Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Rekaman
Jelas sekali, dalam video itu, Arsen dapat melihat Rose–istrinya, tengah melawan tiga pria sekaligus. Satu orang berbadan gempal diduga sebagai bosnya. Lalu dia orang lainnya adalah anak buahnya.
Gerakan Yvone terlihat sangat terlatih dan penuh perhitungan.
Video tersebut berdurasi sekitar 4 sampai 5 menit. Arsen tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari tokoh utama dalam video tersebut yaitu, Rose. Bahkan di detik-detik terakhir, Arsen melihat sesuatu yang mengejutkan.
Permainan senjata tajam yang sangat menakjubkan. Sebelum menusukkan ke telapak tangan preman itu, Rose sempat memutar-mutar pisau di tangannya.
‘Apakah benar yang kulihat ini? Apa dia sungguh Rose-ku?’ batin Arsen.
Hingga detik ini, Arsen masih tidak percaya. Bahkan setelah melihat rekaman ini. Arsen merasa ini hanya ilusi. Seperti yang ia tahu, selama ini Rose selalu bersikap lembut. Jangankan melukai seseorang dengan senjata, melukai dengan kata-kata saja tidak pernah.
Tapi yang Arsen lihat justru sebaliknya. Keahlian beladiri, permainan senjata tajam, serta kata-kata sarkastik yang keluar dari mulut wanita itu, rasa-rasanya itu bukanlah Rose yang ia kenal selama ini.
“Apa dia terluka?” tanya Arsen setelah video berakhir.
“Tidak, Tuan. Justru Nyonya mengetahui keberadaan saya. Nyonya hendak mengejar saya, tapi beruntung saya berhasil lolos.”
Mendengar itu, Arsen merasa heran. “Jeli sekali penglihatannya,” gumam Arsen. “Daniel, bagaimana menurutmu? Kau tahu istriku sejak lama. Apa menurutmu seseorang bisa berubah dalam waktu singkat?”
“Saya juga kurang memahami hal seperti ini, Tuan. Tentu membutuhkan waktu bagi seseorang untuk berubah. Tapi Nyonya Rose…” Daniel tampak tidak bisa berkata-kata. “Nyonya baru saja bangun dari mati suri, apa Anda pernah mendengar tentang perpindahan jiwa? Mungkin saja saat ini bukan jiwa Nyonya yang ada di tubuhnya?”
Mendengar itu, Arsen malah melototi Daniel. “Kau terlalu banyak menonton drama.” Sebagai sosok yang terpelajar, Arsen tidak mempercayai hal-hal semacam itu.
Daniel menghela napas, karena kata-katanya dimentahkan begitu saja oleh Arsen.
“Untuk saat ini, tugasmu selesai. Selanjutnya kau boleh pergi. Bayaranmu akan ku transfer setelah ini. Dan ingat, jaga rahasia ini baik-baik.”
“Baik, Tuan. Oh ya, jika Tuan ingin mencari tahu soal ini, Tuan bisa pergi ke paranormal.”
Mendengar hal itu, tatapan Arsen semakin tajam saja. “Kau ini…”
Yvone dan Sui berada dalam taksi, menuju ke kediaman keluarga Reinhart. Yvone merasa beberapa bagian tubuhnya kebas. Ini pasti efek dari gerakan tadi.
‘Tubuh ini benar-benar sangat lemah.’
Ting
Sebuah notifikasi pesan terdengar. Sui segera merogoh tas selempang miliknya dan memeriksa ponselnya. Tetapi ia tidak mendapati sesuatu apa pun. Kemudian ia mencoba memeriksa ponsel milik Rose–yang secara kebetulan dibawa.
Ia melihat pemberitahuan sebuah akun media sosial. Tanpa permisi, Sui segera membukanya. Sebuah unggahan di akun bernama Renata Haustle muncul paling atas. Sui melotot melihatnya.
“Nyonya, coba lihat ini!”
Yvone mendekat, dan melihat sebuah potret Renata berada dalam pelukan seorang pria. Wajahnya memang tidak terlihat, tetapi Yvone tahu, jas yang dikenakan pria itu adalah sama dengan jas yang dipakai Arsen pagi tadi.
Dan dengan bangganya, Renata mengunggah potret tersebut di media sosial.
“Benar-benar tidak tahu malu!” gerutu Yvone.
Sui mengangguk setuju. Sejak awal ia memang tidak menyukai Renata, saat datang ke rumah, wanita itu selalu bertindak seperti majikan yang seenaknya memerintah pelayan. Padahal sebenarnya dia hanyalah tamu.
“Berani-beraninya dia mengunggah foto bersama suami wanita lain. Benar-benar tidak tahu diri!”
Mendadak Yvone sangat kesal.
“Nyonya, selama ini dia selalu menempel pada Tuan Arsen, tapi Nyonya diam saja karena Nyonya menganggap bahwa Nona Renata hanya rekan Tuan Arsen,” ujar Sui.
“Sekarang tidak lagi, sepertinya sekali-kali dia harus diberi pelajaran!”
“Benar, Nyonya.”
“Tapi bagaimana kau bisa tahu akun media sosial Renata?” tanya Yvone penasaran.
“Ini adalah ponsel Nyonya. Maaf kalau saya lancang membukanya.” Sui tertawa pelan.
Bukannya marah, Yvone justru fokus pada ponsel yang terlihat lecet. Ia pun meraih ponsel tersebut lalu memeriksa secara detail.
“Ini sungguh ponselku?” Yvone tidak percaya ponsel milik istri seorang pengusaha adalah merek tidak terkenal seperti ini. Ponsel keluaran lama. Bahkan sudah terlihat usang.
“Nyonya sungguh lupa? Anda selalu menolak membeli ponsel baru karena yang ini masih dipakai,” ujar Sui.
“Rose bodoh!” umpat Yvone tanpa sadar mengumpati diri sendiri. “Kalau begitu kita pulang, dan minta perhiasan pada Brighita, aku harus membeli ponsel baru!”
“Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum saya sampaikan pada Nyonya.”
“Apa itu?” Yvone menatap Sui penasaran.
“Rumah yang ditempati selama ini adalah milik Nyonya. Dulu Tuan memberikan untuk Nyonya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan pertama. Tapi semua surat-suratnya disimpan oleh Nyonya Besar.”
Yvone menghela napas, jengah. “Dia lagi, dia lagi.”
“Jika benar begitu, aku harus mendapatkan suratnya, dan mengusir mereka.”
Tiba di rumah, Yvone segera masuk. Beberapa pelayan yang mulai segan dan takut, membungkuk ketika melihat kedatangan Yvone.
“Selamat datang, Nyonya.”
“Hmmm…” Yvone terus melangkah mencari keberadaan Brighita. Ia menaiki anak tangga, menuju ke kamar wanita itu, tetapi pintu dalam keadaan terkunci rapat.
Yvone mencoba mengetuk, tetapi tidak ada jawaban. Sui yang mengekor di belakang Yvone pun berkata, “Sepertinya tidak ada Nyonya.”
“Kalau begitu kita cari ke tempat lain.”
Sui tergopoh-gopoh mengikuti langkah Yvone yang begitu cepat, menuruni anak tangga. Rumah ini sangat luas. Dan Yvone telah mencari ke penjuru bangunan. Hingga ia mendengar samar-samar suara tawa cekikikan.
Langkah Yvone terhenti, ia lantas memutar arah menuju ke asal sumber suara. Dari suaranya berasal dari arah taman.
Benar saja.
Rupanya Brighita dan Alexa sedang berada di taman belakang, duduk di kursi. Di atas meja, penuh dengan makanan cepat saji. Sepertinya mereka memesan secara online.
“Yang ini enak, Ma. Tapi mama jangan makan banyak-banyak, nanti kolesterol. Ini juga banyak lemaknya. Memangnya Mama mau…jadi gendut seperti Rose?” celetuk Alexa yang disambut oleh tawa oleh Brighita.
“Ih amit-amit. Kalau begitu aku makan yang ini saja.” Brighita menusuk satu ekor daging ayam krispi, kemudian dicocol saus lalu memasukkan ke dalam mulut.
Melihat itu, Yvone menyunggingkan senyumnya. “Tak akan kubiarkan kalian terus menghinaku!”
Dengan langkah penuh percaya diri, Yvone menghampiri mereka. Yvone berhenti tepat di hadapan adik ipar dan mertuanya dengan kedua tangan terlipat di perut.
“Rupanya kalian di sini,” desis Yvone. Ucapan Yvone mengalihkan atensi dua wanita beda generasi itu.
“Mau apa kau kemari? Membuat selera makanku hilang saja,” gerutu Alexa.
Yvone tersenyum tipis. “Memang itu tujuanku. Mulai saat ini, aku akan membuat hidup kalian tidak tenang.”
“Bicara apa kau ini?” bentak Brighita.
Tatapan Yvone beralih pada Brighita. “Kau sungguh ingin mendengarnya? Kalau begitu dengar aku baik-baik…” Yvone menjeda kalimatnya sejenak kemudian melanjutkan.
“Serahkan semua hartaku yang kau rampas!”