Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Asap Stroberi Dan rahasia yang tercecer
Asap stroberi itu masih menggantung rendah di udara, menciptakan kabut merah muda yang kontras dengan noda darah yang berceceran di lantai marmer putih lantai 88. Bau manis yang menyengat bercampur dengan aroma mesiu yang tajam menciptakan atmosfer yang memuakkan sekaligus mematikan. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, hanya terdengar suara rintihan tertahan dari puluhan pria berseragam taktis yang kini tergeletak tumpang tindih seperti onggokan sampah.
Feng Yan berdiri mematung di tengah koridor. Kemeja putihnya yang tadinya rapi kini terkoyak di bagian bahu, menampakkan otot yang menegang. Ia mengatur napasnya yang berat, sementara matanya yang sedingin es menyapu seluruh ruangan. Di ujung koridor, Reyhan tampak sedang membersihkan telinganya yang masih berdenging akibat gelombang kejut permen bom Rendy.
"Bocah itu benar-benar gila," gerutu Reyhan sambil memungut salah satu selongsong peluru. "Lain kali, suruh dia pakai aroma kopi saja. Bau stroberi ini membuatku ingin muntah."
Di markasnya yang gelap, Rendy tertunduk lesu di depan jajaran monitor yang masih berkedip merah. Tangannya yang biasanya menari cepat kini gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah tidak percaya bahwa 'mainan' yang ia ciptakan hampir saja membunuh rekannya sendiri.
"Aku... aku hampir saja melakukannya," bisik Rendy pada kegelapan. "Aku hampir saja membunuh mereka semua."
"Rendy, dengarkan aku," suara Dr. Kanaya memecah keheningan lewat jalur komunikasi pribadi. Suaranya tenang, seperti air di tengah kebakaran. "Secara medis, kau tidak melakukan kesalahan. Kau melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pelindung. Liu Ruyan-lah yang memanipulasi frekuensimu. Jangan biarkan dia menang dengan menghancurkan mentalmu."
Rendy tidak menjawab. Ia hanya menatap layar monitor yang menampilkan notifikasi enkripsi: [PROJECT KIARA: DECRYPTED 15%]. Sebuah file video tua mulai terbuka secara otomatis, menampilkan rekaman hitam-putih sebuah laboratorium bawah tanah yang sangat ia kenali.
Di ruang rapat utama, Feng Yan melangkah perlahan menuju alat komunikasi kapten musuh yang tergeletak di samping meja direksi. Dengan ujung sepatu pantofelnya yang ternoda sedikit debu ledakan, ia menekan tombol bicara.
"Liu Ruyan," suara Feng Yan bergema rendah, penuh dengan ancaman yang tertahan. "Kirimkan bunga yang lebih cantik lain kali. Pion-pionmu terlalu mudah hancur oleh permen anak kecil. Jika ini adalah kartu terbaik yang kau miliki, maka kau sudah kalah sebelum permainan dimulai."
Di sebuah markas rahasia di pinggiran kota, Liu Ruyan membanting gelas kristalnya ke dinding. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi gurat kemarahan. Ia menatap layar monitor yang hanya menyisakan statis.
"Nikmatilah kemenangan kecilmu, Feng Yan," desis Liu Ruyan. "Tapi ingat, Dr. Kanaya tidak datang ke Metropol hanya untuk memeriksa kesehatanmu. Dia membawa kunci dari peti mati yang seharusnya tidak pernah kau buka. Dan Mutiara-mu... dia adalah alasan kenapa peti itu harus terbuka."
Kembali ke kantor Feng Group, suasana mulai mendingin namun tensi baru muncul. Dr. Kanaya sedang berlutut di samping Lin Diya yang masih terlihat lemas. Kanaya mengeluarkan sebuah alat pemindai kecil dari tas medisnya dan mulai memindai pergelangan tangan Diya. Sebuah garis cahaya biru bergerak turun-naik, dan tiba-tiba alat itu berbunyi tit... tit... tit... dengan frekuensi tinggi.
Wajah Kanaya yang biasanya tanpa ekspresi mendadak menegang. Ia menatap Feng Yan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa, Kanaya?" tanya Feng Yan, langkahnya mendekat dengan protektif. "Kenapa alat itu berbunyi seperti itu?"
Kanaya terdiam sejenak, ia mematikan alat pemindai itu dan merapikan kembali tas medisnya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Kita harus segera membawa Diya ke fasilitas pribadiku, Feng Yan. Sekarang."
"Katakan padaku apa yang terjadi," desak Feng Yan, suaranya naik satu oktaf.
Kanaya berdiri, menatap tepat ke dalam mata Feng Yan. "Darah Diya... secara biokimiawi, dia memiliki jejak serum yang sama dengan yang kuberikan pada Kiara dua tahun lalu. Serum yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Seseorang telah menjadikan Diya sebagai subjek percobaan tanpa ia sadari, Feng Yan. Dan frekuensi ultrasonik Rendy tadi baru saja membangunkan sesuatu di dalam tubuhnya."
Feng Yan terpaku. Dunia seolah berhenti berputar. Ia menatap Diya—wanita yang ia cintai, wanita yang ia perjuangkan di laut lepas—ternyata menyimpan bom waktu yang jauh lebih berbahaya dari apa pun yang bisa diciptakan oleh Rendy.
Di luar jendela gedung pencakar langit itu, hujan lebat mulai mengguyur Kota Metropol, seolah mencoba mencuci sisa-sisa asap stroberi dan darah yang berceceran. Namun, bagi tim Feng Group, badai yang sebenarnya baru saja dimulai dari dalam nadi mereka sendiri.