Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman masa kecil
"Ikhram."
Rinjani yang hampir saja melewati Departure gate hall berbalik dan berlari kecil menghampiri Ikhram yang masih menatapnya penuh senyuman. Ia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya dan memberikan pada Ikhram.
"Saya mendapatkannya dari dascham mobil ayah. Semoga bisa membantumu menyelesaikan masalah yang sedang terjadi."
Ikhram menghela napas panjang mengingat perpisahan mereka di bandara. Dia terus memutar memori berisi rekaman dascham di kedua jarinya.
Ia sudah melihat isinya, dimana saat meninggal kamar hotel usai dibuat kaget oleh Rinjani. Ia memilih tidur di dalam mobil daripada harus satu kamar dengan wanita yang dicintainya tanpa ikatan yang sah. Ikhram bukan orang suci, dia juga laki-laki pada umumnya yang bisa tergoda oleh bisikan setan.
"Ternyata dia peduli padaku." Ia tersenyum dan menyimpan memori itu. Berniat menyerahkannya sebagai alibi. Di dalamnya bukan hanya rekaman dashcam, tetapi ada rekaman cctv di lorong hotel ketika keduanya memasuki kamar dan Ikhram keluar sendirian selang beberapa menit. Entah Rinjani mendapatkannya dari mana, tetapi ia bersyukur rekaman itu ada padanya.
Menyadari jam yang menunjukkan angka dua pagi. Ikhram segera berbaring di ranjangnya. Di sampingnya terdapat boneka kesayangan Rinjani yang dia ambil dari rumah hj Ira.
Melihat ponselnya menyala, ia segera menyambar. Ada sebuah pesan dari wanita yang sejak tadi hinggap di pikirannya.
Sampaikan pada ayah dan ibu bahwa saya sudah sampai di rumah
Usai membaca pesan, Ikhram mendial nomor pengirimnya. Melakukan video call sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Sudah mau tidur?" tanya Ikhram.
"Iya nih, capek banget."
"Jadi saya ganggu?"
"Nggak juga." Meski video call sedang berlangsung tidak membuat Ikhram melihat wajah Rinjani.
Hanya langit-langit kamar dan siluet bayangan Rinjani yang mondar-mandir entah melakukan apa.
"Kamu sudah menonton rekaman yang saya berikan?"
"Sudah, tapi apa yang kamu lakukan? Di mana wajahmu?"
"Apa mungkin kamu rindu?" Terdengar kekehan di seberang telepon.
"Iya itu mungkin terjadi. Selama beberapa hari saya sudah terbiasa tidur dengan seorang perempuan. Dan malam ini terasa sepi."
"Nanti juga terbiasa." Kali ini gambar di seberang telpon bergerak tidak terkendali sampai akhirnya wajah Rinjani terlihat dengan rambut panjangnya.
"Beberapa hari kedepan, jadwal saya mungkin sangat padat sehingga sulit memberikan kabar."
"Bahkan sebelum tidur?"
"Hey kamu seperti suami sungguhan." Rinjani terkekeh. "Saya mengantuk, dah." Rinjani melambaikan tangan dan memutus sambungan telepon.
"Saya memang suamimu dan mencintaimu," gumam Ikhram meletakkan ponselnya di samping bantal.
"Kamu bisa bersabar selama 20 tahun, nggak ada salahnya menunggu beberapa hari," ucapnya yang ditujukan pada diri sendiri. Ia beralih memeluk boneka yang selalu dipeluk oleh Rinjani ketika tidur. Dan boneka itu sebenarnya adalah pengganggu sebab berada di antara Ikhram dan Rinjani di malam hari.
...
Suara jam beker memekakkan telinga di dalam kamar, pemiliknya meraba dan mematikan benda mengesal itu secara kasar. Membuka kelopak matanya paksa dengan perasaan lelah. Mungkin karena waktu tidurnya tidak cukup.
"Dia bahkan nggak membangunkan saya," gerutunya.
"Oh iya lupa sekarang saya ada di jakarta." Rinjani menepuk keningnya. Ia terbawa siklus Ikhram yang selalu membangunkannya di pagi hari.
Ia segera bersiap-siap untuk menyambut hari-hari sibuknya di kantor usai meninggalkan selama hampir tiga minggu. Dia menggeledah tasnya demi mendapatkan beberap hal dan dia malah menemukan benda asing.
"Astaga ini kan dompet Ikhram," gumamnya.
Saat perjalanan kebandara, Ikhram mengisi bensin dan ke kamar mandi itulah mengapa menitipkan dompet kepadanya. Dan ia lupa mengembalikan.
Rinjani menggeledah, berharap tidak ada hal penting. Naasnya ada ktp, sim dan beberapa kartu lainnya.
"Malah jatuh." Terlalu terburu-buru ia menjatuhkan beberapa isi.
Dari banyaknya lembaran uang yang terjatuh, atensi Rinjani hanya tertuju pada gambar dua anak kecil. Itu fotonya saat berusia 8 tahun dan teman yang ia ingin temui di desa sedang merangkul menatapnya mengejek.
"Benarkan dia dekil." Rinjani tertawa. "Tapi kenapa ada di dompet Ikhram, apa mungkin?"
Rinjani langsung membalik foto itu dan menemukan tulisan jelek.
Jani dan Iklan
Ingatan pun membawanya saat dia berkunjung ke rumah orang tua Ikhram. Kala itu ia menemukan tulisan di depan pintu kamar Ikhram.
Ini kamar Iklan
"Hah jadi orang yang saya cari sudah menjadi suami saya?" Sungguh ini kejutan untuknya. Sialnya dia mengetahui itu ketika sudah berada di jakarta.
"Ponsel-ponselku di mana."
Rinjani berputar beberapa kali mencari ponselnya. Langsung mendial kontak Ikhram
"Dompetmu ada pada saya," ujar Rinjani. "Saya akan mengirimnya ke ekspedisi."
"Ternyata ada padamu, saya tadi mencarinya kemana-mana dan mengira hilang." Terdengar helaan napas lega di seberang telepon. "Kamu akan berangkat kerja?"
"Hm."
"Semangat dan capet pulang."
"Harus, soalnya saya ingin mengatakan sesuatu secara langsung padamu. Sampai jumpa Ikram."
.
.
.
Akhirnya Jani tahu kalau Ikhram teman masa kecilnya.
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,