Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Operasi Senyap dan Kunci Master Loker
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, disusul dengan pengumuman dari pengeras suara bahwa seluruh kegiatan ekstrakurikuler ditiadakan untuk sementara waktu karena para guru akan mengadakan rapat evaluasi dadakan. Pengumuman itu disambut sorak-sorai bahagia dari seluruh penjuru kelas. Bagi murid biasa, ini adalah tiket emas untuk pulang lebih awal atau nongkrong di kafe. Tapi bagi Rama dan Nayla, ini adalah karpet merah untuk melancarkan misi rahasia mereka.
Koridor utama SMA Taruna Citra yang biasanya ramai oleh lalu-lalang anak OSIS dan anggota ekskul kini mulai sepi. Sebagian besar murid sudah berhamburan menuju parkiran. Rama berdiri menyender di dinding dekat mading utama, tangannya bersedekap di dada. Seragamnya masih rapi, tapi aura yang menguar dari tubuhnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi mode bos jalanan yang sedang mengintai mangsa.
Tak lama, Nayla muncul dari tikungan lorong. Cewek itu sudah mengganti seragam putih abunya dengan kardigan ungu muda yang kedodoran, tas ranselnya disampirkan di satu bahu. Ia berjalan menghampiri Rama dengan senyum penuh konspirasi.
"Jalurnya aman, Bos," bisik Nayla pelan saat ia berdiri di sebelah Rama, berpura-pura sedang membaca pengumuman di mading. "Gue barusan lewat depan ruang sekretariat OSIS. Di dalam cuma ada Raka sama Jodi. Kayaknya mereka lagi nyusun laporan kegiatan yang harus disetor besok. Anak OSIS yang lain udah pada balik."
Rama mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah ujung lorong tempat ruang OSIS berada. "Bagus. Rencana awal tetap jalan. Lo pancing mereka keluar sejauh mungkin dari ruangan. Minimal sampai ke koridor depan perpustakaan. Kasih gue waktu lima menit buat ngacak-ngacak meja si Raka. Kalau ada guru atau murid lain yang tiba-tiba datang, lo langsung misscalled gue."
"Siap. Tapi lo yakin bisa masuk? Pintu ruang OSIS kan kalau ditinggal pasti dikunci dari luar," Nayla mengerutkan kening ragu.
Rama mendengus remeh, sebuah senyum miring tercetak di bibirnya. "Lo lupa lo lagi ngomong sama siapa? Kalau cuma kunci pintu ruangan sekolah, pakai jepit rambut lo aja gue bisa buka dalam hitungan detik. Udah, lo fokus aja sama peran lo. Dan ingat..."
Tatapan Rama seketika berubah menjadi jauh lebih serius, menembus manik mata gadis di depannya. "Jangan biarin si Raka pegang-pegang lo, biarpun lo lagi akting. Kalau dia macem-macem, tendang aja tulang keringnya, habis itu teriak. Biar urusan penutupnya gue yang beresin di luar sekolah."
Nayla memutar bola matanya malas, meski pipinya terasa sedikit menghangat mendengar nada protektif yang begitu kentara. "Posesif amat sih, Babu. Udah sana, lo standby di lorong samping. Gue mulai aksinya sekarang."
Dengan langkah santai, Nayla berjalan menuju ruang sekretariat OSIS. Rama segera melipir ke lorong sempit di samping gedung yang memiliki akses jendela menuju ruangan tersebut, bersembunyi di balik bayang-bayang pilar besar. Jantungnya berdegup dengan ritme yang stabil dan teratur. Di jalanan, menyusup ke markas geng musuh adalah hal biasa baginya, namun menyusup ke ruang OSIS di sekolahnya sendiri nyatanya memberikan sensasi adrenalin yang jauh berbeda.
Dari tempat persembunyiannya, Rama bisa mendengar suara langkah Nayla yang sengaja dibuat sedikit berisik. Tak lama kemudian, terdengar suara tumpukan buku yang jatuh berantakan ke lantai, disusul oleh ringisan kesakitan yang terdengar sangat meyakinkan.
"Aduh! Sialan banget sih ini buku berat-berat amat!" keluh Nayla dengan suara lantang, tepat di depan pintu ruang OSIS.
Taktik klise, tapi sangat efektif untuk memancing buaya sekolah. Benar saja, pintu ruang OSIS terbuka. Terdengar suara sepatu pantofel Raka melangkah keluar.
"Eh, Nayla? Kenapa lo? Ada yang bisa gue bantu?" suara Raka terdengar langsung melembut, penuh dengan nada caper tingkat dewa.
"Ini nih, gue disuruh Bu Ratna bawa buku referensi sejarah ke perpustakaan, tapi malah jatuh semua. Kaki gue kayaknya agak keseleo deh gara-gara kesandung tali sepatu sendiri," rajuk Nayla, suaranya dibuat semelas mungkin.
Dalam hati, Rama mengumpat. Akting cewek ini ternyata lumayan juga, pantas saja dia hobi baca novel drama.
"Ya ampun, sini gue bantuin bawain bukunya. Jodi, lo jaga ruangan bentar, gue mau nganterin Nayla ke perpus sekalian bawain bukunya," perintah Raka pada kroninya.
"Yah, kok gue ditinggal? Gue ikutan lah, sekalian mau beli minum ke kantin depan. Suntuk gue ngetik laporan dari tadi," protes Jodi, yang kemudian terdengar ikut melangkah keluar ruangan. Bunyi pintu ditarik hingga tertutup rapat terdengar jelas.
"Ayo, Nay, pelan-pelan jalannya. Mau gue papah nggak?" tawar Raka modus.
"Nggak usah, gue masih bisa jalan sendiri kok. Makasih ya, Kak Raka," tolak Nayla halus tapi tegas, menjaga jarak aman sesuai instruksi Rama.
Suara langkah kaki mereka bertiga semakin menjauh, berbelok menuju arah perpustakaan. Begitu keadaan dirasa benar-benar sepi, Rama langsung keluar dari persembunyiannya. Ia mendekati pintu ruang OSIS. Seperti dugaannya, pintu itu terkunci otomatis. Dengan gerakan yang sangat gesit dan tanpa suara, Rama mengeluarkan sebuah peniti besar yang sudah ia siapkan dari saku celananya. Ia membengkokkan peniti itu, memasukkannya ke dalam lubang kunci, dan memutarnya dengan teknik presisi yang ia pelajari dari bengkel Sakti Jaya.
Klik. Pintu terbuka. Rama menyelinap masuk dan menutupnya kembali dengan sangat hati-hati.
Ruang OSIS berbau pendingin ruangan dan kertas print yang menumpuk. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rama langsung menuju meja ketua seksi kedisiplinan yang berada di sudut ruangan. Meja Raka. Di sana terdapat sebuah laptop yang masih menyala dan tumpukan berkas absensi.
Rama menarik laci pertama. Isinya hanya alat tulis dan buku catatan OSIS. Ia menarik laci kedua, isinya beberapa flashdisk dan bungkus permen. Namun, laci ketiga—laci paling bawah—terkunci rapat.
Rama mengertakkan gigi. Instingnya mengatakan ada sesuatu di dalam laci itu. Menggunakan peniti yang sama, ia membobol kunci laci tersebut. Dibutuhkan waktu sedikit lebih lama karena gembok lacinya agak berkarat, tapi akhirnya laci itu berhasil ditarik terbuka.
Pandangan Rama langsung tertuju pada sebuah kotak logam kecil berwarna hitam yang tersembunyi di bawah tumpukan kertas bekas. Ia membuka kotak itu, dan seketika napasnya tercekat.
Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah kunci panjang bertuliskan ukiran kecil 'Master Lkr Siswa'. Itu adalah kunci master untuk seluruh loker di SMA Taruna Citra. Pantas saja Raka dengan mudah bisa memasukkan stiker sialan itu ke dalam lokernya tanpa merusak gembok kombinasi miliknya!
Tapi temuan yang benar-benar membuat darah Rama mendidih bukanlah kunci itu. Tepat di bawah kunci master, terdapat sebuah amplop cokelat tipis yang ujungnya sedikit sobek. Rama menarik isi amplop itu. Matanya melebar sempurna.
Itu adalah segepok stiker merah menyala dengan gambar siluet ular kobra. Persis seperti yang ia temukan di lokernya kemarin. Bukan cuma satu atau dua, tapi puluhan lembar. Dan yang lebih gila lagi, ada sebuah catatan kecil berupa kertas post-it kuning yang menempel di tumpukan stiker itu. Tulisan tangannya berantakan, jelas bukan tulisan Raka yang rapi.
Tugas lo cuma taruh stiker ini di barang-barang si Anta. Bikin dia panik. Sisa bayaran lo gue transfer minggu depan. - T.
T. Tora.
Jadi benar. Raka bukan sekadar anggota OSIS yang benci pada Rama karena kalah saing. Raka adalah anjing suruhan Kobra Besi. Tora sengaja menyewa Raka dari dalam sekolah untuk meneror kehidupan siang Rama, menghancurkan benteng pertahanan terakhir yang dimiliki oleh sang Hantu Wana Asri. Menggunakan uang untuk membeli kesetiaan seorang cowok haus validasi seperti Raka adalah taktik licik yang sangat khas Tora.
Dada Rama bergemuruh hebat. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, meremas salah satu stiker kobra itu sampai hancur. Rasanya ia ingin berdiri di depan gerbang sekolah, mencegat Raka, dan menghajarnya habis-habisan sampai anak itu memohon ampun. Beraninya dia membawa urusan aspal jalanan ke dalam ranah sekolah, dan yang lebih parah, menyeret Nayla ke dalam lingkaran bahaya ini.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Rama bergetar hebat. Panggilan masuk dari Nayla. Itu adalah sinyal bahaya.
Rama buru-buru memasukkan kembali tumpukan stiker itu ke dalam amplop, menaruhnya kembali ke dalam kotak logam bersama kunci master, dan mengunci laci tersebut seperti semula. Ia mengembalikan letak kursi agar terlihat tak tersentuh. Dengan langkah panjang dan tanpa suara, Rama keluar dari ruang OSIS, mengunci pintunya kembali, dan melesat bersembunyi di lorong samping tepat beberapa detik sebelum suara langkah kaki Jodi dan Raka terdengar kembali.
"Ah elah, si Nayla jalannya pelan banget tadi. Mana dia langsung masuk perpus gabung sama geng cewek-cewek kutu buku lagi. Gagal deh gue modusin dia lebih lama," gerutu Raka sambil membuka pintu OSIS.
"Udahlah, lo mending fokus ngerjain si Anta aja. Eh, stiker yang dikasih sama bos jalanan itu udah lo taruh di tasnya belum hari ini?" balas Jodi sambil tertawa kecil.
"Belum, nanti aja pas ekskul olahraga. Gue mau bikin dia stres pelan-pelan," Raka membalas dengan tawa licik yang terdengar menggema sebelum akhirnya pintu tertutup rapat.
Di balik tembok pilar, Rama bersandar dengan napas memburu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Nayla.
Rama: Udah beres. Gue dapet buktinya. Ketemu di warung mie ayam depan komplek sekarang.
Sepuluh menit kemudian, Rama dan Nayla sudah duduk berhadapan di sudut warung mie ayam yang kebetulan sedang sepi. Nayla asyik mengaduk es teh manisnya sambil menatap raut wajah Rama yang tegang dan menyeramkan.
"Jadi? Hipotesis gue benar, kan?" tembak Nayla memecah keheningan.
Rama mengangguk kaku. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja, suaranya ditekan sekecil mungkin. "Raka. Dia emang pionnya Tora. Tora bayar dia buat jadi mata-mata sekaligus kurir teror di sekolah. Gue nemuin kunci master loker, puluhan stiker kobra, sama memo instruksi dari Tora di dalam lacinya Raka."
Nayla membelalakkan matanya, keterkejutan tergambar jelas di wajahnya. "Sinting. Anak OSIS kedisiplinan yang sok suci itu ternyata kerja buat preman jalanan? Wah, ini plot twist yang bahkan gue sendiri nggak nyangka bakal segila ini di dunia nyata."
"Ini bukan novel fiksi, Nayla!" tekan Rama, wajahnya mengeras. "Ini masalah nyawa. Tora nggak main-main. Raka bisa aja disuruh ngelakuin hal yang lebih ekstrem dari sekadar nempel stiker. Kalau dia disuruh masukin barang ilegal ke tas gue, atau parahnya... nyelakain lo karena lo sering bareng gue."
Nayla meletakkan sedotannya. Ia menatap Rama dengan serius. "Terus, rencana lo apa sekarang? Lo mau ngajak berandal The Ghost buat nyergap Raka pas pulang sekolah?"
"Nggak," Rama menggeleng cepat. "Kalau gue hajar Raka pakai cara jalanan, gue yang bakal kena DO dari sekolah, dan Tora menang. Raka itu licik, dia pasti bakal playing victim. Gue harus ngehancurin dia dari dalam, pakai aturannya dia sendiri."
"Gimana caranya?"
Sebuah senyum miring, sangat dingin dan penuh perhitungan, terukir di wajah Rama. Ini adalah gabungan dari kecerdasan otak Ketua Klub Sains dan kelicikan bos jalanan Wana Asri.
"Raka itu haus validasi dan gila jabatan. Dia sebentar lagi mau nyalonin diri jadi Ketua OSIS periode depan," jelas Rama perlahan. "Kita main cantik. Gue butuh bantuan lo buat satu hal, Nay. Kita bakal bikin jebakan batman buat dia. Kita rekam buktinya pas dia lagi nyoba nyelundupin barang atau naruh stiker itu, terus kita bocorin buktinya ke kepala sekolah tanpa bawa-bawa geng motor."
Nayla menyipitkan matanya, ujung bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum jahil yang antusias. "Membongkar aib musuh di depan umum? Wah, gue suka banget gaya lo, Bos. Babu gue ternyata licik juga kalau otaknya lagi encer."
"Gue bakal lakuin apa aja buat matiin pergerakan Kobra Besi," ucap Rama, tatapannya kini berubah menjadi sangat lembut saat menatap lurus ke arah mata bulat Nayla. "Dan gue bakal lakuin apa aja buat mastiin lo tetap aman."
Suasana di warung mie ayam itu mendadak hening. Udara yang mengalir terasa berhenti di sekitar mereka. Nayla menelan ludah, tiba-tiba merasa salah tingkah ditatap seintens itu. Ia buru-buru meraih mangkuk mie ayamnya yang baru saja diantarkan, pura-pura sibuk menuangkan saus sambal terlalu banyak.
"A-apaan sih, lebay banget bahasa lo," gumam Nayla dengan pipi yang memerah hebat, menyembunyikan wajahnya di balik jilbab ungunya.
Rama tertawa pelan, sebuah tawa nyata yang sukses mengusir awan gelap di kepalanya. Bersama gadis ini, berada di tengah krisis yang mengancam nyawa sekalipun rasanya seperti sebuah petualangan yang tidak ingin ia sudahi. Mereka berdua mungkin berasal dari dua kutub yang sangat berlawanan, tapi di lintasan yang sama ini, mereka siap melaju dengan kecepatan penuh untuk menabrak apa pun yang menghalangi jalan mereka.