Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Anggita yang baru masuk lift dengan nafas sedikit ngos-ngosan, menatap Sandi dan Nisa bergantian.
"Kalian kenapa, kok mukanya pada tegang?"
Baik Nisa atau pun Sandi tak ada yang menjawab. Pintu lift tertutup, Anggita nyempil diantara Sandi dan Nisa, karena posisi mereka memang berjauhan.
"Eh Nis, dulu aku fikir, kamu pacarnya Pak Sandi loh," ujar Anggita.
"Ya gak mungkin lah, Bu." Nisa tersenyum kecut, melirik Sandi yang terlihat gelisah.
"Aku pernah beberapa kali gak sengaja lihat Pak Sandi jalan sama cewek. Sumpah Nis, mirip kamu banget. Dari jauh sih aku lihatnya kayak kamu. Dan tasnya, kayak tas yang kamu pakai biasanya."
Nisa menarik tasnya, sedikit menyembunyikan di belakang badan. Sepertinya, orang yang dimaksud Anggita memanglah dia. Dulu, saat dia dan Sandi belum putus.
"Eh tapi pas minggu lalu ketemu di mall, aku dikenalin sama ceweknya, dan ternyata bukan kamu." Anggita tertawa cekikikan.
Nisa meremat celananya, melirik Sandi tajam. Sungguh keterlaluan jika ternyata selama ini, cowok itu selingkuh.
"Siapa ya namanya, aku kok lupa. Siapa nama pacar kamu, San?" menoleh pada Sandi.
Ting
Sandi bernafas lega karena bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, ia keluar lebih dulu lalu disusul Anggita.
...----------------...
Pulang ngampus, Ojan dengan wajah bahagianya, memasuki rumah sambil bersenandung ria. Di tangannya, ada remot motor yang sengaja gantungannya ia putar-putar di jari telunjuk. Rasanya tak sabar menunggu jam 5, ingin segera menjemput Nisa.
"Jan." Panggil Bu Dewi yang baru muncul dari dapur. Wanita paruh baya yang mengenakan celemek untuk melapisi bajunya itu, menghampiri putranya lalu menarik tanganya menuju dapur.
"Ada apa sih, Mah?"
"Lapar gak?"
"Banget, Mah." Dengan gaya manjanya, Ojan mengusap perut.
"Pas banget, Mama baru selesai masak udang saos padang. Kamu cicipi ya."
"Mampus!" batin Ojan. Perasaannya langsung gak enak, sudah bisa menebak rasanya seperti apa. Ia tersenyum simpul, lalu dengan tangan agak gemetar, mengangkat sendok lalu mengambil sedikit saosnya. Tampilannya sih bagus, warnanya menarik, udangnya gede-gede, tapi aromanya kurang menggugah selera. Dan pas di cicipi. Dugaannya benar.
"Gimana?" Bu Dewi terlihat tak sabar menunggu review anaknya.
"E... " Ojan garuk-garuk kepala. "Gak enak, Mah." Bukan dia kalau gak bicara jujur.
Bu Dewi langsung mendelik sambil mendengus kesal. "Makanya kalau nyicipi itu sama udangnya, jangan saosnya doang, biar tahu rasa yang sesungguhnya." Ia mengambil 1 ekor udang dengan tangan, dan langsung memasukkan ke dalam mulut Ojan. "Enakkan?" tanyanya dengan tatapan penuh intimidasi.
Ojan mengunyah udang di mulutnya, sedikit memaksa menelan karena memang tidak enak sama sekali.
"Gimana?"
Masih belum bisa berbohong, Ojan menggeleng ragu.
Bu Dewi makin kesal. "Berarti masih kurang." Mengambil 1 ekor lagi lalu menyuapkan paksa pada Ojan.
Sekali lagi, Ojan memaksa tenggorokannya menelan makanan tidak enak itu.
"Gimana?"
"Enak, Mah." Dari pada jujur nanti malah di paksa ngincip lagi.
"Tuh kan, enak. Kamu nyicipnya kurang banyak tadi. Makan pakai nasi ya, Mama ambilin sebentar." Berjalan menuju rak piring.
"A, aku udah makan tadi di jalan." Ojan buru-buru menyusul, menahan tangan Mamanya yang hendak mengambil piring.
"Tadi katanya lapar?"
"Aku lupa, ternyata tadi udah makan di jalan."
"Kamu bohong ya?"
Ojan menggeleng cepat. "Suer." Membentuk telunjuk dan jari tengahnya menjadi huruf V.
"Beneran?"
"Astaga! Iya, Mah. Beneran, Ojan kenyang. Ya udah ya, Ojan ke kamar dulu." Ia hendak melangkah, tapi lengannya di tarik Mamanya.
"Hari itu katanya mau sering-sering ngasih duit Mama. Mana, sampai sekarang gak pernah ngasih lagi?" Bu Dewi menengadahkan tangan.
"Ya Allah Mah, tega kamu. Anak panas-panasan kerja banting tulang, kamu porotin duitnya."
"Siapa suruh kamu kerja? Salah sendiri." Dewi tersenyum miring, tangannya masih terus menengadah. Sejak lulus S1, Ojan tak pernah lagi minta uang jajan, anaknya itu milih kerja, nyari uang sendiri. Hanya saja biaya kuliah, ditanggung orang tua. "Ini kesempatan kamu buat bahagiain Mama, mumpung belum nikah. Nanti kalau udah nikah, tugas kamu bukan lagi bahagiain Mama, tapi anak dan istri kamu."
Ojan mengambil dompet di tas selempang kecilnya, lalu mengeluarkan satu lembar seratus ribu.
"Masa cuma ini?" Dewi menatap uang pemberian Ojan. "Buat makan sehari aja gak cukup."
Ojan menghela nafas berat, mengambil lagi dua lembar.
"Bagus." Dewi menggunakan tiga lembar uang seratus ribu itu untuk kipas-kipas. "Mulai sekarang, seminggu sekali harus setor ke Mama 300 ribu."
Ngomongin nikah, Ojan jadi pengen nanya pendapat Mamanya. "Mah, misalkan, ini misalkan ya. Misal aku pengen nikah sama perempuan yang beda status sosialnya, Mama kasih restu gak?" Menatap Mamanya gelisah sekaligus deg degan.
"Beda status sosialnya gimana sih? Dia cuma anak orang biasa gitu?"
"Ya, ya bisa dibilang gitu, Mah."
"Ya gak masalah, asalkan anaknya baik, pinter, attitudenya bagus, dan juga cinta sama kamu. Maksud Mama beneran cinta, tulus, bukan karena uang. Kamu naksir cewek ya?" Dewi senyum-senyum, sedikit banyak sudah bisa menebak. "Beda dikit gak papalah, gak harus juga anak orang kaya raya. Sekelah staf kantor Mama juha gak masalah, asalkan ya itu tadi, anaknya tulus, beneran sayang sama kamu."
"Masalahnya, ini bedanya jauh, Mah." Gumam Ojan dalam hati.
"Jangan-jangan, karyawati di kantornya Papa?"
"Ih, kok Mama tahu sih?"
"Feeling Mama itu kuat." Dewi sok hebat, padahal ia asal nebak aja tadi. "Staf apa, di departemen apa? Keuangan, HRD, pemasaran, atau jangan-jangan anak magang?"
"Em... dia..." Ojan ragu untuk bilang, belum siap melihat reaksi Mamanya. "Nantilah Mah, dia aja belum mau sama Ojan, ini masih tahap pendekatan."
"Hah, belum mau? Sombong sekali cewek itu." Dewi berkacak pinggang, matanya membulat sempurna. "Kayak apa emang dia, sampai gak mau sama kamu? Kurang apa coba kamu? Ganteng iya, pinter iya, pendidikan tinggi iya, kaya iya. Suruh nyebutin dia, apa kurangnya kamu?"
Ojan menahan senyum melihat ekspresi Mamanya. "Udah ah Mah, Ojan mau ke kamar dulu."
"Tunggu!" Dewi kembali menahan lengan Ojan.
"Apalagi sih, Mah?"
"Anterin Mama ke rumah Tante Indri."
"Ojan mau keluar bentar lagi, Mah."
"Anterin Mama dulu."
"Sama supir aja."
"Pak Amar kan keluar kota sama Papa."
"Astaga!" Ojan tepuk jidat.
"Pokoknya anterin Mama. Ingat kata Mama tadi, sebelum kamu nikah, ini saatnya kamu berbakti, bahagiain Mama. Mama siap-siap dulu, habis ini berangkat." Dewi berjalan ke wastafel, mencuci tangan.
Ojan melihat jam tangannya. Sekarang pukul 3, semoga saja Mamanya cepet, biar dia tidak telat menjemput Nisa. "Emangnya ada acara apa sih Mah, penting banget?"
"Mau bukber."
"Bukber!" Ojan syok. "Ini kan bukan bulan puasa, Mah?"
"Emangnya puasa senin kamis gak boleh bukber. Hari ini kami puasa senin, jadi mau bukber."
"Yasalam." Ojan mengusap wajah dengan telapak tangan. "Siap-siapnya yang cepet Mah, aku ada janji dengan seseorang habis ini."
"Iya, bawel." Dewi meninggalkan dapur, demikian pun dengan Ojan.
Ojan mondar-mandir di depan kamar Mamanya. Sudah jam 4 lebih, Mamanya itu belum selesai juga siap-siapnya. "Mah, buruan!" Sepertinya ia bakal telat nyusul Nisa.