Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 2.
Pagi di istana selalu dimulai dengan suara lonceng perunggu, namun pagi itu suasana terasa berbeda. Udara di dalam Istana Phoenix begitu tegang, hingga para pelayan bahkan tidak berani mengangkat kepala.
Semua orang sudah mendengar kabar itu, Ratu yang seharusnya mati karena racun telah bangun. Dan sekarang, seluruh selir dipanggil ke aula utama.
Aula Phoenix dipenuhi wanita berpakaian mewah.
Selir Sophia berdiri paling depan. Gaunnya berwarna ungu tua, wajahnya lembut seperti bunga anggrek. Siapa pun yang melihatnya akan mengira dia wanita paling baik di istana. Namun di balik senyum itu… tersembunyi racun paling mematikan.
Beberapa selir berbisik pelan.
“Bukankah... ratu hampir mati?”
“Kenapa tiba-tiba memanggil kita?”
“Tiga hari tidak sadar… mungkin dia ingin mencari pelakunya…”
Sophia menundukkan kepala sedikit, dalam hatinya ia tersenyum dingin. Mustahil ratu menemukan bukti, racun itu sudah dibersihkan. Pelayan yang terlibat juga sudah disuap. Lagipula... ratu hanya wanita lemah. Bahkan tidak berani menegur siapa pun sebelumnya.
“YANG MULIA RATU TELAH TIBA!” suara kasim menggema.
Semua wanita langsung berlutut.
Pintu besar terbuka perlahan, Ratu Evelyn muncul. Gaun merah tua yang ia kenakan menyapu lantai marmer, mahkota emas bersinar di bawah cahaya matahari. Namun yang paling mengejutkan adalah tatapannya. Tidak ada kelembutan seperti dulu, yang ada hanya ketenangan dingin. Seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak kematian.
Evelyn berjalan perlahan menuju singgasana, ia duduk dengan elegan. Dengan mata dinginnya, ia menyapu seluruh ruangan.
Sunyi, bahkan nafas orang-orang terasa tertahan.
“Bangun.” Suara Evelyn begitu tenang.
Semua selir berdiri.
Evelyn meletakkan kedua tangannya dengan tenang di sandaran singgasana, sikapnya anggun namun penuh wibawa.
“Beberapa hari lalu… aku hampir mati. Tabib mengatakan, racun langka ditemukan dalam teh yang aku minum.” Ucap Evelyn dengan suara tenang.
Beberapa selir langsung pucat, namun Sophia tetap tenang.
“Namun… aku tidak memanggil kalian untuk bertanya.” Lanjut Evelyn.
Semua orang bingung.
“Bawa dia masuk.” Ratu mengangkat tangan sedikit.
Dua penjaga menyeret seorang pelayan wanita ke tengah aula, wajah gadis itu pucat seperti kertas.
Sophia sedikit terkejut, itu adalah pelayan dapur yang menyajikan teh.
Bukankah dia sudah diamankan?
Pelayan itu langsung berlutut sambil menangis. “Yang Mulia… ampuni saya… saya dipaksa…”
Evelyn menatapnya tanpa ekspresi. “Dipaksa oleh siapa?”
Gadis itu gemetar hebat, matanya perlahan beralih ke arah seseorang. Semua orang mengikuti arah pandangnya, dan tatapan itu berhenti pada... Selir Sophia.
Ruangan langsung gempar.
“Berani sekali!” bentaknya, wajah Sophia memucat. “Ratu, pelayan ini jelas berbohong!”
Evelyn menatap Sophia tanpa ekspresi, tatapannya begitu tenang hingga membuat dada Sophia tiba-tiba terasa sesak.
“Apakah aku mengatakan pelakunya adalah kamu?”
Sophia langsung terdiam, beberapa selir menutup mulut menahan tawa. Sophia baru saja menjebak dirinya sendiri.
Evelyn mengangkat tangan lagi. “Pelayan kerajaan yang mencoba membunuh ratu...”
ia berhenti sejenak. “Hukumannya mati!”
Pelayan itu langsung menjerit.
Namun sebelum penjaga menyeretnya keluar, Evelyn berkata lagi dengan suara lembut. “Namun sebelum mati… potong dulu kedua tangannya.”
Aula langsung sunyi, bahkan para kasim pun menahan nafas. Ratu mereka... tidak pernah sekejam ini sebelumnya.
Pelayan itu menjerit histeris saat dibawa keluar, tangisnya menggema di seluruh istana.
Evelyn berdiri perlahan, lalu menatap para selir satu per satu. Tatapannya berhenti sebentar pada Sophia, senyum tipis muncul di bibirnya.
“Jika ada orang lain yang ingin mencoba membunuhku…” suara ratu lembut seperti angin. “Aku akan menantikannya.”
Evelyn berbalik dan melangkah keluar aula dengan aura yang sepenuhnya berbeda. Punggungnya tegak, dagunya terangkat, memancarkan wibawa yang tak lagi bisa diabaikan.
Sementara di belakangnya, seluruh istana baru saja menyadari satu hal. Ratu yang dulu lemah… telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Aula sudah kosong.
Namun gema jeritan pelayan tadi masih terasa seperti bayangan yang tidak mau pergi.
Di dalam paviliun pribadi, Selir Sophia duduk di depan cermin perunggu dengan wajah masih terlihat tenang.
Seorang pelayan setia mendekat dengan hati-hati.
“Nyonya… apakah kita perlu—”
“Diam!”
Satu kata itu cukup membuat seluruh ruangan membeku. Sophia menatap bayangannya sendiri, jari-jarinya perlahan menyentuh bibir. Senyum itu masih ada. Namun matanya... dingin.
“Ratu berubah,” gumamnya pelan.
Itu bukan lagi wanita yang sama. Cara bicara, cara menatap, bahkan aura yang memancar dari ratu... seperti orang yang berbeda.
Sophia menarik nafas panjang, ia tersenyum tipis.
“Menarik…” Ia berdiri perlahan, gaun ungunya bergeser halus di lantai. “Kalau begitu… kita mainkan permainan yang berbeda.
Malam itu...
Hujan turun perlahan di istana.
Langkah kaki ringan terdengar di lorong gelap. Seorang kasim tua berjalan cepat, membawa kotak kecil. Ia berhenti di depan pintu paviliun selir lain, pintu diketuk pelan. Tak lama, pintu terbuka.
Seorang wanita muda muncul, Selir Clara.
“Ini dari siapa?” tanyanya curiga.
Kasim itu menunduk. “Hadiah dari seseorang yang ingin membantu Anda, Nyonya.”
Clara mengerutkan kening, tapi dia tetap menerima kotak itu. Setelah pintu tertutup, ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat botol kecil berisi cairan bening, dan secarik kertas.
Tulisan halus tertera di sana.
"Ratu tidak akan bertahan lama. Namun jika Anda ingin selamat… berdirilah di sisi yang benar."
Clara menegang, matanya membesar.
“Siapa yang—”
Tiba-tiba suara langkah kaki mendekat, ia buru-buru menutup kotak itu. Di luar pintu, Sophia berdiri. Senyumnya lembut seperti biasa, namun tatapannya tajam.
“Clara, bolehkah aku masuk?”
Clara membeku, tangannya tanpa sadar menggenggam kotak itu lebih erat. Permainan... telah dimulai. Dan tanpa sadar, ia sudah berada di tengahnya.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili