Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pintu Ketiga
Angin di luar rumah kecil itu tiba-tiba berubah.
Wira merasakannya lebih dulu, sebelum suara apa pun terdengar. Udara yang semula hanya lembap dan diam kini bergetar tipis, seperti ada gerakan jauh di balik pepohonan. Watu yang sedang membuka lembar catatan juga berhenti membaca. Arya menoleh ke pintu belakang, sementara Jaya sudah lebih dulu bergerak mendekat ke jendela samping.
“Siapa itu?” bisik Panca.
Tak ada yang menjawab.
Ki Rangga mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua tetap tenang. Namun ketenangan itu hanya tampak di luar. Wira bisa merasakan ketegangan di setiap tubuh orang-orang yang berdiri di ruangan itu. Watu menutup lembar catatan perlahan, lalu menatap Arya.
“Mereka datang lebih cepat dari dugaanku,” katanya pelan.
Arya mengerutkan dahi. “Berapa banyak?”
Watu menggeleng. “Cukup.”
Panca langsung mengeluh, “Itu jawaban yang paling tidak membantu.”
Jaya menggeser papan kayu kecil di jendela dan mengintip keluar. “Ada tiga bayangan di sisi timur rumah. Mungkin lebih.”
Ki Rangga menatap Watu. “Mereka orangmu?”
Watu menggeleng cepat. “Bukan. Kalau mereka tahu tempat ini, berarti ada yang membocorkan arah.”
Raden Seta memucat. “Berarti pengkhianat masih di luar sana.”
Wira menatap papan catatan di atas meja, lalu ke wajah Watu. “Kalau mereka datang sekarang, berarti mereka juga mencari pintu ketiga?”
Watu mengangguk. “Dan mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkannya.”
Arya menatap Wira. “Kita harus bergerak sebelum rumah ini dikepung.”
Ki Rangga mengangguk tegas. “Ke pintu ketiga.”
Watu berdiri perlahan. Tubuhnya tua, tapi langkahnya masih menyimpan ketegasan orang yang pernah lama hidup di tengah rahasia. Ia mengambil lampu minyak kecil dari rak, menyalakannya, lalu menunjuk ke pintu belakang rumah.
“Lewat sana,” katanya. “Ada tanah yang turun ke bawah. Ikuti batu yang retak. Jangan menyentuh dinding kiri sebelum sampai ke ruangan utama.”
Panca mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena dinding itu punya penahan lama. Kalau ditekan salah, pintu akan terkunci.”
“Hebat,” gumam Panca. “Semakin banyak larangan, semakin aku yakin tempat ini dibuat untuk menyiksa.”
Ki Rangga menepuk bahu Wira singkat. “Siap?”
Wira menatap ayah yang belum pernah benar-benar ia kenal, ibunya yang meninggalkan jejak dari jauh, dan Watu yang sekarang berdiri sebagai saksi dari semuanya. Ia mengangguk.
“Siap.”
Mereka bergerak cepat ke pintu belakang rumah. Arya keluar lebih dulu, memeriksa halaman sempit di belakang. Jaya menyusul, lalu Raden Seta, Panca, Ki Rangga, dan terakhir Wira bersama Watu. Udara di luar sudah lebih gelap. Senja hampir habis. Di tepi halaman, tanah memang tampak menurun tajam menuju semak dan batu-batu kecil yang membentuk jalur turun.
Watu menyalakan lampu minyak di tangannya. “Turun.”
Lorong tanah itu sempit, lebih seperti jalur yang pernah dilalui berkali-kali tetapi sengaja dibiarkan tertutup semak. Wira berjalan di belakang Ki Rangga sambil menunduk agar tidak terkena dahan rendah. Lampu Watu memantulkan cahaya kuning pada tanah yang tidak rata. Beberapa batu di sisi kiri retak panjang, seperti bekas dinding lama yang pernah dibuka lalu dibiarkan kembali tertutup.
Di belakang mereka, dari arah rumah, terdengar suara samar. Bukan teriakan, tetapi seperti langkah kaki dan gesekan pintu.
Panca menoleh cepat. “Mereka sudah masuk ke halaman.”
Jaya menatap ke belakang sekali lalu mempercepat langkah. “Jangan berhenti.”
Mereka tiba di dasar lereng kecil, tempat tanah retak membentuk lingkaran samar yang hampir tak terlihat. Di tengahnya ada batu besar berbentuk pipih dengan ukiran yang mirip seperti yang mereka temui sebelumnya. Watu berhenti di depan batu itu dan menunduk.
“Ini dia,” katanya.
Raden Seta memandang ukiran di batu. “Pintu ketiga?”
Watu mengangguk. “Bukan pintu biasa. Pintu ini dibuat untuk mereka yang harus masuk dan tidak selalu kembali dengan nama yang sama.”
Wira menatap batu itu lalu menelan ludah. Ia bisa merasakan tekanan aneh di dadanya. Setelah semua petunjuk, setelah semua ruang bawah tanah, setelah semua nama yang muncul dan hilang, akhirnya mereka sampai di tempat yang paling sering disebut ibunya dalam bentuk samar: pintu ketiga. Dan sekarang ia berdiri tepat di depannya.
Ki Rangga mengamati batu itu. “Kuncinya?”
Watu menoleh ke Wira. “Liontin ayahmu.”
Wira langsung terkejut. “Yang ini?”
Watu mengangguk. “Bukan untuk dibuka, tapi untuk mengunci penahan lama. Letakkan di bagian tengah ukiran.”
Wira ragu sejenak, lalu mengeluarkan liontin itu. Ia membuka tutup kecilnya dan menatap wajah ibunya dan ayahnya sekali lagi sebelum menyerahkannya pada Watu. Lelaki tua itu mengambilnya dengan hati-hati, lalu meletakkan liontin tersebut ke cekungan kecil di batu pipih.
Terdengar suara dalam dari bawah tanah.
Batu di tengah lingkaran retak perlahan bergerak, menyingkap celah gelap. Udara dingin langsung keluar dari bawah, membawa bau tanah tua, kayu kering, dan sesuatu yang sangat lama disimpan. Wira menahan napas.
“Berhasil,” gumam Panca.
Jaya menatap celah itu. “Ada tangga.”
Benar. Di bawah batu, tangga sempit turun ke ruang yang lebih dalam. Dari lubang itu keluar cahaya sangat redup, seolah ada pantulan dari permukaan batu lain di bawah sana.
Arya memandang Watu. “Kau ikut?”
Watu menggeleng kecil. “Aku terlalu lama berdiri di pintu ini. Sekarang giliran kalian.”
Ki Rangga menatap Wira. “Kau yang paling depan.”
Wira mengangguk, lalu menatap celah gelap itu. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di bawah. Namun setelah semua yang mereka lewati, mundur sudah bukan pilihan. Ia turun lebih dulu, satu tangan menyentuh batu licin. Ki Rangga menyusul, lalu Jaya, Raden Seta, Panca, Arya, dan terakhir Watu menutup jalur di atas dengan hati-hati.
Tangga itu membawa mereka ke ruang bawah yang jauh lebih luas dari dugaan Wira.
Di sana tidak ada meja batu, tidak ada rak kayu, tidak juga lorong-lorong sempit seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah ruangan bundar besar dengan dinding batu halus, beberapa pilar pendek, dan sebuah lingkaran batu di tengah lantai. Pada dinding utama di seberang ruangan, terdapat ukiran besar berbentuk lingkaran yang di dalamnya ada tiga cabang garis menuju pusat. Simbol itu sama dengan yang selalu muncul pada kunci, cincin, papan kayu, dan catatan-catatan ibunya.
Wira memandangi ruangan itu dengan napas tertahan.
“Ini tempatnya,” bisiknya.
Watu berdiri di belakangnya. “Inilah ruang pengucapan.”
Panca menatap sekeliling dengan mata membesar. “Kalau ini ruang pengucapan, aku tidak mau tahu ruangan sebelahnya apa.”
Jaya menyorotkan lampu ke dinding. Ada bekas tulisan yang nyaris hilang, juga beberapa garis tipis seperti nama-nama yang pernah dihapus paksa.
Raden Seta menatap ukiran besar di dinding utama. “Ada ruang untuk nama.”
Watu mengangguk. “Dan juga ruang untuk yang menolak.”
Wira menatap lingkaran batu di tengah ruangan. Di atasnya, ada bekas bekas kecil seperti pernah ada sesuatu yang diletakkan di sana berkali-kali. Ia menelan ludah, lalu menoleh pada Watu.
“Di sinilah ayahku dibawa?”
Watu mengangguk pelan. “Ya.”
“Dan ibu saya?”
“Masuk ke sini setelahnya,” jawab Watu. “Ia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memilih apa yang harus disembunyikan.”
Wira membeku. “Apa maksudmu?”
Watu menatap lurus ke depan. “Ibumu tahu kalau Danar tidak bisa dikeluarkan begitu saja. Maka ia memilih menutup satu bagian dari pintu ini agar orang-orang yang mengejar tidak menemukan semuanya sekaligus.”
Raden Seta terdiam. “Jadi ibunya Wira sengaja menyisakan jejak bertahap.”
Watu mengangguk. “Agar yang tepat datang pada waktunya.”
Ki Rangga menatap Wira dengan sorot yang sulit dibaca. “Dan kau yang dimaksud itu.”
Wira merasakan dadanya sesak. Selama ini ia merasa seperti diburu. Kini ia justru sadar bahwa ia juga sedang diarahkan. Ibunya bukan sekadar meninggalkan pesan. Ia menuntun. Dan di titik ini, Wira tidak lagi tahu apakah ia sedang dikejar oleh masa lalu atau justru dipanggil untuk menyelesaikannya.
Tiba-tiba suara di atas batu terdengar. Bukan di ruangan mereka, tetapi dari tangga. Seseorang sedang mencoba membuka jalur masuk.
Panca langsung pucat. “Jangan bilang itu mereka.”
Arya menatap tangga dengan waspada. “Bukan satu.”
Jaya merapatkan tubuh ke dinding. “Kalau mereka turun, kita harus siap.”
Watu berjalan cepat ke sisi dinding dan menekan satu ukiran kecil. Di ujung ruangan, terdengar bunyi gesekan halus. Sebuah panel batu terbuka, menyingkap ruang kecil di baliknya.
“Masuk jika perlu,” kata Watu. “Tapi sebelum itu, kalian harus lihat yang ada di tengah.”
Ki Rangga menatap Wira. “Lihat apa?”
Watu mengangkat tangan ke lingkaran batu di tengah ruangan. “Nama yang terakhir ditahan.”
Wira maju perlahan. Jantungnya berdegup begitu cepat sampai ia merasa telinganya panas. Di atas lingkaran batu, ada cetakan yang mungkin dulu dipakai untuk menaruh papan nama atau segel. Namun yang lebih menarik adalah tulisan yang tertanam di pinggir batu. Wira menunduk dan membaca huruf yang nyaris aus itu.
Danar.
Di bawah nama itu ada satu baris lagi yang membuat darahnya terasa berhenti sejenak.
“Belum selesai.”
Wira menatap tulisan itu lama. “Belum selesai apa?”
Watu berdiri di sampingnya. “Pengucapan ulang gagal memutus semua. Danar menolak. Ibumu menahan sebagian. Karena itu, pintu ini masih membuka sisa.”
Raden Seta mengernyit. “Sisa apa?”
Watu menatap Wira, lalu ke ukiran di dinding. “Sisa nama. Sisa hak. Dan mungkin sisa hidup.”
Tangga di belakang mereka bergetar lagi. Debu jatuh dari langit-langit.
Panca mundur setengah langkah. “Kita tidak punya waktu untuk teka-teki indah.”
Jaya mengangguk. “Mereka akan sampai dalam hitungan detik.”
Arya bergerak cepat ke sisi panel batu. “Kalau ada yang masih ingin tahu kebenaran, ini saatnya masuk.”
Ki Rangga menatap Wira, lalu mengangguk singkat. “Kau harus memilih.”
Wira menatap nama Danar di batu, lalu ke lorong kecil yang baru terbuka, lalu ke wajah Watu yang seolah sudah terlalu lama menunggu momen ini. Di dadanya, liontin ayahnya terasa berat. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di ruang belakang. Namun satu hal jelas: kalau ia berhenti sekarang, semua pengorbanan ibunya akan berhenti di tengah jalan.
Wira menatap Ki Rangga. “Aku masuk.”
Ki Rangga mengangguk. “Aku ikut.”
Raden Seta, Jaya, Panca, dan Arya menyusul cepat. Watu tetap di belakang, menatap ruangan utama yang kini mulai dipenuhi bunyi langkah dari atas. Sebelum masuk terakhir, Wira sempat menoleh sekali.
Watu berdiri di bawah ukiran nama Danar, seperti penjaga terakhir dari sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
“Kalau semuanya benar,” kata Watu pelan, “kau akan tahu mengapa ibumu menyebut tempat ini pintu terakhir.”
Wira tidak menjawab. Ia hanya melangkah masuk ke ruang di balik panel batu, membawa nama ayahnya, jejak ibunya, dan sisa masa lalu yang belum selesai.
bukin pusing aja