Laki-laki hanya mencintai satu kali, sisanya hanya menjalani hidup. Ada yang mengatakan seperti itu. Damien tidak tau apakah itu benar, namun perjalanan hidupnya kali ini benar-benar diluar prediksi dan rencana.
Dia kehilangan istri dan keluarga kecilnya juga terancam pecah, namun di saat yang hampir bersamaan, ternyata semua bencana yang dia alami mengantarkan dia bertemu kembali ke sosok wanita yang dulu sangat dia idam-idamkan sepenuh jiwanya untuk menjadi pasangan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shelly Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba sendiri.
BAB 5
Pesawat yang ditumpangi Damian dan anak-anak baru saja turun di bandara Soekarno-Hatta, jam 14.00 sore kurang sedikit. Ketika hape Damian baru dinyalakan, saat itu juga terlihat deretan pesan panggilan tidak terjawab dari nomor telpon Ibu nya Lidya, Aling. Damian mengerutkan keningnya, namun tidak langsung balik menelepon.
Dia hanya memasukkan kembali hapenya di dalam saku celana nya, lalu berjalan mengawal anak-anak nya terlebih dahulu hingga sampai ke daerah tunggu dan berkata kepada mereka utk pergi ke arah pintu keluar ruang kedatangan sambil menunggu dia mengambil koper-koper mereka yg masih melewati proses deteksi di Baggage Claim.
Baru setelah koper- koper mereka sudah lolos deteksi, Damian mengambil nya lalu membawa semua kepada anak-anak dan pengasuh mereka.
Setelah itu Damian membuka hapenya, menelusuri aplikasi transportasi online dan memesan mobil transportasi. Saat sudah fix lalu mendapatkan sopir nya, Damian saling berkomunikasi dengan driver mobil itu utk memastikan titik temu.
Akhirnya ketika mobil itu datang , Damian beserta anak-anak dan juga pengasuh mereka masuk ke dalam mobil itu, dan barulah Damian mengirimkan pesan balik ke sang ibu mertua nya .
“Siang Ma, maaf baru balas. Kami Baru sampai di bandara. Sekarang otw pulang”. Tulis Damian.
Tak menunggu lama, dalam beberapa menit, sang ibu mertua langsung menelpon Damian. “Lidya bareng sama kamu ga ?” tangan sang ibu mertua tanpa basa basi. “Engga Ma.. dia sudah duluan sejak kemarin. Kenapa Ma “ jawab Damian. “ Terakhir kamu komunikasi dengan dia kapan ya ?” Tanya Aling, yang tidak lain adalah ibu mertua Damian. “Kemarin malam, sebelum dia naik kereta Bandara. Dia sampai jakarta malam kemarin. Kenapa ya Ma ?”.
Terdengar Aling menghela nafas keras diseberang sana.” Memang kamu ga tau Lidya dimana ? Dia tidak mengangkat telpon mama sejak tadi pagi.. mama pikir dia pulang ke sini, tadi malam. Tapi dia tidak datang, sementara sejak pagi sampai tadi mama telpon telpon nya hanya memanggil, dan bahkan tidak aktif sekarang. Kamu kan suaminya, memang kamu ga komunikasi intens sejak tadi pagi ??”tanya Aling blak-blak an kepada Damian .
Damian terdengar diam sejenak di sana . Lalu dia menjawab dengan suara rendah. “Lidya sudah menghubungi saya di Malam dia sampai jakarta kemarin, Ma... dia bilang pagi ini sudah harus masuk ke kantor, jadi saya pikir dia tidak menghubungi saya karena dia sudah mulai sibuk di kantornya. Mama sudah menghubungi kantornya ? “,
“Belum... kamu bantu tanya ke kantornya ya. Nanti info ke mama , dia ada atau tidak..!”. Nada Aling terdengar sedikit kesal. “Coba mama yang telpon aja ya Ma... Saya masih dijalan bareng sama anak-anak. Waktunya belum senggang, nanti Damian kirim no kantor Lidya.” Damian langsung menjawab balik.
Aling menenggakkan kepalanya dari hape yang sedang dia gunakan saat mendengarkan jawaban Damien. merasa sedikit tak percaya dengan jawaban menantu nya sendiri.
“Ga usah ! Mama tau no telpon kantor Lidya kok !”. A ling menjawab dengan nada sedikit meninggi. “kamu ga khawatir dengan keadaan Lidya ??” tanya A ling kembali kepada menantu nya .
Damian terdengar menjawab pertanyaan Bayu, anak lelaki nya di telpon yg tiba-tiba bertanya, “aku mo makan.. lapar pah.”, “ iya, nanti kita mampir sebentar ke restoran ya” jawab Damian sedikit menjauh di hape. Lalu kembali mendekatkan bibirnya untuk menjawab pertanyaan ibu mertua nya disitu.
“Lidya ga akan kemana-mana Ma, dia harus ke kantor hari ini, apalagi tadi malam dia kambuh lagi, kali ini kena di tangan kanannya, kesemutan terus kata dia ,sebelum pergi ke bandara.. mungkin dia ga jadi kerja dan sekarang sedang istirahat di rumah, Ma. Nanti aku Cek kalau sudah sampai rumah.” Jawab Damian kembali.
Sang ibu mertua benar-benar kesal sekarang, “harusnya kamu kemarin atau bahkan minimal tadi pagi bisa sempatkan diri telpon dia dong, tanya bagaimana kabar dia, apalagi dia sedang kambuh lagi, kamu ga khawatir sebagai suami nya ya ?, mama tungguin dia sejak tadi malam, tapi dia ga datang ke tempat mama. Jadi mama pikir dia pulang kerumah kalian..”,
“ Ma, Lidya juga bilang nya seperti itu ke Damian, pulangnya ke rumah Mama, bukan ke rumah kami. Jadi saya pikir itu cukup aman. Dia pun apa-apa pasti telpon Damian. Jadi Damian juga menunggu telpon dia”, jawab Damian langsung.
Tiba-tiba terdengar kembali suara Bayu di telpon “Paah, ada Pizza.. mau !” . Damian terdengar berkata, “ pak, tolong mampir ke restoran Pizza di depan ya pak, nanti saya tambahkan tip ke bapak”, lalu kembali suara Damian di telpon,
” nanti saya hubungi Lidya ya, mah..mungkin mama bisa coba hubungi kantornya skalian, jadi bisa dapat info sama-sama. “ terdengar nada tegas dan luas dari Damian yg mengisyaratkan percakapan menuju akhir.
Aling tidak bisa meneruskan kembali, akhirnya dia hanya membalas dengan kata-kata “ yasudah, mama telpon kantornya. “ lalu langsung menutup telpon.
Setelah menutup telpon, Aling makin marah, dia sampai lupa untuk minta bicara dengan cucu nya sendiri. Padahal tadi dia mendengar suara cucu lelaki dari anak kesayangan nya. Tapi dia sampai lupa minta sambung kan telpon ke cucunya karena benar-benar khawatir mengenai keberadaan anaknya sekarang.
Benar-benar keterlaluan!. Sepintas di dasar hati sang ibu, terselip rasa sedikit marah kepada anaknya sendiri,Lidya. Kenapa sih Nak,kamu cinta mati sama laki-laki jenis begitu ?? .
Seandainya mama tau kalau kedepannya kamu sampai di peras sedemikian rupa seperti sekarang untuk melakukan apapun yg suami kamu inginkan, mama tidak akan izinkan kamu menikah dengan dia.
Egois dan kurang empati, makin lama makin terlihat saja sikap sang mantu kepada keadaan istrinya sendiri. Dia melihat sendiri betapa anaknya selalu terlihat banyak pikiran dan selalu merasa khawatir akan hal-hal yg harus dia kerjakan sekaligus baik pekerjaan rumah atau tempat kerjanya sendiri. Belum lagi dia selalu bercerita kepada sang Mama kalau semua pendapatan seringkali tidak bersisa karena begitu banyak hal yg harus dipenuhi dalam kehidupannya.
Itu sangat menempel di benak Aling , sehingga dia dengan diam-diam pun sering memberikan sedikit tambahan kepada Lidya dengan alasan untuk jajan sang cucu dengan uang yg dia punya dari hasil bunga deposito bulanan yg dipunyai nya.
Aling sudah lama menjadi janda , suaminya meninggal hampir 10 tahun yg lalu, yang untung nya sempat menghadiri saat pernikahan anak mereka satu-satunya. Lidya Amira.
Mereka berdua cukup terkejut saat tiba-tiba Lidya mengatakan akan ada Lelaki yang datang ke rumah mereka untuk melamar Lidya, padahal sudah beberapa tahun saat itu Lidya terlihat dan mengaku sendiri dan tidak mempunyai pasangan sama sekali.
Namun mereka juga merasa bahagia setelah Lidya dengan penuh semangat dan terlihat penuh cinta menceritakan mengenai calon pasangannya yang dia katakan sangat religius dan menjaga sikapnya kepada para wanita, pun juga sangat tampan, Ketika akhirnya dia benar-benar datang kerumah mereka. Damian bersikap sangat sopan dan bahkan cenderung pendiam kecuali hanya pada saat ditanya oleh kedua orang tua Lidya.
Namun itu biasa, karena situasinya dianggap baru pertama kali bertemu dengan mereka.
Semua berjalan sangat singkat. Hanya dalam waktu 4 bulan, semua perkenalan, pertemuan, lamaran lalu menikah, dan dalam waktu 3 bulan saja, setelah tinggal sementara di rumah Aling, mereka sudah memutuskan untuk membeli rumah di daerah jakarta timur, tidak jauh dari tempat tinggal sang keluarga suaminya.
Aling cukup terkejut dan sempat menanyakan alasan kuat mengapa mereka memutuskan untuk mencari tempat tinggal sendiri, karena menurut Aling, selain mencoba mengambil rumah itu cukup mahal, Aling merasa belum siap ditinggalkan anak semata wayangnya .
Dan yang menyesakkan hati Aling, ketika ia mengajukan keberatan nya, Lidya dengan pelan menjawab, “Damian yang menginginkan hal itu, Ma... aku cuma ingin ikut dia. Aku ingin jadi istri yang baik untuk dia.”.
Aling kembali bertanya, darimana mereka bisa mendapatkan uang untuk membayar uang muka dan cicilan rumah mereka nanti.
Lidya terdiam sejenak, lalu dia mengatakan dengan pelan jika sebenarnya Damian sudah mempunyai tabungan sebelum pernikahan, namun memang masih belum cukup untuk memenuhi uang muka dan cicilan pertama nya, jadi Lidya memutuskan untuk memberikan tabungan nya juga yang sudah dia kumpulkan sebelum menikah dengan Damian.
“ itu juga bagian dari masa depan ku , Mah... rumah yg nanti akan aku tempat bersama Damian dan anak-anak nanti.” Jawab Lidya sambil tersenyum.
“Lidya, rumah ini cukup untuk kita semua... kalau nanti juga ada cucu-cucu mama yang tinggal disini, masih ada kamar lainnya yang kosong kok. Jangan jauh dari mama dan papa dong, sayang.” Ujar Aling dengan penuh rasa sedih kepada Lidya.
Lalu sambil memalingkan wajahnya kepada suaminya, Wiryanto yang juga saat itu sedang duduk bersantai diruangan yg sama, Aling bertanya “Harusnya mereka berdua disini saja ya ,Pih. Jangan pindah, nanti rumah jadi makin sepi . “.
Wiryanto , sang papa, menatap Lidya. “kamu yakin dengan keputusan kamu ?”. Lidya mengangguk cepat.
Papanya terlihat diam, lalu berkata kembali, “ ya sudahlah, yang penting semua sudah direncanakan dan diatur dengan baik ya, kalian berdua harus bekerja keras untuk hal itu. Jangan sampai kedepannya kalian jadi punya masalah keuangan karena cicilan yg besar, walaupun itu untuk masa depan kalian”.
Aling merengut kepada suaminya. Bukan itu jawaban dari suaminya yg dia inginkan. Tapi Aling sedang tidak ingin berargumentasi dengan suaminya, jadi akhinya dia kembali berpaling kepada anaknya, lalu menghela nafas.”ya sudah, terserah kalian. Nanti tetap sering-sering main kesini yaa.”
Lidya memeluk mamanya, lalu berkata lembut, “pasti ,mah”.
Aling merenung, lalu dia berjalan ke arah ruang tamu rumahnya, untuk menghampiri boks telpon rumah yg ada di atas meja kecil bersebelahan dengan meja tamu , lalu mengangkat gagang telpon untuk kemudian memencet no telpon kantor anaknya.