NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Namaku Luna Danni, tahun ini genap tiga puluh tahun usiaku.

Di antara teman-teman sebaya, aku selalu menjadi sosok yang membuat orang lain iri. Aku bukan hanya tinggal di sebuah vila mewah di kawasan elit Kota, tetapi juga memiliki seorang suami muda, tampan, dan perhatian. Ia mencintaiku dengan sepenuh hati, seolah kami masih dalam masa-masa awal pacaran. Di mata semua orang, ia adalah suami teladan setia, pengabdiannya tak pernah diragukan.

Suamiku bernama Dean Junxian, dulunya seorang penata gaya ternama. Sedangkan aku, sebelum menikah, mengelola sebuah perusahaan peralatan medis dengan penghasilan tahunan yang sangat menggiurkan.

Setelah menikah, kami dianugerahi tiga anak yang menggemaskan dan cantik. Karena kewalahan mengurus bisnis sekaligus merawat anak-anak, Dean memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Ia menawarkan diri membantu mengelola perusahaanku, dan di bawah tangannya, bisnis itu berkembang pesat.

Akhirnya, aku memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya menikmati hidup, mendampingi suami, dan mendidik anak-anak. Dari luar, aku tampak seperti pemenang sejati dalam kehidupan.

Namun belakangan, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Rambutku mulai rontok tanpa henti, aku sering merasa mengantuk, tubuhku semakin kurus, daya ingat menurun, mentalku rapuh, dan pikiranku sering linglung.

Dean menilai aku menderita gangguan kecemasan yang cukup parah. Ia telah membawa berbagai dokter ternama dan membawakan obat-obatan herbal, lalu meminta pengasuh rumah, Kak Zhiyi, untuk rutin menyiapkan dan memberikannya tepat waktu.

Namun, yang tidak pernah aku sangka, obat-obatan itulah yang menjadi awal dari bencana yang nyaris merenggut nyawaku.

Hari itu, saat terlelap, aku terbangun karena sakit kepala yang menusuk. Tanpa sengaja, aku menyenggol mangkuk berisi obat yang baru saja diantarkan Kak Zhiyi. Di tengah kantuk yang masih mencekam, seekor kucing rakus di rumah langsung mendekat, menjilati tumpahan obat hingga bersih.

Ketika aku sepenuhnya tersadar, kucing itu sudah melompat ke ambang jendela, menjilati cakarnya dengan santai seolah baru saja menikmati hidangan lezat.

Saat Kak Zhiyi datang untuk mengambil mangkuk kosong, aku sengaja tidak mengungkit kejadian itu. Aku tidak ingin merepotkannya untuk menyiapkan obat lagi.

Sejujurnya, aku sudah sangat muak minum obat-obatan itu. Selain rasanya yang pahit, obat-obatan itu sama sekali tidak menunjukkan hasil. Jika bukan karena menghargai usaha dan perhatian suamiku, pasti sejak lama aku sudah membuang semuanya.

Sejak aku jatuh sakit, seluruh urusan rumah tangga sepenuhnya bertumpu pada pundak Bibi Zunai, pengasuh kami. Setiap hari ia bekerja tanpa henti, cekatan, dan tak pernah sekalipun mengeluh. Melihatnya demikian, hatiku terkadang terasa berat terlalu bersalah karena membuatnya menanggung beban begitu besar.

Setelah mengobrol singkat denganku, ia membawa mangkuk kosong itu dan segera kembali ke pekerjaannya dengan langkah cepat namun tertata.

Aku menoleh dan menatap bantalku. Di sana, kembali terlihat helai-helai rambut hitam yang rontok berserakan. Pemandangan itu menyayat hati. Sambil menghela napas, aku mengumpulkan rambut-rambut itu, menggulungnya menjadi satu, lalu menyelipkannya ke saku baju rumah yang kukenakan.

Tiba-tiba, terdengar bunyi “gedebuk” keras dari arah belakang. Jantungku melonjak, aku tersentak!

Sambil menekan dada untuk menenangkan diri, aku perlahan membalikkan badan ke sisi tempat tidur yang lain. Boneka Reba, yang sebelumnya duduk santai di ambang jendela sambil menatap luar, kini tergeletak di lantai, telentang dan tak bergerak. Sunyi menyelimuti ruangan.

Perasaan aneh langsung merayap di tubuhku, memberi firasat buruk yang membuat bulu kudukku meremang.

“Cona!” panggilku, namun ia tidak bergerak.

Rasa dingin menjalar dari punggung ke ujung rambut. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kata orang, kucing memiliki sembilan nyawa dan keseimbangan luar biasa. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh dari ambang jendela, apalagi sampai tergeletak tak berdaya seperti ini?

Apakah… dia… mati?

Jantungku seakan berhenti sesaat. Dengan gemetar, aku mencondongkan tubuh untuk memeriksa. Ternyata napasnya terdengar berat, stabil namun sangat dalam ia tidak mati. Cona hanya tertidur pulas, tapi posisinya… aneh dan rentan.

Sebuah pikiran mengerikan melintas di benakku, membuat seluruh tubuhku tegang. Tanpa ragu, aku melompat turun dari tempat tidur dan langsung meraih Cona. Tubuhnya lemas, lunglai, tertidur begitu pulas hingga tampak kehilangan kesadaran dan insting bertahannya seolah lenyap.

Aku tak kuasa menahan pikiran yang terus berulang di kepalaku—apakah posisi tidurku setiap malam juga terlihat mengerikan seperti Cona saat terjatuh itu?

Mungkinkah…?

Begitu bayangan itu melintas di kepala, tubuhku seketika menggigil hebat, seperti terperosok ke dalam lubang es yang tak berujung. Nafasku tersengal, jantungku berdegup tak karuan, dan aku tidak berani membayangkan lebih jauh lagi. Setiap bayangan di sekitarku terasa mengintai, menimbulkan rasa takut yang kian mencekam.

Belum sempat aku merenung lebih lama, terdengar suara langkah kaki yang sangat kukenal dari balik pintu—ritme yang familiar dan berat. Itu pasti Dean Junxian yang baru saja pulang.

Secara insting, aku segera memeluk Cona dengan erat, melompat ke tempat tidur, dan menutupi tubuhnya yang lemas dengan selimut. Aku berusaha menahan napas, menenangkan diriku, dan berpura-pura tertidur, seakan tidak ada yang terjadi.

Di saat itu, terdengar bunyi klik dari gagang pintu yang diputar. Jantungku langsung berdegup lebih kencang, seolah genderang perang dipalu di dadaku. Aku bisa merasakan sepasang mata menatap tajam ke arah punggungku tatapan itu begitu menusuk, menyakitkan seperti sayatan pisau. Di balik selimut, tanganku gemetar hebat, nyaris tak terkendali.

Namun, langkah kaki itu tidak masuk ke dalam kamar. Sosoknya justru mundur, melangkah perlahan keluar. Sesaat sebelum pintu tertutup rapat, aku mendengar Dean Junxian bertanya dengan nada lirih, “Sudah minum obatnya? …”

Sisa kalimatnya teredam oleh pintu yang menutup, meninggalkan aku dalam kebingungan. Apa yang baru saja dia maksud? Apa maksud perkataannya itu?

Detik berikutnya, aku mendadak membuka mata. Rasa takut yang belum pernah kurasakan sebelumnya menyerbu, memenuhi seluruh tubuh dan jiwaku. Aku bahkan linglung sejenak, tidak tahu di mana aku berada—apakah ini nyata, atau aku tengah terjebak dalam mimpi buruk yang sangat hidup?

Pemandangan di depanku kembali menghadirkan bayangan semangkuk obat itu. Hatinya terasa dingin, nyeri, dan aneh seakan ada sesuatu yang bersembunyi di balik kesunyian malam. Aku sudah memelihara Cona selama bertahun-tahun, dan ia tidak pernah sekalipun menunjukkan perilaku seperti ini. Satu-satunya hal yang berbeda… adalah obat itu. Obat yang seharusnya untukku, kini diminum oleh Cona.

Pikiran itu membuat bulu kudukku meremang, dan rasa ngeri menjalar ke seluruh tubuh. Seolah-olah ada sesuatu yang mengintai di sudut kamar, mengawasi setiap gerakanku.

Mungkinkah… benar-benar ada seseorang yang ingin mencelakaiku?

Tanya itu berulang di kepalaku, menimbulkan firasat buruk yang lebih pekat daripada sebelumnya. Suasana yang sebelumnya hanya sunyi, kini terasa penuh ancaman, dan aku merasa… seolah malam itu menyembunyikan rahasia yang jauh lebih gelap daripada yang bisa kubayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!