Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik Dalam Negeri
Matahari bersinar cerah di atas Jakarta, memantulkan cahaya pada gedung-gedung tinggi yang mengelilingi Jalan Jenderal Sudirman. Keringat mengalir di punggung orang-orang yang berjalan di trotoar, menghapus aroma hujan yang masih tersisa dari malam sebelumnya. Udara penuh dengan campuran bau asap kendaraan bermotor, sate ayam dari pedagang kaki lima, dan wangi parfum dari karyawan kantor yang bergegas. Di tengah keramaian itu, sekelompok orang yang selalu bergerak menuju luar negeri, kini berkumpul di sebuah warung kopi di sudut jalan. Mereka mengenakan pakaian biasa, namun mata mereka memancarkan ketegasan. Rina mengaduk kopi susu, memandangi jendela. “Kita sudah melawan musuh di luar, kini giliran kita melawan musuh di rumah,” katanya.
Di hadapan mereka tergeletak tumpukan kertas berisi laporan. Di antaranya, ada gambar logo “Jakarta Biotech” – perusahaan farmasi baru yang dalam laporan Maya memiliki hubungan dengan B19 dan jaringan White Lotus. Perusahaan ini dimiliki oleh keluarga politisi bernama Pak Anton – seorang anggota DPR yang baru naik daun, yang selalu tersenyum di depan kamera dan berbicara tentang “Visi Indonesia Emas”. Maya menyuplai data: rekening yang mengalir dari Beijing Elite ke Jakarta Biotech, percakapan email tentang “pengujian B19 untuk program peningkatan kognisi anak”, dan undangan rahasia ke investor Dubai.
“Perusahaan ini mengirim bahan ke lab Samosir, mengirim uang ke Beijing, dan sekarang mempekerjakan tenaga ahli dari Rusia,” jelas Profesor. “Mereka merencanakan uji coba B19 di sini, mungkin di kota-kota terpencil. Kita harus menghentikannya sebelum mereka mulai.” Tento menggigit donat, memikirkan. “Kita harus pakai cara baru. Janitor, pekerja sayur, musisi, semua sudah. Apa lagi?” katanya. Perikus menatap spanduk di depan warung bertuliskan “Bazaar Buku”, lalu tersenyum. “Bagaimana kalau kita jadi jurnalis?” tanya Rina. “Atau jadi tamu VVIP di acara launching?” Tento menatap ke langit, muncul ide. “Atau kita jadi rombongan hajatan,” katanya. Mereka tertawa. Rina mengangkat alis. “Hajatan?” Tento menjelaskan, “Perusahaan ini akan mengadakan acara amal, launching program kesehatan ‘Pintar Sehat’ di hotel mereka. Kita bisa masuk sebagai rombongan hiburan. Kita menyamar sebagai grup tari. Kita memanfaatkan kesempatan untuk melihat lab mereka.”
Mereka mencari informasi. Jakarta Biotech akan meluncurkan program “Pintar Sehat” di hotel mewah di daerah SCBD, mengundang tokoh masyarakat, pejabat, dan selebriti. Program ini bertujuan memberikan “nutrisi dan vaksin gratis untuk peningkatan kecerdasan anak”. Rina memutar mata. “Slogan yang manis untuk racun,” katanya. Mereka memutuskan merencanakan infiltrasi. Profesor menghubungi rekan seni di Institut Seni Jakarta. “Bisakah kalian meminjamkan kostum tari?” tanya Profesor. Mereka juga menghubungi jurnalis investigasi: “Kami butuh tim dokumentasi,” kata Tento. Mereka menyiapkan rencana: Rina dan Tento menyamar sebagai penari; Perikus sebagai fotografer; Profesor sebagai tamu undangan; Maya di belakang layar mengawal digital; Pak Hadi di rumah menjaga Joko.
Hari acara, mereka berkumpul di belakang panggung hotel, mengenakan kostum tari tradisional Betawi: kebaya berwarna cerah, kain batik, dan topeng ondel-ondel. Tento mengenakan kostum laki-laki, dengan topi peci dan baju koko, membawa tifa. Mereka menata rambut, wajah, menutup identitas. “Aku tidak percaya kita jadi ondel-ondel,” kata Tento, menahan tawa. Rina tersenyum, “Bahasanya begitu, kita jadi boneka hidup untuk melawan boneka robot,” katanya. Pintu belakang dibuka oleh petugas hotel. “Masuk sini,” katanya. Mereka membawa alat musik, menari ke dalam lobi hotel. Lampu kristal besar tergantung, karpet tebal, aroma parfum mewah bercampur dengan wangi mawar. Tamu berdandan mewah berjalan, selfie, tertawa, meminum champagne. Di sudut, Pak Anton berdiri, mengenakan jas dan dasi merah, tersenyum, berbicara dengan bupati.
Acara dimulai. Pembawa acara berdiri di panggung, mengenakan batik, berseru, “Selamat datang! Mari kita sambut Pak Anton!” Pak Anton naik panggung, berpidato. “Hari ini, kita meluncurkan program Pintar Sehat, demi generasi unggul,” katanya, suaranya mengalir. Tamu tepuk tangan. Rina menatap Pak Anton, lalu menatap Profesor di belakang ruangan. Profesor mengangkat tangan, memberi tanda. Sementara Pak Anton bicara, mereka memulai tarian Betawi, gerakan lincah, irama tifa. Mereka berputar, tersenyum, menutup wajah. Tento memainkan tifa dengan semangat, merasakan irama dangdut. Tamu menonton, mengambil video. Pada titik tertentu, Rina dan Tento bergerak ke sisi panggung, mendekati area pintu staff. Mereka berputar, menari, namun perlahan bergerak ke pintu. Petugas security menoleh, menatap mereka, tapi tidak curiga. Mereka membuka pintu staff, beralasan “ganti kostum”. Mereka masuk ke koridor belakang.
Sementara itu, Perikus berjalan berkeliling dengan kamera, mengambil foto tamu, lampu, dan memanfaatkan kesempatan untuk memotret kartu akses yang dipakai staff. Ia melihat seorang staff meletakkan kartu di meja. Ia mengambil foto kartu, mengirim ke Maya. Maya menggunakan foto itu untuk membuat duplikat digital. “Aku kirim ke kamu lewat WhatsApp,” bisiknya kepada Rina. Rina menerima, menempelkannya pada ponsel dengan aplikasi keycard digital. Mereka bergerak ke lift service. Di lift, aroma kayu, logam, dan parfum juri acara bercampur. Mereka memasukkan kartu digital, pintu lift terbuka. Mereka turun ke basement.
Basement gelap, bau cat dan karpet baru. Ada pintu tertutup dengan tulisan “Authorized Personnel Only”. Mereka menempelkan kartu, pintu terbuka. Di dalam, ruangan laboratorium kecil dengan dinding kaca. Seorang lelaki berjas lab duduk di depan komputer, berbicara dengan seseorang di layar. “Kita akan kirim batch B19 ke Surabaya minggu depan,” katanya dalam bahasa Indonesia. “Sudah ada dokter yang siap. Mereka pikir ini vitamin.” Di sebelah, ada lemari pendingin dengan botol berlabel B19, B19-C, B20. Rina memotret. Tento memegang kamera, merekam. Rina membuka lemari, mengambil satu botol, memasukkan ke tas pendingin kecil dengan es. Ia memakai sarung tangan. Tento menggigil. “Hati-hati,” bisiknya. Mereka mendengar langkah. Pintu terbuka. Seorang wanita muda berkacamata masuk, membawa tablet. Ia berhenti, menatap mereka. “Kalian siapa? Kenapa di sini?” tanya perempuan itu.
Rina spontan menjawab, “Kami... penari Betawi. Kami tersesat.” Wanita itu mengerutkan kening, tidak percaya. Ia hendak menekan alarm. Tento bergerak cepat, menutup pintu, menghalangi. “Kami punya surat perintah,” kata Rina, mengeluarkan ID LPSK palsu. Wanita itu bingung. Tiba-tiba, suara alarm berbunyi dari panggung di atas. “Perhatian, alarm kebakaran! Tamu harap keluar!” terdengar dari pengeras suara. Tamu panik. Mereka berlari ke luar. Rina dan Tento memanfaatkan kesempatan, menekan tombol, mematikan sistem alarm di lab, keluar. Mereka berlari ke tangga, naik ke lantai lobi. Di lobi, tamu berlarian, hotel kacau. Profesor berdiri di dekat pintu keluar, mengarahkan tamu. Ia melihat mereka, memberi sinyal untuk keluar. Mereka keluar ke parkiran. Di luar, sirene mobil pemadam berbunyi. Tidak ada api; alarm itu ulah Maya. Maya menelepon, tertawa. “Maaf menakutkan, tapi aku harus menyelamatkan kalian,” katanya.
Setelah keluar dari hotel, mereka menuju mobil yang parkir di belakang. Mereka memasukkan botol B19 ke dalam kotak, memeriksa. Rina merasa tangan gemetar. “Ini lebih gila dari kemarin,” katanya. Tento tertawa. “Kita hampir tertangkap oleh ondel-ondel kimia,” katanya. Mereka mengirim data ke Maya. Maya mengatakan, “B19 ini 90% mirip dengan B19 di Shanghai, ditambah senyawa doping. Ini bukti kuat. KPK dan polisi harus menindak.” Rina menghubungi LPSK dan polisi. Dalam hitungan jam, polisi menyerbu lab itu, menahan beberapa pegawai. Media menyiarkan berita: “Laboratorium B19 Jakarta Biotech Digerebek Polisi.” Publik terkejut. Pak Anton menggelar konferensi pers, menangis, berkata dia tidak tahu apa-apa. Netizen tidak percaya. Meme Pak Anton menangis bermunculan di Twitter.
Penyelidikan berlanjut. KPK menemukan aliran dana ke rekening pribadi Pak Anton. Nama-nama dokter, akademisi, dan pejabat muncul. Saksi-saksi dipanggil. Di Komisi Etik Nasional, Rina dan Profesor duduk berdampingan dengan korban baru: seorang mahasiswa peserta program Pintar Sehat yang mengaku disuntik B19. “Saya pikir itu vitamin,” katanya. “Tapi kepala saya sakit, saya agresif, saya tidak tidur.” Rina memegang tangannya. “Kamu berani bicara. Kami akan membantumu,” katanya.
Sementara itu, tim lain berlatih untuk misi Dubai. Tento, Perikus, dan Maya mempelajari bahasa Arab dasar. “Shukran,” ucap Tento, sambil memegang buku. “Mabrook,” ucap Perikus. Mereka tertawa. Mereka memeriksa dokumen Dubai BioFuture, mempelajari struktur perusahaan, pemilik fiktif, aliran uang. Mereka berkoordinasi dengan aktivis Hak Asasi Manusia di Dubai, yang menyarankan menyamar sebagai konsultan farmasi dari Asia. Mereka menyewa translator lokal bernama Ali. “Ali akan bertemu kalian di Dubai Mall. Dia jurnalis undercover,” kata Maya. Tento menggaruk kepala. “Dubai Mall? Aku pikir kita bertemu di pasar kambing,” katanya. Mereka tertawa.
Professor merencanakan misi ke Rusia. Ia menghubungi jurnalis Anna, yang menawarkan jaringan contact. Mereka mempelajari Moscow TechMed dan oligark Rusia. Rina berkata, “Kita harus hati-hati. Rusia bukan main-main.” Mereka berkonsultasi dengan Interpol. Interpol setuju membantu, tetapi meminta mereka tidak bertindak sendiri. “Kami akan mengatur operasi. Kalian hanya memberikan bukti,” tulis perwakilan Interpol.
Di tengah persiapan internasional, mereka menerima kabar dari Papua. Yayasan tambang merekrut orang untuk “program kesehatan gizi”. Rina segera menghubungi dokter di Papua. “Kami akan datang setelah misi internasional,” katanya. Hatinya berat, tetapi ia tahu mereka tidak bisa membiarkan B19 menyebar ke Indonesia bagian timur. Mereka merencanakan perjalanan, berkoordinasi dengan LSM lokal.
Bab ini menutup fase baru perjuangan mereka. Mereka memikirkan perjalanan ke Dubai, Rusia, dan Papua. Mereka menyadari bahwa dunia ini saling terhubung: uang dari Beijing, investor Dubai, ilmuwan Rusia, politisi Indonesia, korban di Papua. Mereka menatap peta lagi, menambahkan pin baru dengan tali baru. Mereka kelelahan, tetapi mata mereka bersinar. Mereka saling memberi kata-kata penyemangat. Rina berkata, “Kita bukan superhero, tetapi kita punya hati.” Professor berkata, “Kita belajar bahwa ilmu harus diawasi oleh cinta, bukan uang.” Tento menambahkan, “Dan kita punya soto.” Tertawa pecah.
Di malam hari, mereka berjalan di trotoar yang basah, lampu jalan memantulkan cahaya ke air. Mereka melewati pedagang martabak, aroma manis coklat dan susu mengundang. Mereka membeli satu, menyantap di trotoar, tertawa ketika coklat meleleh. Orang-orang yang lewat menatap mereka, mungkin mengenali mereka, mungkin tidak. Mereka merasa seperti orang biasa, melakukan hal biasa, meski hidup mereka luar biasa. Mereka pulang ke kontrakan, menutup pintu, duduk di sofa, menulis catatan, menelpon orang tua, menutup mata. Mereka bersyukur, mereka takut, mereka berani. Mereka tahu, petualangan berikutnya akan semakin rumit. Namun, dengan humor, cinta, dan keteguhan, mereka siap menyambut bab berikutnya.