NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pagi Pertama di Sangkar Emas

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis-garis cahaya di atas karpet beludru kamar presidential suite. Arumi mengerjap, matanya terasa berat dan sedikit perih—sisa dari tangis yang ia tumpahkan dalam diam semalam. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada. Namun, harum melati yang mulai layu di atas nakas segera menarik kesadarannya kembali ke realita yang pahit namun nyata.

Ia menoleh ke samping. Sisi tempat tidur di sebelahnya masih rapi, tak tersentuh. Ingatannya berputar ke kejadian semalam; Adrian yang memilih tidur di sofa panjang di sudut ruangan.

Arumi perlahan bangkit dan duduk di tepi ranjang, matanya mencari sosok pria yang kini secara hukum adalah suaminya.

Sofa itu kosong. Selimut kecil yang disediakan hotel terlipat rapi di atasnya. Adrian sudah bangun.

Arumi menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa canggung yang menghimpit dadanya. Ia segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat yang membasuh tubuhnya sedikit memberikan ketenangan. Ia menatap wajahnya di cermin—tanpa riasan tebal pengantin, ia terlihat seperti Arumi yang biasa. Gadis yang gemar membaca buku di pojok perpustakaan, gadis yang lebih suka memakai kemeja flanel daripada gaun mewah.

Apakah Mas Adrian akan kecewa melihat penampilanku yang asli? pikirnya getir.

Setelah mengenakan pakaian santai yang sempat disiapkan ibunya dalam koper kecil—sebuah tunik katun berwarna biru muda dan celana kain—Arumi keluar dari kamar mandi. Saat itulah pintu kamar terbuka, dan Adrian masuk dengan setelan olahraga yang sedikit basah oleh keringat. Handuk kecil tersampir di lehernya, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan, memberinya kesan lebih muda dan... manusiawi.

Langkah Adrian terhenti saat melihat Arumi. Mereka terpaku selama beberapa detik.

"Sudah bangun?" tanya Adrian datar. Tidak ada nada benci, tapi juga tidak ada kehangatan.

Suaranya seperti air tenang yang dalam—sulit ditebak dasarnya.

"I-iya, Mas. Baru saja," jawab Arumi gugup, jemarinya saling bertautan.

Adrian berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan, mengambil botol air mineral. "Kita berangkat ke rumah utama satu jam lagi. Orang tuaku ingin kita sarapan di sana sebelum kita pindah ke rumah baru kita sendiri."

Arumi mengangguk patuh. "Baik, Mas."

"Arumi," panggil Adrian sebelum ia masuk ke kamar mandi.

"Ya?"

"Di depan orang tuaku, bersikaplah sewajarnya. Mereka tahu apa yang terjadi, tapi mereka tidak ingin drama ini diperpanjang. Ayahku sangat menghargai ayahmu. Jadi, tolong... jangan buat mereka khawatir."

"Aku mengerti," bisik Arumi.

Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Adrian. Perjalanan menuju kediaman besar keluarga Pramoedya berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Arumi menatap keluar jendela, melihat jalanan Jakarta yang mulai padat, sementara Adrian sibuk dengan tablet di tangannya, memeriksa email atau entah apa pun itu yang dilakukan para CEO di pagi hari.

Sesampainya di rumah utama, mereka disambut oleh pelayan berseragam rapi. Rumah itu sangat megah, bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih yang menjulang tinggi. Di ruang makan yang luas, kedua orang tua Adrian, Tuan Aryo dan Nyonya Sofia, sudah menunggu.

"Selamat pagi, Arumi, Adrian," sapa Nyonya Sofia dengan senyum hangat namun matanya memancarkan sedikit rasa iba. Ia segera mendekat dan memeluk Arumi. "Bagaimana tidurmu, Sayang? Maafkan keributan yang terjadi kemarin, ya."

Arumi tersenyum tipis, merasa sedikit hangat dengan sambutan itu. "Selamat pagi, Ma. Tidur saya nyenyak, terima kasih."

"Mari duduk, sarapan sudah siap," ajak Tuan Aryo dengan suara berat yang berwibawa.

Sarapan berlangsung dengan denting sendok dan garpu yang teratur. Tuan Aryo dan Adrian sempat berbincang sedikit tentang bisnis, sementara Nyonya Sofia mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan hobi Arumi.

"Aku dengar kamu suka menulis, Arumi?" tanya Nyonya Sofia lembut.

Arumi sedikit terkejut. Tidak banyak orang yang tahu hobinya, karena biasanya semua orang hanya membicarakan bakat modeling Siska. "Iya, Ma. Saya suka menulis cerita pendek... dan sedang mencoba menyelesaikan draf novel."

"Bagus itu. Adrian, kamu harus mendukung istrimu. Jangan biarkan dia bosan di rumah nanti," celetuk Nyonya Sofia sambil melirik putranya.

Adrian hanya bergumam pendek tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. "Tentu, Ma."

Setelah sarapan usai, Adrian mengajak Arumi berpamitan. Mereka akan langsung menuju rumah pribadi Adrian yang terletak di kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Saat berjalan menuju mobil, Nyonya Sofia menahan Arumi sebentar.

"Arumi, Adrian itu pria yang baik, hanya saja hatinya sedang membeku karena pengkhianatan kakakmu. Tolong bersabarlah dengannya. Mama yakin, kamulah yang sebenarnya dia butuhkan, bukan Siska," bisik Nyonya Sofia dengan tulus.

Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Arumi sepanjang perjalanan. Pria yang baik? Arumi mencuri pandang ke arah Adrian. Rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang dingin tidak menunjukkan tanda-tanda kebaikan yang dimaksud Nyonya Sofia.

Rumah baru mereka adalah sebuah bangunan minimalis modern dua lantai dengan banyak jendela besar dan taman kecil di tengahnya. Sangat tenang dan asri. Adrian membawa Arumi masuk dan menunjukkan ruangan-ruangannya.

"Ini kamar utama," ujar Adrian sambil membuka pintu sebuah ruangan besar yang didominasi warna abu-abu dan kayu gelap. "Pakaianmu sudah dipindahkan ke sini oleh asistenku tadi pagi."

Arumi menelan ludah. "Lalu... Mas Adrian tidur di mana?"

Adrian menunjuk ke arah pintu di seberang lorong. "Itu ruang kerjaku. Ada sofa bed yang cukup nyaman di sana. Seperti yang aku katakan semalam, kita akan hidup masing-masing. Di depan publik dan keluarga, kita adalah suami istri. Di dalam rumah ini, kita adalah teman sekamar yang tidak sengaja terikat kontrak."

Arumi mengangguk pelan. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa pedih yang menyelinap. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.

"Mas Adrian," panggil Arumi saat Adrian hendak menuju ruang kerjanya.

Adrian berhenti dan menoleh. "Apa lagi?"

"Apakah... apakah Mas begitu mencintai Kak Siska sehingga Mas membenciku?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Adrian terdiam cukup lama. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku tidak membencimu, Arumi," jawab Adrian akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah. "Aku hanya benci dikhianati. Dan kamu... kamu adalah pengingat konstan tentang pengkhianatan itu. Tapi ingat satu hal; aku adalah pria yang memegang janji. Aku akan menanggung kebutuhanmu selama satu tahun ini. Setelah itu, kamu bebas kembali ke kehidupanmu yang dulu."

Pintu ruang kerja tertutup dengan bunyi klik yang pelan namun terasa final. Arumi berdiri sendirian di tengah kamar utama yang luas. Ia mendekat ke jendela, menatap taman kecil di bawah.

Seorang istri pengganti. Hanya setahun.

Ia mulai membongkar kopernya, menyusun pakaiannya di lemari besar yang sebagian besar masih kosong. Ia menemukan laptopnya di bagian bawah koper. Sejenak, ia teringat pada novel yang sedang ia tulis. Novel itu bercerita tentang seorang gadis yang mencari kebebasan. Ironis sekali, pikirnya.

Arumi memutuskan untuk tidak membiarkan kesedihan menguasainya. Ia keluar menuju dapur. Ia melihat kulkas yang sudah terisi penuh dengan bahan makanan segar. Mungkin, memasak bisa menjadi pelariannya.

Sore harinya, aroma harum tumis ayam mentega dan sayur sop memenuhi rumah. Arumi menata meja makan dengan rapi. Ia ragu apakah harus mengajak Adrian makan atau tidak. Namun, ia memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja suaminya.

"Mas... makan malam sudah siap."

Pintu terbuka tak lama kemudian. Adrian tampak terkejut mencium aroma masakan. "Kamu masak?"

"Iya, daripada tidak ada kerjaan. Mas mau makan bersama?"

Adrian tampak ragu sejenak, namun perutnya yang lapar rupanya tidak bisa diajak kompromi. Ia mengangguk dan mengikuti Arumi ke ruang makan. Mereka makan dalam diam, namun kali ini suasananya tidak seberat tadi pagi. Adrian tampak menikmati masakan Arumi, bahkan menambah porsi nasinya.

"Masakanmu... enak," ujar Adrian singkat setelah selesai makan.

Arumi tersenyum tulus, senyum pertamanya sejak kemarin. "Terima kasih, Mas."

Malam itu, Arumi berbaring di tempat tidur yang luas. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit harapan. Konflik ini mungkin tidak akan seberat yang ia bayangkan. Adrian tidak kasar, ia hanya terluka. Dan Arumi, dengan segala kesabarannya, memutuskan untuk menjalani peran ini sebaik mungkin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!