengar bunyi gemeretak panjang.

Tulang rahangnya melintir kembali ke posisi semula. Lebam biru di kulit pipinya memudar dan hilang dalam sekali tarikan napas.

Algojo itu menganga. Matanya terbuka lebar menatap keanehan absolut di depannya.

Tangan wanita itu bergerak. Terlalu cepat untuk diikuti penglihatan manusia normal.

Ia mencengkeram leher algojo itu dengan tangan kosong. Jari-jarinya menancap dalam ke daging leher yang tebal.

Ia meremukkan tulang rawan di baliknya dengan satu tekanan brutal.

Terdengar suara patahan basah. Tubuh besar itu ambruk ke lantai beton seperti tumpukan daging mati.

"Tembak dia!" pria berjas putih itu menjerit panik. Nadanya bergetar hebat kehilangan kendali.

Peluru menyalak serentak. Ruangan itu seketika berubah menjadi orkestra mesiu yang memekakkan.

Peluru kaliber besar menembus bahunya. Merobek pahanya. Melubangi perutnya hingga tembus ke belakang.

Tapi ia tidak mundur satu langkah pun.

Luka-luka di tubuhnya berasap tipis. Dagingnya bereaksi buas, menjahit lubang peluru bahkan sebelum timah panas itu sempat jatuh ke lantai.

Ia adalah monster. Ia membiarkan dirinya menjadi monster seutuhnya malam ini.

Satu algojo ia lempar ke dinding beton hingga tulang rusuknya hancur berserakan.

Algojo terakhir ia patahkan lengan kanannya. Tulang putih mencuat keluar merobek kulit pria malang itu sebelum ia menghancurkan kepalanya ke sisi meja operasi.

Ia merobek ruangan itu. Membantai mereka dengan kekuatan yang menyalahi hukum alam.

Darah membanjiri lantai, menenggelamkan sisa-sisa kewarasannya yang menjerit-jerit meminta dilepaskan.

Pria berjas putih itu merangkak mundur mendekati pintu. Mulutnya terbuka menahan ngeri yang pekat.

Ia menginjak dada pria itu tanpa ampun. Menginjaknya kuat-kuat hingga terdengar suara paru-paru yang pecah dihantam tulang iga.

Tawanya hampir meledak keluar. Tawa histeris dari rongga dada yang menolak untuk mati.

Kegilaan nyaris mengambil alih otaknya. Ia ingin mencabik semua yang bernapas di gedung keparat ini.

Lalu, sebuah erangan lemah menyela kegilaan tersebut.

Erangan parau dari kursi besi di tengah ruangan.

Adiknya.

Ia tersentak keras. Insting membunuhnya surut seketika seperti ombak yang ditarik gravitasi bulan.

Ia berlari ke arah kursi besi itu. Menarik paksa sabuk pengikat dari bahan kulit tebal hingga telapak tangannya sendiri terkelupas merah.

Tubuh adiknya hancur lebur. Mesin regenerasi di dalam jaringan anak itu masih bekerja sangat keras, tapi napasnya sangat dangkal.

Anak itu tetap berada di batas tipis kematian. Organ dalamnya gagal mengimbangi laju kerusakan.

Ia mengangkat tubuh rapuh itu ke punggungnya. Darah segar adiknya meresap cepat ke dalam kemeja kantorannya.

Langkah kakinya terseret pelan. Keluar dari pintu besi neraka itu. Menembus hujan malam yang meludah tanpa ampun di atas kepala mereka.

Ke mana. Ke mana ia harus lari membawa tumpukan daging ini.

Distrik Utara adalah sarang anjing-anjing itu. Flat sempitnya sudah pasti dipantau ketat. Sekolah adiknya adalah jebakan mati.

Lalu satu memori melintas tajam di kepalanya. Obrolan remeh para pedagang kaki lima di jalanan beberapa hari lalu.

Distrik Barat.

Tempat itu sudah berubah drastis. Ada desas-desus tentang penguasa baru yang membantai habis kelompok mafia lama di sana.

Mafia distrik Utara tidak berani melangkahkan kaki secengkal pun melewati batas wilayah itu.

Itu menjadi wilayah paling stabil di Muara Tenang sekarang. Satu-satunya titik buta di peta kota ini. Tempat di mana anjing pemburu menolak masuk.

Ia mengeratkan pegangannya pada paha adiknya. Hujan es menghantam wajahnya yang kebas.

Langkah kakinya mempercepat ritme. Menerobos aspal basah, menjauhi bau formalin yang tertinggal jauh di belakang.

Mereka harus sampai ke distrik Barat malam ini juga. Mereka harus memaksakan diri untuk hidup. Sekali lagi.

Sementara itu di dalam bangunan tua yang sepi, layar tablet yang tergeletak di lantai menyala redup menyinari genangan darah.

Sebuah pesan darurat otomatis terkirim. Menyebarkan sinyal lacak ke seluruh jaringan bawah tanah distrik Utara.

Target lepas. Aset utama melarikan diri.

Seluruh kelompok bersenjata mulai bergerak keluar menembus hujan malam.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!