NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Ujung bulu hitam dari Pena Kuas Tulang itu menunjuk tepat ke jakun si pemimpin bercodet. Di bawah remang cahaya lumut merah Area Inti, kuas purba itu seolah memancarkan kabut kematian yang pekat.

Wajah pemimpin bercodet itu berubah menjadi bengis. Kesombongannya sebagai peringatan tahap enam Kondensasi Qi yang telah membantai belasan orang di hosting ini merasa tertampar keras. Seorang remaja kurus yang bahkan tidak repot-repot menyembunyikan jempol tahap empatnya berani menantangnya?

"Bocah arogan yang cari mati!" raung pemimpin itu, terkemuka di lantai. Urat mencerminkan pembohong. "Kau pikir pedang patah dan sepotong tulang itu bisa menakutiku?! Habisi dia! Cincang dagingnya menjadi pasta, dan biarkan kepalanya melihat kita menikmati pelacuran itu!"

Tiga anak buahnya, yang murni digerakkan oleh nafsu dan keserakahan, melesat maju secara serentak. Fluktuasi Qi tahap lima meledak dari tubuh mereka. Pedang, kapak, dan tombak terhunus, membelah udara dari tiga arah yang berbeda, mengincar leher, jantung, dan kaki Jiang Xuan. Kecepatan mereka sangat mematikan, hasil dari bertahan hidup selama berminggu-minggu di neraka ini.

Di mata Lin Ruoxue yang bersandar pada pilar, serangan itu adalah eksekusi absolut. Mustahil bagi tahap empat untuk menangkis tiga serangan tahap lima sekaligus.

Namun, Jiang Xuan tidak mundur satu milimeter pun. Kakinya bahkan tidak bergeser dari posisinya berdiri.

Ekspresinya sama sekali tidak berubah; datar, kosong, dan diisi kalkulasi mesin pembantai.

"Terlalu lambat," bisik Jiang Xuan.

Ia memutar pemahaman tangan dengan sangat santai, mengalirkan setetes Qi kecil ke dalam Pena Kuas Tulang. Ujung bulu hitam itu menyerap energi tersebut dan seketika menegangkan, setajam ujung jarum.

Tanpa basa-basi, Jiang Xuan menyembunyikan kuas itu secara horizontal di udara kosong, seperti seorang pelukis yang sedang membuat garis-garis kasar di atas kanvas.

SRET!

Tidak ada ledakan Qi. Tidak ada kilatan cahaya. Hanya sebuah garis Formasi Niat yang setipis rambut, namun padat oleh Niat Membunuh murni, melesat membelah udara tanpa suara. Garis tak kasat mata itu bergerak dengan kecepatan yang menembus batas reaksi mata telanjang.

Murid pertama yang memegang kapak besar baru saja mengangkat senjatanya. Garis ilusi itu melewatinya begitu saja.

TRANG... CRAT!

Kapak baja tebal itu terpotong menjadi dua bagian dengan potongan yang sehalus kaca. Sedetik kemudian, garis potong itu terus menembus lengan kanan dan leher sang murid. Darah menyembur deras. Lengan yang memegang gagang kapak itu jatuh ke tanah, disusul oleh kepalanya yang berbohong dari mempercayainya sendiri.

Jiang Xuan memutar pemahamannya lagi, menarik kuasnya ke bawah dalam satu goresan diagonal yang presisi.

SRET!

Murid kedua dan ketiga bahkan belum menyadari kematian rekan mereka. Niat Formasi kedua meluncur. Garis itu memotong diagonal dari bahu kiri murid pemegang pedang hingga ke pinggang kanannya, lalu terus melesat menembus tenggorokan murid pemegang tombak di belakangnya.

"U-urgh..."

Langkah murid pemegang pedang terhenti. Tubuhnya perlahan terbelah dua, organ dalamnya tumpah ruah ke atas tanah bersimbah lumpur. Sementara murid pemegang tombak menjatuhkan senjatanya, mencengkeram lehernya yang bocor, dan memuntahkan air mancur darah dari celah jari-jarinya sebelum ambruk tak bernyawa.

Tiga kultivator elit tahap lima Kondensasi Qi. Dieksekusi hanya dengan dua ayunan kuas dari jarak lima langkah. Waktu yang dibutuhkan: kurang dari tiga detik.

Darah menyembur ke mana-mana, mewarnai pilar batu dan tanah menjadi merah pekat. Namun, Niat Formasi yang melindungi Jiang Xuan bertindak seperti perisai tak kasat mata. Tak satu tetes pun darah kotor itu menyentuh jubahnya. Ujung Pena Kuas Tulang di tangannya hanya menyerap kabut darah di udara, membuat bulu hitamnya semakin berkilau mematikan.

Di ujung area terbuka, pemimpin bercodet mematung. Golok besarnya nyaris terlepas dari genggamannya yang kini gemetar hebat.

Otaknya yang licik langsung memahami realitas yang mengerikan ini. Remaja di depannya bukan manusia. Ia adalah monster yang menyamar dengan kulit fana.

"M-monster..." bisik pemimpin itu, wajahnya sepucat kertas. Kesombongannya hancur berkeping-keping.

Tanpa berpikir dua kali, ia berbalik arah. Ia meledakkan seluruh Qi tahap enamnya ke kedua kakinya, menggunakan teknik pergerakan tingkat tinggi untuk kabur ke dalam hutan batu secepat kilat. Ia tidak peduli pada anak buahnya; ia hanya ingin hidup.

Jiang Xuan menatap pelarian itu dengan seringai rasional yang dingin. "Seorang informan yang berlari adalah target yang paling mudah ditangkap."

Ia mengangkat Pena Kuas Tulangnya, menggigit lidahnya sendiri, dan meludahkan setetes darah esensinya ke udara. Ujung kuas menangkap tetesan darah itu. Dengan kecepatan gila, tangan Jiang Xuan bergerak melukiskan enam goresan di udara kosong.

"Jaring Tinta Darah. Ikat."

BZZZT!

Darah esensi yang bercampur dengan Niat Formasi itu meledak, berubah menjadi lusinan benang merah-hitam yang melesat bagai ular berbisa melintasi udara. Benang-benang tak kasat mata itu mengejar sang pemimpin dengan kecepatan dua kali lipat.

"TIDAK! JANGAN!"

JLEB! JLEB! JLEB!

Pemimpin bercodet itu baru berlari sejauh tiga puluh langkah ketika benang-benang itu menyusulnya. Jaring Tinta Darah menusuk menembus jubahnya, mengait langsung ke dalam otot bahu, paha, dan tulang belakangnya.

"AAARGHHH!"

Jeritan histeris meledak. Begitu jaring itu mengunci meridiannya, tubuh si pemimpin terbanting keras ke tanah berbatu, terseret beberapa meter ke belakang akibat tarikan Niat Formasi Jiang Xuan. Ia terjerat seperti ikan yang ditangkap jala baja, tubuhnya terpotong dangkal oleh benang yang menekan kulitnya.

Jiang Xuan berjalan santai menghampiri pemimpin yang meronta-ronta dalam genangan darahnya sendiri. Langkah sepatunya terdengar seperti detak jam kematian.

Ia tiba di depan tubuh yang terlentang itu. Tanpa emosi, Jiang Xuan mengangkat kaki kanannya dan menginjak kuat-kuat tepat di tengah dada sang pemimpin.

KRAK.

Suara tulang rusuk yang retak membuat si pemimpin memuntahkan darah hitam.

"Sekarang," Jiang Xuan membungkuk, menodongkan ujung Kuas Tulang tepat ke biji mata si pemimpin. "Kita mulai interogasinya. Aku tidak suka mengulang pertanyaan. Siapa lagi kelompok yang masih hidup di Area Inti ini, berapa jumlah mereka, dan di mana mereka bersembunyi?"

"A-aku tidak... argh!"

Jiang Xuan menekan kakinya lebih dalam, mematahkan satu tulang rusuk lagi. "Pilihan jawaban yang salah."

"AMPUN! AKU BICARA! AKU BICARA!" Pemimpin itu menangis, air mata dan darah bercampur di wajahnya. Teror absolut telah meremukkan jiwanya. "Di... di reruntuhan Paviliun Pedang Patah! Dua mil ke arah utara dari sini! A-ada sekitar dua puluh murid luar yang tersisa! M-mereka dipimpin oleh Kakak Senior Zhao dan Kakak Senior Feng... m-mereka sedang mencoba membobol formasi segel Gudang Senjata Kuno!"

Jiang Xuan menyipitkan matanya. Otaknya memvalidasi informasi itu dengan cepat. Dua puluh orang. Berada di satu tempat. Sedang lelah membobol formasi. Itu adalah tambang emas yang siap dipanen.

"Dua puluh orang," gumam Jiang Xuan mengangguk pelan. "Apakah ada penjagaan di perimeter luar paviliun itu?"

"A-ada! Tiga orang berjaga di reruntuhan gerbang! Sisanya di dalam!" si pemimpin tersedak darahnya sendiri, menangkupkan tangannya memohon. "A-aku sudah memberitahumu semuanya! Tolong, lepaskan aku! Aku bersumpah akan menjadi anjingmu! Aku akan menyerahkan semua batu rohku—"

"Aku sudah memiliki anjing pelacak, dan aku tidak butuh anjing pengecut yang berkhianat pada detik pertama rasa sakit," potong Jiang Xuan datar. "Terima kasih atas informasimu. Sebagai hadiahnya, aku tidak akan menyiksamu."

Jiang Xuan mengayunkan Kuas Tulangnya dengan gerakan ringan yang mematikan.

SRET.

Garis Niat Formasi memotong leher pemimpin bercodet itu dengan bersih. Kepalanya tidak terputus sepenuhnya, namun urat nadi dan tenggorokannya terbelah sempurna. Darah menyembur seperti air mancur. Kejang sesaat melanda tubuh itu sebelum akhirnya diam selamanya.

Jiang Xuan menarik kakinya dari dada mayat tersebut. Dengan efisiensi yang mengerikan, ia merogoh pinggang si pemimpin dan tiga mayat lainnya, merampas empat kantong penyimpanan yang tampak membengkak. Ia tidak repot-repot menghitung isinya sekarang; ia hanya melemparnya ke dalam jubahnya, membiarkan Baozi yang bersembunyi di sana mengendus-endus harta jarahan itu dengan gembira.

Jiang Xuan berbalik.

Sepuluh langkah di belakangnya, Lin Ruoxue masih bersandar di pilar batu. Gadis itu bernapas dengan mulut setengah terbuka. Matanya menyipit mencakup mayat yang terpotong-potong di area terbuka itu dengan horor yang tidak bisa disembunyikan.

Sebagai seorang kenalan, Lin Ruoxue telah membunuh. Ia telah melihat kekejaman. Namun, apa yang baru saja dilakukan Jiang Xuan bukanlah pertarungan. Itu adalah pemotongan rumput. Tidak ada keraguan, tidak ada kemarahan, tidak ada emosi sedikitpun. Majikannya membantai manusia dengan gigih seperti menyeduh teh—sebuah rutinitas yang membosankan namun perlu dilakukan.

“Kenapa kamu melihat seperti itu, Tamengku?” suara Jiang Xuan membuyarkan lamunan horor Lin Ruoxue.

Jiang Xuan berjalan mendekat. Ia menendang golok besar milik si pemimpin yang tergeletak di tanah, menyingkirkannya dari jalan.

"Kau... kau iblis," bisik Lin Ruoxue, suaranya bergetar antara kebencian dan ketakutan.

"Sebutan yang terlalu puitis. Aku hanyalah pragmatis," Jiang Xuan menatap gadis itu dengan memerintah pemerintahan. "Waktu istirahatmu sudah selesai. Dua mil ke arah utara, ada Paviliun Pedang Patah. Di sana ada dua puluh babi gemuk yang menunggu untuk disembelih, dan tiga di antaranya berjaga di depan pintu."

Jiang Xuan menggunakan ujung kuasnya untuk mengangkat dagu Lin Ruoxue dengan kasar.

"Gunakan sisa tenagamu. Kau akan berjalan di depanku lagi. Merangkaklah jika kau harus. Saat kita tiba di perimeter penjagaan mereka, kau akan berlari keluar dari semak belukar sambil menangis dan meminta bantuan. Pancing tiga penjaga itu ke dalam jebakanku."

Lin Ruoxue menggertakkan giginya. "Kau benar-benar tidak punya hati nurani! Mengumpankanku pada tiga preman, lalu pada sekawanan dua puluh orang?! Tubuhku sudah hampir hancur!"

"Selama Segel Jiwamu menyala, kau tidak akan mati tanpa izinku," jawab Jiang Xuan dengan kejam. "Berjalanlah. Pesta menyambut utama kita baru saja dimulai."

Tanpa bisa melawan Kontrak Jiwa yang mengikat nasibnya, Lin Ruoxue menjanjikan badannya. Dengan tubuh berdarah, langkah terseret, dan kebencian yang mendidih membakar kewarasannya, sang Iblis Es Hitam kembali melangkah menembus kabut, memimpin jalan bagi malaikat maut yang berjalan santai di belakangnya.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!