“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32.Kekuatan monster dan pelukan hangat.
Angin malam bertiup dingin menyapu halaman istana yang luas. Lampu-lampu pilar yang terbuat dari kristal biru memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer.
Luna ria berjalan dengan langkah cepat dan tegas. Wajahnya masih masam seperti cuka, keningnya berkerut dalam, dan kedua tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Dasar pria gila! Pria mesum! Pria tidak tahu malu!" gerutunya pelan sepanjang jalan. "Berani-beraninya dia menekanku seenaknya! Hah! Beruntung aku masih baik hati cuma menendangnya sekali, kalau tidak... humf! Sudah kupecah tulang keringnya!"
Ia masih sangat kesal mengingat kejadian di ruangan kerja tadi. Sikap Ka el yang mendominasi, tatapan matanya yang mengintimidasi, hingga kalimat-kalimat nakal yang keluar dari mulut pria itu membuat darah Luna ria mendidih.
'Aku cuma mau hidup tenang, kenapa sih susah banget?!' batinnya menjerit.
Akhirnya, ia sampai di area pemberhentian kereta kencana di depan gerbang utama istana. Tempat itu cukup sepi, hanya ada beberapa pengawal yang berjaga jarak dan kusir yang sedang menunggu perintah.
"Kereta untuk Nona Luna ria Star born!" teriak salah satu pelayan.
Luna ria berhenti tepat di bawah atap penunggu yang megah. Ia berdiri mematung, menunggu kusir membukakan pintu kereta untuknya. Di atas kepalanya, tepat di lantai dua balkon istana yang menjulang tinggi, terdapat sebuah pot bunga raksasa yang terbuat dari batu granit hitam. Pot itu sangat besar, beratnya mungkin mencapai ratusan kilogram, berisi tanaman hias sihir yang rimbun.
Luna ria tidak sadar. Ia sedang sibuk memijat pelipisnya yang terasa pening, memikirkan cara bagaimana bisa lolos dari pernikahan sialan ini.
Namun, di belakangnya... bayangan itu hadir kembali.
Aura hitam pekat, lebih gelap daripada malam itu sendiri, perlahan merayap keluar dari celah-celah bayangan bangunan. Bentuknya tidak jelas, hanya gumpalan asap tebal yang bergerak dengan niat membunuh. Itu adalah energi jahat yang sama yang dulu sering mengganggu Lae ria, dan kini... ia beralih target ke Luna ria karena gadis ini lah yang kini terikat takdir dengan Ka el.
Bayangan itu tidak langsung menyerang. Ia melayang perlahan, berputar di udara, lalu dengan cepat melesat naik ke atas, menuju balkon tempat pot batu raksasa itu berada.
Krak... krak...
Suara gesekan batu terdengar samar, hampir tidak terdengar oleh telinga biasa.
Aura hitam itu mulai mendorong pot tersebut dengan perlahan namun pasti. Menggesernya sedikit demi sedikit ke tepi pembatas batu. Tujuannya hanya satu: Jatuhkan tepat di kepala wanita itu! Hancurkan dia!
Pot itu sudah berada di ujung tanduk. Hanya butuh dorongan terakhir...
Di tempat lain, jauh di dalam menara pengawas istana.
Ka el baru saja sampai, ia masih memegang bagian tubuhnya yang terasa ngilu, namun pikirannya dipenuhi bayangan wajah Luna ria yang marah. Ia tersenyum sendiri mengingat keberanian gadis itu.
Namun tiba-tiba...
DUG!
Jantung Ka el berdegup kencang secara tidak wajar. Sebuah rasa dingin yang menusuk tulang, sebuah firasat buruk yang sangat familiar menyergap seluruh tubuhnya.
Rasa itu... Rasa kehilangan!
Rasa persis seperti yang pernah ia rasakan bertahun-tahun lalu, tepat sebelum istri pertamanya meninggal dalam kecelakaan misterius. Dan hal yang sama terjadi pada istri kedua dan ketiganya.
Itu adalah peringatan dari kutukan Star Eater yang ada di dalam dirinya. Kutukan yang tidak suka melihatnya bahagia, yang selalu berusaha merenggut apa pun yang ia sayangi.
"Luna ria!!"
Ka el tidak berpikir dua kali. Wajahnya berubah pucat pasi, matanya menyala merah membara.
Tanpa suara, tanpa jejak. Ka el menghilang dari tempatnya. Ia menggunakan sihir teleportasi tingkat tertinggi, membelah ruang dan waktu demi mencapai lokasi Luna ria secepat kilat.
Kembali ke depan gerbang istana.
BYUUUUUUURRR!!!
Pot batu raksasa itu akhirnya lepas! Gravitasi menariknya turun dengan kecepatan mematikan!
Bayangan hitam itu tertawa tanpa suara, puas melihat targetnya akan hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Namun...
Luna ria mungkin tidak punya sihir, tapi ia punya insting bertahan hidup yang sudah terasah puluhan tahun sebagai pemimpin geng jalanan di kehidupan sebelumnya. Di dunia lamanya, bahaya bisa datang dari mana saja, pisau bisa melayang kapan saja, dan musuh bisa menyerang dari belakang.
Saat pot itu mulai jatuh, meski tidak melihatnya, telinga Luna ria menangkap suara desisan angin yang aneh di atas kepalanya. Suara benda berat yang membelah udara.
WUSH!
Tanpa menoleh, tanpa ragu sedikitpun.
Luna ria menggeser tubuhnya ke samping dengan gerakan lincah, dan pada saat yang bersamaan, ia mengayunkan tangan kanannya ke atas!
BRAKKKK!!! DUUUARRR!!!
Suara hantaman terdengar sangat keras, memekakkan telinga!
Bukan kepala Luna ria yang hancur, melainkan pot batu granit itu yang hancur berkeping-keping!
Dengan satu pukulan telak dari tangan kosongnya, Luna ria menghantam sisi pot tersebut tepat saat benda itu hampir menyentuh kepalanya!
Kekuatan fisik yang tersembunyi di dalam tubuh gadis itu meledak keluar. Tenaga yang bukan milik manusia biasa, tenaga yang setara dengan sepuluh monster buas yang pernah Ka el lawan di medan perang!
Pot batu seberat ratusan kilogram itu tidak hanya berhenti, tapi meledak hancur menjadi serpihan-serpihan kecil! Tanah di sekitarnya bergetar hebat, debu beterbangan ke mana-mana!
Para pengawal dan kusir yang melihat kejadian itu terbelalak kaget, mulut mereka terbuka lebar tidak bisa menutup. Mereka melihat apa barusan? Seorang gadis kecil yang dikatakan tidak punya sihir... menghancurkan pot batu besar dengan pukulan tangan kosong?!
Tepat pada saat yang sama...
SYUUUUUU!!!
Ka el muncul tepat di samping Luna ria. Ia baru saja selesai melakukan teleportasi, siap untuk menerjang dan melindungi gadis itu dengan tubuhnya sendiri. Ia siap menerima hantaman batu itu demi Luna ria.
Namun... apa yang ia lihat?
Ka el terpaku diam di tempatnya. Matanya membelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang terlihat oleh matanya.
Di depannya, tidak ada mayat, tidak ada darah, tidak ada gadis yang terluka.
Yang ada hanyalah Luna ria yang berdiri tegak dengan santai di tengah tumpukan puing-puing batu. Wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Ia bahkan tidak terengah-engah.
Luna ria menepuk-nepuk bahunya dan lengan bajunya yang sedikit kotor terkena debu batu dengan gerakan malas.
"Cih, berantakan sekali," gumamnya kesal. "Siapa juga yang tidak bertanggung jawab naruh benda berat di atas kepala orang sih? Kurang kerjaan!"
Ia baru saja menghancurkan benda seberat itu seolah-olah itu hanyalah sekotak kardus bekas!
Ka el menelan ludah. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena kaget dan... takjub yang luar biasa.
Ia tahu Luna ria unik. Ia tahu Luna ria berani. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa kekuatan fisik gadis ini... se-mengerikan ini!
Tanpa sihir, tanpa mantra, hanya dengan kekuatan murni... dia bisa melakukan hal seperti ini?!
"Lu... Luna ria..." Ka el akhirnya bisa bersuara, suaranya terdengar sedikit serak. "Kau... kau tidak apa-apa?"
Luna ria menoleh, melihat Ka el yang berdiri kaku dengan wajah syok.
"Hah? Kenapa kau ada di sini?" tanya Luna ria acuh tak acuh. "Aku baik-baik saja. Cuma pot bunga jatuh, biasa saja. Tidak perlu heboh."
"Biasa saja?!" Ka el hampir melotot. "Itu pot batu granit Luna ria! Beratnya bisa menimpa dan membunuh gajah! Dan kau... kau menghancurkannya dengan satu tangan?!"
"Ah itu?" Luna ria melirik tumpukan batu itu malas. "Batunya rapuh sih. Kualitas bangunan istana kalian kurang bagus ya, mudah pecah begitu saja."
Ka el: "..."
Ia benar-benar kehilangan kata-kata. Gadis ini... sungguh bukan manusia biasa! Mana mungkin ada manusia normal yang bisa menghancurkan batu sekeras itu hanya dengan pukulan telapak tangan?!
Rasa cemas yang tadi meledak-ledak di dada Ka el perlahan berganti menjadi rasa lega yang luar biasa, bercampur dengan rasa bangga yang aneh.
Jadi begini rasanya... Ternyata wanita yang ia pilih bukanlah bunga kertas yang mudah layu. Dia adalah duri yang tajam, dia adalah batu karang yang kuat. Mungkin... hanya mungkin... kutukan ini tidak akan bisa mengalahkannya?
Tanpa sadar, tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa takut kehilangan yang baru saja ia rasakan beberapa detik yang lalu...
Ka el melangkah maju.
"Ka—" Belum sempat Luna ria bertanya, tubuhnya ditarik dengan kuat.
UUPPSS!!
Ka el memeluknya sangat erat. Sangat erat.
Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Luna ria, menghirup aroma tubuh gadis itu seolah ingin memastikan bahwa Luna ria benar-benar ada di sana, utuh, dan tidak terluka.
Pelukan itu hangat. Sangat hangat. Berbeda dengan aura dingin dan gelap yang biasanya ia pancarkan, pelukan ini penuh dengan emosi, ketakutan, dan rasa sayang yang terpendam.
Luna ria terkejut setengah mati. Tubuhnya kaku bak patung.
Matanya terbelalak, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang bukan karena marah atau bertarung, tapi karena... jantungnya dipukul keras oleh momen tak terduga ini.
"K-Ka el...?" Luna ria terbata-bata, tangannya terangkat ragu-ragu di udara, tidak tahu harus meletakkannya di mana. "Hei... kau gila apa?! Lepaskan! Banyak orang liat—"
"Jangan bergerak..." potong Ka el pelan, suaranya terdengar sangat lembut dan serak, hampir seperti berbisik. "Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Tadi... tadi aku benar-benar takut, Luna ria."
Luna ria terdiam.
Ia bisa merasakan dada bidang Ka el yang naik turun, bisa merasakan detak jantung pria itu yang juga berpacu cepat. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Pangeran Monster ini. Bukan sisi yang kejam, bukan sisi yang sombong, tapi sisi yang rapuh dan takut kehilangan.
"Aku pikir aku akan kehilanganmu," lanjut Ka el, pelukannya semakin erat tapi tidak menyakiti. "Aku sudah kehilangan tiga kali sebelumnya. Dan aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi... apalagi kehilanganmu."
Luna ria menelan ludah. Emosinya jadi campur aduk.
Ia seharusnya marah. Ia seharusnya mendorong pria ini dan memakinya. Tapi entah kenapa, mendengar suara gemetar itu, merasakan pelukan yang seolah memohon agar ia tidak pergi... hati keras Luna ria sedikit mencair.
'Bodoh...' batin Luna ria. 'Dia ternyata begitu perduli pada ku, aku jadi lupa mau marah bagaimana...'
"Pot itu jatuh bukan tanpa alasan, Luna ria," kata Ka el lagi, akhirnya melepaskan pelukannya sedikit tapi masih menahan bahu gadis itu agar tetap dekat. Matanya menatap tajam ke arah puing-puing batu, lalu ke arah langit malam yang gelap. "Itu ulah kutukanku. Energi gelap yang mencoba membunuhmu karena kau dekat denganku."
Luna ria mengerutkan kening. "Jadi bayangan hitam itu..."
"Ya. Itu nyata. Dan itu berbahaya," Ka el menatap kembali ke wajah Luna ria dengan sangat serius. "Itulah alasan kenapa aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Itulah alasan kenapa kau harus tetap di sisiku. Selama kau di dekatku, selama kau di dalam perlindunganku, dan selama kekuatan aneh yang kau miliki ini ada... kau akan aman."
Ka el tersenyum tipis, kali ini senyum yang tulus dan sedikit lega.
"Dan melihat kau bisa menghancurkan pot itu dengan mudah... sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir berlebihan. Ternyata kau jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan. Bahkan tanpa sihir, kau bisa melindungi dirimu sendiri."
"Tentu saja," jawab Luna ria mendongak sombong, meski pipinya masih terlihat merah padam akibat pelukan tadi. "Jangan remehkan aku, Pangeran. Aku ini bukan gadis lemah yang butuh ditolong terus menerus. Kalau ada yang berani menyentuhku, akan kupatahkan tangan mereka..."
Ka el tertawa kecil. Suara tawanya renyah dan menghilangkan suasana tegang tadi.
"Ya, ya. Aku tahu. Putri mahkotaku adalah prajurit terkuat," goda Ka el lembut. Ia lalu mengulurkan tangannya, memegang tangan Luna ria dengan lembut. "Tapi tolong... lain kali kalau ada bahaya, biarkan aku yang menghadapinya. Jangan ambil resiko sendiri. Jantung tua ini tidak kuat melihatmu bertarung se-dahsyat itu."
Luna ria mendengus, tapi tidak menepis tangan pria itu. "Halah, alasan saja. Kau kan monster, mana ada jantung tua,atau kau nyadar kalau usia kita terpaut jauh"
Ka el tidak membalasnya walaupun Luna ria mengejeknya, malah gengaman hangat yang dirasakan Luna.
Meskipun berkata begitu, Luna ria membiarkan Ka el menggenggam tangannya. Perasaan kesal yang tadi memuncak perlahan hilang terbawa angin malam, digantikan oleh perasaan hangat yang aneh dan tidak bisa dijelaskan.
Mereka berdua berdiri di sana, di tengah puing-puing batu, di bawah cahaya lampu istana. Seorang Pangeran kegelapan yang ditakuti seluruh negeri, dan seorang gadis tanpa sihir yang menyimpan kekuatan monster di dalam tubuhnya.
"Sudah, ayo naik kereta," ajak Ka el lembut. "Aku akan mengantarmu sampai pintu rumah. Dan mulai besok, kau akan pindah ke istana. Tidak ada penolakan. Demi keselamatanmu sendiri."
Luna ria memutar bola matanya malas. "Iya, iya. Dasar mengatur. Tapi ingat ya, kalau kau macam-macam lagi, bukan cuma pot yang hancur, tapi gigi kau juga ikut hancur ku hantam."
Ka el tersenyum lebar. "Siap, Nyonya. Aku ingat."
Malam itu, kereta kencana melaju meninggalkan istana. Dan di dalamnya, suasana tidak lagi tegang atau penuh pertengkaran. Ada sesuatu yang berbeda mulai tumbuh di antara mereka. Sebuah benih rasa yang ditanam di tengah pertengkaran, kekerasan, dan akhirnya... sebuah pelukan yang menyelamatkan.